NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Sang Kapten

Terjerat Cinta Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rita Sri Rosita

Kirana, putri seorang menteri yang sedang naik daun, datang ke pedalaman demi meningkatkan citra politik ayahnya. Bersama reporter Carmen dan kameramen Dion, dia membuat konten kemanusiaan mengajar anak-anak desa dan memberi bantuan bersama prajurit TNI.
Kapten Damar ditugaskan mengawal kunjungan itu. sanf kapten menganggap Kirana hanyalah bagian dari panggung politik yang penuh pencitraan.
Semua berjalan lancar, hingga segerombolan pemberontak bersenjata menyerbu desa. Dalam kekacauan dan tembakan yang membabi buta, Damar harus membawa Kirana menyelamatkan diri ke dalam hutan.
Terpisah dari rombongan dan jauh dari sorotan kamera, Kirana untuk pertama kalinya menghadapi dunia tanpa privilese. Di tengah bahaya dan perjuangan bertahan hidup, tumbuh perasaan yang tak seharusnya ada antara seorang perwira yang terikat sumpah dan putri pejabat yang mulai melihat arti ketulusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Yang Penuh Ketegangan

Kapten Damar dan sepuluh anggota yang dipimpinnya sudah lebih dulu duduk di dalam pesawat, pesawat militer itu akan membawa mereka ke Flores.

Suasana kabin tenang, hanya terdengar dengungan mesin dan percakapan pelan antar prajurit.

Damar duduk di kursi dekat jendela. Wajahnya serius, kedua tangannya terlipat di dada, dia sudah membaca seluruh laporan keamanan wilayah tujuan. Baginya, ini bukan perjalanan biasa.

Tak lama kemudian, seorang perempuan cantik melangkah naik dengan percaya diri, gayanya memang kasual namun yang dikenakannya tetap brand mahal.

Rambut panjangnya tergerai rapi, di hadapannya seorang reporter dan kameramen bersiaga.

“Kamera sudah on?” tanya Kirana berbisik.

“Sudah, mbak Kirana,” jawab Carmen sang reporter tampak bersemangat.

Lampu indikator kamera menyala, Reporter bernama Carmen itu langsung berbicara ke arah kamera.

“Kami bersiap menuju Flores bersama Mbak Kirana Pramita Subakti," Kalimatnya sempat berhenti beberapa detik.

"Beliau putri dari Bapak David Subakti, Menteri Dalam Negeri." Kalimatnya kembali berjeda.

"Perjalanan ini menjadi langkah awal misi sosial Kirana untuk membantu anak-anak di pedalaman.”

Carmen mengarahkan mikrofon ke Kirana.

“Mbak Kirana,pesan apa yang ingin anda sampaikan kepada seluruh masyarakat untuk perjalanan ini,?”

Kirana menampilkan senyum lembut, sorot matanya dibuat sendu.

“Saya ingin bertemu langsung dengan anak-anak di Flores yang mungkin belum terjamah media,” ucapnya penuh perasaan.

“Mereka yang mungkin belum mendapatkan akses pendidikan yang layak, saya ingin hadir, mendengar, dan belajar dari mereka.”

Kirana menunduk sedikit, seolah menahan haru.

“Saya berharap langkah kecil ini bisa menginspirasi lebih banyak anak muda untuk peduli.”

Beberapa prajurit saling melirik sekilas, mereka sudah bertemu dengan banyak politisi dan gadis kecil ini akan mengikuti jejak mereka.

Damar memalingkan wajahnya ke arah jendela, ada rasa tidak nyaman yang sulit dia sembunyikan. Tas bermerek mahal yang dibawa Kirana, sepatu Air Jordan langka yang harganya selangit jelas bukan untuk medan pedalaman.

Semua terasa kontras dengan kata-kata “kesederhanaan” yang baru saja diucapkan.

Damar mengenakan kacamata hitamnya menyembunyikan tatapan sinisnya.

Carmen kemudian mengalihkan kamera ke arah para prajurit.

