Keinginan untuk menuntut ilmu di tempat terbaik membawa Elara, siswa berprestasi, menjejakkan kaki di Hantage School Academy—sekolah elit yang megah namun menyimpan aura dingin dan misterius. Berkat beasiswa penuh, ia merasa beruntung bisa bersekolah di sana, namun kebahagiaan itu segera berganti dengan ketakutan. Sejak hari pertama, Elara kerap mengalami hal-hal tak wajar: bisikan-bisikan tak kasat mata, bayangan gelap, dan kejadian mengerikan yang seolah menargetkan dirinya.
Bersama tiga sahabat barunya, Elara mulai menyelidiki asal-usul teror yang terjadi. Jejak demi jejak membawa mereka pada rahasia kelam masa lalu sekolah tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mustaqimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1-Hari Pertama di Hantage School Academy
Di sebuah perkampungan padat penduduk di pinggiran kota Jakarta, di antara deretan rumah yang berhimpitan, berdiri sebuah rumah sederhana yang terlihat sangat bersih dan terawat. Dindingnya terbuat dari tembok yang dicat warna krem yang mulai memudar, namun suasana di dalamnya begitu hangat dan penuh kasih sayang.
Pukul enam pagi, sinar matahari mulai menyelinap masuk melalui celah-celah jendela kayu kamar kecil di lantai dua.
Di dalam kamar itu, berdiri seorang gadis cantik berusia 17 tahun bernama Elara Nirmala Putri.
Elara berdiri tegak di depan cermin berdiri yang bingkainya sudah sedikit mengelupas. Matanya berbinar-binar memandangi bayangannya sendiri. Ia sedang mengenakan seragam baru yang belum pernah ia pakai sebelumnya. Kemeja putih bersih, dasi biru tua yang rapi, dan rok plisket berwarna gelap. Di dada kirinya terpasang badge dengan tulisan emas yang megah: HANTAGE SCHOOL ACADEMY.
Sekolah itu bukan sekadar sekolah biasa. Itu adalah sekolah impian, tempat di mana hanya anak-anak orang terkaya dan terpintar yang bisa masuk. Dan hari ini, Elara bisa memakai seragam itu karena kecerdasannya sendiri.
Elara menarik napas panjang, dadanya terasa sesak oleh haru dan bangga. Ia menatap pantulan dirinya di cermin dengan senyum tipis namun penuh tekad.
"Akhirnya... aku bisa masuk juga di sekolah itu," bisiknya pelan, suaranya bergetar menahan tangis bahagia. "Semangat El, kamu pasti bisa. Buktikan kalau anak kampung juga bisa bersaing di sana."
Gadis itu mengangguk mantap pada bayangannya sendiri. Ia segera mengangkat tas ransel hitamnya yang cukup besar, lalu menjinjing sebuah tas koper kain besar yang berisi seluruh pakaian dan barang-barang pribadinya. Karena Hantage School Academy menerapkan sistem asrama penuh, ia tidak akan pulang setiap hari, melainkan hanya saat liburan semester nanti.
Dengan langkah semangat, Elara keluar dari kamarnya dan menuruni tangga kayu yang berbunyi krek-krek pelan di setiap injakannya.
Sampai di ruang tengah yang bersambung dengan ruang makan, aroma masakan sederhana langsung menyambut hidungnya. Di meja makan yang sudah berusia puluhan tahun itu, sudah tersedia sepiring nasi, telur dadar, tempe goreng, dan segelas teh hangat. Sangat sederhana, tapi itu adalah hidangan terbaik yang bisa disiapkan oleh orang tuanya.
Duduk di sana sudah menunggu adalah Pak Zaki dan Bu Rahma, sepasang suami istri yang membesarkan Elara dengan penuh kasih sayang meski dalam keterbatasan.
"El, sayang. Ayo kemari, kita sarapan bareng dulu sebelum berangkat," sapa Bu Rahma lembut. Wajah wanita paruh baya itu tersenyum, namun ada sedikit kesedihan di sudut matanya karena harus berpisah dengan anak semata wayangnya.
