Untuk visualnya, silahkan kunjungi Instagram noer_azzura16
Kakak Bella ditemukan dalam keadaan mabukk dan menyebabkan kecelakaan yang merenggut nyawa Lusi, adik Leo. Membuat ibu dan ayah Leo terpukul hebat.
Sementara Bella dan Leo baru saja kembali dari bulan madu. Kebahagiaan itu hancur seketika, melihat keluarga yang akhirnya menatap Bella sebagai seorang adik dari pembunuhh orang yang mereka cintai.
Setelahnya Bella bahkan tidak bisa menatap cinta itu lagi di mata suaminya. Meski kakaknya bahkan di penjara. Dia masih harus menanggung akibat dari apa yang dilakukan kakaknya itu.
Dua orang yang tadinya saling mencintai, dendam telah mengalahkan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2- CKOD 2
Di bawah guyuran shower di kamar mandi itu, kepala Bella tertunduk. Sudah satu tahun dia terus mengalami hal seperti ini. Setiap harinya, tidak ada hari baik untuknya. Pikirannya sungguh tak bisa bekerja. Dia tidak tahu harus bagaimana? karena setiap kali baru dia berusaha berpikir, keluarga ini selalu memanggilnya untuk disiksaa dan disiksaa.
Dulu, dia adalah seorang wanita cantik. Yang memiliki rambut indah, tubuh indah, dan karir yang bagus. Meski hanya tinggal dengan kakaknya, dia merasa sangat bahagia. Hingga dia direkomendasikan bekerja di perusahaan Leo. Pria itu, awalnya Bella juga tidak pernah mengira akan punya hubungan dengan Leo. Tapi semua terjadi begitu saja, Leo menunjukkan perhatian lebih padanya, membantunya, melindunginya. Memperlakukannya dengan sangat baik.
Tapi sekarang, sosok itu sungguh berbeda. Tubuhnya sekarang kurus sekali, kulitnya tak terawat, dan rambutnya bahkan berkali-kali menjadi sasaran amukan Desy dan Vivian.
Belum lagi suaminya yang tak perduli padanya dengan semua sikap keluarganya itu padanya. Leo, pria itu, tatapan mata Leo dulu penuh cinta. Bahkan pria itu tidak akan membiarkan sedikit debu menyentuh rambut Bella. Tapi sekarang, justru dia yang paling membuat Bella merasa ketakutan.
Ceklek
Mata Bella terbelalak. Pintu kamar mandi terbuka dengan keras. Hanya suaminya yang berani membuka pintu kamar mandi itu saat dia menguncinya.
Bella meraih handuk yang ada di dekatnya dengan cepat. Namun, sebelum Bella bisa meraih handuk itu. Tangan Leo sudah mencekal tangannya.
"Sengaja mengunci pintu kamar mandi? kenapa? mau bunuhh diri?"
Leo mencengkeram kuat pergelangan tangan Bella. Membuat wanita itu meringis kesakitan. Bella menatap Leo, pria yang dulu sangat lembut dan perhatian padanya. Tak pernah bicara kasar, dan hanya mengucapkan kata-kata manis. Sekarang tidak lagi. Tatapan itu, benar-benar membuat bibir Bella bungkam. Tatapan yang sangat menakutkan.
"Tidak mau bicara!" kesal Leo yang langsung menarik dasinya begitu saja.
"Bu... bukan begitu... emphhh!"
Bella tidak melanjutkan ucapannya, bibirnya sudah di bungkam oleh Leo. Leo mendorong Bella, sampai punggung Bella membentur dinding kamar mandi.
Brukkk
Bella hanya bisa mencengkeram tangannya sendiri. Rasanya sakit, sangat sakit. Punggungnya, juga hatinya. Bahkan nafasnya sudah mulai sesak. Leo sama sekali tidak membiarkan Bella mengambil udara barang sedikit saja.
Mau mendorong Leo, Bella hanya akan mendapatkan masalah. Bella nyaris lemas.
Dan Leo, pria itu mulai merasa Bella hampir terjatuh. Segera menarik dirinya, dan melepaskan ciumannya yang begitu menyakitkan itu. Sungguh ciuman yang sangat menyakitkan.
Begitu Leo melepasnya, Bella benar-benar terkulai lemas, hampir jatuh ke lantai. Namun Leo menangkap tubuh Bella dengan cepat. Mengangkat tubuh kecil istrinya itu dan membawanya keluar dari kamar mandi.
Brukk
Leo menjatuhkan Bella yang bahkan belum sempat mengambil handuk. Pria itu menuju ke arah pintu kamar dan menguncinya. Sambil berjalan mendekati Bella yang sudah lemas dan tidak berdaya. Leo melepasnya satu persatu kancing kemejanya.
Tangan kekar pria itu meraih pergelangan kaki kanan Bella. Menariknya dengan kasar. Sampai Bella merasakan punggungnya makin terasa sakit.
Tubuh kecil itu tersentak begitu saja, ketika suaminya memaksakan diri padanya, saat dia masih sangat lemah.
"Aghhh!"
