Nazwa Adzira Putri, atau sering di panggil Zira, adalah seorang wanita yang dulunya berselimut cahaya. Dengan nama pena Nana, dia menginspirasi banyak orang dengan kata-katanya yang bijak dan agamanya yang kuat. Namun, kebenaran pahit tentang ayahnya - seorang yang mengkhianati ibunya dengan perselingkuhan, merobek tirai kesucian itu. Luka itu membawanya ke jurang kegelapan, meninggalkan hijab dan agamanya, dan masuk ke dunia malam yang gelap. Tapi, di tengah-tengah badai itu, ada secercah harapan. Nathan Fernandez, anak kyai yang sholeh dan dingin, menjadi sosok yang menarik perhatiannya. Mata teduh dan menenangkan itu menjadi tempat pelariannya, dan tanpa disadari, cinta mulai tumbuh, membawa harapan baru di tengah-tengah kegelapan. Penasaran dengan kelanjutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Setibanya di kampus, Zira meminta Salim dan Nathan menghentikan mobil sebelum ia turun. Sebelum meninggalkan sang suami, Zira menoleh ke Nathan dan berkata, "Jaga hati, mas. Di sini perempuan-perempuannya bahaya semua." Nathan tertawa pelan, lalu membalas, "Kamu ini ada-ada saja. Mas sudah candu sama kamu dek."
Zira terkikik kecil, "Emang aku makanan apa, ?" Nathan menggoda dengan santai, "Makanan setiap malam." Zira langsung mengerutkan dahi sambil tertawa malu, "Ih, mas Nathan jangan mesum. Mana kulkas tujuh pintunya?" Nathan tak kalah centilnya, "Sudah rusak karena pesonamu, dek." Zira menggelengkan kepala sambil mendekati pintu, "Sudah ya, nanti nggak kelar-kelar bercandanya. Aku masuk dulu. Assalamualaikum, inget jaga hati!" Nathan tersenyum hangat, "Waalaikumsalam, iya sayangku."
Saat berjalan menuju kelas, Zira berpapasan dengan Rafa yang tertegun melihat penampilannya. Hari itu Zira memilih mengenakan gamis lengkap dengan cadar. "Zir, itu kamu?" tanya Rafa penuh rasa ingin tahu. Zira tersenyum kecil, "Iya, Raf. Ini aku." Rafa mencoba memastikan, "Jadi benar kamu sudah menikah sama pak Nathan?" Zira mengangguk sambil menatap Rafael dengan penuh pengertian. "Iya. Aku dan pak Nathan sudah menikah, Raf. Maaf banget kalau kenyataan ini menyakitimu. Aku nggak berniat seperti itu. Aku hanya belum siap untuk terbuka tentang statusku mengingat reaksi fans-nya pak Nathan yang kamu sendiri tahu berlebihan," jelas Zira.
Rafa menghela napas pendek. "Iya sih... Jadi aku nggak punya kesempatan lagi ya?" tanyanya lirih. Zira mencoba memberikan semangat, "Maaf ya, Raf. Aku yakin banget kamu bisa menemukan seseorang yang lebih baik daripada aku." Namun Rafa tampak sedikit pasrah, "Susah zir. Cari yang lebih baik dari kamu itu nggak gampang."
Zira tersenyum lembut, "Coba deh buka hati untuk yang lain. Kalau kamu berani membuka diri, pasti kamu bakalan melihat ada seseorang yang diam-diam menyukaimu." Percakapan mereka berlangsung santai sambil melangkah menuju kelas. Tanpa terasa sudah sampai di ruangan tersebut.
Keduanya masuk dan duduk di bangku masing-masing sementara obrolan masih melayang-layang dalam pikiran Rafa. Ia menatap Zira dengan senyum di wajahnya. "Mungkin kamu benar, zir. Aku akan coba buka hati." Zira membalas senyum Rafa penuh dukungan, "Itu baru teman aku!" Perlahan suasana kelas mulai hening seiring dimulainya pelajaran pertama, namun Zira masih terngiang-ngiang percakapannya dengan Rafa tadi. Dalam hatinya ia berharap Rafa benar-benar menemukan kebahagiaan di masa depan.
Sudah seminggu Zira tidak masuk, dan saat kembali ke kampus, ia menyadari banyak hal yang berubah. Salah satunya adalah kehadiran Clara Aditama, anak dari Dekan kampus, Pak Yuta Aditama. Clara dikenal sebagai gadis yang centil dan gemar mencari perhatian, terutama jika ada pria tampan di sekitarnya.
Zira, yang penasaran, bertanya pada Zita, "Siapa sih dia? Mahasiswa baru, ya?"
"Iya, dia anaknya Pak Yuta, Dekan kita," jawab Zita santai.
