Luka pengkhianatan ibu membuat hati Anandara membeku. Sinta adalah satu-satunya "rumah" baginya. Namun, kehadiran mahasiswa baru bernama Angga memicu badai. Anandara rela memendam cinta demi Sinta, menciptakan kebohongan dan permusuhan yang menyayat hati. Mampukah persahabatan mereka bertahan saat rahasia terkuak, dan dapatkah Dimas menyembuhkan luka Sinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Kekhawatiran Sang Ayah dan Luka di Ujung Telepon
Matahari sore baru saja terbenam ketika iring-iringan dua taksi online berhenti tepat di depan gerbang besi tempa yang menjulang tinggi milik kediaman keluarga Dirga. Udara kota Bandung yang sejuk menyambut kepulangan mereka dari kawasan pegunungan Lembang. Gerbang otomatis itu terbuka perlahan, membiarkan rombongan mahasiswa yang wajahnya memancarkan kelelahan ekstrem itu melangkah masuk menyusuri halaman depan yang dihiasi air mancur keemasan.
Anandara Arunika berjalan di tengah-tengah formasi pelindung circle-nya. Sinta menggandeng lengan kirinya dengan posesif, sementara Kiera dan Ami berjalan di sisi kanannya. Di belakang mereka, Rehan dan Reza menyeret ransel-ransel besar dengan langkah gontai.
Hari ini, Pak Dirga ternyata sedang berada di rumah. Konglomerat properti itu berhasil merampungkan negosiasi proyeknya di Kalimantan lebih cepat dari jadwal dan memutuskan untuk mengambil libur akhir pekan penuh demi menyambut putri semata wayangnya pulang dari acara kampus.
Saat pintu utama dari kayu jati berukir itu didorong terbuka oleh Pak Yanto, Pak Dirga yang sedang duduk santai di sofa ruang tamu sambil membaca koran bisnis sore, langsung meletakkan bacaannya. Wajah lelah pria paruh baya itu seketika berubah cerah.
"Putri Bapak sudah pulang!" seru Pak Dirga dengan senyum lebar, bangkit berdiri untuk menyambut Anandara dan teman-temannya.
"Sore, Om Dirga!" sapa Sinta, Rehan, Reza, Ami, dan Kiera serempak, membungkukkan badan dengan sopan. Pak Dirga sangat mengenal mereka semua, sahabat-sahabat yang selalu membuat mansion sepinya menjadi hidup.
Namun, senyum lebar di wajah Pak Dirga hanya bertahan selama tiga detik.
Ketika Anandara melangkah lebih dekat ke arah cahaya lampu kristal ruang tamu, mata tua Pak Dirga yang tajam langsung menangkap kejanggalan di wajah putrinya. Plester luka berwarna kecokelatan menempel mencolok di pelipis kanan Anandara, menutupi goresan kulit yang kemerahan, kontras dengan wajah pualamnya yang luar biasa pucat.
Wajah Pak Dirga seketika pias. Jantungnya berdegup kencang oleh kepanikan seorang ayah.
"Nanda! Ya Tuhan, wajah kamu kenapa ini, Nduk?!" pekik Pak Dirga, setengah berlari menghampiri putrinya.
Pria yang biasanya ditakuti oleh para kontraktor dan pesaing bisnisnya itu kini terlihat gemetar. Ia menangkup kedua pipi Anandara dengan tangan besarnya yang hangat, menatap lekat-lekat plester di pelipis itu dengan raut horor. "Kamu jatuh? Kecelakaan? Apa yang terjadi di gunung sana? Bibi! Bi Inah! Cepat bawakan air putih dan kotak P3K!"
Suara bariton Pak Dirga yang menggelegar panik memenuhi seluruh penjuru rumah. Bi Inah langsung berlari terbirit-birit dari arah dapur.
Anandara merasakan sengatan rasa bersalah yang tajam melihat kepanikan ayahnya. Ia buru-buru memegang pergelangan tangan ayahnya, mencoba menenangkan. "Nanda nggak apa-apa, Pak. Nanda cuma..."
"Cuma apa?! Ini sampai luka begini! Coba Bapak lihat, ada yang luka lagi nggak? Kaki kamu bisa jalan? Apa kita harus ke rumah sakit sekarang buat CT Scan kepala kamu?!" Pak Dirga memberondong putrinya dengan pertanyaan, matanya memancarkan ketakutan yang mendalam. Ia pernah nyaris kehilangan Nanda karena keputusasaan di masa lalu, dan ia tidak siap jika harus melihat putrinya terluka lagi secara fisik.