"Iya, Bu. Yah," jawab Elara ceria. Ia meletakkan tas-tasnya dengan hati-hati di sudut ruangan, lalu segera menarik kursi dan duduk di hadapan mereka.
"Makan yang banyak ya, Nak. Nanti perjalanan jauh dan kamu bakal tinggal di asrama. Siapa tahu makanan di sana enak, tapi Ayah sama Bu yakin masakan ibu tetap yang paling enak kan?" canda Pak Zaki sambil tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana yang sedikit haru.
Elara tertawa renyah. "Iya dong! Masakan Ibu nomor satu se-Dunia!"
Mereka pun mulai menyantap sarapan pagi itu dengan lahap. Suasana meja makan begitu hangat, meski sederhana.
"El..." panggil Bu Rahma pelan saat mereka tengah makan. Tangan halusnya menyentuh punggung tangan Elara lembut. "Di sana nanti kondisinya pasti beda jauh sama di sini. Teman-temanmu mungkin anak orang kaya semua. Ibu mohon sama kamu, tetap jadi Elara yang Ibu kenal ya. Rendah hati, sopan, dan jangan pernah malu sama asal usul kita."
Elara mengangguk cepat, menelan kunyahan makanannya. "Iya Bu, Elara ngerti kok. Elara masuk sana pake otak dan prestasi, bukan pake uang. Jadi Elara punya hak yang sama kayak mereka semua."
"Betul itu," sahut Pak Zaki menyetujui sambil meneguk tehnya. "Buktikan sama mereka, bahwa anak desa pun bisa jadi yang terbaik di sekolah elit macam Hantage. Kalau ada yang jahat atau membully, jangan dilawan pake tangan, tapi lawan pake prestasi dan kesuksesan kamu, Ngerti?"
"Ngerti, Ayah. Tenang aja," Elara tersenyum meyakinkan. "Elara nggak akan bikin malu Ibu sama Ayah."
"Terus... di asrama nanti kamu bisa ngurus diri sendiri kan? Cuci baju, beres-beres kamar?" tanya Bu Rahma lagi, wajahnya mulai terlihat cemas khawatir berlebihan.
"Bisa dong Bu, kan Elara udah gede," jawab Elara sambil tertawa. "Lagipula Elara kan anak Ibu, pasti diajarin rajin dari kecil. Ibu jangan khawatir berlebihan gitu dong, nanti Elara malah jadi gak tega ninggalin Ibu nih."
Bu Rahma tersenyum sambil mengusap kepala Elara panjang. "Ibu pasti kangen banget sama kamu, Nak. Rumah ini pasti sepi banget kalau nggak ada suara ketikan buku atau nyanyian kamu pagi-pagi."
"Elara juga bakal kangen banget sama masakan Ibu, sama cerita-cerita Ayah," ucap Elara pelan, matanya mulai berkaca-kaca tapi ia berusaha menyembunyikannya dengan meminum teh hangatnya.
"Yaudah, habis sarapan langsung berangkat ya. Taksi yang pesen Ayah sebentar lagi sampai," kata Pak Zaki berdiri dan menepuk bahu anaknya kuat-kuat. "Jaga diri baik-baik di sana, El. Ingat, tujuan utama kamu ke sana itu belajar dan menggali misteri masa lalu kamu juga kan?"
Elara mengangguk mantap. Benar, selain sekolah, ada rasa penasaran besar dalam hatinya tentang kenapa nama keluarganya dulu pernah ada di sana. Tapi untuk saat ini, ia hanya ingin menikmati momen hangat bersama orang tuanya.
"Siap, Ayah! Ayo habiskan sarapannya!"
Suara tawa mereka menggema di ruang makan sederhana itu, menjadi bekal semangat terindah bagi Elara sebelum ia melangkah memasuki gerbang besar Hantage School Academy yang penuh misteri.
***
Perjalanan selama satu jam terasa cukup panjang bagi Elara. Jalanan kota yang padat perlahan berubah menjadi area yang lebih asri dan tertata rapi. Hingga akhirnya, taksi yang ditumpanginya berhenti tepat di hadapan sebuah bangunan megah yang menjulang tinggi di bawah langit pagi.
