NovelToon NovelToon
GARIS WAKTU YANG PATAH

GARIS WAKTU YANG PATAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Misteri
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: Hyouketsu no Namie

Arka selalu mengira air mata adalah tanda kelemahan—sampai dia menyadari air matanya bisa membuka pintu menuju masa lalu.

Setiap kali kesedihannya mencapai titik paling dalam, dunia di sekelilingnya luntur, dan ketika dia membuka mata lagi, dia sudah berada di hari yang berbeda—hari-hari sebelum ibunya tiada. Bagi Arka, ini adalah keajaiban yang selama ini dia doakan: kesempatan untuk mengubah segalanya, untuk membuat ibunya tetap hidup.

Tapi waktu tidak memberi tanpa mengambil.

Setiap kali Arka mengubah satu detik di masa lalu, satu orang dari masa depannya menghilang—bukan mati, tapi terhapus, seolah tak pernah ada. Sahabat yang selalu ada untuknya. Seseorang yang dia cintai. Bahkan dirinya sendiri, versi demi versi, mulai memudar dari dunia yang dia kenal.

Arka harus memilih: berhenti sekarang dan menerima kehilangan yang sudah terjadi, atau terus melangkah lebih jauh ke masa lalu—mempertaruhkan semua yang tersisa—demi satu pelukan terakhir dari ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyouketsu no Namie , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apa yang Tersembunyi di Balik Senyum

Di kafe yang sama tempat dia bertemu Sera minggu sebelumnya, Arka duduk berhadapan dengan Nadia, dua cangkir kopi mengeluarkan uap di antara mereka.

"Jadi," kata Nadia, tersenyum lembut, "cerita tentang Mama kamu."

Arka menghela napas, mengumpulkan kata-kata yang sudah dia susun sepanjang perjalanan. "Mama meninggal waktu aku kecil. Umur delapan tahun. Kecelakaan mobil."

Nadia meraih tangan Arka di atas meja, tidak mengatakan apa-apa, hanya mendengarkan.

"Tapi yang nggak pernah aku certain ke siapa-siapa," lanjut Arka, "adalah kata-kata terakhir yang aku omongin ke Mama. Aku lagi marah waktu itu—marah karena hal sepele, kayak anak kecil biasanya. Dan aku bilang... aku bilang aku benci Mama."

Suara Arka mengecil. "Itu kata-kata terakhir aku ke dia. Dan dia nggak pernah pulang."

"Arka..." Nadia meremas tangannya lebih erat.

"Selama enam belas tahun, aku bawa itu. Setiap tahun, tanggal kejadiannya, aku selalu... ngerasa kayak nggak bisa napas. Karena aku tau aku nggak pernah bisa minta maaf."

Arka menatap mata Nadia—mata yang penuh empati, tidak menghakimi.

"Tapi minggu ini," lanjutnya, suaranya mulai lebih tenang, "aku... aku ngerasa kayak akhirnya bisa berdamai sama itu. Aku nggak tau gimana jelasinnya. Tapi aku ngerasa kayak... kayak Mama udah tau. Kayak dia udah dengar, dengan caranya sendiri."

Nadia tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Itu indah, Arka. Beneran."

"Makasih udah dengerin," kata Arka. "Dan makasih udah nungguin aku—selama ini. Aku tau aku nggak selalu... ada. Tapi aku pengen lebih baik. Aku pengen kamu tau, kamu penting buat aku. Lebih dari yang aku tunjukin."

Nadia mengusap matanya, tertawa kecil di tengah air mata. "Kamu tau, ini pertama kalinya kamu ngomong kayak gini ke aku."

"Aku tau," kata Arka. "Maaf butuh waktu lama."

Mereka menghabiskan sore itu berbicara—bukan tentang hal-hal besar, tapi hal-hal kecil yang selama ini Arka selalu hindari. Rencana, harapan, hal-hal sederhana seperti ke mana mereka ingin liburan tahun depan, atau apakah Nadia masih ingin pindah ke apartemen yang lebih besar.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Arka merasa hadir secara penuh—tidak setengah pikirannya melayang ke masa lalu, tidak menyimpan jarak.

Ketika mereka berjalan keluar kafe, hujan sudah berhenti, dan langit sore menampakkan warna jingga lembut di antara awan-awan yang mulai menghilang tersapu angin.

"Aku jalan kamu sampai halte, ya," kata Arka.

Mereka berjalan berdampingan, tangan saling bertautan, melewati trotoar yang masih basah, memantulkan cahaya jingga dari langit.

Di tengah jalan, Nadia tiba-tiba berhenti, menatap sesuatu di seberang jalan.

"Eh, itu... itu bukan Pak Hartono ya? Dosen pembimbing skripsiku?" Nadia melepas tangan Arka, mengangkat tangannya, melambai ke seorang pria paruh baya di seberang jalan yang sedang menunggu untuk menyeberang.

Pria itu—Pak Hartono—melihat ke arah mereka, tersenyum, dan melambai balik, lalu mulai menyeberang jalan untuk menyapa.

Arka berdiri di belakang Nadia, tersenyum, menyaksikan momen kecil yang biasa ini—seorang mantan dosen menyapa mantan mahasiswanya di jalan.

Tapi kemudian, dari ujung jalan, sebuah motor melaju kencang—lebih kencang dari yang seharusnya di jalan sekecil itu, pengendaranya terlihat sedang menelepon, tidak memperhatikan jalan.

Semuanya terjadi dalam hitungan detik.

Pak Hartono, di tengah jalan, tidak menyadari motor itu. Nadia, melihat apa yang akan terjadi, secara refleks melangkah ke jalan—mencoba menarik Pak Hartono kembali ke trotoar.

"Nadia—!" Arka berteriak, mengulurkan tangannya, tapi terlambat.

Motor itu menabrak—bukan Pak Hartono, yang sempat ditarik mundur oleh Nadia—tapi Nadia sendiri, yang berdiri di posisi yang seharusnya kosong, di jalur motor itu.

Suara benda jatuh. Suara teriakan. Suara klakson yang terlambat.

Dan Arka berdiri di trotoar, terpaku, menyaksikan tubuh Nadia tergeletak di aspal—matanya masih terbuka, menatap ke arah Arka, mulutnya bergerak, mencoba mengucapkan sesuatu yang tidak pernah keluar.

1
Wawan
Salam kenal untuk Arka ✍️💪
HYOUKETSU NO NAMIE: Salam kenal juga kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!