Dikhianati... Kemudian dibunuh...
Siapa sangka, kematian menjadi awal bagi Lea La Bertha- seorang ahli racun- mengetahui kebenaran yang selama ini ditutupi sang kekasih.
Kehidupan kedua yang ia dapatkan membuat dirinya memilih jalan berbeda dengan bergabung dalam lingkaran dunia mafia.
"Jika aku memintamu membunuh seseorang, apa kau akan melakukannya?" Angkasa.
"Jadikan aku sebagai tangan kananmu. Maka, aku akan lakukan semua perintahmu tanpa terkecuali," Lea.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya yang ia bawa, Lea bertekad mengubah takdirnya. Tetapi ia tidak pernah menyangka, perubahan itu justru membuka rahasia besar dari kedua orang tuanya yang sudah tiada.
Lalu, bagaimana jika cinta hadir diantara mereka? Akankah Lea percaya pada 'Cinta'?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Pengkhianatan dan Kematian
Jlegar!
Zarshh....
Suara guntur disertai kilatan petir, disusul hujan lebat membuat wanita yang sebelumnya terlelap di tempat tidur tersentak dan membuka kedua matanya.
Lea La Bertha, wanita bersurai coklat dengan mata hazel itu meraih ponsel yang selalu ia letakkan di nakas, mengetuk pelan layar ponsel dan melihat waktu menunjukkan pukul 02:20 dini hari.
Jlegar!
Lea terperanjat, suara guntur kembali menggelegar disertai suara deru angin yang seakan ingin merobohkan tempat tinggalnya saat ini, hembusannya kuat, seolah tidak memiliki akhir. Kilatan petir yang membelah langit menjadi satu-satunya cahaya yang menerangi pekatnya malam.
Lea menggeser kedua kakinya, turun dari ranjang dan beranjak keluar dari kamar dengan satu tujuan: Kamar calon suaminya. Perasannya mulai tidak tenang.
Samuel Elgantara. Seorang direktur dari sebuah perusahaan real estate- Kalva Company, pria yang menjadi calon suaminya sekaligus pria yang ia cinta sepenuh hati.
Cuaca buruk malam ini seolah menjadi pertanda jika sesuatu yang buruk akan datang, seakan ingin mengatakan jika pernikahan yang akan dilangsungkan esok hari, tidak akan pernah terjadi.
Langkah tergesa Lea saat melewati lorong panjang dari rumah mewah yang menjadi tempat tinggalnya bersama Samuel, lorong dengan ruangan di kanan dan kiri yang terbagi menjadi beberapa bagian dan menjadi tempat ia bekerja sebagai pembuat racun. Gema ringan dari alas kaki yang Lea pakai seolah menjadi saksi bisu akan sesuatu yang sebentar lagi terjadi bahwa malam ini adalah kali terakhir ia menginjakkan kakinya di sana.
Sudah lima tahun ia berada di sana, tinggal bersama sang kekasih di kamar terpisah-yang pada kenyataannya adalah tempat terasing- sejak kedua orang tuanya tiada. Ia rela menenggelamkan diri bekerja siang-malam tanpa lelah, menciptakan serta mengembangkan racun dan obat untuk membantu sang kekasih mencapai kejayan dengan janji manis sebuah pernikahan.
"Ah ... Sayang!"
Lea berdiri di depan pintu kamar dengan satu tangan terangkat, urung mengetuk pintu saat ia mendengar suara rengekan manja yang sangat familiar dari dalam kamar calon suaminya.
"Kau sangat pintar membuatku kehilangan akal."
Kali ini Lea mendengar suara kekasihnya, suara geraman rendah disertai desahan napas cepat yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Apa yang sedang kekasihnya lakukan?
Dengan perlahan, Lea meyentuh gagang pintu, mendoronya pelan yang ternyata tidak dikunci, dan melihat pemandangan yang membuat hatinya hancur seketika. Kekasihnya tengah bercumbu mesra dengan sahabatnya tanpa busana.
"Sam!"
Suara Lea beradu dengan suara guntur yang menggelegar, air matanya mengalir membasahi pipi, hatinya hancur, kontras dengan senyum puas yang kini terukir di bibir dua insan yang kini polos di atas tempat tidur, seolah kemunculan Lea adalah hal yang mereka inginkan.
Lea melangkah maju, tangannya terulur untuk menarik wanita yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri-Sania Sena- menjauh dari kekasihnya. Namun, sebelum ia berhasil melakukan niat itu, tangan Samuel menepisnya kasar, lalu melayang cepat ke arah wajah Lea.
'Plak!'
Lea tersungkur, kepalanya tertunduk, pipinya terasa panas, kemudian wajahnya mendongak, hanya untuk membuat darah di sudut bibir Lea terlihat.
Dia tidak mengatakan apapun, hanya memegangi pipinya dengan hati hancur.
"Karena kamu sudah melihatnya, aku tidak perlu berpura-pura lagi," Samuel berkata dingin, memakai celananya tanpa dosa, kemudian berjongkok di depan Lea.
"Bukankah kamu sangat cerdas, Lea? Kamu tentu paham apa artinya setelah melihat ini."
Sania terkikik di belakang Samuel, menarik pandangan Lea untuk menatap sahabat yang sudah ia bantu selama bertahun-tahun. Ia bahkan rela mengerjakan skripsi Sania hingga lulus cumlaude di masa mereka masih kuliah.
