Langit sore terlihat terlalu tenang untuk hari yang seharusnya dilupakan.
Jarinya membeku sesaat.
“Kalau mereka mulai menghubungimu langsung, berarti kita sudah terlambat.”
Dan mungkin memang sudah terlambat.
Di tempat lain, Han duduk di dalam mobil gelap, membongkar pistol dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. Ponselnya bergetar.
48 jam!
Tidak ada nama. Tidak perlu.
Ia menatap kota di balik kaca depan. Lampu-lampu kota menyala seperti jebakan yang sengaja dibuat indah.
“Aku mau kamu ingat.”
Suara itu masih tertinggal di kepalanya.
Mereka tahu kebiasaannya. Pesanan kopinya. Jalur pulangnya. Bahkan ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan.
“Kalau aku mundur sekarang, apa yang akan terjadi?”
“Mereka akan tetap datang.”
Karena sejak pesan pertama dikirim, semuanya sudah bergerak ke arah yang sama.
Dan beberapa pertemuan, tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roster espe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2
Nara masih belum sadar apa yang sedang terjadi.
Beberapa menit yang lalu ia berjalan pulang dengan kesal karena hampir kehilangan uangnya lagi di mesin minuman otomatis. Sekarang, seorang pria asing menariknya hingga terjatuh, lalu terdengar suara kaca pecah di belakang mereka. Dan sekarang, pria itu menyuruhnya lari seolah-olah itu hal yang normal.
“Apa maksudmu….?”
“Lari...!,” ulang pria itu tanpa menoleh pada Nara.
Nada suaranya datar dan tidak terdengar panik. Tapi itu membuat Nara semakin takut.
Pria berjas di belakang mereka semakin mempercepat langkahnya.
Han melihat bayangannya di kaca jendela toko yang gelap. Tangan kanannya dan bahunya stabil. Caranya berjalan lurus tanpa rasa ragu. Jelas-jelas ia orang yang terlatih.
Han menggenggam pergelangan tangan Nara lebih erat, lalu menariknya masuk ke lorong di antara dua bangunan apartemen tua.
“Aduuh, sakit tau!”
“Nanti saja kalau mau protes.”
Mereka berlari melewati lorong lembap dan gelap itu. Hanya berpedoman pada lampu yang menyala dari jendela apartemen di atasnya.
Nara masih berusaha memahami situasinya.
“Dia siapa sih?!”
Tapi Han tidak menjawab karena ia juga ingin tahu. Kalau Helios sampai turun tangan langsung, berarti ada yang salah. Dan kemungkinan besar itu adalah perempuan yang sekarang sedang berlari di sampingnya.
TING!
Suara dentingan tembakan lain terdengar pelan dari belakang mereka. Suara logam yang terkena peluru menggema di lorong gelap itu.
Nara dengan cepat menunduk sambil berlari.
“ITU BUNYI TEMBAKAN KAN?!”
“Iya…”
“KENAPA KAMU KELIHATANNYA TENANG BANGET SIH?!”
Tiba-tiba Han berhenti di ujung lorong, sambil menahan Nara ke sisi tembok. Ia mengintip ke arah jalan berikutnya.
Cukup ramai.
Bagus!.
Keramaian akan membuat semuanya lebih sulit. Ia menoleh ke arah lorong tempat mereka berlari dan pria berjas itu belum terlihat.
Terlalu lambat. Itu artinya…
Han langsung menarik Nara mundur dengan cepat. Tepat saat seseorang muncul dari sebelah kiri lorong. Seorang pria lain, bukan yang tadi. Tangan pria itu dengan cepat bergerak ke balik pinggangnya.
Han mendorong tubuh Nara ke belakang lalu menghantam pergelangan tangan pria itu sebelum senjatanya keluar sepenuhnya. Terdengar suara tulang yang beradu. Pistol yang dipegang pria itu terjatuh.
Nara menutup mulutnya sambil menahan teriakan kaget.
Han tidak memberi lawannya waktu. Sikunya dengan cepat menghantam leher pria itu dengan keras hingga tubuhnya membentur dinding lorong. Pria itu mencoba berdiri dengan terhuyung-huyung, tapi Han dengan cepat mengangkat lutut dan menendang perut lawannya. Satu pukulan telak menghantam rahang pria itu, dan tersungkur.
Nara baru melihat wajah Han dengan jelas di bawah sinar lampu lorong yang redup. Wajahnya tidak panik dan tidak terlihat emosi. Wajahnya sangat tenang untuk orang yang baru saja berkelahi. Itu lebih menyeramkan daripada darah di bibir pria yang tersungkur itu.