Sinta, yang menyadari bahwa Anandara terlalu lelah untuk menjelaskan dan takut salah bicara, segera mengambil alih situasi. Ia melangkah maju dengan senyum lembut dan nada suara yang paling menenangkan.
"Om Dirga, tenang dulu, Om. Nanda beneran nggak apa-apa kok," ucap Sinta dengan nada mengayomi, mengelus bahu Pak Dirga pelan.
Pak Dirga menoleh menatap Sinta dengan dada yang masih naik turun. "Sinta, tolong jujur sama Om. Anak Om kenapa bisa luka begini? Pengawasan panitianya gimana?"
Sinta menelan ludah. Ia tidak mungkin menceritakan detail bahwa Anandara nyaris mati jatuh ke dasar jurang yang penuh batu tajam, hal itu hanya akan membuat Pak Dirga terkena serangan jantung dan menuntut pihak kampus. Sinta harus memodifikasi ceritanya menjadi versi yang lebih aman, namun tetap masuk akal.
"Tadi pagi waktu acara trekking nyusuri bukit, jalannya licin banget karena sisa hujan, Om," jelas Sinta dengan lancar dan raut wajah meyakinkan. "Nanda kepleset dikit pas mau turun tanjakan. Dia jatuhnya ke arah semak-semak, makanya pelipisnya kegores ranting pohon. Tapi untungnya, ada teman cowok di kelompok kita yang refleksnya cepat banget. Dia langsung nahan badan Nanda sebelum Nanda guling-guling ke bawah. Jadi Nanda cuma kegores di pelipis aja, nggak ada luka dalem atau keseleo sama sekali. Panitia medis juga udah periksa Nanda secara menyeluruh, dan Nanda seratus persen aman."
Mendengar penjelasan runut dari Sinta, ketegangan yang mengunci otot-otot Pak Dirga perlahan mengendur. Ia menghela napas panjang yang terdengar sangat lega, meski gurat kekhawatiran belum sepenuhnya sirna dari dahinya.
"Ya Allah... syukurlah kalau cuma kepleset di semak-semak," gumam Pak Dirga sambil mengusap dadanya. Ia kembali menatap Anandara, menepuk puncak kepala putrinya dengan penuh kasih sayang. "Kamu ini bikin jantung Bapak mau copot aja, Nduk. Lain kali hati-hati kalau jalan di alam terbuka."
"Iya, Pak. Maaf udah bikin Bapak panik," bisik Anandara, memaksakan sebuah senyum tipis untuk menenangkan ayahnya. Maafkan aku, Pak. Aku tidak terpeleset biasa. Aku sengaja melepaskan tangan pemuda itu, batin Anandara merintih, menutupi fakta gelap yang tak akan pernah ia ceritakan.
Pak Dirga lalu menoleh pada kelima teman putrinya, menatap mereka dengan penuh rasa terima kasih. "Om makasih banyak ya sama kalian semua. Rehan, Reza, Kiera, Ami, Sinta. Terima kasih sudah jaga Nanda dan antar dia pulang dengan selamat. Terutama buat teman cowok kalian yang sudah refleks nahan Nanda itu. Tolong sampaikan rasa terima kasih Om yang sebesar-besarnya untuk dia. Siapa namanya?"
Pertanyaan sederhana itu seketika membuat suasana mendadak kaku. Sinta, Rehan, Reza, Kiera, dan Ami saling melirik dengan kecanggungan yang tak kasat mata. Mereka semua teringat pada kondisi mengerikan lengan Angga dan pertengkaran batin antara Anandara dan pemuda itu.
"Na-namanya Angga, Om," jawab Sinta sedikit terbata, berusaha menyembunyikan getaran di suaranya.
"Angga," ulang Pak Dirga sambil mengangguk mantap. "Sampaikan terima kasih Om buat Angga. Kapan-kapan ajak dia main ke sini bareng kalian, biar Om bisa traktir makan."
Anandara memejamkan matanya sekilas. Dadanya terasa nyeri. Membayangkan Angga menginjakkan kaki di rumah ini adalah sebuah ilusi yang terlalu indah sekaligus terlalu mematikan untuk menjadi kenyataan.
"I-iya, Om. Nanti Sinta sampaikan," sahut Sinta tersenyum canggung.
