Di sudut kota Bogor yang basah oleh hujan, Farrel (22 tahun) hanyalah seorang supir angkot jurusan Baranangsiang–Bubulak yang hidupnya di ujung tanduk.
Setiap hari ia harus menahan lapar, dicaci maki oleh kernet lain, difitnah mencuri uang setoran oleh mandor pangkalan, dan puncaknya: diputuskan oleh kekasihnya karena tidak mampu membelikan kuota internet. Modal hidupnya setiap hari setelah setoran hanyalah sebungkus nasi rames karet dua dan sebatang rokok eceran.
Namun, sebuah insiden pengeroyokan oleh oknum ormas di Terminal Baranangsiang mengubah takdirnya. Saat sekarat, sebuah suara mekanis bergema di otaknya: [Sistem Afeksi Kekayaan Berhasil Diaktifkan].
Sistem ini memberikan Farrel saldo tak terbatas, namun dengan syarat gila: uang tersebut hanya bisa digunakan untuk membiayai atau membelikan barang untuk wanita yang memiliki potensi afeksi (rasa suka) terhadapnya. Setiap kali persentase Favorability (tingkat kesukaan) wanita tersebut naik, saldo pribadi Farrel akan berlipat g
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode: 10
Nisa mendekap tubuh Farrel begitu erat, menyandarkan wajahnya yang hangat di dada bidang pria itu yang terbalut jas mewah.
Aroma parfum maskulin yang mahal kini menguar dari tubuh Farrel, menggantikan bau solar dan peluh yang biasanya menempel pada supir angkot itu.
Bagi Nisa, perubahan ini terasa seperti mimpi, namun debaran jantung Farrel yang terasa nyata di dadanya menegaskan bahwa ini adalah realitas.
"Aku takut banget tadi, Rel... Aku pikir kamu bakal diapa-apain sama mereka," bisik Nisa, suaranya teredam di balik dada Farrel.
Farrel mengusap punggung Nisa dengan lembut, memberikan kehangatan yang menenangkan.
"Kan aku udah bilang, Nis. Semuanya bakal baik-baik saja. Mulai hari ini, gak akan ada lagi yang berani ngusik kamu, Ibu, atau warung ini."
Ibu Siti melangkah keluar dari dalam warung dengan langkah yang masih agak lemas. Wanita tua itu menatap Farrel dengan pandangan campuran antara rasa syukur yang teramat dalam dan sedikit rasa segan.
Melihat pasukan bersenjata yang tunduk pada Farrel tadi, Ibu Siti tahu kalau pemuda yang sering ia beri utangan makan ini sekarang berada di kasta yang jauh berbeda.
"Rel... Ibu bener-bener gak tahu harus bilang apa."
"Makasih banyak, Nak. Kamu udah nyelamatain nyawa kami," ucap Ibu Siti dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sama-sama, Bu. Sudah jadi kewajiban Farrel buat jaga Ibu dan Nisa,"
jawab Farrel tulus.
Ia menoleh ke arah terminal yang mulai kembali menggeliat, meskipun para supir angkot dan pedagang kini menatapnya dari kejauhan dengan pandangan penuh hormat sekaligus ngeri.
"Bu, hari ini warung gak usah buka dulu. Beresin barang-barang, terus Ibu sama Nisa istirahat di rumah. Biar anak buah saya yang jaga di sekitar sini."
Setelah memastikan situasi pangkalan benar-benar aman dan menempatkan dua personel tim elit Tiger yang berpakaian sipil untuk berjaga di sekitar kontrakan Nisa, Farrel membawa Nisa ikut bersamanya ke dalam Lamborghini Aventador SVJ.
Nisa duduk di kursi penumpang yang dilapisi kulit Alcantara mewah. Matanya berbinar menatap dasbor karbon dan deretan tombol canggih di dalam kabin mobil super tersebut.
"Rel... mobil ini beneran punya kamu? Rasanya aneh banget, kayak naik pesawat jet."
Farrel terkekeh pelan, memindahkan transmisi dan menginjak pedal gas, membuat monster hitam itu melesat halus membelah jalanan kota Bogor yang mulai padat.
"Ini semua berkat hasil kerja keras yang selama ini aku simpan sendiri, Nis. Dan semua ini... juga buat kamu."
Farrel membawa Nisa menuju ke sebuah apartemen mewah di pusat kota Bogor sebuah tempat aman yang sempat ia sewa semalam melalui aplikasi sistem untuk tempat peristirahatannya sebelum ia memindahkan seluruh operasinya ke Villa Puncak.
Farrel ingin memberikan tempat yang tenang bagi Nisa untuk menenangkan diri dari syok yang dialaminya pagi ini.
Begitu memasuki unit apartemen yang luas dengan pemandangan langsung ke arah Gunung Salak, Nisa masih tampak canggung.
Pakaian kaus sederhananya terasa sangat kontras dengan lantai marmer dan lampu gantung kristal di dalam ruangan.