Zira mengerutkan alis. "Bukannya anak Pak Yuta kuliah di luar negeri?"
"Katanya sih begitu, tapi mungkin otaknya pas-pasan, makanya pindah ke sini. Eh, ngomong-ngomong dia caper banget lho! Apalagi kalau lihat cowok ganteng. Hadeh, jangan-jangan pak Nathan bakal jadi target selanjutnya," sindir Zita sambil memutar mata.
Zira tersenyum tipis. "Aku nggak khawatir. Mas Nathan itu beda. Dia pernah bilang kalau aku udah jadi candunya."
"Cieee... candu banget!" ejek Zita sambil tertawa kecil.
Di sisi lain, Aliya terkejut melihat penampilan Clara. "Ya ampun, lihat tuh bajunya minim banget! Kaya nggak ada kain lain yang bisa dipakai," celetuknya.
"Hsst! Pelan-pelan, nanti ada yang dengar," tegur Zita.
Zira mencoba meredam situasi. "Mungkin karena dia lama tinggal di luar negeri, jadi terbawa gaya mereka. Lagian aku juga nggak suka kalau harus menilai orang cuma dari tampilannya."
Aliya menghela napas panjang. "Tetap aja, zir. Ini sudah kelewat batas."
Tiba-tiba suasana kelas menjadi hening ketika Nathan memasuki ruangan. Semua mata tertuju padanya.
"Assalamu'alaikum. Apa kabar kalian?" tanyanya dengan senyum ramah.
"Wa’alaikumsalam, Alhamdulillah sehat, Pak," jawab para mahasiswa serempak.
"Oke, kita lanjutkan pelajaran hari ini, ya. Minggu lalu kita sudah ketinggalan cukup banyak materi," ucapnya sambil mulai membuka buku ajarannya.
Namun, di salah satu sudut ruangan, perhatian Clara tertuju sepenuhnya kepada Nathan. Ia membisikkan sesuatu pada Meli, temannya di sebelahnya. "Mel, siapa cowok itu? Dosen baru ya?"
Meli menggeleng pelan. "Nggak terlalu baru sih. Dia cuma sempat cuti seminggu kemarin."
"Oh gitu..." jawab Clara singkat, sambil terus menatap Nathan. Ia memiringkan kepala dengan tatapan kagum. "Dia ganteng banget... beda dari cowok-cowok kebanyakan. Gue harus bisa dapetin dia," gumamnya dalam hati.
Namun, perhatian Nathan justru tak tertuju padanya. Pandangannya sering tertuju pada seorang perempuan bercadar di barisan depan. Rasa penasaran makin menggelayuti Clara. "Mel, siapa cewek bercadar itu?"
"Dia namanya Zira, istri Pak Nathan," jawab Meli pendek.
Clara membisu sejenak sambil menganggukkan kepala pelan. Namun dalam hatinya ia merasa tidak puas. "Pantas aja dia lihat ke sana terus. Jadi dia udah punya istri... tapi mau ada istri atau enggak, dia tetap harus jadi milikku," pikirnya dengan dendam yang mulai membara.
Sepanjang sisa pelajaran, pikiran Clara sepenuhnya terfokus pada Nathan. Ia mengabaikan materi yang sedang diajarkan dan lebih sibuk dengan rencana untuk merebut hati pria itu.
Ketika kelas berakhir dan semua mahasiswa meninggalkan ruangan, termasuk Nathan dan Zira yang berjalan bersama dengan beberapa temannya, Clara masih berdiri mematung di tempatnya. Ia menggertakkan gigi sembari membatin keinginannya yang semakin kuat.
"Kamu akan jadi milikku, Nathan," bisiknya dengan senyum licik penuh ambisi.
Clara berdiri dari kursinya, meraih tas, dan melangkah keluar dari ruang kelas dengan percaya diri. Ia sudah menyusun rencana matang untuk mendekati Nathan, dan tidak ada yang bisa menghalanginya. Namun, langkahnya terhenti sejenak di koridor ketika matanya menangkap pemandangan yang membuat emosinya bergejolak. Nathan sedang berjalan bersama Zira, tampak santai sambil tertawa dan bercanda. Perasaan iri dan amarah menyeruak dalam hati Clara saat itu.
"Aku harus bergerak sekarang," pikir Clara dengan tekad bulat. Ia merogoh ponsel dari dalam tasnya, sementara tatapannya tak pernah lepas dari Nathan dan Zira. Dalam hati ia berbisik pada dirinya sendiri, "Aku tidak akan kalah begitu saja, Nathan."