HANTAGE SCHOOL ACADEMY
Inilah sekolah impian sekaligus sekolah paling misterius di kota. Sekolah yang tidak hanya terkenal karena kualitas pendidikannya, tapi juga karena eksklusivitasnya. Hanya mereka yang memiliki nama besar, uang tak terbatas, atau kecerdasan luar biasa yang bisa menjejakkan kaki di sini.
"Mbak, kita udah sampai," suara sopir taksi membuyarkan lamunan Elara.
Elara tersentak sedikit, lalu tersenyum tipis. "Oh, iya makasih banyak ya, Pak."
Dengan hati-hati, gadis itu membayar ongkos lalu turun dari mobil. Angin sepoi-sepoi yang tadi bertiup, tiba-tiba berubah menjadi hembusan angin yang cukup kencang saat kakinya menginjak tanah halaman sekolah.
Wusss!
Angin itu menerpa wajahnya dengan dingin, membuat rambut panjangnya berantakan dan seragam putih abu-abu barunya yang masih kaku berkibar tertiup angin. Suasana di sana terasa berbeda, seolah udaranya lebih berat dan penuh tekanan.
Elara mengangkat wajahnya, menatap gerbang besi besar yang dihiasi ukiran rumit. Jantungnya berdegup lebih kencang, campuran antara rasa gugup, bangga, dan sedikit takut.
"Ini awal baru, Elara. Tarik napas... jangan takut," bisiknya pada diri sendiri, sambil menghembuskan napas panjang untuk menenangkan diri. "Kamu pantas ada di sini."
Dengan mengangkat tas besar dan tas ranselnya, Elara melangkah melewati gerbang utama.
Pemandangan di dalam sekolah sungguh membuat mata Elara terbelalak. Ini bukan sekadar gedung sekolah, tapi lebih mirip istana atau kampus universitas mewah. Lantai yang dipijaknya terbuat dari marmer berkilau yang memantulkan cahaya lampu kristal besar di langit-langit. Taman-taman yang tertata rapi dengan tanaman langka, jalur pejalan kaki yang luas, hingga fasilitas olahraga yang terlihat sangat modern.
Semua terlihat mahal, megah, dan... dingin.
Namun, kemegahan itu bukanlah hal yang paling menyita perhatian Elara saat ini. Yang membuatnya tidak nyaman adalah tatapan-tatapan yang mengarah padanya.
Di sepanjang koridor dan halaman, puluhan pasang mata memandang ke arahnya.
Mereka adalah siswa-siswi Hantage. Semuanya tampil sempurna. Rambut ditata rapi, sepatu mengkilap, dan yang paling mencolok—tas, jam tangan, hingga aksesoris yang mereka pakai jelas terlihat bermerek dan harganya selangit.
Elara yang hanya membawa tas ransel biasa dan koper kain terlihat sangat kontras di tengah kemewahan itu.
Ck... ck...
Suara decakan terdengar. Bisik-bisik mulai terdengar samar-samar memasuki telinga Elara.
"Itu siapa? Kok gayanya kayak baru datang dari desa?"
"Lihat tasnya, udah lusuh gitu. Apa benar dia siswa di sini?"
"Mungkin pembantu baru kali ya, atau kurir paket?"
"Halah, lihat aja wajahnya polos banget. Pasti anak beasiswa deh. Kasihan, nggak bakalan betah dia di sini."
Kata-kata itu menusuk hati, membuat pipi Elara memerah menahan malu. Ia mengepalkan tangannya di balik lengan bajunya, berusaha sekuat tenaga untuk tidak membalas atau marah.
"Jangan peduliin mereka, Elara. Batinnya berteriak pada diri sendiri. Mereka cuma menilai dari luar. Fokus sama tujuan kamu di sini. Kamu ada di sini karena otak kamu, bukan karena merk tas kamu."
Dengan mengangkat dagu sedikit lebih tinggi dan memasang wajah datar, Elara terus melangkah maju. Ia mengabaikan tatapan sinis, tawa kecil, dan bisikan jahat itu. Ia melewati mereka semua dengan langkah tegap, menuju pintu utama gedung sekolah yang tinggi dan megah itu.
