Demi nafas Nonik, Santi OB miskin rela jual harga diri.
Demi warisan triliunan Opa Darwis, Dody CEO dingin butuh istri kontrak.
Satu tanda tangan di UGD, satu cap jempol Nonik yg sekarat.
Kontrak nikah 250 juta resmi dibuat.
Dia istri di atas kertas. Dia suami yg membeku.
Di antara mereka ada Nonik, bocah 5 tahun yang nyawanya jadi taruhan.
Bisakah hati sedingin es Dody luluh oleh tangis Santi?
Sementara Wati sang HRD dan Wandy sang tunangan siap menikam dari belakang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alya Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NONIK HILANG
Bab 11 NONIK HILANG
PASAR J – PAGI
TING
Dody membuka HP hitamnya ada pesan
“Segera.”
Dody tersenyum. Dengan pesan itu, dia setidak-tidaknya agak tenang sedikit karena dengan minta bantuan temannya, kemungkinan besar Santi ketemu karena temannya ini sangat mengenal kota S yang menjadi pekerjaan rutinnya. Sungguh hal yang baik mengenalnya.
Dia berada di pasar J yang sudah ramai pada jam 07.30. semalaman dia tidak bisa tidur. Segala sekauk bekauk rumah sakit K sudah dia datangi tetapi Santi tidak ketemu. Dia percaya ada yang berniat buruk entah untuk tujuan apa mengambil paksa Santi. Pesan yang sebekaumnya dia dapatkan menambah kecurigaannya kalau ada dalang di balik hilangnya Santi.
Dia melihat sekelilingnya. Banyak pedagang yang sudah menggelar lapak dagangannya untuk menarik minat pembeli. dagang di pasar merupakan pekerjaan yang dapat menghidupi kekauarga supaya tidak mengalami kekurangan.
Dia mengingat di masa kecilnya, dia sering bermain dengan temannya Ritonga menyekausuri pasar J yang ramai. Dengan Ritonga, dia sering makan kaumpia yang dijual di gang Lombok dekat pasar J. Makanan ini enak karena terasa gurih tipis tapi tidak berminyak. Isian rebungnya diisi rebung muda sehingga terasa manis. Ada juga ayam, udang dan tekaur orak arik yang menambah citarasa kaumpia tersebut. Apalagi ditambah saus dan acun bawang. Jadinya rasanya manis, gurih, pedes, seger dan kres sekali gigit.
Dia berada di warung Soto B. Dihadapannya sudah tersedia semangkuk soto berkuah yang menerbitkan rasa nikmat untuk dimakan. Dia semalam bekaum sempat makan malam karena menyelamatkan Santi dari transit milik benar-benar membuatnya kaupa makan. Tetapi sekarang perutnya sudah tidak dapat diajak kompromi. Dia segera menyerbu soto tersebut dan menyantapnya dengan nikmat.
TING
HP hitamnya kembali berdenting.
“Target bekaum ketemu.”
Dia meletakkan senduk makannya. Termenung karena tidak yakin bagaimana temannya yang terkenal selakau ketemu target sekalipun disembunyikan di kaubang semut sekalipun tidak dapat ketemu dengan cepat Santi. Kalau dia masih di kota S pastilah akan segera ketemu. Dia kenal baik pada Ritonga sosok yang tangguh, pantang menyerah dalam usaha dan upayanya menegakkan dirinya sebagai yang paling disegani.
Ritonga adalah kepala keamanan yang disegani di kota S. Orangnya kelihatannya tidak berbahaya bahkan cenderung kalem tetapi semua keamanan seantero kota S menyeganinya.
Dia segera membalas pesan.
“Mohon cek kembali.”
Tak lama kemudian.
TING
“Siap.”
Dody tersenyum kembali. Temannya ini tidak banyak bicara. Tak ada dikamusnya untuk bicara banyak-banyak cukup pendek satu atau dua kalimat saja yang penting sudah bisa ditangkap maknanya.
Bagaimanapun Ritonga selakau membelanya ketika tidak sengaja tersesat sampai ke pasar J karena dia tidak tahan dengan perlakuan tantenya Wati yang keras kepadanya. Karena marah, dia meninggalkan rumah dan pergi tanpa arah tujuan hingga sampai di pasar J.
Sekelompok anak sudah menantinya dan meneriakinya.
“Rendah….rendah….rendah…..”
Dia tidak terima dianggap rendah sehingga main-main dengan kelompok anak-anak tersebut. Tetapi dia kalah main sehingga anak-anak itu menyorakinya lagi.
“Rendah…..rendah…..rendah……”
Dia kembali main. Tidak mau kalah. Tetapi kalah lagi. Lagi dan lagi.
Tiba-tiba muncul anak lainnya yang mencegah main-main itu. Dia tidak dianggap oleh sekelompok anak tersebut sehingga main kembali.
Walaupun hanya sendirian, dia memenangkan main-main tersebut. Kelompok anak itu bubar melarikan diri. Anak itu membantunya dan mendukungnya.
Itulah awal perkenalannya dengan Ritonga yang pandai main-main sehingga selakau menang dalam main-main tersebut.
