Arthur hanyalah bocah tujuh tahun yang ingin hidup tenang di Sektor Tujuh. Namun, dunia tidak mengizinkannya. Di balik tubuh mungil itu, bersemayam jiwa The Sovereign, entitas purba yang mampu menghapus konsep keberadaan hanya dengan satu sentilan.
Arthur tidak butuh ketenaran. Ia hanya ingin memastikan tidak ada yang mengganggu waktu santainya, meski itu berarti dia harus menghancurkan dewa dari bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Riak di Dalam Ketenangan
Perjalanan pulang dari Sektor Empat terasa jauh lebih bising daripada saat keberangkatan. Di dalam bus nomor dua, energi anak-anak kelas dua SD seolah tidak ada habisnya. Mereka terus membicarakan momen di mana Valerius mendarat di atas air, bagaimana pedang cahayanya membelah udara, dan betapa keren serangan terakhir yang melenyapkan ninja perak tersebut.
Mia tidak berhenti menunjukkan hasil jepretan kamera instannya kepada Arthur. Meskipun sebagian besar fotonya hanya berisi percikan air yang buram atau bayangan emas Valerius yang tidak fokus, gadis itu tampak sangat bangga.
"Arthur, lihat ini! Aku rasa aku menangkap momen tepat saat monster itu meledak!" teriak Mia sambil menyodorkan selembar foto fisik yang warnanya masih perlahan muncul.
Arthur hanya melirik sekilas, lalu kembali menyandarkan kepalanya ke kaca jendela. "Bagus, Mia. Kau harus menjualnya ke koran sekolah. Mungkin mereka akan memberimu biskuit gratis sebagai imbalan."
Arthur merogoh saku celananya, mencari kelereng yang tersisa. Jarinya menyentuh dasar saku yang kosong. Ia menghela napas pendek. Ia baru saja menggunakan kelereng terakhirnya untuk mengompresi sebuah bio mekanik tingkat galaksi menjadi butiran atom.
Baginya, itu adalah pemborosan sumber daya. Kelereng itu adalah edisi terbatas dengan motif galaksi di dalamnya, dan sekarang benda itu terkubur di dasar samudra bersama bangkai si Pembersih.
Aku harus mampir ke toko mainan besok, batin Arthur. Stok senjata rahasiaku mulai menipis karena monster-monster ini tidak tahu cara datang dengan sopan.
Bus terus melaju, melewati jembatan penghubung antar-sektor yang dikelilingi oleh papan iklan holografik raksasa. Wajah Valerius sudah terpampang di sana, lengkap dengan tulisan: "PENJAGA PASIFIK: VALERIUS KEMBALI MENGGAGALKAN INVASI."
GDC benar-benar bekerja sangat cepat. Mereka tidak butuh waktu lama untuk mengolah narasi kemenangan. Bagi pemerintah, semakin cepat ketakutan masyarakat diredam, semakin stabil nilai mata uang dan ekonomi global. Mereka tidak peduli pada detail-detail kecil yang tidak masuk akal dalam pertempuran tersebut, selama simbol mereka tetap berdiri tegak.
Namun, di kursi paling depan bus, Bu Hera tampak sedang sibuk dengan tablet digitalnya. Wajahnya terlihat sedikit pucat. Ia baru saja menerima email pemberitahuan dari GDC pusat bahwa seluruh data sensor dari jam tangan kebugaran para siswa selama di Sektor Empat harus diunggah secara paksa untuk "pemeriksaan kesehatan pasca-radiasi".
Bu Hera melirik ke arah Arthur yang tampak tertidur lelap. Ia teringat kembali pada pria teknis aneh di bawah pohon beberapa hari lalu, dan fakta bahwa Valerius secara khusus memperhatikan Arthur. Sebagai seorang guru, instingnya mulai berteriak bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan muridnya yang satu ini.
