Di malam hujan yang seharusnya biasa saja, hidup Nayra berubah total setelah ia menerima undangan misterius dari aplikasi bernama “The Game Master.” Awalnya hanya permainan tantangan sederhana berhadiah uang. Namun, setiap level yang berhasil diselesaikan justru menyeretnya semakin dalam ke permainan berbahaya yang tak bisa dihentikan.
Aturannya hanya satu: jangan pernah melanggar perintah permainan.Di tengah usahanya mencari jalan keluar, Nayra bertemu dengan Zavian, pria dingin dan penuh teka-teki yang seolah mengetahui lebih banyak tentang permainan itu. Tapi semakin dekat mereka, semakin Nayra curiga bahwa Zavian mungkin bukan korban… melainkan bagian dari permainan itu sendiri.
Ketika cinta, pengkhianatan, dan kematian mulai bercampur dalam satu arena mematikan, Nayra harus memilih: mempercayai hatinya atau bertahan hidup.
Karena di permainan ini, tidak semua orang bisa keluar hidup-hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 — Jangan Percaya Siapa Pun
Suara hujan di luar minimarket masih terdengar samar, tapi suasana di dalam terasa jauh lebih mengerikan.
Tidak ada lagi yang peduli soal listrik mati.
Tidak ada yang peduli soal barang belanjaan berserakan atau kopi yang tumpah di lantai.
Semua mata sekarang tertuju pada mayat pria di dekat rak makanan.
Darahnya masih mengalir tipis.
Bau amis mulai menyebar.
Dan timer di layar ponsel semua pemain terus berjalan tanpa belas kasihan.
22:51
Nayra menelan ludah susah payah.
Tangannya dingin.
Kakinya terasa lemas.
Ia belum pernah melihat orang mati sedekat ini sebelumnya.
“Dia… benar-benar mati?”
Suara Nayra hampir seperti bisikan.
Zavian berdiri di dekat mayat itu sambil memperhatikan sekitar. Tatapannya tajam, seolah otaknya sedang bekerja cepat.
“Kalau cuma pingsan, darahnya nggak sebanyak ini.”
Jawaban itu sukses membuat perut Nayra makin mual.
Seorang perempuan berambut pendek tiba-tiba menunjuk Zavian.
“Kamu santai banget dari tadi!”
Semua orang langsung menoleh.
Perempuan itu terlihat sekitar umur dua puluh lima tahunan. Wajahnya pucat, tapi matanya penuh curiga.
“Kamu bahkan nggak keliatan takut!”
Zavian melirik datar.
“Terus?”
“Jangan-jangan kamu pelakunya!”
Beberapa orang langsung mulai berbisik.
Nayra bisa merasakan atmosfer berubah.
Orang-orang mulai mencari kambing hitam.
Dan itu buruk.
Sangat buruk.
“Aku juga curiga sama dia,” seorang pria bertubuh besar ikut bicara. “Dari tadi sok tenang.”
Zavian malah menyender santai ke rak minuman.
“Kalau aku pembunuhnya, kalian semua udah mati dari tadi.”
Nada bicaranya dingin sekali.
Pria bertubuh besar itu langsung emosi.
“Lo nantangin gue?!”
“Kalau mau berisik terus, silakan.” Zavian menunjuk timer di layar. “Waktu kalian tinggal dua puluh menit.”
Kalimat itu membuat semua orang langsung diam lagi.
Benar.
Mereka tidak punya banyak waktu.
Nayra buru-buru melihat sekitar.
Total ada sembilan orang di minimarket sekarang.
Termasuk dirinya dan Zavian.
Kalau memang ada sepuluh peserta…
berarti satu sudah mati?
Atau ada seseorang yang belum muncul?
Ponselnya tiba-tiba berbunyi.
TING!
Tulisan baru muncul.
PETUNJUK KEDUA TERSEDIA.
Lalu layar menampilkan kalimat aneh.
“Pengkhianat takut pada cahaya.”
“Apa maksudnya?” Nayra mengernyit.
“Entahlah,” jawab Zavian singkat.
Kasir minimarket yang sedari tadi gemetar mulai menangis.
“Aku mau pulang…”
“Pintu nggak bisa dibuka,” sahut pria tua di dekat pintu otomatis.
Nayra langsung menoleh.
