NovelToon NovelToon
Sweet Love

Sweet Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dokter
Popularitas:536
Nilai: 5
Nama Author: Chocoday

Dia tidak pernah terlihat.... tapi selalu ada.

“Kalau abang serius… kamu mau kenalin abang ke dia?”

Hanif tidak pernah benar-benar muncul di depan Riyani. Namun ia tahu banyak tentangnya—lebih dari yang seharusnya.
Dari kebiasaan kecil, cara berbicara, hingga senyum yang diam-diam ia tunggu.

Melalui adiknya, Hanif memilih jalan yang tidak biasa: mendekati Riyani tanpa pernah benar-benar “hadir” sebelumnya.
Tapi…
bisakah seseorang menerima cinta dari orang yang hampir tidak pernah ia sadari keberadaannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocoday, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan Lagi Rumah

Keesokan paginya, Riyani baru saja keluar dari kamarnya. Abang satu-satunya—Bang Ardi, sudah menunggunya di sofa ruang tengah.

Riyani dimintanya untuk duduk.

"Ada apa Abang?"

"Kamu kasih Haikal makan apa kemarin sampai dia sakit begitu?"

Riyani menyeringai.

"Abang tuduh aku?"

"Riyani.... masalahnya Haikal gak kenapa-napa waktu dia ada di rumah abang. Setelah dia nginep di sini, dia muntah-muntah dan posisinya kamu yang jaga. Jadi Abang harus salahin siapa lagi selain kamu?" tanya Bang Ardi.

Riyani menatap wajah abangnya.

Ia beranjak ke kamar mengambil sesuatu lalu ditaruh pada meja di hadapan Bang Ardi.

"Baca, Bang."

"Kalau Abang kurang paham, aku bisa telepon temen aku. Dia dokter, pasti dia ngerti hal ini."

Bang Ardi terdiam.

Memang dia sudah salah menuduh adiknya begitu saja.

Haikal menangis, berlari dari kamarnya lalu memeluk kaki riyani.

"Ayah... Ayah jangan marahin aunty."

"Aunty baik kok, Ayah. Aunty jagain Haikal terus bawa Haikal ke om dokter supaya sembuh."

Anak itu mendongak.

"Aunty.... maaf ya! Haikal nyusahin Aunty lagi."

Riyani tersenyum haru.

Ia melepaskan tangan haikal, berjongkok agar setara dengan tubuh mungil haikal.

"Ikal.... jangan nangis ya! Aunty gak apa-apa kok. Ayah cuman lagi nasehatin aunty supaya jaga Haikal lebih baik selama Haikal di sini."

"Ada apa ini?" tanya Bapak yang baru saja masuk bersama dengan mamah.

Keduanya membawa persediaan bahan masakan dari pasar.

"Neng... kenapa kamu sama Haikal nangis?" tanya mamah menghampiri.

Riyani menggeleng.

"Gak apa-apa kok, Mah."

Mamah heran melihat wajah anak gadisnya sedikit bengkak dan memerah. Ia sentuh hingga Riyani sedikit meringis.

"Pipi kamu kenapa?"

"Kemarin waktu bawa Haikal ke rumah sakit sempet kejedot, Mah."

Merasa ada yang ditutupi.

Mamah duduk, menyetarakan tubuhnya dengan cucunya itu.

"Haikal, apa yang terjadi sama aunty kemarin sampe pipinya begitu?"

"Kemarin, Ikal liat kalau Bunda pukul Aunty. Terus Aunty bilang kalau dia gak bakal peduli sama Ikal kalau Ikal bukan anak ayah."

Riyani mengalihkan pandangannya.

Begitu dengan mamah yang mulai paham dengan kondisi di rumah.

...----------------...

4 tahun lalu, Bang Ardi memilih untuk menikahi seorang perempuan karir yang memang dinilai lebih cantik dan baik dibanding dengan mantan-mantannya.

Begitu menjalani rumah tangga, istrinya langsung mengandung di bulan kedua pernikahan.

Tidak lama, Haikal terlahir ke dunia ini. Tapi sikap kakak ipar riyani mulai sedikit berubah. Dari yang awalnya lembut, berbicara sopan, bahkan memperlakukan Riyani seperti adiknya sendiri—berubah setelah ia melahirkan Haikal.

Haikal lebih sering dititip di rumah, memintaku untuk menjaga dan merawatnya dengan baik. Bukan hanya sekali atau sehari, bahkan bisa sampai setengah bulan penuh dengan dalih sedang banyak pekerjaan di kantornya.

...----------------...

"Neng ikut bapak keluar yuk! Kita bicara," ajak bapak diangguki Riyani dengan cepat.

Riuh jalanan kampung yang cukup ramai.

Bapak meminta anak gadisnya untuk duduk pada kursi teras di sampingnya.

"Kenapa sampai bilang begitu semalam?" tanya bapak.

Riyani menunduk.

"Kamu gak mau sayang sama Haikal lagi?"

"Gak mau temenin dia lagi?"

Riyani menggeleng.

Ia mulai menangis—menyesal berbicara hal seperti kemarin.

"Bukan, Pak."

"Terus kenapa?"

"Emangnya kalau Haikal bukan anak abang kamu, kamu gak akan peduli?"