Tapi apa? Dia hanya anak kecil yang hobi minum susu stroberi dan selalu mendapatkan nilai rata-rata di kelas. Bu Hera menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir pikiran-pikiran konspirasi yang mulai meracuni otaknya.
Sementara itu, dua kilometer di belakang bus, mobil hitam Silas melaju dengan kecepatan konstan. Di dalam kabin yang senyap, Silas sedang menatap layar monitor kecil di dasbornya. Layar itu menampilkan rekaman dari kamera tersembunyi yang ia pasang di dermaga Sektor Empat.
Ia memutar ulang video tersebut berkali-kali dalam mode ultra-slow motion. Di detik ke-14, ia melihatnya. Sebuah benda bulat kecil melesat dari arah tangan Arthur. Benda itu bergerak begitu cepat hingga hanya tampak sebagai distorsi udara sesaat.
Lalu, tepat saat benda itu bersentuhan dengan Pembersih, seluruh hukum fisika di sekitar area tersebut seolah olah terlipat. Cahaya melengkung, suara menghilang, dan monster perak itu menciut hingga lenyap.
"Itu bukan ledakan," bisik Silas pada dirinya sendiri. Tangannya yang memegang kemudi sedikit gemetar. "Itu adalah pengisutan ruang. Dia... dia memicu lubang hitam mikro hanya dengan sebuah kelereng?"
Silas segera menekan tombol 'Delete' secara permanen pada fragmen video tersebut. Ia tidak boleh membiarkan siapa pun, bahkan Valerius, melihat detail ini. Jika divisi teknis GDC mendapatkan rekaman ini, mereka akan menyadari bahwa kekuatan Arthur bukan sekadar tenaga besar, melainkan manipulasi realitas tingkat absolut.
Ia kemudian membuka jalur komunikasi terenkripsi dengan Valerius. "Komandan, jejak di Sektor Empat sudah saya bersihkan. Data sensor siswa di bus dua sudah saya modifikasi. Rekaman drone media juga sudah disunting agar hanya fokus pada pedang Anda."
Di markasnya, Valerius menerima pesan itu sambil meneguk air mineral dengan rakus. Tubuhnya terasa remuk. Meskipun ia tidak melakukan banyak hal selain berpose dan mengayunkan pedang ke udara kosong, tekanan mental karena berdiri di depan musuh yang bisa membunuhnya dalam sedetik tetap memberikan dampak fisik.
"Terima kasih, Silas," balas Valerius melalui earpiece nya. "Bagaimana dengan anak itu?"
"Dia sedang makan roti isi stroberi di bus. Tampaknya dia lebih peduli pada makanannya daripada fakta bahwa dia baru saja menyelamatkan kita dari pembersihan galaksi," jawab Silas dengan nada getir namun penuh hormat.
Valerius tertawa kering. "Itulah Arthur. Pastikan tidak ada yang mendekatinya saat dia turun dari bus nanti. Aku tidak ingin ada drama pahlawan lagi untuk hari ini."
Bus akhirnya sampai di gerbang sekolah saat matahari sudah benar-benar tenggelam. Para orang tua sudah menunggu untuk menjemput anak-anak mereka. Suasana reuni kecil itu dipenuhi oleh pelukan dan cerita-cerita heboh.
Arthur turun dari bus dengan langkah gontai. Ia melihat Clara berdiri di dekat tiang lampu, melambaikan tangan dengan wajah cemas yang terlihat jelas dari kejauhan. Clara segera berlari menghampiri Arthur begitu melihatnya.
"Arthur! Ya ampun, kau baik-baik saja?" Clara langsung memeriksa bahu dan kepala Arthur seolah olah bocah itu baru saja pulang dari medan perang sungguhan. "Aku melihat berita! Ada serangan lagi di Sektor Empat! Aku hampir saja menyusul mu ke sana!"
"Aku tidak apa-apa, Kak," jawab Arthur dengan nada bosan yang sangat meyakinkan. "Pahlawan Valerius datang dan mengurus semuanya. Kami bahkan tidak sempat merasa takut."