"Tapi pernikahan kita dilangsungkan besok, Sam. Kenapa?" tanya Lea dengan air mata mengalir.
"Harusnya ..." Sania turun dari ranjang sambil menahan selimut yang membungkus tubuh telanjangnya, sementara satu tangannya mengambil sesuatu di laci nakas. "Kamu lihat dengan benar nama siapa yang tertulis di kartu undangan, Lea," katanya menghempaskan undangan ke wajah Lea
"A-Apa?" Lea terbata, gegas membuka undangan yang Sania lemparkan, dan melihat nama Sania terukir indah di bawah nama Samuel.
"Kenapa? Bagaimana bisa kamu melakukan ini, Sam?! " Lea berteriak pilu, ia bahkan tidak tahu, dari ratusan kata makian yang kini melintas di pikirannya, mana yang ingin ia lontarkan.
Semua pengorbanannya ternyata hanya dijadikan sebagai batu loncatan semata. Ia adalah otak dari berhasilnya Samuel dalam setiap keputusan bisnis yang Samuel ambil, pengakuan publik dari riset yang ia kembangkan, hingga kini Samuel diangkat menjadi direktur di perusahaan ternama.
"Aku sudah diangkat menjadi direktur di Kalva Company, memiliki gaji ratusan juta, dan memiliki beberapa aset pribadi, tentu saja aku membutuhkan pendamping yang setara denganku."
"Setara?" Lea tertawa sumbang. "Aku yang membuatmu bisa mencapai posisimu saat ini, Sam. Kamu lupa?!" jeritnya pilu.
Samuel tertawa dingin, satu tangannya terulur menyentuh wajah Lea, perlahan bergerak turun dan mencengkram kuat leher Lea.
'Khek ...'
Lea tersedak, napasnya terputus, cengkraman kuat tangan Samuel di lehernya membuat ia kesulitan untuk bernapas. Kedua tangannya mendarat di tangan Samuel, berusaha melepaskan diri, namun tenaganya tak sebanding dengan tenaga pria yang kini menatapnya dingin. Air mata Lea bergulir pelan.
"S-Sam ...uhuk ...a-aku ...tidak ...bisa bernapas."
Lea meronta putus asa, napasnya tersengal, ia bahkan merasakan kedua kakinya tidak lagi menapak lantai. Pria yang sebelumnya senantiasa bersikap lembut padanya, mengapa kini berubah?
Tak peduli seberapa banyak usaha Lea meronta, tenaga Lea yang mulai melemah, dan napas Lea yang kian menipis dengan wajah mulai memucat, Samuel tidak melepaskan cengkraman tangannya pada leher Lea. Sebaliknya, cengkraman tangannya menguat dengan seringai tanpa jiwa di wajahnya.
"Aku sudah berhasil mencapai tujuanku, yang artinya ... aku tidak membutuhkanmu lagi," kata Samuel tanpa belas kasih. "Terima kasih atas kerja kerasmu selama ini. Sekarang kamu bisa beristirahat dengan tenang. Akan kuanggap, penelitian obat terakhir yang sedang kamu kembangkan sebagai hadiah terakhir darimu untukku."
Pandangan Lea mulai mengabur, tarikan napasnya memendek seiring dengan melemahnya perlawanan yang Lea lakukan, tubuhnya terkulai. Dan sahabatnya, sedikitpun tidak peduli.
Samuel melepaskan cengkramannya, membuat tubuh Lea tergeletak ke lantai tanpa pergerakan. Dia meraih ponselnya, menghubungi bawahannya, dan meminta mereka untuk membawa Lea pergi.
"Lempar dia ke danau," perintah Samuel dingin, segera membalikan badan yang menjadi bukti terakhir betapa Lea telah mencintai orang yang salah.
Di ujung kesadaran yang mulai memudar, Lea merasakan tubuhnya diangkat, mendengar gerutuan samar seseorang yang mengangkatnya, sesaat kemudian ia merasakan tubuhnya melayang selama beberapa saat sebelum menghantam dinginnya air permukaan danau. Tenggelam.
"Di mana salahnya? Kenapa semua berakhir seperti ini? Apakah sejak aku memutuskan untuk menerima uluran tangannya enam tahun lalu?"
Air mata Lea bersatu dengan dinginnya air danau, menariknya lebih jauh ke dalam kegelapan. Di ujung napas terakhir yang bisa Lea rasakan, ia melihat sosok samar berenang ke arahnya.
"Andai ... Andai kehidupan kedua itu benar-benar ada ... Aku bersumpah, tidak akan pernah menoleh lagi padanya."
Dia tidak bergerak, napasnya menipis seiring paru-parunya yang mulai dipenuhi air, lalu berhenti sepenuhnya. Sendirian. Hanya dinginnya air yang menemani.
Di bawah siraman cahaya bulan yang bersinar terang, dinginnya air danau di sekitar, dan pekatnya kegelapan malam, sosok pria menarik Lea ke permukaan. Mengguncang putus asa tubuh Lea yang tidak lagi bernyawa, lalu memeluk erat raga kosong itu hingga kalung berliontin cincin dengan batu safir di tengahnya terlepas dari lehernya yang bertato ukiran nama, tenggelam ke dasar danau.
. . . .
. . . .
To be continued...
smangaat