Usai memutuskan hubungan dua setengah tahun dengan Reza, Tari merasa lelah dengan drama cinta dan tekanan keluarga. Belum sembuh sepenuhnya, ia dipaksa ibunya mengikuti kencan buta—dan takdir malah mempertemukannya dengan Aldo, adik kandung mantan pacarnya sendiri.
Wajahnya mirip, tapi sikapnya sangat berbeda: lebih dingin, lebih tajam, dan seolah menyimpan rahasia serta dendam tersembunyi. Pertemuan yang dipaksa keluarga perlahan membangkitkan perasaan yang tak seharusnya ada. Di tengah gosip lingkungan dan luka lama yang mulai terbuka kembali, Tari dihadapkan pada satu pertanyaan berat:
Apakah ia berhak merasakan bahagia di samping orang yang masih terikat erat dengan masa lalunya yang menyakitkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HebiKage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Pertama Yang Canggung
Aku sama sekali tak bisa memejamkan mata semalaman.
Bukan semata-mata karena rasa sakit hati akibat perpisahan—meski harus kuakui, ada sedikit rasa itu yang masih tersisa. Namun, yang lebih membuat kepalaku terasa penuh sesak adalah segala bayangan tentang hari ini. Tentang pertemuan yang harus kujalani dengan anaknya Bu Dewi. Tentang Mama yang pasti sudah berkali-kali menelepon Bu Dewi—bisa jadi sudah sepuluh kali lebih—hanya demi memastikan segalanya berjalan sempurna sesuai rencana. Dan di atas segalanya, tentang betapa aneh dan tak masuk akalnya jalan hidupku belakangan ini.
Baru saja semalam aku mengakhiri hubungan dengan Reza. Namun hari ini, aku sudah disiapkan untuk bertemu lelaki lain seolah tak ada jeda waktu sama sekali.
Rasanya seperti menonton sebuah lakon yang ceritanya terlalu dipaksa, tak masuk akal sama sekali.
Atau seperti sedang ikut perlombaan lari estafet dalam urusan percintaan: begitu satu tonggak dilepas, tonggak berikutnya sudah harus segera disambung. Tak ada waktu istirahat. Tak ada kesempatan untuk sekadar menarik napas panjang, merenung, atau menangis sepuas hati hingga rasa itu hilang.
Sudah sejak pukul enam pagi aku bangkit dari tempat tidur. Bukan karena semangat membara, melainkan karena setiap kali aku mencoba berbaring kembali, perutku terasa mual hebat. Entah apakah itu dampak dari rasa patah hati yang belum tuntas, atau sekadar akibat saraf yang menegang kaku memikirkan pertemuan ini—aku sendiri pun tak tahu jawabannya.
***
Pukul 07.30 pagi, di kamar kos.
Aku berdiri di depan sebuah cermin berukuran sedang yang menempel di dinding, persis di samping lemari plastik dua susun yang engselnya sudah retak dan agak longgar. Permukaan cermin itu tak lagi bening sempurna; penuh dengan goresan halus bekas sentuhan yang tak sengaja terjadi, sejak pertama kali aku menempati kamar ini dua tahun silam.
Perlahan aku menatap bayangan diriku sendiri.
Wajahku tampak sangat pucat. Lingkaran hitam di bawah kedua mataku tercetak tegas, persis seperti noda bekas kuas cat air yang tercecer tanpa sengaja di atas kertas putih. Bibirku kering kasar dan sedikit pecah-pecah di bagian sudutnya. Rambutku—yang biasanya selalu kusayangi dan kurawat dengan ramuan masker alami buatan sendiri—kini terlihat kusut tak beraturan, kering dan kaku seperti tumpukan jerami kering.
“Cantik sekali,” gumamku dalam hati dengan nada yang penuh sarkasme. “Pasti Mama akan merasa sangat bangga melihat penampilanmu begini.”
Aku mulai memilih pakaian dari tumpukan yang ada di lemari, berusaha menemukan yang paling sopan dan pantas dipakai. Akhirnya tanganku berhenti pada satu helai blus berwarna putih bersih berlengan panjang, dengan hiasan lipatan-lipatan kecil yang rapi di bagian dada—hadiah ulang tahun dari Mama tahun lalu, yang belum pernah sempat kugunakan karena terkesan terlalu rapi dan mewah sekadar untuk berangkat ke kampus. Aku memadukannya dengan rok kain bermotif batik berdasar warna hitam yang potongannya melebar menyerupai huruf A, serta sepatu pantofel berwarna hitam dengan hak pendek yang nyaman dipakai berjalan jauh.