“Jangan dilihat terlalu lama,” kata Han sambil mengambil pistol pria tadi dari lantai. Lalu mengecek magazennya dengan cepat. Kosong!
“Sial!”
Nara langsung tersadar dan berseru, “Kamu, kamu siapa sebenarnya?”
“Orang sial yang seharusnya tidak ada di sini malam ini,” jawab Han. Jawaban itu tidak membantu sama sekali.
Han mengintip keluar lorong lagi. Jalanan di depan penuh dengan kendaraan. Lampu-lampu pertokoan masih menyala. Tapi itu bukan berarti aman. Mereka yang datang pasti tidak hanya dua orang.
Han menggerutu dalam hati. “Sial! Pekerjaan ini pasti sudah busuk dari awal.”
Target biasa tidak akan membuat simbol Helios muncul. Dan sekarang, kemungkinan besar, ia baru saja mengacaukan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kontrak pembunuhan biasa.
Nara masih menatapnya.
“Kamu belum jawab pertanyaanku,” tanyanya lagi
Han menoleh, “Aku ngga tahu kenapa mereka mengejarmu.”
“Hah...apa?”
“Kalau kamu target utamanya, mereka seharusnya sejak awal sudah kasih tahu aku.”
Nara mengerutkan dahinya.
“Tunggu bentar!” jarinya menunjuk wajah Han, “...kamu bilang aku target?”
Han terdiam. Kesalahan kecil yang terlontar tidak sengaja. Nara bukan orang bodoh, ia langsung menangkap maksudnya. Wajahnya mendadak pucat.
“Kamu… mau membunuhku?”
Hening dan Han tidak menyukai situasi ini. Berbohong juga percuma, tapi mengatakan kebenaran juga bukan ide yang bagus.
Nara menjauh, mundur satu langkah, “…kamu serius?”
“Itu sebelum mereka muncul,” jawab Han sambil menghela napas.
“ITU NGGA BIKIN SITUASINYA JADI BAIK!”
Suara Nara yang panik menggema di lorong sempit itu. Han mendekat dan menariknya untuk berjongkok di balik tumpukan kardus ketika suara langkah kaki terdengar dari ujung gang. Dua pria lewat di jalan utama sambil ngobrol. Bukan orang yang mengejar mereka hanya dua orang pejalan kaki biasa.
Han melepaskan pegangannya dari tangan Nara yang langsung menjaga jarak sambil memegang lengannya sendiri. Tatapannya sekarang sedikit berbeda antara takut dan marah.
“Jadi sekarang, apa?” katanya pelan. “…kenapa kamu tiba-tiba berubah pikiran?”
Han menatap jalan depan.
“Aku ngga tahu,” jawab Han jujur. Dan itu membuat Nara makin kesal.
“Kamu psikopat ya?”
“Ya, sering juga dibilang begitu.”
Nara menatapnya tidak percaya.
“Kenapa kamu ngomong kayak semua hal itu normal?”
Han menengok ke arah Nara sepenuhnya. Karena itu memang normal baginya, sudah jadi bagian dalam hidupnya. Seperti malam ini. Orang yang bersenjata, tembakan, darah dan kejar-kejaran. Semua itu lebih mudah dipahami dibandingkan dengan percakapan biasa.
Tapi ia melihat perempuan di depannya itu gemetar sambil berusaha tetap berdiri tegak…dan itu justru terasa lebih rumit.
Han memalingkan wajah, lalu berbicara lebih tenang. “Kita harus pindah tempat.”
“Aku nggak mau ikut kamu.”
“Kecuali kalau kamu mau mati sendirian….” lanjut Han sambil menatap Nara.
Nara terdiam. Han tahu kalimat itu kasar, tapi memang kenyataannya begitu.
Beberapa detik berlalu sebelum Nara akhirnya bicara lagi.
“…aku benci situasi ini.”
“Bagus,” jawab Han. “…berarti kamu masih waras.”
Dari kejauhan, suara sirene polisi mulai terdengar. Bukan kebetulan. Seseorang pasti sudah melaporkan tentang kaca jendela yang pecah dan suara tembakan aneh tadi.
Han memasukkan pistol kosong ke balik jaketnya. “Kita harus jalan sekarang.”
Nara tidak bergerak. Han menatapnya tajam.
“Kamu masih punya pilihan,” katanya datar. “Tetap di sini dan berharap mereka lebih baik dariku… atau ikut.”
Nara menggigit bibir bawahnya pelan. Lalu akhirnya berjalan mendekat.
“Kalau ternyata kamu bohong,” katanya pelan, “…aku bakal menyesal ikut kamu.”
Han mulai berjalan keluar lorong. Tanpa menoleh ia menjawab, “Percaya deh. Aku juga.”