Clara menghela napas lega, memeluk Arthur erat-erat. "Syukurlah. Aku sudah menyiapkan sup hangat dan susu stroberi dingin di rumah. Ayo, kita segera pulang. Aku tidak ingin kau berada di luar lebih lama lagi setelah kejadian itu."
Saat mereka berjalan menuju mobil kecil milik Clara, Arthur sempat menoleh ke belakang. Di kegelapan parkiran, ia melihat siluet Silas yang sedang berdiri di samping mobil hitamnya, mengangguk kecil ke arahnya.
Arthur membalasnya dengan tatapan datar yang singkat, sebuah instruksi tanpa kata: Tugasmu dimulai sekarang, Investigator.
Malam harinya, apartemen nomor 402 terasa begitu damai. Suara gemericik air dari dapur tempat Clara mencuci piring menjadi latar belakang yang menenangkan bagi Arthur. Ia berbaring di tempat tidurnya, menatap langit-langit kamarnya yang gelap.
Namun, ketenangan itu terusik oleh suara getaran rendah yang berasal dari bawah lantai. Getaran itu hanya bisa dirasakan oleh indranya yang sangat sensitif. Itu adalah denyutan dari Jembatan di Samudra Pasifik.
Fase ketiga sudah dimulai, pikir Arthur. Mereka tidak lagi mengirim individu. Mereka sedang mencoba menyelaraskan frekuensi planet ini dengan dimensi mereka. Jika mereka berhasil, seluruh dunia akan berubah menjadi medan energi cair dalam hitungan hari.
Arthur bangkit dari tempat tidurnya, berjalan menuju jendela. Ia menatap ke arah laut yang jauh. Ia bisa melihat sebuah cahaya ungu tipis di cakrawala, sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh teleskop tercanggih sekalipun.
Ia menyadari bahwa ia tidak bisa terus-menerus mengandalkan kelereng atau sentilan dari jarak jauh. Musuh kali ini sedang mencoba merusak pondasi dunia. Ia butuh cara untuk memperkuat struktur realitas di Sektor Tujuh tanpa terlihat oleh publik.
"Aku butuh bantuan lebih dari sekadar Valerius dan Silas," gumam Arthur. "Aku butuh seseorang yang mengerti tentang struktur bangunan... atau mungkin, seseorang yang mengerti tentang sihir dimensi."
Tiba-tiba, sebuah ide muncul di benaknya. Ia teringat pada museum di Sektor Empat tadi siang. Ada sebuah artefak yang dipajang di sana sebuah kristal kuno yang disebut The Heart of Gaia yang ditemukan di reruntuhan peradaban lama. GDC menganggapnya hanya sebagai barang koleksi tanpa guna, tapi Arthur tahu itu adalah kunci penstabil dimensi.
"Aku harus mencuri benda itu," bisik Arthur. "Dan aku harus melakukannya sebelum jam sekolah dimulai besok pagi."
Ia menarik napas panjang, membiarkan energi kosmik nya mengalir sedikit ke ujung jarinya untuk menciptakan portal kecil di dalam kamarnya. Menjadi Bocil Kematian berarti tidak ada waktu istirahat, bahkan setelah perjalanan sekolah yang melelahkan.
Di Markas GDC, Silas baru saja hendak memejamkan mata di kantornya ketika sensor di komputernya mendadak berteriak. Alarm keamanan di Museum Sektor Empat baru saja dipicu, namun anehnya, tidak ada tanda-tanda kerusakan fisik.
Silas menatap layar monitornya dengan wajah lelah. "Lagi? Kau benar-benar tidak bisa membiarkanku tidur satu malam saja, kan, Arthur?"
Ia menghela napas, meraih jaketnya, dan bersiap untuk melakukan pembersihan jejak berikutnya. Kehidupan Silas sebagai investigator telah resmi berakhir, dan kini ia adalah manajer krisis pribadi untuk seorang penguasa semesta berusia tujuh tahun.