apa yang akan terjadi jika kamu bangun dari tidur mu , tiba tiba sudah memiliki suami yang begitu menolak mu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
nama yang asing
seharusnya nya Thalia harus di rawat di ICU, hingga kondisi nya bener bener stabil.
tapi setelah hampir setengah hari menunggu akhirnya Nana memberi tahu kondisi Thalia kepada suaminya, melalui ponsel Thalia,
dan benar saja tidak lama mertua Thalia datang, dan Thalia dipindahkan ke ruang VIP tempat yang sekarang ini. 'The power of money ' batin Nana
Sebuah kemewahan yang ironis, mengingat pernikahan Thalia bukanlah dibangun di atas pondasi cinta, melainkan sebuah insiden yang memaksa dua insan terikat dalam janji suci perlu di garis bawahi tanpa cinta di dalam nya.
Keluarga suaminya tidak pernah menganggap keberadaan Thalia,
namun saat di kabari tentang keadaan Thalia ternyata mereka peduli dan fast respon mereka bertanggungjawab tetang keadaan Thalia sang menantu, Bahkan mereka memberikan fasilitas terbaik ini.
tapi suami Thalia tak ada tanda bahwa ia akan datang melihat kondisi istri nya karena alasan dia berada di luar kota .
Di dalam keheningan yang kembali datang, Thalia terpaku. Bayangan wajah-wajah yang samar melintas di benaknya, memicu tetesan air mata yang jatuh tanpa suara. Ia merasa sendirian di dunia yang luas ini.
Ketika suara derap langkah kaki kembali mendekat, ia buru-buru menyeka pipinya dengan tangan yang bebas dari infus
Ceklek.
Pintu terbuka. Seorang dokter paruh baya dengan stetoskop yang melingkar di leher masuk, diikuti dua perawat di belakangnya.
"Saya periksa dulu, ya," ucap Dokter dengan nada tenang namun menyimpan kebingungan.
Secara medis, Thalia sehat, dari pupil mata yang dapat merespon cahaya respon saraf dan motorik semua normal,tekan darah nadi dan pernafasan semua lancar dan aman yang membuat nya aneh ialah tadi malam pengecekan pasien ia sempat tak menunjukkan tanda-tanda kesadaran layak nya orang koma .
"Dok, bagaimana keadaan, sahabat saya?" tanya Nana cemas. Setelah dokter melihat catatan medis
"Thalia, apa yang kamu rasakan? Apa ada rasa mual?" tanya Dokter itu lembut sembari menaikkan sandaran tempat tidur agar Thalia lebih nyaman.
Thalia hanya diam, matanya terpaku pada alat-alat medis yang dianggapnya aneh. Ia merasa seperti makhluk dari dimensi lain yang terlempar ke dunia modern yang asing.
"Tha, hey jawab dong di tanyain dokter tuh " ujar Nana yang ternyata sama tak mendapat respon apapun
" maaf Keluarga pasien nya di mana?" Dokter itu bertanya pada Nana. Sebab selama seminggu ini setiap kali melakukan visite ( kunjungan pasien atau pemeriksaan keliling) hanya ada wanita yang mengaku sahabat nya itu, pernah sekali saat melakukan visite ada keluarga yang lain yang mengaku mertua dari pasien nya.
"Saya temannya, Dok. Suaminya masih di luar kota, apa sahabat saya sedang hamil dok " jawab Nana dengan nada getir.
Dokter mengangguk paham. " Baiklah nanti bisa kakak jelaskan kekeluargaan nya ya untuk Hasil pemeriksaan menunjukkan semua normal. Dia tidak hamil.tadi itu kami menanyakan apa pasien mengalami mual, yang biasanya Rasa mual itu mungkin efek sisa dari pemasangan selang NGT (selang makan). "jelas dokter itu
" oh , tapi dok kok sahabat Saya kayak orang linglung gitu ya dok kaya enggak tahu apa Apa gitu" tanya Nana lagi.