Penampilan yang aman, pikirku. Tidak terlalu mencolok hingga mengundang tatapan orang, namun juga tidak terkesan terlalu sederhana atau asal-asalan. Cukup untuk membuatku tampak seperti gadis yang berkelakuan baik, yang siap diperkenalkan kepada keluarga orang lain dengan pantas.
Di leherku, aku mengenakan seutas kalung perak yang sangat tipis dengan liontin berhuruf “T”—kado ulang tahun ke-20ku dari sahabatku, Maya. Itulah satu-satunya aksesori yang membuatku merasa sedikit lebih menjadi diriku sendiri, bukan sekadar boneka cantik yang dipoles khusus untuk sebuah pertemuan formal.
Sekali lagi aku menatap bayangan di cermin, merapikan sedikit bagian yang terasa kurang pas.
“Baiklah, Tari. Kamu pasti sanggup menjalani ini,” bisikku menyemangati diri sendiri. “Anggap saja kamu sedang datang untuk sarapan gratis saja. Mengobrol sebentar, lalu pulang. Semuanya akan selesai begitu saja.”
***
Pukul 08.45 pagi, di dalam taksi dalam perjalanan ke Kemang.
Aku duduk sendirian di kursi belakang, mataku tak lepas dari pemandangan yang berlalu di luar jendela. Lalu lintas Jakarta pagi ini ternyata tidak terlalu padat—mungkin karena hari ini hari Sabtu, atau mungkin memang aku sedang beruntung saja. Gedung-gedung tinggi dan deretan pertokoan tampak bergerak lewat di hadapanku, seolah adegan dalam sebuah film yang diputar dengan kecepatan dua kali lipat dari biasanya.
Tiba-tiba ponselku bergetar pelan di dalam tas.
Pesan masuk dari Maya.
“TARI! AKU BARU DENGAR KAMU ADA KENCAN BUTA HARI INI! CEPAT CERITA SEMUANYA!”
Aku tersenyum tipis membaca tulisan sahabatku itu. Maya memang selalu tahu segalanya, persis seperti mata-mata yang tak pernah tertidur. Entah dari mana saja ia selalu mendapatkan kabar, yang pasti dialah orang pertama yang selalu tahu setiap kali ada hal penting yang terjadi dalam hidupku.
Aku membalas pesannya dengan singkat: “Ini bukan kencan buta. Hanya sekadar bertemu saja.”
Tak sampai semenit, balasan darinya sudah masuk kembali, penuh dengan huruf besar seperti biasa jika ia sedang bersemangat.
“YA ITU DISEBUTNYA KENCAN BUTA! BERTEMU DENGAN ANAKNYA BU DEWI KAN?! AKU DENGAR DIA TAMPAN SEKALI, TAR! LULUSAN TERBAIK ITB DAN KERJA DI PERUSAHAAN ASING YANG BESAR! MANTAP KAN?!”
Aku menghela napas panjang. Rasanya Maya dan ibuku seolah berasal dari dunia yang sama—dunia di mana jabatan, pekerjaan, kekayaan, dan penampilan fisik dianggap sebagai hal yang paling utama.
“Belum tentu juga tampan. Bisa jadi jelek, kan?” tulisku membalas.
“KALAUPUN JELEK TIDAK MASALAH, YANG PENTING KAYA!”
“Maya, kamu ini sungguh terlalu, matrealistis sekali.”
“INI BUKAN MATREALISTIS, TAPI AKU ITU REALISTIS, DASAR KAMU YANG TERLALU BERHARAP PADA HAL YANG TAK NYATA! SUDAH SANAN BERANGKAT, JANGAN SAMPAI KAMU YANG DATANG TELAT YA!”
Aku melirik jam di layar ponselku: pukul 08.52. Janji bertemu pukul sembilan tepat. Aku takkan terlambat—karena sejujurnya, aku sangat benci jika harus datang terlambat. Itulah salah satu alasan terbesar mengapa hubunganku dengan Reza terasa begitu melelahkan dan berat; dia yang selalu datang terlambat, dan akulah yang selalu harus menunggu, berjam-jam kadang-kadang.
“Aku sudah hampir sampai. Doakan saja semoga orangnya tidak menyebalkan ya,” tulisku terakhir kali padanya.
“AMIN! NANTI KABARI AKU SEGERA YA! JANGAN LUPA!”