Pintu besar itu terbuka, dan Elara melangkah masuk, meninggalkan dunia luar, dan mulai memasuki babak baru hidupnya yang penuh misteri di dalam Hantage School Academy.
Berikut adalah narasi cerita yang detail, ceria, dan penuh dialog sesuai permintaanmu.
Begitu melangkah melewati pintu utama, mata Elara seketika terpana. Ia seolah bukan sedang masuk ke dalam sebuah sekolah, melainkan masuk ke dalam istana kerajaan atau museum seni yang megah.
Lantai yang dipijaknya terbuat dari marmer putih bersih yang sangat licin dan mengkilap, hingga bisa memantulkan bayangan tubuhnya sendiri. Di langit-langit yang sangat tinggi, tergantung lampu gantung kristal besar yang berkilauan memantulkan cahaya matahari yang masuk dari jendela kaca patri berwarna-warni. Dinding-dindingnya dihiasi ukiran-ukiran indah dan lukisan-lukisan besar yang terlihat sangat antik dan mahal.
Di sepanjang koridor, terdapat sofa-sofa empuk berwarna gelap untuk tempat duduk siswa, serta vas bunga besar berisi bunga-bunga segar yang harum semerbak. Bahkan lorongnya sangat lebar, cukup untuk dilalui oleh belasan orang sekaligus tanpa perlu berdesakan.
"Wah... Sekolah ini benar-benar menakjubkan!" gumam Elara takjub, matanya berkeliling melihat sekeliling dengan penuh kekaguman. Tangannya tanpa sadar menyentuh dinding yang dingin dan halus itu. "Semoga aja aku bisa betah sekolah di sini sampai aku lulus nanti. Aku bakal belajar sekeras apa pun, demi bisa bikin bangga Ibu sama Ayah di rumah."
Rasa gugupnya sedikit demi sedikit tergantikan oleh semangat. Namun, rasa kagum itu harus ia tahan sejenak. Ia melihat jam tangannya, waktu menunjukkan pukul hampir tujuh pagi.
"Tapi... ruang Kepala Sekolah mana ya?" Elara mengerutkan kening, bingung melihat koridor yang bercabang-cabang banyak itu. "Aku harus segera verifikasi data dulu terus tanya di mana kelas aku. Jangan sampai hari pertama aku sudah telat masuk kelas."
Dengan hati-hati, Elara mengangkat kopernya dan mulai melangkah menyusuri koridor utama. Ia sibuk memperhatikan plang nama di setiap pintu yang ia lewati.
BRUK!
Tiba-tiba, bahu Elara menghantam sesuatu yang keras. Karena tas yang dibawanya cukup berat, Elara sedikit terhuyung mundur ke belakang.
"Aduh!" seru Elara kaget.
"Sorry, sorry! Aku gak sengaja, deh! Aku lagi buru-buru banget soalnya!" suara seorang perempuan terdengar panik.
Elara mengangkat wajahnya, dan di hadapannya kini berdiri seorang gadis sebaya dengannya. Gadis itu cantik, dengan rambut panjang dikuncir dua, memakai pita warna pink, dan wajahnya terlihat sangat ceria serta imut. Matanya bulat besar dan bersinar.
"Gak papa kok, aku juga gak hati-hati," jawab Elara ramah sambil tersenyum tipis, merapikan seragamnya yang sedikit berantakan.
Gadis itu menatap Elara dari ujung kaki sampai ke ujung kepala, lalu matanya berbinar seolah baru menemukan sesuatu yang menarik.
"Oh ya! Wait... kamu kan siswi yang dapat beasiswa penuh itu kan? Yang namanya Elara?" tanya gadis itu antusias.
Elara terkejut sedikit, baru hari pertama tapi sudah dikenal? "I... iya betul. Aku Elara. Kok kamu tahu?"
"Ya lah, berita cepet banget nyebar di sini apalagi soal hal baru," jawab gadis itu cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kenalin dong! Aku Keisha... Keisha Santoso. Siswi paling cantik, paling imut, dan paling ramah hati di sekolah ini!"