Jasmine, menikah dengan Aksa adalah mimpi buruk yang ingin ia kubur dalam-dalam. Sebagai anak yatim piatu yang miskin, Jasmine hanya dianggap sampah dan pembantu gratisan oleh keluarga Aksa yang terpandang. Puncaknya, sebuah fitnah kejam membuatnya terusir dari rumah megah itu tanpa membawa sepeser pun uang.
Tiga tahun berlalu, Jasmine bertahan hidup sebagai Professional Housekeeper di sebuah agen elit. Tugas terbarunya adalah mengurus sebuah penthouse mewah milik klien misterius yang sangat menuntut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuan Aksa
Jasmine terbangun bahkan sebelum alarm di ponselnya berbunyi. Pukul 04.30 pagi.
Jasmine segera membasuh wajahnya, mengikat rambutnya dengan kencang, dan mengenakan celemek bersih.
Jasmine harus bergerak cepat. Ia tahu aturan utamanya: Menghilang sebelum jam enam pagi.
Di dapur marmer yang dingin itu, Jasmine mulai bekerja. Ia menemukan bahan makanan baru yang tampaknya baru saja dikirim semalam mungkin pesanan rutin sang majikan. Ada roti gandum, alpukat segar, dan telur organik.
Sret... sret...
Bunyi pisau yang membelah alpukat menjadi satu-satunya suara di ruangan itu. Jasmine bekerja dengan ritme yang teratur. Ia memanggang roti hingga warnanya cokelat keemasan, menghaluskan alpukat dengan sedikit perasan jeruk nipis, dan membuat poached egg dengan kuning telur yang masih lumer sempurna di dalamnya.
Sambil menunggu air mendidih untuk kopi, Jasmine bergerak ke ruang tengah. Dengan kemoceng bulu halus, ia menyeka debu-debu yang bahkan belum sempat menempel. Ia merapikan bantal sofa, meluruskan karpet yang sedikit tertekuk, dan memastikan tidak ada satu pun jejak keberadaannya yang tertinggal.
Pukul 05.45 pagi.
Jasmine kembali ke dapur. Ia menata piring sarapan di meja makan. Aroma kopi hitam yang kuat dan harum mulai memenuhi ruangan, menutupi bau pembersih lantai yang ia gunakan tadi.
"Selesai," bisik Jasmine pada dirinya sendiri.
Jasmine sedang mengeringkan piring terakhir dengan kain putih bersih. Suara gemericik air yang mengalir dari keran sempat menyamarkan suara langkah kaki di belakangnya.
Namun, tiba-tiba sebuah suara bariton yang dalam dan dingin memecah keheningan dapur.
"Siapa kamu?"
Jasmine tersentak hebat. Piring di tangannya nyaris tergelincir jatuh. Jantungnya berdegup kencang, ia segera meletakkan piring itu dan berbalik dengan gerakan refleks, kepalanya tertunduk dalam sebagai bentuk rasa hormat.
"Maaf, Pak... Saya ART baru yang dikirim Bu Ma....."
Ucapan Jasmine terhenti di udara. Lidahnya mendadak kelu saat ia mendongak dan matanya bertemu dengan sepasang mata tajam yang menghantuinya selama tiga tahun terakhir.
Napas Jasmine tertahan di tenggorokan. Pria di depannya bukanlah klien asing yang misterius. Pria itu adalah Aksa. Pria yang dulu membiarkannya terusir dari rumah dalam kehinaan.
"Kamu..." desis Aksa.
Aksa melangkah maju. Satu langkah yang membuat Jasmine mundur hingga pinggangnya menabrak tepian marmer dapur yang dingin.
"Lama tidak bertemu, Jasmine," ucap Aksa dengan suara rendah yang menggetarkan udara. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
Jasmine panik. Ia mencoba mencari jalan keluar, namun Aksa dengan cepat menumpukan kedua tangannya di meja dapur, mengunci Jasmine di antara kedua lengannya.
"Kenapa? Kamu kaget?" Aksa mendekatkan wajahnya, menghirup aroma tubuh Jasmine yang masih sama seperti dulu. "Apakah ini rencanamu? Kamu sengaja kembali padaku dengan menyamar menjadi pelayan?"