Aku memasukkan kembali ponselku ke dalam tas selempang berwarna coklat—tas dari kulit tiruan yang sudah mulai mengelupas di bagian sudut-sudutnya, namun masih cukup pantas untuk kubawa ke acara semi-formal seperti ini.
***
Kendaraan pun berhenti tepat di depan sebuah bangunan kafe.
Tempat itu bernama “Maison de Café”, sebuah kedai mewah di kawasan Kemang yang belum pernah sekalipun aku kunjungi sebelumnya.
Gaya bangunannya menyerupai rumah-rumah zaman Eropa kuno: dindingnya berwarna krem dengan susunan bata yang sengaja dibiarkan terlihat, jendela-jendela besar berbingkai kayu berwarna hijau tua pekat, serta pintu masuk yang kokoh dari kayu jati dengan pegangan kuningan yang berkilau terkena cahaya. Di bagian halaman depan, tersedia taman kecil yang ditata rapi lengkap dengan meja dan kursi dari anyaman rotan, dilindungi payung-payung besar berwarna senada dengan dinding. Lampu-lampu gantung berukuran kecil berjejer di langit-langit teras, memancarkan cahaya hangat yang memberi kesan mewah namun tetap nyaman.
Aku membayar ongkos perjalanan—sekitar tujuh puluh ribu rupiah, jumlah yang cukup terasa menguras isi dompetku sebagai mahasiswa—lalu turun dari kendaraan.
Di luar, hujan gerimis mulai turun perlahan. Titik-titik airnya jatuh pelan sekali, seolah seperti air mata yang ditahan agar tak mengalir deras. Aku mengeluarkan payung lipat berwarna merah marun dari dalam tas—payung yang sama persis yang kubawa kemarin sore, saat aku menunggu Reza berjam-jam di depan gerbang kampus.
“Jangan biarkan pikiranmu melayang ke arah Reza,” tegurku dalam hati dengan tegas. “Hari ini bukan tentang dia. Hari ini urusannya lain.”
Setelah sampai di bawah atap penahan hujan, aku melipat kembali payungku hingga rapi, lalu menarik napas panjang untuk menenangkan jantungku. Di balik kaca pintu yang berat itu, ada seseorang yang sedang menungguku. Seseorang yang belum pernah aku lihat wajahnya, belum pernah aku dengar suaranya. Seseorang yang entah kelak akan menjadi bagian dari hidupku, atau sekadar menjadi bahan cerita lucu yang akan kuceritakan pada Maya nanti malam.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku mendorong pintu itu hingga terbuka.
***
Di dalam ruangan kafe, suasana terasa sangat kontras dengan udara dingin dan gerimis di luar sana. Lampu-lampu gantung berwarna kuning keemasan menggantung indah di langit-langit, menyinari ruangan dengan cahaya yang hangat namun agak redup. Lantai marmer berwarna putih bersih mengkilap hingga memantulkan bayangan kursi-kursi berlapis beludru merah yang tersusun rapi berderet di samping meja-meja kayu jati yang kokoh. Udara di dalam ruangan harum semerbak, campuran antara aroma biji kopi pilihan dan wangi vanila yang keluar dari lilin penyerap bau yang dinyalakan di setiap sudut ruangan.
Mataku segera bergerak menyapu seluruh ruangan, mencari tanda keberadaannya. Di mana dia?
Mama pernah berpesan bahwa ia akan duduk di dekat jendela besar, tepat di meja bernomor tujuh. Aku pun berjalan perlahan menyusuri lorong di antara deretan meja, melewati pasangan-pasangan yang sedang berbincang dengan suara rendah, melewati seorang ibu paruh baya yang sibuk mengetik di depan komputer jinjingnya, hingga melewati seorang pria berjas rapi yang sedang membaca koran pagi dengan tenang.
Meja nomor tujuh ternyata berada di sudut paling belakang, berdekatan dengan kaca jendela luas yang menghadap langsung ke taman kecil di luar. Dari tempat itu, aku bisa melihat jelas bagaimana butiran gerimis membasahi daun-daun tanaman hias yang tertata rapi.
Namun kursi di meja itu masih kosong.
Ternyata akulah yang datang lebih dulu.
Aku menghela napas panjang—campuran rasa lega dan sedikit kesal. Lega karena aku tak perlu merasa canggung mencari-cari orang asing di tengah keramaian. Namun ada rasa kesal yang terselip; karena sekali lagi, akulah yang harus menunggu orang lain datang.
