Kalea tidak sengaja memecahkan kaca mobil mewah milik Raditya di area parkir. Raditya yang marah besar meminta ganti rugi yang sangat mahal. Karena Kalea tidak bisa membayar uang sebanyak itu dalam waktu cepat, Raditya mengancam akan membawanya ke kantor polisi. Namun, Raditya yang sedang pusing karena dipaksa ibunya menikahi Natasha melihat sebuah celah. Raditya akhirnya menawarkan kesepakatan: Kalea bebas dari tuntutan polisi jika mau menjadi pacar pura-puranya.
Hubungan yang awalnya penuh adu mulut dan kebencian ini berubah rumit saat keadaan memaksa mereka terikat dalam pernikahan resmi. Konflik berat pun dimulai. Orang tua Raditya menolak keras menantu yang tidak jelas asal-usulnya. Di sisi lain, keluarga kandung Kalea terus datang mengusik dan membongkar status "anak haram" Kalea demi menjatuhkannya di depan keluarga Raditya.
SALAM DARI AUTHOR 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 2 : SATU-SATUNYA DEKAPAN DI TENGAH BADAI
Malam semakin larut dan dingin terasa menusuk tulang. Di dalam kamar yang berantakan itu, Kalea Azzahra Putri Wijaya masih terduduk lemas di atas lantai. Tubuhnya bersandar pada kaki ranjang. Tangan kanannya gemetar saat memegang selembar tisu untuk mengelap darah yang mengalir dari bibirnya. Bibir mungil itu sobek akibat tamparan keras dari ayah dan ibunya. Setiap kali tisu itu menyentuh lukanya, Kalea harus meringis menahan rasa perih yang luar biasa.
Air matanya terus mengalir tanpa bisa dibendung. Bukan hanya fisik yang sakit, tetapi jiwanya hancur berkeping-keping. Mengapa takdir begitu kejam padanya? Mengapa ia harus lahir di tengah keluarga yang menganggapnya sebagai musuh dan sampah?
Cklek...
Suara pintu kamar terbuka dengan sangat pelan. Kalea langsung menengadah dengan waspada. Matanya yang biru berkilat, bersiap untuk membela diri jika ada orang lain lagi yang datang untuk menghinanya. Namun, begitu melihat siapa yang melangkah masuk, pertahanan Kalea runtuh seketika.
Seorang wanita paruh baya dengan pakaian daster sederhana masuk sambil membawa sebaskom air hangat dan kotak obat. Wanita itu adalah Bi Minah. Beliau adalah pengasuh sekaligus kepala pelayan di rumah itu yang sudah ikut bekerja sejak Kalea masih bayi. Di rumah megah yang penuh dengan kepalsuan ini, hanya Bi Minah yang tulus menyayangi Kalea. Pelayan yang lain memilih untuk menjauhi Kalea karena takut terkena amarah dari majikan besar mereka.
"Non Kalea..." bisik Bi Minah dengan suara yang bergetar menahan tangis.
Melihat kondisi Kalea yang berdarah-darah, Bi Minah langsung meletakkan baskom di lantai. Beliau berlari kecil dan langsung memeluk tubuh Kalea dengan sangat erat. Kalea yang biasanya bersikap tegar dan keras kepala, kini tidak bisa menahannya lagi. Ia membalas pelukan Bi Minah dengan erat. Ia menyembunyikan wajahnya di bahu wanita paruh baya itu sambil menangis sejadi-jadinya.
"Bibi... Sakit sekali, Bi... Kenapa mereka jahat sekali sama Kalea? Apa salah Kalea, Bi?" tangis Kalea pecah. Suaranya terdengar begitu pilu hingga menyayat hati siapa saja yang mendengarnya.
Bi Minah mengusap punggung Kalea dengan penuh kasih sayang. Air mata wanita tua itu juga ikut mengalir deras membasahi pipinya yang sudah keriput. "Menangislah, Non. Keluarkan semuanya. Bibi di sini. Bibi tahu Non Kalea tidak salah. Bibi tahu Non Kalea anak baik."
"Kalea tidak menggoda Mas Fandi, Bi! Demi Allah, Kalea lagi tidur! Laki-laki brengsek itu yang masuk ke kamar Kalea!" seru Kalea di sela-sela tangisnya. Suaranya serak dan penuh amarah yang terpendam.
"Iya, Non. Bibi percaya. Bibi tahu betul bagaimana sifat Non Kalea dari kecil. Non Kalea tidak mungkin melakukan hal serendah itu," ucap Bi Minah sambil mengecup puncak kepala Kalea yang tertutup rambut kusutnya. "Mari, Non, kita obati dulu lukanya. Ya Tuhan, dahi Non juga berdarah sampai seperti ini."