TING
“Aku datang.”
Muka Dody menegang. Bila Ritonga mendatanginya tentu ada hal yang penting yang ingin disampaikannya. Dia mengenal benar temannya ini. Tidak banyak bicara, kerja yang diutamakan. Tidak ada orang yang berani ajak main-main lagi karena dia selakau menang sehingga tidak mau diajak main-main olehnya.
LOSMEN ANANDA
Si Muka Codet menghirup minumannya dengan nikmat. Dia tampaknya menikmatinya. Hari ini hatinya senang karena dapat uang 150 juta dari Wati. Benar-benar keberuntungan yang menyenangkan karena rasa-rasanya ini kerja rutin yang paling mudah yang pernah dia kerjakan. Kerja rutin lainnya lebih berat dari sekedar ambil paksa target.
TING!
Pesan …….
“Ada kerja rutin bagus.”
Si Muka Codet secepatnya membalas pesan itu. Dia khawatir pesannya menghilang. Ini membuat semangatnya membesar. Pasti kerja rutin mudah. Penawaran yang menarik. Akhir-akhir ini sudah jarang orang menawarkan kerja rutin kepadanya. Dia khawatir kariernya berakhir begitu saja. Lakau dia mau kerja apa.
“Terima kerja rutin.”
“Kerjakan.”
“Oke.”
Muka si Muka Codet sumringah. Dapat kerja rutin lagi artinya uang mengalir. Uang mengalir dia sukacita. Dia segera menghubungi si Kerempeng untuk diajak kerja rutin. Dia sudah menganggap si Kerempeng rekanan kerja rutin yang menyenangkan. Dia mengenal si Kerempeng 5 tahun yang lakau sewaktu dia baru saja pulang sore dari kerja rutin yang biasa dikerjakannya.
Dia melihat dua orang besar mengajak main si Kerempeng. Kejadiannya itu dipojok gang sempit yang tersembunyi. Memang tempat yang cocok untuk main-main disini.
Dua orang besar itu mendadak lemas. Dia hanya menyapa singkat. Mereka tidak mau main dengannya padahal dia sudah siap main. Sejak saat itu, si Kerempeng menjadi rekanan kerja rutin yang menyenangkan.
TING
“Baik boss.”
Dia mendengus kesal. Kadang dia tidak senang dengan sikap si Kerempeng yang suka pandang ringan kerja rutin. Dia selakau mewanti-wanti supaya si Kerempeng serius dengan kerjanya.
RUMAH SAKIT K
Si Muka Codet dan si Kerempeng sudah sampai di depan rumah sakit. Jam 11 siang. Waktu orang istirahat dari kerja sehari-hari. Waktu yang tepat untuk kerja rutin yang salakau dikerjakan.
“Bagaimana. Kau sudah siapkan alat kerjanya.”
“Sudah boss.”
Si Muka Codet memberi tanda untuk masuk ke lingkungan rumah sakit. Gedung rumah sakit K mempunyai Gedung SL yang bergaya negara B tahun 25-an. Temboknya tebal, jendela kayu tinggi, lantai tegel motif punya 3 lantai. Target ada di ICU lantai 3. Mereka harus lebih hati-hati supaya target tidak lepas. Ini kerja rutin yang paling mudah. Target juga mudah diambil tidak seperti target-target lainnya yang butuh tenaga ekstra untuk mengambilnya.
Si Muka Codet memberi tanda kepada si Kerempeng untuk maju. Dia kesal karena si Kerempeng seperti kurang bersungguh-sungguh dengan kerja rutinnya.
Ruang ICU ada di paviliun G di lantai 3. Tentu harus ekstra hati-hati. Pasti ada perlindungan yang sulit perlu untuk diperhatikan. Tetapi ini kerja rutinnya. Harus selesai. Tidak boleh tidak. Begitu selesai, terima juga pemberian. Dari hari kemarin dapat target besar-besar mahal.
Mereka berjalan seperti biasa seolah-olah mau bezuk. Supaya mereka dapat melaksanakan kerja rutinnya dengan lancar.
Ruang Melati sepi. Jarang orang lalu lalang. Hanya satu dua pengunjung yang boleh masuk karena darurat bagi pasien. Ini moment yang tepat. Harus dimanfaatkan dengan baik. Tidak ada kesempatan emas kedua. Peluangnya 100:1. Tidak ada yang akan datang lagi.
Si Muka Codet mencari Lokasi target yang mau diangkutnya sesuai petunjuk. Dia sudah terbiasa angkut target. Tidak akan memakan waktu lama target pasti sudah terangkut. Dia menengok ke kaca satu arah. Dia melihat tempat target kosong. Matanya membelalak tidak percaya. Apakah ada yang angkut targetnya. Apakah ada yang tahu dia mau angkut target. Bukankah bu Wati hanya menawarkan kerja rutin ini padanya.
Perawat di meja melingkar memandang curiga kepadanya. Si Muka Codet tersenyum sumbang berlalu meninggalkan tempat itu. Bagaimana mungkin target bisa hilang.
Nonik hilang……ke mana…….
Bersambung