Benar.
Pintu minimarket terkunci.
Pria tua itu mencoba menariknya keras-keras, tapi tidak bergerak sedikit pun.
“Sial! Sial!”
Beberapa orang ikut panik.
Mereka mulai mencoba membuka pintu bersama-sama.
Tetap tidak bisa.
Seolah ada sesuatu yang mengunci dari luar.
Atau dari sistem.
“Ini nggak masuk akal…” gumam Nayra.
“Sejak awal permainan ini memang nggak masuk akal,” kata Zavian.
Nayra menatapnya.
“Kamu kelihatannya tahu banyak.”
“Aku cuma lebih cepat sadar.”
“Sadar soal apa?”
Bahunya bergerak kecil.
“Kalau kita sedang dipermainkan seseorang yang punya kendali besar.”
Belum sempat Nayra bertanya lagi, layar televisi di sudut minimarket tiba-tiba menyala sendiri.
CREETTT—
Layar penuh noise hitam putih.
Orang-orang langsung mundur takut.
Lalu perlahan muncul gambar topeng hitam.
Topeng yang sama seperti ikon aplikasi mereka.
Suara berat itu kembali terdengar.
“Waktu terus berjalan.”
Tak ada seorang pun berani bicara.
“Pengkhianat ada di antara kalian.”
“Siapa kamu?!” teriak seseorang.
Suara itu mengabaikannya.
“Jika pemain gagal menemukan pengkhianat…”
Layar berubah merah.
“…hukuman akan dimulai.”
BUGH!
Tiba-tiba rak belakang jatuh sendiri.
Semua orang menjerit.
Nayra refleks memegang lengan Zavian saking kagetnya.
Cowok itu melirik tangan Nayra sekilas.
Nayra buru-buru melepasnya.
“Maaf.”
Zavian tidak menjawab.
Tatapannya malah tertuju pada CCTV di pojok ruangan.
Lampu merah kecil di kamera itu berkedip pelan.
“Ada yang ngawasin kita,” katanya pelan.
Nayra langsung merinding.
“Aku udah tahu dari tadi…”
“Bukan cuma ngawasin.”
Zavian menyipitkan mata.
“Mereka menikmati ini.”
Perempuan berambut pendek tadi mulai menangis.
“Aku nggak mau mati…”
Pria besar yang emosian itu langsung menunjuk seorang remaja laki-laki.
“Jangan-jangan dia! Dari tadi diem aja!”
“Hah?!” Remaja itu kaget. “Bukan gue!”
“Semua pembunuh pasti ngomong gitu!”
Keributan mulai pecah.
Mereka saling tuduh.
Saling curiga.
Dan Nayra mulai sadar sesuatu.
Permainan ini bukan cuma soal bertahan hidup.
Tapi juga menghancurkan kepercayaan.
Pelan-pelan.
Sampai semua orang berubah gila.
Zavian tiba-tiba berjalan menuju lorong belakang minimarket.
Nayra refleks mengikuti.
“Kamu mau ke mana?”
“Cari petunjuk.”
“Aku ikut.”
“Jangan.”
Nayra langsung kesal.
“Kenapa?”
“Karena kalau aku ternyata pengkhianat, kamu bakal mati.”
Cowok itu bicara tanpa ekspresi.
Nayra tercekat sebentar.
Sialnya… masuk akal.
Tapi entah kenapa ia tetap mengikuti Zavian.
Lorong belakang minimarket jauh lebih gelap. Hanya ada cahaya emergency merah yang bikin semuanya terlihat menyeramkan.
Rak-rak tinggi menjulang seperti bayangan.
Suasana sunyi.
Terlalu sunyi.
Langkah mereka terdengar pelan di lantai.
Nayra menatap punggung Zavian.
Cowok itu tinggi dan terlihat tenang, tapi justru itu yang bikin sulit ditebak.
“Kenapa kamu ikut permainan ini?” Nayra akhirnya bertanya.
“Dipilih.”
“Ya aku tahu. Maksudku… kenapa nerima?”
Zavian diam beberapa detik.
Lalu menjawab pendek.
“Karena aku butuh uang.”
Jawaban yang sederhana.
Tapi ada sesuatu dalam nada suaranya yang terdengar lebih gelap dari itu.