Aku duduk di kursi yang posisinya berhadapan langsung dengan pintu masuk, agar aku bisa melihat siapa saja yang datang dan pergi. Tas selempangku kusandarkan di pangkuan, kakiku kusilangkan dengan sopan, dan sekuat tenaga aku berusaha tampak tenang—meski di dalam dada jantungku berdegup kencang tak karuan.
Tak lama kemudian, seorang pelayan muda—berambut pendek sebahu, mengenakan celemek berwarna coklat dengan senyum yang ramah—mendekati mejaku.
“Selamat pagi, Nyonya. Ada yang ingin dipesan? Atau masih menunggu teman datang?” sapanya lembut.
“Masih menunggu teman sebentar, Mbak,” jawabku seraya tersenyum tipis. “Nanti jika sudah siap, aku akan memanggil.”
Pelayan itu mengangguk paham, lalu berjalan pergi meninggalkanku sendiri.
Aku kembali melirik jam di ponselku: pukul 08.58. Masih tersisa dua menit lagi menuju pukul sembilan tepat.
Aku membuka kembali pesan-pesan dari Maya yang belum sempat kubaca sepenuhnya.
“TARI, KAMU SUDAH SAMPAI BELUM SIH?! TAMPAN TIDAK ORANGNYA YANG KAMU TEMUI ITU?!”
Aku membalas dengan cepat: “Belum datang. Aku sudah menunggu di sini.”
Hanya sesaat, pesan balasan muncul kembali. “ASTAGA! MASA KAMU YANG DATANG LEBIH AWAL DARIPADA DIA? PADAHAL KAN DULU KAMU YANG SELALU TERLAMBAT KE MANA-MANA!”
“Aku tak mau datang terlambat. Ini kan pertemuan orang baru, kasihan juga kalau dia yang harus menunggu aku,” tulisku menjelaskan.
“BAGUSLAH KAMU UBAH KEBIASAAN BURUKMU ITU! TAPI INGAT YA, JANGAN SAMPAI KAMU TERLIHAT TERLALU BERHARAP SAMPAI DIA MENGIRA KAMU SANGAT MENGINGINKANNYA!”
Aku tersenyum sendiri membaca pesan itu. Sungguh, hanya Maya yang bisa membuatku tersenyum dan tertawa sedikit, bahkan di saat-saat paling canggung sekalipun.
“Sudah ya, Maya. Aku matikan ponselku dulu,” balasku singkat.
“SIAP! SEMANGAT YA SAYANG! MUACH”
Aku memasukkan kembali ponselku ke dalam tas. Jarum jam di dinding bergerak maju menunjuk angka sembilan tepat.
Aku menatap tajam ke arah pintu masuk.
Belum ada siapa-siapa yang muncul.
Pukul 09.05.
Masih sepi di sana.
Rasa gugup mulai merayapi dadaku. Mungkin dia berubah pikiran dan tak jadi datang? Atau mungkin dia sudah melihat wajahku dari kejauhan, lalu memutuskan pergi begitu saja karena merasa tak cocok? Atau bisa jadi—
Ting…
Bunyi bel kecil di atas pintu berbunyi nyaring.
Kepalaku segera menoleh ke arah sumber suara dengan gerakan yang agak terlalu cepat, terlalu bersemangat—bahkan mungkin terlihat jelas bahwa aku sudah tak sabar menunggu.
Di ambang pintu, berdiri seorang pemuda yang sedikit basah di bagian bahu karena terkena percikan gerimis.
Tubuhnya tampak tinggi tegap, kira-kira sekitar seratus tujuh puluh lima sentimeter atau lebih sedikit lagi. Bahunya bidang dan lebar, membuat jaket jeans berwarna biru tua yang ia kenakan terlihat pas dan serasi di tubuhnya. Di balik jaket itu, terlihat kaus polos berwarna hitam yang sederhana. Ia mengenakan celana panjang kain berwarna kelabu muda, serta sepatu pantofel hitam yang sedikit berkilau meski sudah agak basah terkena air hujan.
Rambutnya hitam berkilau, sebagian ujungnya terlihat sedikit basah dan lepek. Ia mengusap rambutnya ke belakang dengan gerakan tangan yang santai dan luwes—bukan karena merasa canggung, melainkan seolah memang sudah menjadi kebiasaan sehari-hari.
Matanya—sepasang mata berwarna coklat tua yang teduh, terbingkai di balik kacamata bingkai tipis berbentuk bulat—segera mengamati seluruh isi ruangan. Pandangannya bergerak perlahan dan teliti, seolah sedang mencari sosok tertentu, memeriksa setiap sudut ruangan dengan ketelitian yang jarang kulihat pada orang lain.