Bi Minah melepaskan pelukannya perlahan. Dengan tangan yang gemetar karena sedih dan geram, beliau mengambil kapas lalu mencelupkannya ke dalam air hangat. Dengan sangat hati-hati, Bi Minah membersihkan darah segar yang mengalir di dahi dan bibir sobek Kalea.
"Aw... Pelan-pelan, Bi. Perih sekali," keluh Kalea sambil memejamkan matanya rapat-rapat.
"Maaf ya, Non. Tahan sebentar ya sayang. Hati Bibi rasanya hancur melihat Non seperti ini. Tega sekali Tuan dan Nyonya melakukan ini pada anak kandung mereka sendiri," kata Bi Minah dengan suara terisak. Beliau benar-benar tidak habis pikir dengan kekejaman keluarga Wijaya.
Kalea membuka matanya yang biru jernih, menatap Bi Minah dengan pandangan yang kosong namun penuh kepedihan. "Anak kandung, Bi? Tadi Mama bilang apa? Mama bilang Kalea ini cuma anak haram. Mereka bilang darah Kalea ini kotor. Sebenarnya... Kalea ini anak siapa, Bi? Kenapa Papa dan Mama benci sekali melihat Kalea hidup?"
Bi Minah tertegun mendengar pertanyaan itu. Tangannya yang sedang memegang kapas sempat terhenti di udara. Ada rasa ragu dan kesedihan yang mendalam di mata Bi Minah, namun beliau segera menguasai diri. Beliau mengusap air mata di pipi Kalea dengan lembut.
"Jangan dengarkan ucapan mereka, Non. Apapun yang mereka katakan, Non Kalea adalah anak yang berharga. Non Kalea tumbuh menjadi wanita yang mandiri dan sukses. Non bisa jadi manajer hotel tanpa bantuan sepeser pun dari mereka. Non harus kuat," ujar Bi Minah mencoba memberi semangat.
"Kalea selalu mencoba untuk kuat, Bi. Selama 24 tahun Kalea bertahan dari semua pukulan dan cacian mereka. Kalea diam saat Shinta merebut semua barang Kalea. Kalea diam saat Mbak Fitri selalu menghina Kalea. Tapi malam ini... Malam ini keterlaluan, Bi! Mereka membiarkan Mas Fandi bebas tanpa salah, sementara Kalea dipukuli menggunakan ikat pinggang seperti binatang!" Kalea mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya memutih. Rasa benci yang mendalam mulai tumbuh menggantikan rasa sedihnya.
"Gusti Allah tidak tidur, Non. Orang-orang yang berbuat jahat pasti akan mendapatkan balasannya. Mas Fandi itu ular, suatu hari kelicikannya pasti akan terbongkar sendiri," kata Bi Minah sambil menempelkan plester di dahi Kalea yang robek.
Kalea menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan emosinya yang sempat meluap. Ia mengusap sisa-sisa air mata di wajahnya dengan kasar. Sisi tangguh dan "bar-bar" di dalam dirinya kini kembali bangkit. Ia tidak boleh terus-menerus meratap. Menangis tidak akan menyelesaikan masalah dan hanya akan membuat Shinta serta keluarganya tertawa puas.
"Bibi benar. Kalea tidak boleh lemah. Mulai besok, Kalea akan tetap masuk kerja ke hotel seperti biasa. Kalea tidak akan membiarkan luka-luka ini menghentikan karier Kalea," ucap Kalea dengan nada suara yang kembali tegas dan penuh tekad.
"Tapi Non, kondisi Non masih lemah. Apa tidak sebaiknya Non istirahat dulu di rumah satu hari?" tanya Bi Minah dengan raut wajah khawatir.
Kalea menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, Bi. Kalau Kalea tetap tinggal di rumah ini besok, mereka pasti akan terus-menerus mengintimidasi dan menyindir Kalea. Lebih baik Kalea sibuk di hotel. Dan satu hal lagi, Bi... Kalea bersumpah, Kalea tidak akan pernah melupakan kejadian malam ini. Suatu hari nanti, mereka semua yang harus berlutut meminta maaf kepada Kalea!"
Bi Minah tersenyum tipis melihat binar keberanian yang kembali muncul di mata biru sang nona muda. Beliau mengelus tangan Kalea dengan penuh rasa bangga. "Bibi akan selalu mendukung Non Kalea. Apapun yang terjadi, Bibi selalu ada di belakang Non."
