Cerita ini berpusat pada seorang wanita yang terjebak dalam pernikahan kontrak atau "pernikahan pajangan" dengan pewaris takhta perusahaan besar (Chaebol). Peran utamanya adalah menjadi pendamping sempurna di acara publik, namun di balik layar, hubungan mereka mungkin dingin atau penuh benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Pesta Megah dan Tamu Tak Diundang
Malam ini, ballroom hotel bintang lima itu diubah menjadi istana kristal. Ribuan bunga lili putih memenuhi setiap sudut, menebarkan aroma wangi yang seharusnya menenangkan, namun bagi Vanya, wangi itu terasa mencekik. Ribuan mata tamu undangan dari kalangan elit—pejabat, pengusaha, hingga selebritas—tertuju pada panggung pelaminan yang megah.
Vanya Benjamin berdiri di sana, tampil sempurna dalam gaun pengantin yang ia pilih dengan hati yang hancur beberapa hari lalu. Wajahnya dipoles riasan mahakarya penata rias ternama, namun binar di matanya telah padam. Di sampingnya, Devan Jacob berdiri kaku seperti patung es. Tangannya menggenggam tangan Vanya hanya saat kamera media menyorot mereka. Begitu lampu kilat berhenti, Devan segera melepaskannya seolah kulit Vanya adalah api yang membakar.
"Tersenyumlah. Kau sedang menjalankan tugasmu sebagai pajangan, bukan?" bisik Devan dingin tanpa menoleh sedikit pun.
Vanya hanya menarik napas dalam, memaksakan sudut bibirnya terangkat. Namun, tepat saat ia menoleh ke arah Devan, napasnya seolah terhenti.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Vanya melihat Devan tersenyum. Bukan senyum sinis atau dingin yang biasa ia terima, melainkan sebuah senyum yang sangat indah, tulus, dan penuh kerinduan. Mata Devan yang biasanya tajam kini melunak, memancarkan binar kebahagiaan yang begitu nyata.
Vanya mengikuti arah pandang suaminya, mencari tahu siapa yang sanggup mencairkan es di hati pria itu. Dan di sana, di ujung barisan tamu, berdirilah Viona Damian.
Viona melangkah maju dengan gaun merah darah yang sangat kontras dengan tema putih pesta malam itu. Ia berjalan dengan penuh percaya diri, seolah dialah sang ratu yang seharusnya berada di atas panggung. Tanpa memedulikan tatapan menghakimi ribuan orang, Viona terus melangkah hingga sampai di depan pelaminan.
Wanita itu sama sekali tidak melirik Vanya. Ia tidak menyapa, tidak memberikan selamat, seolah Vanya hanyalah udara kosong yang tidak berarti. Dengan gerakan yang sangat berani dan menantang, Viona langsung menghambur ke pelukan Devan. Di depan orang tua mereka, di depan kamera, dan di hadapan Vanya yang sah sebagai istrinya, Viona memeluk Devan dengan erat.
"Aku tidak bisa membiarkanmu melakukan ini sendirian," bisik Viona, cukup keras hingga bisa didengar oleh Vanya.
Duni seolah berhenti berputar. Bella Jacob refleks menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya membelalak tak percaya melihat keberanian kekasih kakaknya itu. Di barisan depan, Davit Jacob dan Olivia Jacob bangkit dari kursi mereka dengan wajah yang merah padam oleh amarah yang siap meledak. Reputasi keluarga Jacob sedang dipertaruhkan di depan seluruh negeri.
Di sisi lain, keluarga Benjamin menunjukkan keterkejutan yang luar biasa. Edward Benjamin meremas gelas sampanyenya hingga buku jarinya memutih, sementara Monica tampak nyaris pingsan karena malu. Nikolas sudah bersiap melangkah maju untuk menarik adiknya turun dari panggung yang memuakkan itu.
"Apa-apaan ini?!" desis Davit Jacob dengan suara rendah yang mengancam.
Melihat situasi yang hampir tak terkendali, carlo Jacob bergerak cepat. Ia memberi kode keras kepada Kenzi yang berdiri tak jauh dari sana. carlo tahu, jika ayahnya yang turun tangan, nyawa Viona mungkin benar-benar terancam malam ini.
"Kenzi! Bawa wanita itu pergi sekarang juga sebelum Papa meledak!" perintah carlo dengan nada mendesak.
Kenzi dengan sigap mendekat dan mencoba melepaskan pelukan Viona dari Devan. "Nona Viona, mohon ikut saya sekarang. Ini bukan tempatnya."
Viona melepaskan pelukannya perlahan, memberikan satu kecupan kecil di pipi Devan sebelum akhirnya ditarik pergi oleh Kenzi dan Marko yang sudah menunggu di pintu keluar. Devan hanya diam, matanya terus mengikuti punggung Viona hingga menghilang, meninggalkan Vanya yang berdiri mematung di sampingnya.
Vanya merasa seluruh dunianya runtuh. Ia bukan lagi sekadar istri pajangan; malam ini, ia telah menjadi tontonan paling menyedihkan di seluruh negeri. Di keramaian pesta yang megah itu, Vanya Benjamin merasakan kesepian yang paling nyata.