Hingga akhirnya, pandangannya berhenti tepat di mejaku.
Tepat di mataku.
Ia lalu tersenyum tipis—senyum yang tak terlalu ramah berlebihan, namun juga tak terasa dingin atau menyendiri. Senyum yang seolah berkata: “Ah, jadi kamulah yang kucari.”
Dengan tenang ia melangkah mendekat ke arahku. Setiap langkahnya terasa mantap, tak terburu-buru namun juga tak ragu sedikit pun. Seolah ia sudah tahu persis ke mana ia harus berjalan dan apa yang harus ia lakukan.
Sesampainya di depan mejaku, ia berhenti sejenak, lalu menatapku lekat-lekat di balik kacamatanya.
Dan akhirnya ia bersuara.
“Kamu Tari, ya?”
Suaranya terdengar lembut namun berat, rendah, dan agak serak—persis seperti suara orang yang baru saja bangun tidur, atau orang yang seharian banyak berbicara. Bukan jenis suara yang pernah kubayangkan sebelumnya pada anak lulusan ITB yang bekerja di perusahaan asing. Suara ini terasa jauh lebih hangat. Jauh lebih… manusiawi.
Aku mengangguk pelan. “Iya. Dan kamu pasti Aldo, kan?”
“Betul.”
Ia segera menarik kursi kosong yang ada di hadapanku, lalu duduk dengan santai tanpa menunggu dipersilakan lebih dulu. Gerakan yang sedikit terasa kurang sopan menurut aturan umum, namun entah mengapa, dari caranya melakukannya, hal itu justru terasa wajar dan apa adanya.
Ia meletakkan ponselnya di atas meja—terlihat sudut kanan atas layarnya sudah retak—lalu kembali menatapku dengan tatapan yang sama.
“Aku minta maaf,” ucapnya tiba-tiba.
Aku sedikit mengangkat alis, heran. “Minta maaf untuk apa?”
“Karena aku datang terlambat.” Ia menunjuk ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya—jam model klasik berikat kulit berwarna coklat tua yang terlihat sudah cukup tua namun terawat sangat baik. “Seharusnya aku sudah ada di sini pukul sembilan tepat. Sekarang saja sudah lewat tujuh menit.”
Hatiku terasa sedikit tersentuh. Dia meminta maaf dengan tulus. Berbeda jauh dengan Reza yang hampir tak pernah sekalipun meminta maaf dengan sungguh-sungguh. Reza selalu saja punya ribuan alasan—mulai dari kemacetan, rapat mendadak, rasa lelah, dan segala hal lain—dan baginya, keterlambatan bukanlah kesalahan yang perlu disesali.
“Tidak apa-apa, sungguh,” jawabku pelan. “Aku juga baru saja sampai.”
Aldo mengerutkan keningnya sedikit—bukan tanda marah, melainkan seolah sedang memikirkan sesuatu dengan saksama.
“Baru saja sampai, katamu?” ucapnya berulang, lalu menatapku tajam namun ramah. “Kalau benar baru saja sampai, rambutmu pasti masih agak lepek terkena uap air, bajumu belum rapi benar, dan payungmu itu…” jarinya menunjuk ke arah payung merah marun yang sudah tergantung rapi di sebelah tasku, “…pasti masih agak basah dan belum terlipat sempurna. Sedangkan payungmu ini sudah kering dan terlipat sangat rapi, persis seperti yang sudah diletakkan sejak sepuluh menit yang lalu.”
Aku terdiam seribu bahasa, tak tahu harus menjawab apa.
Ia pun melanjutkan penuturannya dengan tenang. “Payung yang baru saja dilipat biasanya masih meninggalkan sisa tetesan air dan lipatannya belum pas rapi. Tapi milikmu sudah kering bersih. Artinya, kamu sudah ada di sini jauh sebelum waktu yang ditentukan.”
“Kamu… teliti sekali, ya,” sahutku akhirnya.
“Jadi, kenapa kamu bilang baru saja datang?” tanyanya lagi, matanya berbinar antara rasa ingin tahu dan sedikit nada menggoda. “Tak perlu berbohong, Tari. Akulah yang terlambat, akulah yang berbuat salah. Tak usah berusaha menutupi kekhilafanku agar aku tak merasa bersalah.”
