Wajib Follow Sebelum Baca.
" 𝘾𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙠𝙖𝙢𝙞 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙖𝙝 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝... 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙟𝙖, 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙞𝙯𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖.
Valerie dan Matthew saling mencintai... tapi cinta mareka tidak pernah benar-benar tenang.
Hubungan mareka di uji oleh restu tak kunjung datang, tekanan keluarga, dan tekanan keluarga, dan keadaan yang perlahan menjatuhkan mareka.
Saat mareka masih berjuang untuk bertahan, seseorang datang kembali_membawa sesuatu yang lebih dari sekedar masa lalu.
La menginginkan Matthew.
Bukan hanya untuk di cintai... tapi untuk dimiliki.
Perlahan, tanpa mareka sadari, hubungan yang mareka jaga mulai retak.
Bukan karena mareka berhenti saling mencintai, tapi karena ada seseorang yang siap menghancurkan segala nya.
Kini, cinta mareka bukan tentang bertahan... tapi tentang siapa yang lebih kuat _
cinta... atau obsesi.
( Bismillah semoga rame 🙏)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALIFA RAHMA LATIFA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 : Rintik Hujan Dan perasaan yang tak terucapkan.
" Yang dipertaruhkan bukan cuma lomba . tapi perasaan . dan perasaan itu... lebih berbahaya daripada kekalahan.
...
Berpaa minit kemudian...
Valerie kembali duduk, mengetik laporan.
Matthew berdiri dideket jendela lab.
Ia menatap langit jakarta yang biru pucat.
Namun pikirannya tidak ada di langit.
Pikirannya ada di Valerie.
Matthew mengepalkan tangan.
Gue suka sama dia.
Kalimat itu terdengar gila ke kepalanya.
Matthew tidak pernah suka siapun.
la tidak punya waktu untuk itu.
Tidak butuh.
Tidak mau.
Tapi Valerie..
Valerie seperti virus.
Masuk diam-diam.
Mengacaukan sistem.
Mengambil alih pikiran.
Matthew menoleh.
Valerie sedang mengetik dengan serius, tidak sadar Matthew menatapnya.
Matthew menghela napas.
Dan berkata dalam hati :
Sial.
...
Valerie tiba-tiba berhenti mengetik.
Ia menoleh ke Matthew.
" Matthew "
Matthew tersentak.
" Apa? "
Valerie menatapnya curiga.
" Lo kenapa sih akhir-akhir ini? "
Matthew mengernyit.
" Kenapa apanya ? "
Valerie menatapnya tajam.
" Lo enggak segalak biasanya. Lo nggak sejahat biasanya. "
Matthew menahan napas.
Valerie melanjutkan.
" Dan itu... bikin gue nggak nyaman "
Matthew menatap Valerie lama.
Lalu berjalan mendekat.
Valerie menengang.
Matthew berhenti tepat di meja Valerie.
Menatapnya lurus.
Valerie menahan napas.
" Apa? " tanya Valerie pelan.
Matthew menatapnya berapa detik.
Lalu berkata, suaranya pelan tapi tajam.
" Karena gue capek berantem terus sama lo. "
Valerie membeku.
Matthew menambahkan.
" Dan gue sadar... "
Matthew berhenti.
Seolah dia mau bilang sesuatu.
Tapi kata-kata itu tidak keluar.
Valerie menatapnya, menunggu.
Matthew menelan ludah.
Lalu ia mundur pelan.
" Udah, " ucap Matthew dingin lagi. " kerjain laporan lo. "
Valerie terdiam.
Karena untuk pertama kalinya...
Matthew hampir terlihat rapuh.
Dan itu jauh lebih menganggu daripada Matthew menyebalkan.
Valerie menatap Matthew yang kembali duduk.
Valerie menggigit bibir pelan.
Dalam hati Valerie bertanya :
Apa Matthew...mulai suka sama gue ?
Dan pikiran itu...
Membuat jantung Valerie berdetak lebih cepat.
...
Di luar lab, hujan mulai turun.
Rintiknya menabrak kaca.
Dan di dalam lab 7.. .
Dua orang yang selalu bertengkar itu...
Mulai sadar kalau perang mareka tidak lagi sekedar persaingan.
Karena sekarang..
Yang dipertaruhkan bukan cuma lomba.
Tapi perasaan.
Dan perasaan itu...
Lebih bahaya daripada kekalahan.
...
Hujan turun sejak sore.
Langit jakarta terlihat kelabu, lampu-lampu kota memantul di genangan air di halaman sekolah. Nusa Bangsa Internasional High School tetap terlihat megah seperti biasa, dengan bagunan kaca tinggi yang berkilau meski cuaca muram.
Valerie berjalan keluar dari lab 7 bersama Nara.
Langkahnya pelan, tapi pikirannya ribut.
Karena ucapan Matthew tadi siang masih teringang di kepalanya.
" Gue capek berantem terus sama lo. "
Dan kalimat itu...
Terdengar seperti sesuatu yang tidak seharusnya keluar dari mulut Matthew.
Nara melirik Valerie berkali-kali.
" Val... lo dari tadi diem mulu, " ucap Nara.
Valerie menoleh cepat.
" Gue nggak diam. "
Nara meangkat alis. " Lo diam. Lo bahkan nggak marah-marah. "
Valerie mendengus. " Gue capek. "
Nara berhenti berjalan sebentar, menatap Valerie penuh curiga.
" Capek..atau kepikiran Matthew? "
Valerie refleks berhenti.
" Apa sih? " Valerie langsung menepis. " Ngapain gue kepikiran dia? "
Nara tersenyum kecil.
" Karena lo nggak bisa bohongin muka lo. "
Valerie memutar bola mata.
" Gue cuma.. heran aja. "
Nara mendekat.
" Heran kenapa? "
Valerie menatap jalanan basah di depan mareka.
" Kenapa dia tiba-tiba berubah. "
Nara tertawa kecil.
" Ya jelas karena dia suka sama lo, Val. "
Valerie berhenti total.
" Apa?! " Valerie hampir teriak.
Nara langsung menutup mulut Valerie.
" Woi! pelan! ntar orang-orang dengar. "
Valerie menepis tangan Nara.
" Dia nggak mungkin suka sama gue. "
Nara menyilangkan tangan.
" Lo tuh Danial. "
Valerie menatap Nara tajam.
" Gue nggak danial. dia itu Matthew. dia nggak punya perasaan. "
Nara tertawa kecil.
" Ya ampun.. lo ngomong kayak dia robot. "
Valerie mendengus, tapi tidak membalas lagi.
Karena jujur...
Di dalam hati, Valerie juga takut.
Takut kalau Nara benar.
_TBC_
...----------------...
Happy Reading All!