"Terima kasih banyak ya, Bi. Cuma Bibi yang Kalea punya di rumah neraka ini," ucap Kalea tulus sambil tersenyum kecil, meskipun senyuman itu membuat sudut bibirnya yang sobek kembali terasa sedikit nyeri.
Malam itu, di bawah penjagaan dan kasih sayang tulus dari Bi Minah, Kalea akhirnya bisa kembali berbaring di ranjangnya untuk beristirahat. Meskipun hatinya masih menyisakan luka yang amat dalam, dendam dan tekad untuk bangkit telah tertanam kuat di dalam dadanya. Takdir mungkin sedang membelenggunya saat ini, namun Kalea berjanji bahwa ia yang akan memegang kendali atas hidupnya sendiri di masa depan.
...****************...
Sementara di kamar Kalea suasananya penuh dengan air mata dan kasih sayang tulus dari Bi Minah, kondisi yang jauh berbeda terjadi di kamar sebelah. Kamar mewah bernuansa modern minimalis milik Fitri Amelia Wijaya dan Fandi Achmad Mahendra malam itu mendadak berubah menjadi arena perdebatan yang sangat panas. Suara napas memburu dan langkah kaki yang menghentak lantai terdengar jelas di balik pintu kayu yang tertutup rapat.
Fitri berjalan mondar-mandir di depan ranjangnya dengan wajah yang memerah padam menahan amarah yang meledak-ledak. Tangannya bergetar hebat, sementara air matanya menghapus riasan tipis di wajah cantiknya. Fitri yang berusia 29 tahun bukan hanya seorang wanita angkuh di rumah ini. Di luar sana, ia adalah seorang Dokter Spesialis Jantung yang sangat terkenal di sebuah rumah sakit swasta elit. Ia terbiasa dihormati oleh pasien dan rekan sejawatnya, sehingga melihat suaminya berada di atas ranjang adik iparnya sendiri adalah pukulan telak bagi harga dirinya yang setinggi langit.
"Kamu bajingan, Mas! Kamu benar-benar bajingan!" maki Fitri dengan suara melengking, menunjuk tepat ke arah wajah suaminya. "Bagaimana bisa kamu tega melakukan ini padaku?! Kurang apa aku selama ini, Mas?! Aku punya karier, aku dokter spesialis, posisiku terhormat! Tapi kamu malah mengendap-endap ke kamar anak haram itu!"
Fandi yang berdiri di dekat lemari pakaian langsung memasang wajah paling melas yang bisa ia buat. Pria yang bekerja sebagai Manajer Keuangan itu tahu betul bahwa posisinya sedang terancam. Jika Fitri menceraikannya, ia akan kehilangan semua fasilitas mewah dan sokongan dana dari keluarga besar Wijaya. Ia harus memutar otak secepat mungkin untuk menjatuhkan seluruh kesalahan kepada Kalea.
"Astagfirullah, Sayang... Demi Allah, Mas tidak pernah berniat seperti itu," panggil Fandi dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, terdengar sangat gemetar dan penuh kepalsuan. Ia perlahan melangkah mendekati istrinya. "Dengarkan Mas dulu, jangan terpancing emosi karena ulah wanita gatel itu!"
"Jangan mendekat!" bentak Fitri, mundur satu langkah untuk menghindar. "Mataku sendiri melihat kamu sedang menindih dia di atas kasur, Mas! Kamu mau cium dia! Jangan kira aku bodoh dan bisa kamu bohongi begitu saja dengan kata-kata manismu!"
Fandi menarik napas dalam-dalam, lalu berpura-pura frustrasi. Ia mengacak rambutnya sendiri dengan kasar, seolah-olah ia adalah korban yang paling menderita malam ini. "Mas justru yang dijebak, Mas! Mas bersumpah! Kamu tahu sendiri kan bagaimana kelakuan adikmu yang tidak jelas asal-usulnya itu? Mas tadi cuma mau ke dapur lewat depan kamarnya karena haus. Tiba-tiba dia membuka pintu, menarik tangan Mas ke dalam, lalu langsung mengunci pintunya dari dalam!"
"Lalu kenapa kamu tidak teriak atau memukulnya kalau kamu memang menolak?!" tanya Fitri, matanya menatap tajam, mencari celah kebohongan di wajah suaminya.
"Mas terkejut, Mas terpaku!" seru Fandi meyakinkan, nadanya naik satu oktav untuk mempertegas kebohongannya. "Dia langsung menjatuhkan dirinya ke kasur dan menarik baju Mas sampai Mas ikut jatuh menindih tubuhnya. Mas bersumpah demi apa pun, Mas merasa sangat jijik, Fitri! Jangankan mau menyentuh dia, melihat matanya yang biru aneh itu saja Mas selalu merasa ngeri! Dia itu cuma anak haram yang haus perhatian karena semua orang di rumah ini mengabaikannya!"