Bi Inah datang membawa nampan berisi gelas-gelas sirup jeruk dingin. Namun, setelah melihat jam dinding besar di ruang tamu yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Kiera langsung menyikut lengan Ami.
"Om, Bi Inah, makasih banyak minumannya, tapi kita kayaknya harus langsung pamit pulang deh," ucap Kiera mewakili teman-temannya. "Besok kita ada kuis mata kuliah pagi jam delapan. Belum nyicil baca materinya sama sekali gara-gara kecapekan camping."
"Loh, nggak makan malam dulu di sini?" tawar Pak Dirga.
"Nggak usah, Om, makasih banyak. Keburu kemalaman nanti nyari taksinya susah," timpal Rehan sambil menyalimi tangan Pak Dirga, disusul oleh Reza.
Sinta memeluk Anandara dengan erat sebagai ucapan perpisahan. "Lo langsung mandi air hangat terus tidur ya, Nan. Nggak usah buka buku akuntansi dulu malam ini. Otak lo butuh istirahat. Kalau ada apa-apa, telepon gue."
"Iya, Sin. Lo juga hati-hati di jalan ya. Jangan begadang," pesan Anandara dengan senyum hangat di luar, namun hancur di dalam.
Setelah kelima temannya itu melangkah keluar dari pintu utama dan menghilang di balik gerbang, rumah raksasa itu kembali memeluk kesunyiannya. Pak Dirga menyuruh Anandara segera naik ke kamar untuk beristirahat, sementara beliau sendiri akan meminta Bi Inah menyiapkan makan malam untuk diantar ke kamar putrinya nanti.
Anandara melangkah gontai menaiki tangga pualam melingkar itu. Setiap langkah yang ia ambil terasa semakin berat. Begitu ia mencapai lantai dua, ia masuk ke dalam kamarnya yang luas dan mewah.
Klik.
Suara kunci pintu yang diputar dari dalam menjadi penanda dimulainya runtuhnya bendungan pertahanan yang telah ia bangun dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya.
Di dalam kamar yang luas, sepi, dan beraroma lavender mahal itu, Nyonya Es yang kuat dan angkuh itu seketika meluruh. Anandara menjatuhkan tas ranselnya ke lantai secara serampangan. Ia tidak berjalan menuju kamar mandi. Ia tidak mengganti bajunya. Kakinya lemas, tak sanggup lagi menopang berat tubuh dan berat penderitaannya.
Anandara berjalan tertatih menuju ranjang king size-nya, dan menjatuhkan dirinya di atas kasur yang empuk.
Dan di detik itulah, tangisannya meledak.
Sebuah tangisan yang luar biasa hebat, namun sangat tertahan. Anandara tahu bahwa ayahnya sedang berada di bawah, dan Bi Inah mungkin sedang berjalan di lorong. Ia tidak boleh membiarkan suara tangisannya terdengar oleh siapa pun di rumah ini. Ayahnya sudah cukup khawatir melihat plester di pelipisnya; jika ayahnya mendengar ia menangis meraung-raung seperti orang gila, hati pria paruh baya itu akan hancur lebur.
Dengan gerakan panik, Anandara menyambar bantal sutra yang tebal, menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal itu, dan menggigit kain sarung bantal tersebut sekuat tenaga untuk membungkam lolongan penderitaannya.
Tubuhnya bergetar hebat di atas ranjang. Bahunya terguncang-guncang didera isakan yang menyayat dada. Air mata yang terasa panas dan perih mengalir deras, membasahi kain sutra mahal itu dalam hitungan detik.
Siksaan batin ini terlalu menyakitkan. Ruang kamarnya yang dipenuhi oleh perabotan impor bernilai ratusan juta rupiah ini seolah berubah menjadi ruang penyiksaan yang mencekiknya hidup-hidup.
Di balik gelapnya bantal yang membekap wajahnya, ingatan Anandara kembali berputar tanpa ampun, memutar ulang adegan-adegan paling brutal yang mengoyak kewarasannya selama dua hari terakhir.
Ia mengingat wajah Angga. Ia mengingat bagaimana pemuda itu menatapnya dengan penuh harap di kantin. Ia mengingat bagaimana ia membentak pemuda itu di kelas, menginjak-injak harga dirinya hingga hancur.
Dan yang paling mengerikan... ia mengingat sensasi tangan Angga yang menggenggam pergelangan tangannya di bibir jurang. Tangan yang hangat, besar, dan sangat kokoh. Tangan yang rela terluka demi melindunginya.
