Dalam satu perjalanan malam,
Nara dan Arka dipaksa menghadapi kembali masa lalu yang belum selesai.
Dan kali ini… tidak ada lagi tempat untuk lari.
Karena di antara dua perhentian,
beberapa perasaan tidak pernah benar-benar hilang
hanya menunggu waktu untuk kembali menyakitkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita.mamitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan yang Tidak Pernah Siap Dihadapi
Malam itu, stasiun terasa lebih sunyi dari biasanya.
Bukan karena tidak ada orang justru sebaliknya. Suara langkah kaki, pengumuman keberangkatan, dan deru kereta bercampur jadi satu. Tapi bagi Nara, semuanya seperti menjauh… samar… seolah dunia berjalan tanpa benar-benar menyentuhnya.
Dia berdiri di peron, menggenggam tiket yang sedikit kusut.
Jakarta menuju Bandung. Perjalanan yang seharusnya biasa saja.
Tapi tidak malam ini.
Nara menarik napas pelan. Udara dingin menusuk, tapi bukan itu yang membuat dadanya terasa sesak. Ada sesuatu yang lebih berat… sesuatu yang bahkan tidak bisa dia jelaskan.
Seperti firasat.
Kereta akhirnya datang. Lampu-lampunya menyorot panjang rel, berhenti perlahan dengan suara gesekan yang tajam. Orang-orang mulai naik, satu per satu, membawa cerita mereka masing-masing.
Nara ikut melangkah masuk.
Di dalam, suasananya hangat. Lampu redup, kursi tersusun rapi, dan jendela besar yang memantulkan bayangan wajahnya sendiri. Wajah yang terlihat tenang… tapi matanya tidak pernah benar-benar berbohong.
Dia berjalan menyusuri lorong, mencari nomor kursinya.
12A.
Di samping jendela.
Nara duduk perlahan, meletakkan tas di pangkuannya. Tangannya dingin. Dia menatap keluar, melihat bayangan kota yang perlahan akan dia tinggalkan.
Atau mungkin… kenangan.
Beberapa menit berlalu. Penumpang lain mulai memenuhi kursi. Suara koper diseret, bisikan percakapan, dan tawa kecil terdengar di sekitarnya.
Lalu
“Maaf… itu kursi saya.”
Suara itu.
Nara membeku.
Perlahan, dia menoleh.
Dan waktu seperti berhenti.
Di hadapannya berdiri seseorang yang seharusnya hanya tinggal di masa lalu. Seseorang yang sudah dia paksa untuk dilupakan… meski hatinya tidak pernah benar-benar setuju.
Arka.
Nama yang dulu begitu akrab di bibirnya… sekarang terasa asing dan menyakitkan dalam waktu yang bersamaan.
Arka terlihat sama. Atau mungkin sedikit berbeda. Lebih tenang. Lebih dewasa. Tapi mata itu… tetap sama. Mata yang dulu pernah membuat Nara merasa pulang.
Sekarang… justru membuatnya ingin lari.
“Ini… 12B, kan?” suara Arka lagi, pelan, seolah juga tidak yakin dengan apa yang sedang terjadi.
Nara menelan ludah.
“Iya,” jawabnya singkat.
Hanya satu kata. Tapi butuh seluruh tenaganya untuk mengucapkannya.
Arka mengangguk pelan, lalu duduk di sampingnya.
Dekat.
Terlalu dekat.
Jarak yang dulu terasa hangat… sekarang berubah jadi sesuatu yang menyesakkan.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Tidak ada yang berani bicara.
Kereta mulai bergerak. Perlahan meninggalkan stasiun, membawa mereka berdua ke arah yang sama meski hati mereka mungkin sudah lama berjalan ke arah yang berbeda.
Nara menatap ke depan. Berusaha terlihat biasa saja. Tapi pikirannya berantakan.
Kenapa harus sekarang?
Kenapa harus di sini?
Kenapa harus dia?
Dari semua kemungkinan di dunia… kenapa mereka harus bertemu lagi, di tempat sesempit ini, tanpa ruang untuk menghindar?
“Lama… nggak ketemu.”
Akhirnya Arka membuka suara.
Nada suaranya pelan. Hati-hati. Seperti seseorang yang tahu bahwa satu kata saja bisa membuka luka lama.
Nara tersenyum tipis. Senyum yang tidak pernah sampai ke matanya.
“Iya.”
Lagi-lagi satu kata.
Dulu, mereka bisa bicara berjam-jam tanpa kehabisan topik. Sekarang… bahkan satu kalimat pun terasa terlalu berat.
Sunyi kembali mengambil alih.
Di luar jendela, lampu-lampu kota mulai menjauh. Berganti dengan gelap yang panjang dan dingin.
Nara memeluk dirinya sendiri. Bukan karena dingin… tapi karena ada sesuatu yang mulai retak di dalam.
Kenangan.
Tanpa izin, satu per satu muncul.
Tawa mereka.
Percakapan larut malam.
Janji-janji yang dulu terdengar begitu pasti.
Dan juga
kata-kata terakhir yang menghancurkan semuanya.
Nara menutup mata sejenak.
Dia pikir dia sudah selesai.
Dia pikir dia sudah kuat.
Tapi ternyata… beberapa perasaan tidak pernah benar-benar pergi. Mereka hanya diam, menunggu waktu yang tepat untuk kembali menyakitkan.
“Lo… masih suka naik kereta?” tanya Arka tiba-tiba.
Pertanyaan sederhana. Terlalu sederhana untuk seseorang yang pernah menjadi segalanya.
Nara membuka mata, menatap lurus ke depan.
“Iya. Lebih tenang.”
Arka mengangguk. “Dulu juga bilang gitu.”
Nara tidak menjawab.
Karena dia ingat.
Semua yang “dulu”.
Dan justru itu yang membuatnya semakin sulit bernapas.
Kereta melaju semakin cepat.
Dan tanpa mereka sadari… perjalanan ini bukan cuma tentang jarak dari Jakarta ke Bandung.
Tapi tentang dua orang yang dipaksa duduk berdampingan…
dengan masa lalu yang belum benar-benar selesai.