Fandi melihat raut wajah istrinya mulai sedikit goyah. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Dengan gerakan perlahan yang penuh taktik, Fandi maju dan langsung melingkarkan kedua lengan kekarnya di pinggang Fitri. Meskipun Fitri sempat memberontak dan mencoba mendorong dada suaminya, Fandi mempererat pelukannya, mengunci tubuh wanita itu agar tidak bisa kabur.
"Lepas, Mas! Lepas!" usir Fitri dengan ketus, namun kekuatannya mulai melemah karena kelelahan emosi.
"Tidak, Mas tidak akan melepasmu sebelum kamu percaya pada suamimu sendiri," bisik Fandi dengan suara serak yang seksi tepat di dekat telinga Fitri. Pria itu menundukkan kepalanya, lalu mulai mendaratkan ciuman-ciuman lembut yang basah di sepanjang leher jenjang Fitri, mencoba membakar gairah istrinya yang sedang murka. "Mas hanya cinta sama kamu, Fitri. Kamu istri Mas yang hebat, seorang dokter spesialis jantung yang cantik dan dihormati semua orang. Mana mungkin Mas berpaling pada sampah seperti Kalea? Dia tidak ada apa-apanya dibanding kamu."
Fitri memejamkan matanya, napasnya mulai memburu bukan lagi karena amarah, melainkan karena sentuhan-sentuhan manipulatif dari suaminya yang sangat pandai mengambil hati. "Tapi kejadian tadi... Papa sampai memukul dia dengan ikat pinggang karena kamu, Mas..."
"Dia memang pantas mendapatkan itu, sayang," potong Fandi sambil terus menciumi leher Fitri dengan penuh nafsu. "Dia harus diberi pelajaran supaya tahu diri dan tidak berani lagi menggoda suami kakaknya sendiri. Mas benci sekali melihat mukanya yang sok polos itu. Mas merasa sangat kotor karena sudah menyentuh kulitnya tadi, rasanya Mas ingin mandi memakai sabun antiseptik berkali-kali untuk menghilangkan bekas wanita murahan itu dari tubuh Mas."
Mendengar kata-kata Fandi yang begitu menjelek-jelekkan Kalea, rasa cemburu dan amarah Fitri perlahan-lahan menguap, digantikan oleh rasa puas yang egois. Ia merasa menang atas Kalea. Kebenciannya kepada adiknya itu membuat Fitri dengan mudah menelan bulat-bulat semua kebohongan suaminya.
Fandi menghentikan ciumannya sejenak, lalu menatap lurus ke dalam mata Fitri dengan pandangan yang penuh gairah yang dibuat-buat. "Sudah ya, jangan bahas anak haram itu lagi. Malam ini Mas mau membuktikan seberapa besar cinta Mas cuma untuk kamu."
Fitri mendengus pelan, namun tangannya kini sudah beralih melingkar di leher Fandi. "Kamu benar-benar pandai bicara ya, Mas. Awas saja kalau kamu berbohong lagi padaku."
Fandi tersenyum menang di dalam hati. Kelicikannya berhasil seratus persen. Ia mendekatkan wajahnya, mengecup bibir Fitri dengan lembut sebelum berbisik kembali dengan nada menggoda, "Pikirkan saja pernikahan kita, sayang. Kita sudah menikah selama dua tahun, tapi rumah ini masih terasa sepi karena belum ada tangisan bayi. Bagaimana kalau malam ini kita gunakan untuk program membuat anak lagi? Mas ingin sekali punya anak yang cerdas dan cantik sepertimu."
Mendengar ajakan suaminya tentang memiliki anak, pertahanan Fitri runtuh sepenuhnya. Keinginan mendalam untuk segera menimang momongan setelah dua tahun menanti membuat Fitri melupakan semua kejadian mengerikan di kamar Kalea beberapa menit yang lalu.
"Mas... Tapi ini sudah lewat tengah malam," ucap Fitri dengan suara yang melembut, berpura-pura malu.
"Tidak ada kata terlambat untuk membuat buah hati kita, sayang," jawab Fandi dengan senyuman mesum yang tersembunyi. Pria itu langsung menggendong tubuh Fitri ke atas ranjang mereka, menenggelamkan malam jahanam itu ke dalam kepalsuan cinta yang penuh dengan kelicikan dan manipulasi untuk menutupi kebusukan hatinya sendiri.