Bayangan darah segar yang menetes dari lengan bawah Angga, perban putih yang membalut luka robek akibat duri, dan bunyi benturan tulang bahu Angga yang menghantam batu raksasa... semua memori visual itu berkelebat menghantam otak Anandara berulang kali seperti proyektil peluru.
"Maafkan aku... maafkan aku, Angga..." rintih Anandara di sela isakannya yang terbekap bantal, suaranya parau dan putus asa. "Tanganmu... tanganmu terluka karena keegoisanku. Bahumu hancur karena aku mengusirmu."
Rasa bersalah menelan seluruh akal sehatnya. Laki-laki yang ia cintai setengah mati itu kini menderita luka fisik yang parah karena keangkuhannya. Jika saja ia tidak meronta, jika saja ia membiarkan Angga menariknya perlahan, Angga tidak perlu melompat dan menghancurkan tubuhnya sendiri. Angga terluka karena Anandara lebih memilih untuk menjaga topeng kebohongannya.
"Aku jahat... aku monster," isaknya lagi, meremas seprai kasurnya dengan tangan yang gemetar.
Namun, tepat di saat rasa rindunya pada Angga nyaris membuat Anandara ingin berlari keluar dan mencari pemuda itu untuk memohon ampun, sebuah bayangan lain muncul menyela dengan sangat kejam.
Bayangan wajah Sinta.
Sinta yang tersenyum lebar menatap Angga. Sinta yang menangis meraung-raung di atas tebing, takut kehilangan dirinya. Sinta yang dengan penuh cinta dan ketulusan membalut luka di tangan Angga tadi malam di dekat api unggun.
Sinta begitu memuja pemuda itu. Sinta tergila-gila pada Angga dengan cara yang paling murni. Gadis berlesung pipi itu telah menyerahkan hatinya tanpa sisa untuk sang pangeran bermata elang.
Menyadari fakta itu, tangisan Anandara semakin pecah dan menyiksa. Ironi ini mengoyak jiwanya menjadi dua bagian yang tak akan pernah bisa disatukan.
Jika ia menerima cinta Angga, ia akan membunuh hati Sinta. Sahabat yang telah menyelamatkan nyawanya akan hancur lebur, dan Anandara akan membuktikan bahwa darah ibunya yang egois benar-benar mengalir di nadinya. Ia akan menjadi pengkhianat terburuk di dunia.
Namun, jika ia terus mendorong Angga menjauh dan memaksakan pemuda itu bersama Sinta... rasa sakitnya benar-benar tak tertahankan. Mengubur cintanya sendiri hidup-hidup adalah sebuah bentuk bunuh diri perlahan yang menyiksa setiap sel di tubuhnya.
"Tuhan, tolong cabut saja perasaan ini," doa Anandara dalam keputusasaan yang absolut, menggigit bantalnya makin kuat. "Bunuh saja cintaku padanya. Biarkan mati... tolong biarkan aku mati rasa lagi."
Gadis jenius itu meringkuk dalam posisi janin di atas ranjangnya, sendirian, miskin akan kebahagiaan di tengah gelimang harta, meratapi cinta pertamanya yang lahir di waktu yang salah dan pada orang yang paling dilarang untuk ia miliki.
Satu jam berlalu. Tangisan hebat Anandara perlahan mulai mereda, menyisakan isakan-isakan kecil dan napas yang tersengal-sengal. Kepalanya berdenyut luar biasa nyeri akibat terlalu banyak menangis dan kelelahan pasca-kecelakaan. Ia belum mengganti pakaiannya. Ia hanya berbaring menatap langit-langit kamarnya dengan mata yang sembab, merah, dan kosong tanpa kehidupan.
Tiba-tiba, keheningan di kamar mewah itu dipecahkan oleh suara getaran yang keras.
Drrrrt! Drrrrt!
Ponsel Anandara yang tergeletak di dalam saku jaketnya bergetar dan berdering, menandakan sebuah panggilan masuk.
Anandara menggerakkan tangannya dengan kaku, merogoh saku jaketnya, dan mengeluarkan benda pipih itu. Layarnya menyala terang di dalam kamar yang remang-remang, menampilkan sebuah nama yang membuat jantungnya kembali berdegup dengan ritme yang menyakitkan.
Sinta is Calling...
Anandara menelan ludah. Tenggorokannya terasa sangat kering dan perih. Ia tidak bisa mengabaikan panggilan ini. Jika ia tidak menjawab, Sinta akan panik dan berpikir telah terjadi sesuatu padanya, atau lebih buruk lagi, Sinta akan menelepon ayahnya.