Nayra tidak melanjutkan.
Mereka berhenti saat menemukan pintu gudang sedikit terbuka.
CREEKK—
Zavian mendorongnya pelan.
Ruangan gudang gelap total.
Bau lembap dan kardus tua langsung menyeruak.
Nayra merinding.
“Aku nggak suka ini…”
Zavian menyalakan senter dari ponselnya.
Cahayanya menyapu ruangan.
Kardus.
Rak besi.
Botol minuman.
Dan—
Nayra langsung menahan napas.
Di dinding gudang terdapat tulisan merah besar.
JANGAN PERCAYA PLAYER 03
Tubuh Nayra langsung membeku.
Player 03.
Zavian.
Cowok itu juga melihat tulisan itu.
Ekspresinya tetap datar.
“Aku mulai bosan,” gumamnya.
Nayra mundur pelan tanpa sadar.
Zavian meliriknya.
“Kamu percaya tulisan itu?”
“Aku…”
Jujur saja, Nayra tidak tahu.
Ini bisa jadi jebakan.
Tapi bisa juga peringatan.
Zavian berjalan mendekat perlahan.
Nayra refleks makin mundur.
Sampai punggungnya menabrak rak.
Deg.
Cowok itu berhenti tepat di depannya.
Jarak mereka sangat dekat sekarang.
Nayra bisa melihat jelas mata tajamnya di bawah cahaya redup.
“Kalau aku memang pengkhianat,” katanya pelan,
“aku nggak akan nunggu selama ini buat nyakitin kamu.”
Jantung Nayra berdetak aneh.
Bukan karena malu.
Karena takut.
Dan bingung.
Tatapan cowok itu sulit dibaca.
Sangat sulit.
Tiba-tiba—
BRAK!
Suara benda jatuh terdengar dari luar gudang.
Nayra tersentak.
Zavian langsung keluar cepat.
Saat mereka kembali ke area minimarket…
suasana berubah kacau.
Pria besar tadi terkapar di lantai sambil memegangi kepalanya yang berdarah.
“Ada yang nyerang gue!” teriaknya.
“Siapa?!”
“Gue nggak lihat!”
Orang-orang mulai panik lagi.
Timer tersisa lima belas menit.
Dan keadaan makin buruk.
Perempuan berambut pendek tadi tiba-tiba menunjuk Nayra dan Zavian.
“Kalian dari mana aja?!”
“Gudang,” jawab Zavian santai.
“Ngapain?!”
“Cari petunjuk.”
“BOHONG!”
Perempuan itu terlihat hampir histeris.
“Kalian pasti kerja sama!”
Nayra mulai emosi.
“Kami nggak ngapa-ngapain!”
“Terus tulisan di gudang itu apa?!”
Nayra langsung menegang.
“Kamu lihat?”
“Tentu aja lihat!”
Sial.
Berarti orang lain juga menemukannya.
Sekarang semua mata langsung tertuju pada Zavian.
Atmosfer berubah dingin.
Berbahaya.
Pria tua itu mundur perlahan dari Zavian.
“Aku nggak percaya sama dia.”
“Aku juga,” sahut yang lain.
Nayra menatap Zavian.
Cowok itu malah terlihat malas.
“Kalian gampang banget dipermainkan.”
“Kamu jelas mencurigakan!” bentak perempuan tadi.
“Karena?”
“Kamu terlalu tenang!”
Zavian tertawa kecil.
Pertama kalinya Nayra melihat ekspresi itu.
Tapi bukannya hangat…
malah bikin merinding.
“Jadi aku harus teriak-teriak dulu biar dianggap nggak bersalah?”
Tidak ada yang menjawab.
Tiba-tiba layar televisi menyala lagi.
TING!
SISA WAKTU: 10 MENIT
Suara Game Master terdengar kembali.
“Petunjuk terakhir akan diberikan.”
Semua orang langsung menatap layar.
Tulisan perlahan muncul.
“Pengkhianat tidak sendirian.”
Hening.
Nayra langsung merasa ada yang salah.
Tidak sendirian?
Maksudnya ada lebih dari satu?
Orang-orang mulai panik lagi.
“Ini gila…”
“Kita semua bakal mati…”
Nayra memijat kepalanya.
Otaknya berusaha menyusun semuanya.