"Neng cuman kesel sama ibunya. Dia bilang kalau Haikal sakit gara-gara neng kasih makanan murahan, abang juga tadi bilang gitu. Makanya neng bilang itu semalem."

"Kamu harus lebih mengerti aja ya neng, teteh kamu kan kerja juga. Dia pasti capek, begitupun pasti karena kaget kalau anaknya tiba-tiba dibawa ke rumah sakit."

Riyani menoleh pada bapaknya.

"Lebih mengerti?"

"Jadi bapak juga salahin neng?"

Riyani beranjak ke kamar tanpa mendengarkan omongan bapaknya.

Ia membawa beberapa baju dan keperluan yang lain.

"Neng mau kemana?" tanya mamah menahan tangannya saat keluar dari kamar.

"Neng mau nginep di rumah nenek aja," jawab Riyani lalu pergi begitu saja.

Padahal ia sendiri berat meninggalkan Haikal, apalagi memang sedari kecil Riyani yang merawatnya.

...----------------...

Mungkin nenek sudah mendengar kabar tentang Riyani. Wanita tua dengan gamisnya sudah menunggu di depan toko kue miliknya. Bersama dengan suaminya yang terlihat memakai koko lengan panjang seperti biasa.

Riyani berusaha memasang senyumannya. Tapi saat nenek memeluknya, tangisannya tidak bisa ia tahan lagi. Rasanya tidak ada lagi rumah tempatnya untuk pulang dengan nyaman. Orang tuanya yang menjadi tempat sandaran hanya memintanya untuk bersabar dan terus bersabar.

"Nek, Neng mau nginep di sini beberapa hari boleh gak?" tanya Riyani.

Nenek tersenyum.

"Boleh dong, kamu kan cucu nenek. Masa gak boleh sekedar nginep di sini."

"Yuk masuk!" ajaknya.

Riyani mengangguk.

Ia masuk pada kamar yang selalu ditempatinya jika menginap di rumah nenek dari sang ayah.

...----------------...

Malamnya, Riyani baru saja berganti pakaian.

Panggilan masuk dari mamah membuatnya langsung menyambungkan.

"Assalamualaikum Mah. Kenapa? Ini Neng baru sampe ke rumah nenek."

(Neng, Haikal pingsan terus badannya demam lagi karena nangis gak mau berhenti dari pas kamu pergi. Ini mamah sama bapak lagi di jalan bawa Haikal ke rumah sakit)

(Kamu nyusul ya? Haikal daritadi panggil nama kamu)

"Ya udah Mah. Neng nyusul ke situ," jawab Riyani langsung memutuskan panggilannya.

Wanita itu meminta supir kakeknya untuk mengantar ke rumah sakit.

Hanya butuh beberapa menit saja, Riyani sudah sampai di depan. Mamah mengabari jika mereka masih menunggu Haikal di depan IGD.

"Mah, Haikal gimana?" tanya Riyani.

Lagi dan lagi, tamparan kembali datang padanya. Tapi kali ini dari abangnya sendiri.

Riyani berkaca-kaca.

"Abang tampar aku?"

"Kenapa? Gak terima?"

"Haikal begini juga gara-gara kamu."

Riyani hanya menahan rasa kesalnya.

Ia kepalkan tangannya. Menahan air matanya agar tidak jatuh.

Tidak lama, dokter keluar dari IGD.

Iya, Seyila yang keluar.

"Gimana keadaan Haikal?" tanya Bang Ardi.

"Tenang, Bang. Haikal gak sakit separah itu. Dia cuman demam tinggi, tapi karena itu juga dia harus dirawat sementara," jelas Seyila.

Bang Ardi menghampiri adiknya yang berdiri di belakang mamah. Lelaki itu mencengkram kemeja yang dipakai sang adik.

Matanya memerah kesal.

Telunjuknya sibuk menunjuk wajah riyani.

"Puas kamu bikin anak abang begini HAH?"

Seyila melerainya.

"Bang jangan begini, Bang."

"Haikal demam bukan karena Riyani, tapi dia terlalu banyak makan sembarangan."

"Emang salah dia juga. Dia yang kasih anak aku makanan gak sehat."

Riyani hanya terdiam.

Tubuhnya tidak lagi bisa menahan.

Amarah, rasa kesal dan sesal, serta dirinya sendiri belum makan sama sekali sejak pagi.

Wanita itu terjatuh.

Tidak sadarkan diri dengan wajah pucat dan dinginnya.

Bapak dan mamah juga terkejut melihatnya.

Mereka melerai tangan bang ardi lalu membawa Riyani masuk ke IGD untuk diperiksa bersama dengan Haikal.

"Puas kamu bang buat adik kamu begini?" tanya bapak, "kurang sayang apa dia sama Haikal?"

"Tapi pak—"

"Haikal sakit bukan karena makanan yang Neng kasih," sela mamah.

"Terus siapa lagi Mah?"

"Tanya sama istri kamu. Setiap malam, dia kasih apa sama anaknya."

Bang Ardi menoleh pada istrinya.

...----------------...

Sedangkan di ruangan,

Seyila masih memeriksanya.

"La, dia kenapa?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!