Pesta berakhir dengan keheningan yang menyesakkan. Begitu pintu gerbang kediaman mewah keluarga Jacob tertutup, topeng kesempurnaan itu hancur berkeping-keping. Di ruang tengah, Davit Jacob melempar gelas kristalnya ke lantai, hancur berkeping-keping tepat di depan kaki Devan.
"Kau mempermalukan nama Jacob demi wanita rendahan itu!" teriak Davit.
Devan hanya diam, wajahnya datar, seolah jiwanya sudah pergi bersama Viona saat wanita itu diseret keluar tadi. Tanpa sepatah kata pun, ia melangkah menaiki tangga menuju kamar pengantin mereka, meninggalkan kekacauan di bawah sana.
Di dalam kamar yang luas dan dipenuhi hiasan bunga mawar merah, Vanya sudah menunggu. Ia duduk di tepi ranjang, masih mengenakan gaun pengantinnya yang berat. Kepalanya terasa pening, dan hatinya terasa lebih berat dari gaun yang ia kenakan.
Pintu terbuka kasar. Devan masuk, namun ia tidak menatap Vanya. Ia langsung melangkah menuju lemari, mengganti tuksedonya dengan kemeja hitam santai.
"Mau ke mana kau?" suara Vanya bergetar, namun ia berusaha tegar.
Devan berhenti sejenak, lalu menoleh dengan tatapan yang sangat asing. "Ke tempat di mana aku merasa diinginkan. Bukan di sini, di ruangan yang penuh kepalsuan ini."
"Ini malam pernikahan kita, Devan! Setidaknya hargai keluargaku yang masih ada di hotel itu!"
Devan tertawa kecil, tawa yang menyakitkan. "Keluargamu mendapatkan sahamnya, Vanya. Kau mendapatkan statusmu. Bukankah itu yang kalian inginkan? Kau sudah menjadi 'Istri Pajangan' yang sukses malam ini. Sekarang, biarkan aku kembali ke hidupku yang nyata."
Devan menyambar kunci mobilnya di atas meja. Sebelum ia melangkah keluar, ia berhenti di ambang pintu tanpa menoleh. "Jangan menungguku. Dan jangan pernah berpikir untuk mengatur hidupku. Kau punya kamarmu sendiri, dan aku punya duniaku sendiri."
Brak!
Pintu tertutup keras. Vanya jatuh terduduk di atas hamparan sprei sutra. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah. Di luar sana, ia bisa mendengar deru mesin mobil Devan yang melaju kencang meninggalkan mansion, pergi menuju apartemen Viona.
Vanya meremas kain gaunnya yang mahal. Di rumah sebesar ini, di malam yang seharusnya paling berkesan, ia hanya ditemani oleh sunyi. Ia menyadari satu hal: di balik dinding emas keluarga Jacob, ia hanyalah seorang tawanan.
Vanya melangkah gontai menuju balkon kamar, membiarkan angin malam menusuk kulitnya yang masih terbalut gaun pengantin tanpa lengan. Ia menatap lampu belakang mobil Devan yang perlahan menghilang di balik gerbang tinggi mansion Jacob. Hatinya hancur, bukan karena cinta yang dikhianati—karena sejak awal memang tidak ada cinta—melainkan karena harga dirinya yang diinjak-injak hingga lumat. Di malam yang seharusnya menjadi sejarah baru hidupnya, ia justru ditinggalkan layaknya barang rongsokan yang baru saja selesai dipamerkan.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah taman di bawah balkonnya. Seorang pria berdiri di sana, bersandar pada pilar batu sambil menyalakan pemantik api. Cahaya kecil itu menerangi wajahnya yang tenang namun tajam. Dia adalah Bara Jacob, sepupu Devan yang selama ini menjauh dari hiruk-pikuk kekuasaan keluarga Jacob. Bara mendongak, matanya yang kelam bertemu dengan mata sembab Vanya.
"Gaun yang indah, tapi pemandangan di wajahmu sama sekali tidak cocok dengan itu," suara Bara berat, menggema di kesunyian malam.
Vanya segera menyeka air matanya dengan kasar, berusaha kembali tegak. "Apa yang kau lakukan di sini, Bara? Bukankah seharusnya kau ada di hotel bersama yang lain?"
Bara mematikan pemantiknya, lalu berjalan mendekat ke bawah balkon Vanya. "Aku tidak suka pesta yang penuh kepura-puraan. Dan sepertinya, pengantin wanitanya juga tidak." Ia menatap Vanya dengan tatapan yang sulit diartikan—bukan tatapan kasihan, melainkan sebuah pengakuan. "Selamat datang di neraka keluarga Jacob, Vanya. Jika kau butuh cara untuk keluar atau sekadar teman untuk membakar rumah ini, kau tahu di mana harus mencariku."
Tanpa menunggu jawaban, Bara berlalu masuk ke dalam kegelapan, meninggalkan Vanya dengan perasaan aneh yang mulai bergejolak di dadanya. Untuk pertama kalinya di rumah itu, Vanya merasa seseorang benar-benar 'melihatnya', bukan sebagai pajangan, tapi sebagai manusia.