Petunjuk pertama.
Pengkhianat ada di antara mereka.
Petunjuk kedua.
Takut pada cahaya.
Petunjuk ketiga.
Tidak sendirian.
Tapi semuanya masih terlalu abstrak.
“Aku ngerti sekarang,” gumam Zavian tiba-tiba.
Nayra menoleh cepat.
“Kamu tahu siapa pengkhianatnya?”
“Mungkin.”
“Siapa?!”
Sebelum Zavian menjawab—
Lampu emergency mendadak mati.
Gelap total.
Jeritan langsung pecah.
“Aaaaa!”
“Apaan lagi?!”
Nayra refleks menahan napas.
Gelapnya pekat sekali.
Lalu—
suara langkah kaki.
Cepat.
Dekat.
Seseorang berlari.
BUGH!
Suara benda dipukul keras terdengar.
Orang-orang menjerit histeris.
Nayra buru-buru menyalakan flashlight ponselnya.
Cahaya kecil itu menyapu ruangan—
dan berhenti pada satu sosok di lantai.
Perempuan berambut pendek tadi.
Tubuhnya kejang.
Darah mengalir dari perutnya.
Mata Nayra membelalak.
“Ya Tuhan…”
Perempuan itu gemetar sambil menunjuk ke arah seseorang.
“D-dia…”
Semua orang langsung melihat ke arah yang ditunjuk.
Dan cahaya flashlight jatuh tepat pada—
kasir minimarket.
Cowok muda itu langsung pucat.
“Bukan aku! Demi Tuhan bukan aku!”
“Dia nunjuk kamu!” teriak pria tua.
“Aku nggak ngapa-ngapain!”
Kasir itu panik berat.
“Kalian harus percaya—”
Tiba-tiba layar ponsel semua pemain berbunyi bersamaan.
TING!
PENGKHIANAT DITEMUKAN
Semua membeku.
Kasir itu langsung lemas.
“Bukan aku…”
Layar kembali berubah.
PLAYER 06 ELIMINATED
Detik berikutnya—
DUARR!
Suara ledakan keras terdengar.
Tubuh kasir itu langsung terlempar ke belakang.
Darah muncrat ke rak makanan.
Jeritan memenuhi minimarket.
Nayra membeku total.
Otaknya kosong.
Tubuh kasir itu jatuh dengan kepala hancur.
Mati.
Benar-benar mati.
Nayra langsung muntah di lantai.
Tangannya gemetar hebat.
Air matanya keluar begitu saja.
Ia tidak kuat melihatnya.
Ini terlalu nyata.
Terlalu mengerikan.
Seseorang memegang bahunya.
Zavian.
“Lihat aku.”
Nayra sulit bernapas.
“Tarik napas.”
“Apa… apa itu tadi…”
“Bom.”
Nayra langsung menatapnya dengan wajah pucat.
“Apa?”
“Bom kecil kemungkinan ditanam di tubuh pemain.”
Dunia Nayra terasa berputar.
“Mereka gila…”
Zavian tidak menjawab.
Tatapannya justru mengarah pada CCTV di atas.
Dingin.
Marah.
Untuk pertama kalinya Nayra melihat emosi nyata di wajah cowok itu.
Timer di layar berhenti.
00:00
Tulisan baru muncul perlahan.
LEVEL 1 COMPLETE
Orang-orang terdiam dalam trauma.
Darah.
Tangisan.
Mayat.
Semua bercampur jadi satu.
Lalu suara Game Master kembali terdengar.
“Selamat.”
Suara itu terdengar puas.
“Kalian berhasil bertahan.”
Nayra mengepalkan tangan.
“Apa maumu sebenarnya…” bisiknya penuh gemetar.
“Permainan baru saja dimulai.”
Lalu layar televisi berubah lagi.
Dan jantung Nayra langsung berhenti sesaat.
Karena foto wajahnya muncul besar di layar.
Di bawahnya terdapat tulisan merah.
PLAYER 07 — SPECIAL TARGET
Semua orang langsung menoleh ke arah Nayra.
Suasana mendadak sunyi.
Sangat sunyi.
Sementara Nayra hanya bisa berdiri membeku…
karena untuk pertama kalinya ia sadar—
dirinya mungkin bukan peserta biasa dalam permainan ini.