Kedua tangan Bella dengan cepat menutup mulutnya. Dia tahu suaminya tidak senang pada suaranya. Tidak senang menatapnya, dan tidak senang terhadap apapun yang dia lakukan.
Bella hanya bisa menangis lagi dan lagi. Suaminya itu sangat kasar, sangat kasar. Dia sama sekali tidak merasakan apapun selain rasa sakit, perih dan kecewa.
Pertanyaan yang sama, yang selalu dia tanyakan dalam hatinya sendiri selama lebih dari 300 hari adalah 'kenapa semuanya jadi seperti ini?'
Pertanyaan itu tak pernah menemukan jawabannya. Bella benar-benar lelah rasanya.
Hingga malam semakin larut, Bella baru di lepaskan oleh Leo. Rambutnya acak-acakan, wajahnya... begitu pucat dan terlihat tidak baik-baik saja. Dan cara Leo melepaskan Bella. Bella di dorong begitu saja, sedangkan dia mengambil selimut dan menutupi tubuhnya lalu tidur.
Bella berusaha turun perlahan dari tempat tidur itu. Karena tempat itu bukanlah tempat dimana dia bisa tidur. Ada sebuah sofa panjang yang ada di dekat jendela. Di sana lah tempanya tidur sejak mereka kembali dari bulan madu setahun yang lalu.
Bella berjalan ke lemari, mengambil pakaian lalu memakainya dengan sangat perlahan. Seluruh tubuhnya benar-benar remuk. Setelah berpakaian, Bella meringkuk di atas sofa. Memeluk tubuhnya sendiri, dia benar-benar lelah.
Bella memejamkan matanya, setiap dia memejamkan mata. Dia selalu berharap semua ini hanya mimpi. Sayangnya harapan itu semakin lama semakin memudar. Karena sudah lebih dari 300 hari. Apa ada mimpi selama dan sepanjang itu?
'Kakak! aku tidak sanggup lagi!' batinnya dalam hati.
**
Pagi menjelang, bibi Okta terus melihat ke arah kamar Bella dan Leo. Sudah hampir jam 8, tapi dia belum melihat Bella kejar dari kamar itu. Bibi Okta mulai khawatir.
Tapi begitu dia melihat Leo keluar, dengan pakaian rapi dan segera keluar dari rumah untuk bekerja. Bibi Erma pun buru-buru ke kamar Bella.
Jika dia tidak membangunkan Bella. Bella pasti akan dapat masalah dari mertua dan kakak iparnya.
Ketika bibi Okta berlari ke kamar Bella. Desy yang sudah mendengar suara mobil Leo pergi dari rumah. Memanggil pelayannya.
"Dini! Din..."
"Iya non Desy!"
"Ambil baskom besar, isi air es. Kurang ajar sekali adik pembunuhh itu! dia bahkan belum bangun sampai jam segini! Cepat!"
"Siap nona!" kata Dini.
Dini segera mengambil baskom. Tanpa ragu dia menuang es ke baskom yang dia bisa angkat nanti. Setelah menuangkan banyak es, dia menuangkan air dingin.
"Siap nona!" kata Dini dengan baskom berisi es batu dan air dingin itu.
"Bagus! ayo ikut aku!"
Keduanya beranjak dari meja makan menuju ke kamar Bella.
Sementara itu di dalam kamar Bella. Bibi Okta sudah masuk dan mencoba membangunkan Bella yang masih tidur meringkuk di atas sofa.
"Non, non Bella. Bangun non!"
Bibi Okta memanggil Bella dengan suara pelan. Tapi Bella tampak sangat lelah. Makanya dia bahkan tidak mendengar suara bibi Okta itu.
"Non..."
Ceklek
Pintu kamar itu terbuka dengan kasar. Bibi Okta menoleh ke arah pintu. Wajahnya langsung tegang, melihat Desy masuk di ikuti Dini yang membawa sebuah baskom yang terlihat cukup berat.
"Siram!"
"Non, jangan non...!"
Byurrr
"Hahh"
"Rasakan itu!"
"Ya ampun, non!"
Bella terbangun dengan keadaan basah kuyup. Dia bahkan langsung memeluk tubuhnya sendiri karena air itu sangat dingin.
"Dasar tidak tahu diri! kamu pikir kamu nyonya di rumah ini. Bangun! cepat kerjakan pekerjaanmu! dasar adik seorang pembunuhh tidak tahu diri!"
Pranggg
Desy mengambil baskom dari tangan Dini. Dan membantingnya di depan Bella.
Bahu Bella terjingkat. Dia benar-benar lelah dengan semua ini.
"Dan kamu bibi Okta! awas kamu bantu pekerjaan orang tidak berguna ini! kalau sampai itu terjadi! aku pecat kamu!" gertak Desy yang langsung keluar dari kamar itu bersama dengan Dini yang juga berdecih meremehkan Bella.
"Non..."
"Hiks...!" Bella menangis, dia memeluk bibi Okta dan menangis sejadi-jadinya.
***
Bersambung...
mudah mudahan ada penolong 🤲
mimpi aja kamu Leo 🤭
Nicklas
niklas🙈