NovelToon NovelToon
KISAH CINTA DAN DUSTA DI JALAN

KISAH CINTA DAN DUSTA DI JALAN

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:252
Nilai: 5
Nama Author: Caesarius A Enda

- Hamid: Sopir travel, usia 38 tahun, sudah beristri dan punya dua anak, terlihat ramah dan sopan tapi pandai menyembunyikan sifat aslinya.

- Nova: Guru SD, usia 28 tahun, cantik, bertubuh mungil, sudah bersuami tapi rumah tangganya terasa hambar.

- Ain: Guru SMP, usia 30 tahun, wajah biasa saja, giginya agak tonggos, belum menikah, pendiam dan mudah percaya orang, sangat membutuhkan kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caesarius A Enda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 2: TANGISAN DI BALIK PINTU TERTUTUP

Hati Ain sudah mati rasa. Ia tidak mau anak itu lahir ke dunia dan harus menanggung dosa orang tuanya, juga tidak mau aibnya terbongkar dan membuat keluarganya malu besar. Dengan hati yang hancur dan penuh penyesalan, ia memutuskan untuk menggugurkan kandungannya.

Ia mencari orang yang bisa membantu diam-diam, tanpa sepengetahuan siapa pun. Nova awalnya melarang, tapi melihat Ain yang sudah tidak waras karena stres dan rasa malu, akhirnya ia pasrah dan menemani Ain.

Hari itu adalah hari paling gelap dan menyakitkan dalam hidup Ain. Di sebuah rumah sepi yang jauh dari keramaian, ia merasakan sakit luar biasa, bukan hanya di tubuhnya tapi jauh lebih sakit di hatinya. Ia menangis sekuat tenaga saat darah mengalir keluar bersama janin yang baru tumbuh itu.

"Maafkan aku nak... maafkan ibu... ibu tidak punya pilihan lain... maafkan aku..." isaknya sambil memegangi perutnya yang kosong kembali.

Sakit fisiknya sembuh setelah beberapa minggu, tapi luka di hatinya tidak akan pernah bisa hilang. Ia merasa telah membunuh darah dagingnya sendiri karena kebodohan dan kesalahannya. Ia merasa najis, merasa tidak pantas hidup, merasa sangat memalukan di hadapan Tuhan dan semua orang.

Sementara itu, Nova juga tidak kalah hancur. Ia mengaku pada suaminya tentang semua kesalahannya. Suaminya sangat marah dan kecewa, selama berbulan-bulan mereka tidak saling bicara. Rumah tangganya hampir runtuh, nama baiknya sempat tercium oleh tetangga, membuat ia sering dicibir diam-diam.

Dua wanita itu yang dulunya dikenal sebagai guru yang baik dan sopan, sekarang hidup dalam bayang-bayang rasa malu dan penyesalan yang mendalam. Mereka kehilangan harga diri, kehilangan ketenangan hati, semua karena terbuai kata-kata manis seorang penipu.

Setelah setahun berlalu, Hamid muncul kembali. Ia berpikir semua sudah tenang dan orang sudah lupa. Tapi ternyata berita itu sudah menyebar luas. Orang-orang sudah tahu kelakuannya yang buruk.

Saat ia mencoba menemui Nova dan Ain untuk meminta maaf, ia disambut dengan kebencian yang membara.

"JANGAN DEKATI KAMI LAGI!" bentak Ain dengan mata yang tajam, "Kamu sudah hancurkan hidup kami berdua! Kamu buat aku membunuh anakku sendiri! Kamu buat kami jadi bahan tertawaan semua orang! Kamu bajingan yang tidak punya hati!"

"Maafkan aku Ain... aku salah, aku sangat menyesal..." kata Hamid dengan kepala tertunduk.

"Maaf?!" potong Nova, "Maaf tidak bisa mengembalikan apa yang sudah hilang! Maaf tidak bisa menghapus rasa malu yang kita rasakan setiap hari! Kamu pikir kami mau apa dari kamu? Kami cuma ingin kamu hilang dari hadapan kami selamanya! Kamu adalah noda hitam in hidup kami!"

Orang-orang di sekitar juga mulai marah saat tahu Hamid datang kembali. Mereka memakinya, mengusirnya, bahkan beberapa orang yang marah ingin memukulnya. Hamid akhirnya lari terbirit-birit, tidak ada tempat baginya untuk berlindung. Istrinya sudah menceraikannya, anak-anaknya tidak mau mengenalnya lagi, tetangga membencinya, semua orang menjauhinya. Ia hidup sebatang kara, miskin dan penuh penyesalan yang tidak ada gunanya.

Sedangkan Nova dan Ain, meski sudah mendapatkan maaf dari keluarga dan lingkungan, tapi bekas luka itu tetap ada. Mereka belajar pelajaran paling pahit dalam hidup: bahwa cinta yang datang dari jalan yang salah hanya akan membawa kehancuran, rasa malu, dan penyesalan seumur hidup.

Mereka sadar, dosa yang mereka lakukan sangat besar, dan mereka harus menanggung akibatnya seumur hidup. Ain menjadi pendiam dan tertutup, tidak pernah mau dekat dengan pria mana pun lagi. Nova berusaha memperbaiki rumah tangganya dengan susah payah, berusaha kembali menjadi wanita yang baik dan setia.

Kisah mereka menjadi pelajaran bagi semua orang, bahwa dusta dan perselingkuhan tidak akan pernah membawa kebahagiaan, yang ada hanya air mata, rasa malu, dan kehancuran yang sulit diperbaiki.