Mulutku terbuka ingin menjawab, namun tak ada satu kata pun yang sanggup keluar. Pria ini—yang baru saja kutemui tak sampai lima menit yang lalu—ternyata sudah mampu membaca kebohonganku hanya lewat sebuah payung lipat.
“Maafkan aku,” ucapku akhirnya, mencoba mengakui segalanya. “Aku hanya… tak ingin kamu merasa tak enak hati atau terbebani.”
“Tapi memang seharusnya aku merasa bersalah, kan?” jawabnya tegas namun tetap lembut.
“Tapi kan—”
“Tak ada kata ‘tapi’ di sini.” Aldo menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, lalu melipat kedua tangannya di dada. “Datang terlambat adalah kesalahan yang nyata. Tak perlu ditutupi, tak perlu dicari alasan. Dan terima kasih ya sudah bersedia menungguku.”
Aku kembali terdiam. Ada rasa yang aneh menyusup ke dalam dadaku—bukan rasa tak nyaman, melainkan rasa yang justru membuatku merasa lebih tenang. Rasanya jarang sekali bertemu orang yang mau mengakui kesalahannya begitu saja, tanpa berkelit, tanpa membuat keributan, tanpa drama yang berlarut-larut.
Apakah inilah yang orang sebut kedewasaan berpikir? batinku bertanya-tanya. Atau apakah ini hanya kebetulan belaka?
Tak lama kemudian, pelayan kembali mendekat ke meja kami. “Ada yang ingin dipesan, Kak?”
Aldo menoleh sejenak. “Satu cangkir kopi Americano tanpa gula, ya.”
“Saya pesan teh bunga chamomile yang hangat saja,” tambahku. Itulah minuman yang selalu kupesan di mana pun aku berada; karena bagiku, teh takkan pernah mengecewakan rasanya.
Setelah pelayan pergi, Aldo kembali menatapku lekat-lekat.
“Jadi, Tari,” buka percakapannya lagi, “kamu sudah tahu kan, kalau pertemuan kita ini disiapkan oleh orang tua kita masing-masing?”
Aku menghela napas panjang pelan. “Tahu. Mama yang memberitahuku semalam.”
“Dan… apakah kamu setuju dengan rencana semacam ini?”
“Setuju?” Aku menggeleng pelan. “Kalau boleh jujur, tidak sepenuhnya setuju. Tapi rasanya aku tak punya banyak pilihan saat ini.”
Aldo sedikit mengangkat alisnya, seolah tak setuju dengan pendapatku. “Tak punya pilihan? Di zaman sekarang ini? Kamu bukanlah orang yang terikat perbudakan, Tari. Kamu tetap punya hak sepenuhnya untuk menerima atau menolak apa pun yang ditujukan padamu.”
“Tapi Mamaku… dia orangnya sangat keras kepala dan sulit diajak bicara.”
“Begitu juga aku,” jawabnya santai. “Ibuku juga orang yang keras kepala.”
“Terus bagaimana jadinya?” tanyaku bingung.
Aldo kembali menyunggingkan senyum tipisnya. “Bagaimana kalau kita anggap pertemuan ini bukan sebagai kencan buta yang harus berakhir dengan jadian?” Ia mencondongkan sedikit tubuhnya ke arahku, meletakkan kedua sikunya di atas meja. “Anggap saja ini sekadar pertemuan biasa antara dua orang yang sama-sama dipaksa oleh orang tua, dan sama-sama tak suka dipaksa-paksa begini.”
Aku menatapnya lekat-lekat, berusaha memahami maksud ucapannya. “Maksudnya bagaimana?”
“Maksudnya, kita mengobrol saja seperti orang biasa yang baru saja saling kenal. Tak ada tekanan apa-apa. Tak ada harapan harus langsung saling jatuh cinta. Tak ada target harus menjadi pasangan atau hal lain semacam itu.”
“Kamu bicara sungguh-sungguh?”
“Sungguh-sungguh.” Matanya menatapku dengan pandangan yang tulus dan jernih. “Kita kenalan dulu, bercerita tentang diri kita masing-masing. Siapa tahu kelak kita cocok menjadi sahabat saja. Siapa tahu juga tidak cocok sama sekali. Yang paling penting, satu hal saja: kita tak boleh saling berbohong.”
Untuk pertama kalinya sejak aku melangkahkan kaki masuk ke dalam kafe ini, aku tersenyum lepas—senyum yang datang dari hati yang mulai merasa lega.
“Baiklah kalau begitu,” jawabku mantap seraya menjulurkan tangan kananku ke arahnya. “Aku setuju dengan usulanmu itu.”