"Bukan... ini tidak seperti yang Anda pikirkan, Tuan Aksa," sahut Jasmine dengan suara bergetar. Ia mencoba memalingkan wajahnya agar tidak terlalu dekat dengan pria itu.
"Tuan?" Aksa berbisik tepat di telinga Jasmine.
"Panggilan yang manis. Tapi sepertinya kamu lupa kalau kamu pernah memanggilku dengan nama yang lebih mesra."
Aksa menatap intens wajah Jasmine, memperhatikan setiap detail wajah wanita yang dulu ia abaikan.
"Ternyata tiga tahun membuatmu berubah banyak. Kamu... semakin cantik, Jasmine. Jauh lebih menggoda daripada terakhir kali kita bertemu."
Jasmine merasakan bulu kuduknya meremang. Ini bukan Aksa yang dulu dingin dan acuh tak acuh. Pria di depannya sekarang terlihat seperti serigala yang baru saja menemukan kembali mangsa lamanya.
Jasmine berusaha keras menetralkan debar jantungnya. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan pria yang pernah menghancurkan hidupnya. Dengan sisa keberanian yang ada, ia menatap mata Aksa, meski tangan pria itu masih menguncinya di tepian meja dapur.
"Tolong lepaskan saya, Tuan Aksa," ucap Jasmine dengan nada sedingin mungkin.
"Saya berada di sini murni untuk bekerja. Saya tidak tahu jika Anda adalah pemilik tempat ini. Bu Mayang tidak pernah menyebutkan nama Anda."
"Benarkah? Sebuah kebetulan yang sangat manis, bukan?"
"Kebetulan atau bukan, saya tidak akan tinggal di sini lebih lama lagi," tegas Jasmine.
"Saya akan mengemasi barang-barang saya dan pergi pagi ini juga. Anggap saja pertemuan ini tidak pernah terjadi."
Jasmine mencoba menyelinap dari bawah lengan Aksa, namun dengan gerakan kilat, Aksa mencengkeram pergelangan tangan Jasmine.
"Pergi?" Aksa tertawa kecil, suara tawa yang membuat nyali Jasmine menciut. "Tidak semudah itu, Jasmine."
Aksa menarik sebuah map yang entah sejak kapan sudah ada di atas meja makan, lalu melemparnya ke hadapan Jasmine.
"Baca kontrak kerja yang sudah ditandatangani agenmu. Di sana tertulis jelas Jika pihak kedua yaitu kau berhenti bekerja secara sepihak tanpa izin dariku, kau harus membayar kompensasi sebesar 100 juta rupiah."
"Apa? Seratus juta? Itu pemerasan! Bu Mayang tidak bilang ada klausul seperti itu!"
Aksa mendekat lagi, kali ini membisikkan kata-kata yang terdengar seperti vonis penjara bagi Jasmine.
"Itu adalah kontrak khusus untuk klien VVIP. Dan uang seratus juta... apakah pelayan sepertimu punya uang sebanyak itu untuk menebus kebebasan?"
Jasmine terdiam kaku. Seratus juta? Bahkan tabungannya selama tiga tahun bekerja keras tidak sampai seperempat dari jumlah itu. Ia merasa seperti masuk ke dalam lubang yang ia gali sendiri.
"Kecuali," lanjut Aksa sambil mengelus pergelangan tangan Jasmine dengan ibu jarinya,
"aku sendiri yang mengusirmu. Tapi melihat bagaimana masakanmu tadi malam... sepertinya aku belum ingin membuangmu untuk kedua kalinya."
Jasmine menepis tangan Aksa dengan kasar.
"Anda licik, Tuan Aksa!"
"Aku hanya seorang pebisnis yang tidak ingin kehilangan aset berharganya, Jasmine," sahut Aksa tenang. Ia berbalik, mengambil cangkir kopi yang sudah disiapkan Jasmine tadi, lalu menyesapnya perlahan.
"Sekarang, kembalilah ke dapur. Buatkan aku sarapan yang enak, lalu siapkan air hangat untuk mandiku. Ingat... statusmu sekarang adalah pelayanku. Patuhi aku"
Jasmine berdiri mematung di tengah dapur mewah yang kini terasa seperti penjara bawah tanah. Ia tahu, mulai hari ini, hidupnya tidak akan pernah tenang lagi.
tuh singanya muaraaah😄😄😄
Suka Ceritax Seruuuuu....