Dua tahun berlalu. Ain dan Nova sudah berusaha bangkit kembali, mencoba menjalani hidup seperti biasa. Tapi nama buruk itu seakan menempel kuat, tidak mudah hilang begitu saja.

Ain masih mengajar di sekolah yang sama, tapi sikap teman sejawat dan orang tua murid berubah. Dulu mereka selalu menyapa dengan hormat, sekarang sering melihatnya dengan tatapan sinis, berbisik-bisik saat ia lewat.

"Itu dia wanita yang hamil di luar nikah terus menggugurkan kandungannya..."

"Katanya guru, tapi kelakuannya tidak ada bedanya dengan wanita jalanan..."

"Kasihan orang tuanya, punya anak tapi malah bikin malu keluarga..."

Kalimat-kalimat tajam itu sering terdengar di telinga Ain, membuat hatinya perih setiap hari. Ia selalu menunduk berjalan, tidak berani menatap mata orang lain. Setiap kali melihat anak kecil, bayangan janin yang pernah ia kandung selalu muncul di pikirannya, membuat dadanya sesak dan matanya basah. Ia sering bangun tengah malam sambil menangis, meminta ampun kepada Tuhan, merasa dosanya terlalu besar untuk diampuni.

Sementara Nova, meski suaminya Pak Budi sudah mau menerima kembali, tapi rumah tangga mereka tidak pernah sama lagi. Kepercayaan yang hancur tidak bisa disatukan kembali seperti semula. Pak Budi selalu curiga, sering memeriksa ponsel Nova, melarangnya pergi ke mana-mana, bahkan kadang melontarkan kata-kata kasar saat sedang marah.

"Kamu pikir aku masih percaya sama kamu? Dulu kamu juga terlihat baik-baik saja, ternyata di belakangku kamu main dengan sopir travel! Siapa tahu sekarang kamu masih punya pria lain!" bentak Pak Budi suatu hari saat mereka bertengkar.

Nova hanya diam menangis, tidak bisa membela diri. Ia tahu semua ini adalah akibat dari kesalahannya sendiri. Ia menerima semua cacian dan perlakuan dingin itu sebagai hukuman yang pantas ia dapatkan. Ia hidup seperti orang yang dihukum seumur hidup, tidak pernah merasa tenang dan bahagia lagi.

Suatu hari, kabar mengejutkan terdengar di desa mereka. Hamid sakit parah, terbaring lemah di rumah kontrakan sempit, tidak ada yang mau merawatnya. Ia menderita penyakit paru-paru basah yang sudah parah, tubuhnya kurus kering, wajahnya pucat dan penuh kerutan, terlihat jauh lebih tua dari umurnya yang sebenarnya.

Orang-orang bilang, sebelum jatuh sakit, Hamid pernah bekerja di kota lain tapi selalu gagal. Uangnya habis, teman-temannya pergi meninggalkannya, akhirnya ia terpaksa pulang kembali ke kampung halaman dalam keadaan menyedihkan.

Mendengar kabar itu, hati Ain terasa campur aduk. Ia benci Hamid karena sudah menghancurkan hidupnya, tapi di sisi lain ia merasa kasihan melihat nasib pria yang pernah ia cintai itu. Akhirnya dengan hati yang berat, Ain memberanikan diri untuk datang menemui Hamid diam-diam.

Saat masuk ke dalam ruangan yang pengap dan berbau obat-obatan itu, Ain hampir tidak mengenali pria yang terbaring di sana. Hamid yang dulu tampan, ramah, dan penuh percaya diri, sekarang tinggal kulit pembalut tulang.

Melihat Ain datang, mata Hamid berkaca-kaca. Ia mencoba bangun tapi tidak kuat.

"Ain... kamu mau datang menemuiku... padahal aku sudah buat kamu hancur..." suaranya parau dan lemah.

"Kenapa kamu lakukan semua itu dulu Hamid? Kenapa kamu bohongi aku dan Nova? Kenapa kamu hancurkan hidup kami yang tidak pernah berbuat salah sama kamu?" tanya Ain dengan suara gemetar, air mata mulai menetes.

Hamid menangis, air matanya mengalir di pipi keriputnya.

"Ain... aku bodoh... aku jahat... aku akui aku salah besar. Dulu aku merasa hidupku membosankan, istriku keras kepala, ekonomi susah, terus aku ketemu kamu dan Nova... aku merasa dihargai, merasa muda kembali. Aku suka diperhatikan oleh wanita cantik dan baik seperti kalian, jadi aku berbohong, aku berjanji hal yang tidak bisa aku penuhi... aku cuma mau memuaskan nafsuku dan egoku saja. Aku tidak pernah berpikir akibatnya akan separah ini..."

Hamid terbatuk-batuk hebat, darah keluar dari mulutnya.

"Aku pantas dapat semua hukuman ini Ain. Aku sudah kehilangan segalanya: istri, anak, pekerjaan, harga diri... aku hidup seperti orang mati yang masih bernapas. Aku menyesal setiap detik dalam hidupku, tapi penyesalanku sudah terlambat... maafkan aku Ain... maafkan aku dan Nova..."

Ain menangis sejadi-jadinya. Ia melihat pria yang pernah ia cintai, yang pernah ia benci seumur hidupnya, sekarang hancur total karena dosa-dosanya. Ia tidak bisa marah lagi, hanya rasa sedih dan kasihan yang memenuhi hatinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!