Dengan gerakan mekanis, Anandara menarik napas sangat dalam, menahannya selama lima detik untuk menstabilkan pita suaranya, lalu menghembuskannya perlahan. Ia menyeka sisa air mata di wajahnya dengan punggung tangan, berdeham pelan untuk membersihkan tenggorokannya yang serak, lalu menggeser tombol hijau di layar ponsel.
Nyonya Es itu kembali memakai topeng senyumnya, meski tak ada yang melihatnya.
"Halo, Sin? Kenapa belum tidur?" sapa Anandara dengan suara yang diatur sedatar dan sewajar mungkin, menyembunyikan kehancurannya dengan sangat sempurna.
Dari seberang sana, bukan suara lelah yang terdengar, melainkan sebuah pekikan tertahan yang memancarkan euforia dan kebahagiaan tingkat dewa.
"Nandaaaaa!!!" jerit Sinta kegirangan, suaranya sedikit diredam, sepertinya ia sedang menutupi mulutnya dengan bantal. "Nan! Sumpah gue mau meledak rasanya! Gue nggak bisa tidur! Lo tahu nggak apa yang baru aja terjadi?!"
Mendengar nada suara sahabatnya yang begitu bahagia, dada Anandara langsung berdesir ngilu. Sebuah firasat buruk merayap naik, mencengkeram lambungnya.
"Ada... ada apa, Sin? Lo habis menang undian?" tanya Anandara berbasa-basi, tangannya yang bebas meremas seprai kasur dengan kuat.
"Lebih dari menang undian, Nan!" Sinta menarik napas panjang, seolah sedang bersiap mengumumkan berita paling penting dalam sejarah hidupnya. "Angga, Nan! Angga!"
Nama itu. Nama itu kembali menghantam ulu hati Anandara bagai godam beton. Napas Anandara tertahan. Matanya terpejam rapat menahan rasa sakit yang menusuk.
"Tadi pas gue nyampe rumah," Sinta bercerita dengan tempo yang sangat cepat karena terlampau excited. "Gue iseng nge-chat dia. Cuma chat basa-basi doang nanyain keadaan lengannya, karena gue masih khawatir banget sama perbannya yang tembus darah semalam. Gue pikir bakal dibaca doang kayak biasanya cowok cool, atau dibales besok pagi."
"Terus?" tanya Anandara pelan, membiarkan pisau itu menyayat hatinya lebih dalam.
"Terus, Nan, dia langsung ngetik! Nggak nyampe semenit, chat gue langsung dibales!" Sinta memekik kecil. "Dia bales panjang, Nan! Nggak cuma 'ok' atau 'ya'. Dia bilang lengannya udah mendingan, terus dia malah nanya balik keadaan gue, nanya gue udah sampai rumah dengan selamat apa belum!"
Deg.
Sakit. Luar biasa sakit. Udara di kamar Anandara serasa disedot habis. Angga membalas pesan Sinta dengan cepat. Angga menanyakan keadaan Sinta. Pria yang tadi pagi ia tolak mentah-mentah, kini mulai merespons pendekatan sahabatnya. Skenarionya berjalan dengan sempurna.
"Wah... itu progress yang bagus banget, Sin," ucap Anandara dengan suara riang buatan yang terasa seperti mengunyah beling. "Cowok dingin kayak dia kalau udah mulai nanya balik, berarti dia peduli."
"Iya kan?! Gue juga mikirnya gitu, Nan!" Sinta tertawa bahagia. "Terus gue pancing obrolan soal tugas Pak Anton, dan gila... obrolan kita nyambung banget! Setiap pesan gue selalu dibalas sama dia! Nggak ada jeda lama! Dia asyik banget kalau di-chat. Kita saling bales-balesan dari tadi, Nan!"
Anandara hanya bisa mendengarkan. Ia menelan sisa-sisa air matanya yang kembali mengancam akan jatuh. Hatinya yang tadi sudah hancur berkeping-keping, kini digiling menjadi debu halus oleh setiap kata bahagia yang meluncur dari mulut sahabatnya.
"Tadi dia juga bilang makasih lagi sama gue karena udah rawat dia semalam. Dan lo tahu apa yang bikin gue nyaris pingsan, Nan?"
"Apa, Sin?" bisik Anandara lirih.