“Di sini juga ada para prajurit TNI yang akan membantu selama kegiatan berlangsung." Matanya langsung mencari sosok penting, dalam sekejap Carmen dapat menangkap sosok Damar.

"Kapten, boleh kami tahu kesiapan tim Anda untuk misi mulia ini?”

Sorot kamera kini tepat mengarah pada Damar.

Carmen tersenyum lebar lalu memotong sebentar sebelum Damar bicara.

“Wah, Kapten yang satu ini tampan sekali ya.”

Beberapa anggota tim menahan tawa, Damar melepas kacamata hitamnya perlahan, dia tersenyum tipis, sorot matanya tajam.

“Keamanan adalah tanggung jawab kami,” ucapnya tenang.

“Dengan atau tanpa liputan media, banyak prajurit dan relawan muda yang sudah lama mengabdi di daerah terpencil dengan tulus.” Nada suaranya datar, tapi sindirannya jelas.

Kirana yang duduk beberapa baris di belakangnya menangkap kalimat itu, matanya menajam, tertarik.

Setelah sesi pengambilan gambar selesai, dia memanggil salah satu prajurit.

“Tolong sampaikan pada Kapten Damar, saya ingin berbicara langsung untuk koordinasi.”

Beberapa menit kemudian, Damar berdiri dan berjalan mendekat. Langkahnya tegas dia duduk persis di sebelah Kirana.

“Saya Kapten Damar, ada yang bisa saya bantu, Mbak Kirana?” katanya tanpa banyak basa basi.

Kirana tersenyum, menatapnya lebih lama dari yang seharusnya dia mencoba membuat Kapten muda itu terpesona kepadanya.

“Aku Kirana,” katanya ringan. “Senang akhirnya bisa berbicara langsung, sepertinya kita akan banyak ngobrol dalam satu minggu ini,”

“Semoga,” jawab Damar singkat.

“Tugas kami memastikan Anda dan tim tetap aman.”

Nada profesional tanpa kehangatan.

Kirana sedikit memiringkan kepala dia laki-laki pertama yang tak terlalu antusias berbicara dengannya.

“Anda tidak terlihat senang berbicara dengan saya di sepajang perjalanan ini, Kapten.” Kata Kirana menatap Damar sekali lagi mencoba memikatnya.

“Saya netral terhadap setiap tugas,” jawabnya tenang. “Yang penting misi berjalan lancar.” sambung Dama reaksinya tetap sama biasa saja.

Kirana tersenyum tipis. “Sebelumnya anda pernah mengawal orang penting.”

“Ya beberpa Selebritis ke Papua,” balas Damar. “Anaknya bapak presiden ke Aceh.”

Kirana terdiam sesaat, menangkap makna tersembunyi di balik kalimat itu.

“Apa saya termasuk katagori orang penting?” tanya Kirana tiba-tiba.

Damar menatap lurus ke depan.

“Saya hanya fokus kepada prosedur keamanan bukan pada orangnya,”

Damar memberikan jawaban dingin, tegas, dan menjaga jarak.

Alih-alih tersinggung, Kirana justru tersenyum lebih lebar.

“Baiklah, Kapten, saya suka tantangan,”

Damar menoleh sekilas, mencerna ucapan Kirana, tatapan mereka bertemu untuk pertama kalinya tanpa kamera.

Ada percikan kecil di sana bukan ketertarikan, melainkan tantangan, Kirana tampak penasaran dengan sikap dingin sang kapten.

“Selama Anda mengikuti arahan keamanan, kita tidak akan punya masalah,” ujar Damar tegas, Kirana bersandar di kursinya.

“Kita lihat saja nanti, Kapten.” kata Kirana masih memperhatikan Damar.

Pesawat mulai bergerak menuju landasan pacu. Mesin meraung lebih keras.

Tak satu pun dari mereka menyadari, perjalanan itu bukan sekadar misi sosial atau tugas pengawalan biasa..Itu adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih berbahaya dan jauh lebih pribadi.

1
sitanggang
mcnya ternyata goblok🤦🤦
Rosie: Baca J.R.R Tolkien aja cocok buat anda jangan novel online.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!