"Nis, kamu mandi dulu aja biar seger. Badan kamu agak basah kena gerimis tadi,"
kata Farrel sambil membukakan pintu kamar mandi utama yang dilengkapi dengan bathtup besar dan dinding kaca tembus pandang yang bisa disetel buram.
"I-iya, Rel. Tapi aku gak bawa baju ganti," ucap Nisa pelan, wajahnya merona merah.
"Gak usah khawatir, di dalam lemari udah ada beberapa baju baru ukuran kamu. Tadi aku udah minta orang buat siapin," jawab Farrel sambil tersenyum misterius.
Sebenarnya, sistem secara otomatis telah menyediakan pakaian wanita bermerek di lemari apartemen tersebut begitu Farrel mendaftarkan Nisa sebagai target afeksinya.
Nisa mengangguk lalu masuk ke dalam kamar mandi. Mendengar suara gemercik air pancuran dari dalam, Farrel duduk di sofa kulit, membuka ponselnya, dan langsung menghubungi Tiger yang berada di gudang logistik.
"Gimana situasi dengan Hardi, Tiger?" tanya Farrel, nadanya berubah menjadi dingin dan penuh otoritas.
"Melapor, Tuan Besar. Hardi sudah kami kurung di ruang bawah tanah gudang. Nyalinya sudah habis. Dia sudah menandatangani surat pengalihan seluruh aset yayasan ormas miliknya, termasuk rincian aliran dana upeti dari ratusan trayek angkot dan pasar di Bogor Tengah kepada kita."
"Total aset tunai dan properti yang dia kuasai mencapai tiga puluh miliar rupiah," lapor Tiger di seberang telepon.
Farrel menyeringai puas.
"Bagus. Gunakan dana itu untuk merekrut lebih banyak petarung jalanan, supir angkot yang punya nyali, dan mantan narapidana yang tertindas."
"Bentuk struktur organisasi Grup Garuda Hitam. Kita akan ambil alih seluruh wilayah Bogor dari cengkeraman ormas-ormas parasit lainnya. Dan satu lagi, selidiki siapa pejabat pemerintahan yang selama ini menjadi pelindung Hardi."
"Dimengerti, Tuan Besar! Perintah segera dilaksanakan!"
Farrel menutup teleponnya. Tepat pada saat itu, pintu kamar mandi terbuka.
Farrel menoleh dan seketika itu juga pandangannya terkunci. Nisa keluar dengan rambut hitamnya yang basah terurai, handuk putih kecil melingkar di lehernya untuk mengeringkan ujung rambut.
Ia mengenakan sebuah gaun tidur sutra (slip dress) berwarna merah marun berpotongan rendah yang disediakan di lemari.
Gaun tipis itu melekat sempurna di tubuh Nisa, memperlihatkan lekuk pinggangnya yang ramping, jenjang kakinya yang mulus, dan belahan dadanya yang menyembul indah karena ia tidak mengenakan pakaian dalam di baliknya.
Aroma sabun mawar yang harum alami dan uap hangat dari tubuh Nisa yang baru selesai mandi langsung memenuhi ruangan, memicu naluri purba Farrel yang paling dasar.
Stamina dan gairah tubuh Farrel yang telah ditingkatkan oleh sistem mendadak bergejolak hebat di dalam darahnya.
Nisa berjalan perlahan mendekati Farrel, wajahnya merah padam menahan rasa malu yang amat sangat, namun matanya yang sayu memancarkan kepasrahan dan undangan yang begitu nyata bagi pria yang telah menjadi pahlawan hidupnya.
"Rel... baju ini... agak terlalu longgar di bagian dada," bisik Nisa manja, tangannya meremas pelan ujung gaun tidurnya yang tipis di paha.
Farrel bangkit dari sofa, melangkah mendekat hingga jarak mereka menguap.
Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana detak jantung Nisa membuat dada gadis itu naik turun di balik kain sutra tipis tersebut.
Farrel mengulurkan tangannya, menyelipkan jemarinya di antara rambut basah Nisa, dan mendongakkan wajah cantik gadis itu agar menatap langsung ke matanya.
"Nis... kamu cantik banget," bisik Farrel, suaranya berat dan penuh dengan hasrat maskulin yang mendominasi.
Nisa memejamkan matanya perlahan, tubuhnya sedikit gemetar saat merasakan napas hangat Farrel menerpa wajahnya.
"Aku... aku milik kamu sekarang, Farrel..."
Mendengar pengakuan pasrah dari gadis di hadapannya, Farrel tidak lagi menahan diri. Ia merengkuh pinggang ramping Nisa, menarik tubuh sintal itu tanpa jarak, dan langsung mengunci bibir manis Nisa dengan ciuman yang membara.
Hujan di luar apartemen mungkin telah reda, namun di dalam kamar itu, sebuah badai gairah yang tak tertahankan baru saja dimulai.