"Mengenai dia yang tidak mengenali sekitar , itu wajar bagi pasien yang baru bangun dari koma. Butuh waktu bagi otaknya untuk men sinkronisasi ingatan kembali." imbuh sang dokter
"apa teman saya akan amnesia gitu, Dok?"tanya Nana bingung
"lebih tepatnya pasien hanya akan mengalami amnesia sementara. sebelum pasien mengingat sendiri jangan paksa pasien untuk mengingat, karena itu bisa memicu tekanan pada otaknya."
" Dan Jika hari ini kondisinya terus stabil, maka sore atau besok dia sudah boleh pulang. Agar bisa beristirahat lebih nyaman "
" oh iya, pasien jangan di suapi makan atau minum terlebih dahulu sebelum pemeriksaan lebih lanjut, 20 menit lagi akan ada pengecekan lebih lanjut"
" baik dokter, terima kasih" ucap Nana senang karena sahabat nya telah sadar dari tidur panjang nya
▪️▪️▪️
Setelah dokter keluar Nana mencoba mengajak Thalia bicara "Tha, jangan melamun terus. " ayo ajak gue ngomong atau ada yang mau Lo tanya kan"
"Kak... ini sakit sekali. Kenapa tangan Mei Mei harus ditusuk benda tajam seperti ini?" rintih Thalia lirih sembari menatap jarum infus di punggung tangan kiri nya,
Ia menyebut dirinya dengan panggilan yang terasa asing di telinga Nana. Nana mengerutkan kening. "Jangan banyak gerak, nanti darahnya naik ke selang!, Dan... Siapa itu Mei Mei? Tha, jangan bercanda. Lo itu baru sadar dari koma enggak usah prank prank ngan gitu ah "omel Nana yang mengira sahabat nya bercanda.
" kak , tolongin mei mei dong " ucap Thalia lirih
" Tha, Lo beneran belum ingat gue? kita KKN baru semingguan loh kalau Lo amnesia Lo enggak bisa sempro bareng loh " ucap Nana menakuti thalia
seolah lupa bahwa dokter baru saja mengatakan bahwa pasien yang baru saja sadar dari koma biasa mengalami amnesia sementara. hanya sementara yang artinya enggak akan lama.
Thalia hanya menggeleng pelan. Kepalanya mendadak berdenyut hebat. Pandangannya mengabur, kunang-kunang seolah menari di depan matanya saat ia mencoba duduk tegak.
Di tengah rasa sakit yang mendera, ia hanya mampu memejamkan mata, mencoba mencari tahu siapakah dirinya kenapa dia berada di tempat seperti ini .
Di dalam ruangan yang hening itu, waktu seolah membeku. Thalia memejamkan matanya rapat-rapat, jemarinya meremas sprei putih yang dingin. Ada rasa aneh yang berkecamuk di dalam kepalanya ,
denyut pening yang datang bertalu-talu seperti hantaman ombak membuat nya pusing dan rasa mual mulai ia rasakan.
"Tha kenapa , apa yang Lo rasakan?" suara Nana memecah kesunyian, nadanya naik satu oktaf, penuh kecemasan saat melihat wajah sahabatnya memucat.
"Kak... Mei Mei pusing," rintih Thalia lirih. Suaranya terdengar seperti bisikan angin
Nana tertegun, separuh hatinya masih menolak percaya, kalau sahabat nya mengalami amnesia. Tapi ia tetap dengan sigap mengambil sebuah kresek gelap menyodorkan ke arah thalia saat melihat sahabatnya seolah mau muntah .
"Tha, lo beneran nggak ingat apa-apa? Jangan bangun dulu, rebahan aja ya tunggu dokter periksa lagi "ia membantu Thalia berbaring kembali.
Meskipun Nana beberapa bulan lebih tua, mereka tak pernah mengenal kasta dalam pertemanan.
Sejak awal, Nana telah mengharamkan embel-embel 'Kakak' atau 'Mbak'.
Baginya, persahabatan mereka adalah tentang kesetaraan, bukan senioritas. Namun kini, panggilan itu meluncur dari bibir Thalia seolah mereka adalah dua orang asing yang baru pertama kali bertemu.
.