"Dia bilang... 'Tangan lo lembut, Sin. Makasih.' " Sinta menghela napas panjang yang dipenuhi oleh cinta. "Nan, gue rasa gue beneran bisa bikin dia jatuh cinta sama gue. Tembok esnya udah mulai meleleh buat gue."
Dada Anandara bergemuruh hebat. Tangan lo lembut, Sin. Makasih. Kalimat yang diketik oleh Angga untuk Sinta itu terus terngiang di kepalanya, membakar seluruh logikanya. Apakah Angga benar-benar mulai menyukai Sinta? Ataukah Angga hanya lelah pada penolakan Anandara dan akhirnya memilih untuk membuka hati pada gadis yang jelas-jelas mencintainya?
Apa pun alasannya, tujuannya telah tercapai. Ia harus bahagia untuk Sinta. Ia harus.
"Gue seneng dengarnya, Sin. Gue bilang juga apa, pesona lo nggak mungkin bisa ditolak," Anandara memberikan afirmasi dukungan, sebuah kata-kata manis yang membunuh jiwanya perlahan. "Terus berjuang, ya. Gue yakin lo bakal jadian sama dia."
"Aamiin paling kencang! Ini semua juga berkat lo yang selalu dukung gue, Nanda. Kalau lo nggak ngedorong gue buat maju terus, gue pasti udah ciut duluan," ucap Sinta tulus.
Telepon itu tidak berhenti di sana. Sinta yang sedang mabuk kepayang terus menceritakan setiap detail isi pesannya dengan Angga. Ia membacakan chat balasan pemuda itu satu per satu, menganalisis emotikon yang digunakan Angga, dan merencanakan baju apa yang akan ia pakai saat kencan pertama mereka nanti.
Anandara terjebak di ujung telepon itu selama satu jam penuh.
Satu jam yang merupakan simulasi neraka terburuk dalam hidupnya. Setiap menitnya adalah siksaan. Ia harus merespons cerita Sinta dengan tawa, harus menimpali dengan komentar dukungan yang antusias, dan harus berpura-pura bahwa hatinya tidak sedang berdarah kehabisan nyawa.
Ia mendengarkan dengan saksama bagaimana sahabatnya perlahan-lahan merajut mimpi indah bersama laki-laki yang menjadi pusat dunia Anandara.
"Ya udah, Sin, lo mending tidur gih. Jangan sampai lo kesiangan kuis besok gara-gara chatting semalaman," potong Anandara pada akhirnya, menyadari bahwa kewarasannya sudah berada di batas absolut. Jika ia mendengar satu menit lagi, ia mungkin akan benar-benar pingsan.
"Oh iya, astaga! Kuis! Untung lo ngingetin, Nan. Gue tutup ya teleponnya. Mimpi indah, Nanda sayang! Makasih udah dengerin cerita gue!" "Mimpi indah, Sinta," jawab Anandara pelan.
Tut.
Sambungan telepon terputus.
Layar ponsel meredup dan mati, menyisakan kamar yang kembali dilanda keheningan yang mematikan.
Tangan Anandara yang memegang ponsel itu perlahan merosot, jatuh ke atas kasur. Sisa-sisa tenaga yang ia gunakan untuk memasang topeng selama satu jam terakhir lenyap tak berbekas.
Mata hitam legamnya menatap kosong ke arah langit-langit kamar yang gelap. Air mata kembali mengalir dari sudut matanya, jatuh membasahi bantal tanpa isakan suara sedikit pun. Tangisan tanpa suara itu jauh lebih menyakitkan, jauh lebih mengiris.
Angga Raditya telah melangkah pergi. Pemuda itu telah menuruti kata-katanya untuk menjauh dan mulai merespons Sinta. Skenario yang ia rancang dengan darah dan air matanya telah membuahkan hasil yang sangat sempurna. Persahabatannya dengan Sinta aman. Hutang nyawanya terbayar.
Namun malam ini, di atas ranjang mewahnya, dikelilingi oleh kesunyian yang membekukan, Anandara Arunika menyadari satu hal yang paling mengerikan.
Harga dari sebuah pengorbanan ternyata jauh lebih mahal dari yang ia bayangkan. Ia telah melindungi senyum sahabatnya, namun ia baru saja memakamkan jantungnya sendiri secara permanen. Dan ia harus hidup dengan mayat perasaannya itu setiap hari, setiap kali ia melihat Angga dan Sinta tersenyum satu sama lain di depan matanya.
pengamat Senja_