Jarinya mulai menari di atas layar ponsel, mengetik pesan dengan cepat: *"Assalamualaikum Pak Nathan, aku Clara. Ada sesuatu yang ingin aku diskusikan denganmu. Kapan kita bisa bertemu?"* Pesan itu meluncur cepat menuju ponsel Nathan. Sekali lagi, matanya terus mengikuti langkah laki-laki itu dari kejauhan, menunggu balasan yang memenuhi harapannya.
Zira memperhatikan ekspresi wajah Nathan yang terlihat tidak ramah. Dengan nada penuh perhatian, ia bertanya, "Ada apa, Mas? Apa ada masalah?"
Nathan menghela napas sejenak sebelum menjawab, "Itu, Dek, anaknya Pak Yuta minta ketemu. Katanya, dia kurang paham materi mata kuliah yang tadi. Dia pengin banget Mas jelasin langsung. Sebenarnya, Mas udah nolak, tapi dia maksa. Jadi ya, Mas terpaksa menyetujui. Tapi gini, kamu ikut Mas ke kantor aja ya, biar gak ada salah paham."
Zira tahu persis apa yang sedang terjadi. Clara, gadis itu, pasti sedang mencari celah untuk merebut Nathan darinya. Namun, Zira tak berniat untuk tinggal diam. “Baiklah, Mas. Zira ikut. Biar Mas gak tergoda sama perempuan licik itu,” jawabnya sambil memasang senyum kecil penuh arti.
Nathan terkaget mendengar sebutan Zira untuk Clara dan segera menyela dengan lembut, "Astaghfirullah, Dek. Jangan ngomong begitu. Gak baik menilai orang seperti itu."
"Maaf, Mas," balas Zira dengan suara kesal. "Tapi aku benar-benar gak suka sama dia."
Setibanya di ruangan kantor dosen Nathan, Zira langsung mengambil tempat di sofa di sudut ruangan dan duduk dengan tenang sambil mengawasi situasi. Tak lama berselang, pintu terbuka, dan Clara muncul dengan langkah ragu-ragu. Ia tampak kaget melihat keberadaan Zira di sana rencananya jelas hancur berantakan.
"Assalamualaikum, Pak Nathan," sapa Clara sambil memaksakan senyumnya.
"Waalaikumsalam, Clara," balas Nathan dengan nada datar namun sopan. "Ada apa ya?"
Clara berusaha menyembunyikan rasa kecewanya dan menjawab pelan, "Saya... Saya cuma ingin bertanya soal materi tadi, Pak. Rasanya masih kurang paham."
Dari sofa, Zira menyelipkan sebuah komentar dengan senyuman tipis di bibirnya, "Oh, kebetulan banget. Saya juga tadi kurang paham soal materi itu. Yuk, Mas Nathan, sekalian dijelaskan lagi!"
Nathan mengangguk perlahan, lalu berkata kepada Clara, "Baiklah, saya akan jelaskan lagi. Tapi kamu harus lebih fokus ya, karena kesempatan seperti ini bukan untuk dimanfaatkan sembarangan."
Clara tampak gugup namun mencoba tetap tenang sambil mengatakan, "Iya, Pak. Maaf kalau ini menjadi merepotkan."
Nathan pun melanjutkan dengan memberikan penjelasan ulang terkait materi yang sebelumnya dirasa sulit oleh Clara. Selama penjelasan berlangsung, Clara berpura-pura memperhatikan dan mendengarkan dengan saksama meskipun pikirannya berkelana ke tempat lain terutama karena kehadiran Zira yang mengacaukan semua strateginya.
Setelah selesai menjelaskan, Nathan berhenti sejenak dan menatap Clara langsung. "Sudah cukup jelas penjelasannya?" tanyanya singkat.
"Iya, Pak. Terima kasih atas waktunya," jawab Clara dengan nada setengah hati.
Zira pun segera bangkit dari sofa dan dengan gaya santai berkata, "Kalau gitu aku dan Clara pamit dulu ya, Mas. Terima kasih atas penjelasannya. Assalamualaikum."
Clara hanya bisa menahan rasa geram di dalam hati kesal bukan kepalang dengan sikap Zira yang seolah sengaja mengatur segalanya agar ia tidak bisa punya waktu berdua dengan Nathan. Dalam pikirannya ia berkata, *Kalau mau pergi ya pergi saja sendiri! Ngapain repot-repot bawa-bawa aku?!*
Namun sebelum Clara sepenuhnya tenggelam dalam amarahnya sendiri, Zira kembali menyadarkannya dengan ucapan yang ringan tapi menusuk tajam. "Clara, yuk keluar sekarang. Kasihan Pak Nathan butuh istirahat. Lagipula gak baik kan lama-lama berdua dalam ruangan kalau bukan mahram?" sindir Zira dengan senyuman terselubung.