Karang Wilis bukan sekadar desa terpencil. Di balik hamparan sawahnya yang hijau, ada ketegangan yang sudah mengakar bertahun-tahun — perebutan wilayah yang belum selesai, warga yang hidup dalam waspada, dan batas bambu yang tidak boleh didekati.
Dokter Nayla datang untuk menyembuhkan.
Letnan Raditya datang untuk melindungi.
Tapi di tempat seperti ini — siapa yang menyembuhkan si penyembuh? Dan siapa yang melindungi si pelindung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irsan Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
hari pertama karang wilis
*Bab 10*
Karang Wilis
Malam di karang wilis tidak seperti malam di kota tidak ada motor yang lalu lalang, tidak ada suara klakson, tidak ada cahaya warung yang masih buka sampai tengah malam. Yang ada hanya gelap, angin, dan suara jangkrik di
keheningan
Nayla tidak tahu dia tertidur jam berapa semalam karena kelelahan.
Pagi menjelang.
ia beranjak dari ranjang lapangannya, dengan cara orang yang tubuhnya sudah bangun tapi otaknya masih minta lima menit lagi. Ia meraih hp-nya.
"5:59," lalu meletakkannya kembali.
" Ssshhh dingin banget"
Kakinya menyentuh lantai tenda yang dingin.
Ia melangkah ke arah pintu tenda, membuka resleting pelan.
Matanya menyapu sekitar perlahan— lalu terlihat di sana hamparan pohon-pohon hijau yang berdiri rapat di kejauhan, kabut tipis yang masih menggantung di antara batang-batangnya, rumput yang basah oleh embun, dan langit yang baru saja berubah dari biru tua ke jingga pucat di cakrawala.
"adem"
Dari suatu tempat di antara pepohonan, seekor burung berkicau.
Lalu Di kejauhan, terlihat beberapa prajurit TNI sedang melakukan latihan pagi.
Nayla menatap dari depan tendanya—masih dengan rambut acak-acakan dan mata yang belum sepenuhnya sadar.
Mereka bergerak teratur. Push up, sit up, gerakan yang mengalir satu ke yang lain dengan ritme yang sudah jadi hafalan tubuh. Suara hitungan Sersan Dimas terdengar sayup-sayup dari arah lapangan.
Nayla menyandarkan bahunya ke tiang tenda.
Matanya menyapu barisan—orang-orang yang sedang berlatih sambil tersenyum.
Lalu matanya tidak sengaja menangkap sesuatu.
Di barisan paling depan.
Raditya.
Kaosnya sudah basah oleh keringat, menempel di punggung dan bahunya. Lengannya bergerak turun naik saat push up—dan di situlah masalahnya. Otot lengannya yang terbentuk sempurna bergerak dengan cara yang tidak adil untuk ditonton pagi-pagi.
Lalu tiba tiba Raditya di sana berdiri. Berbalik sebentar,
Perut kotak-kotak yang jelas terbentuk bukan dalam sehari dua hari otot bahu dan keringat terlihat.
Nayla mengalihkan pandangan ke pohon di sebelah kiri.
Lalu ke langit.
Lalu ke rumput di bawah kakinya.
"Itu... bukan apa-apa "
Lalu ia melirik lagi ke lapangan tetapi terlihat ia menggigit bibirnya bawah nya.
"Gede banget," gumamnya tanpa sadar
Nayla menarik napas keras.
Lalu ia Membalikkan tubuh, melangkah masuk ke dalam tenda, menarik resleting dengan satu gerakan tegas.
"Anatomi hanya anatomi," gumamnya pada dinding tenda.
"emang nya luar biasa gitu"
Lalu Ia duduk di lantai, menarik napas panjang. "Huuuhh..."
Menghembuskannya pelan. Tangannya meraba tas di samping, membuka resletingnya, dan mengambil amplop.
Dikeluarkan kertasnya.
*Pendataan warga*
*Pendampingan layanan dasar*
*Laporan berkala tiap minggu*
Lalu tiba-tiba—
"Dok?"
Suara dari luar tenda.
Nayla berdiri, melipat kertasnya cepat, la membuka resleting tenda.
Di depannya berdiri seorang prajurit muda—tegak, tangan di sisi tubuh.
"Iya? Ada apa ya, Mas?"
"Maaf ya, Dok, ganggu," prajurit itu sedikit menunduk sopan
"enggak apa apa" balas nayla sambil tersenyum.
"Saya ke sini karena Letnan Raditya minta anda segera ke lapangan dok."
"Oh." Nayla mengernyit.
"Sekarang?"
"Siap, Dok. Sekarang."
"Yaudah, makasih ya, Mas." ucap Nayla sambil tersenyum
Prajurit itu mengangguk. "Sama-sama, Dok. Permisi."
Lalu perajurit itu berbalik dan melangkah pergi.
Nayla menatap punggungnya sebentar.
Lalu menoleh ke arah lapangan di kejauhan.
"Pagi-pagi buta udah dipanggil gumamnya"
Ia menarik napas.
lalu berjalan Melangka masuk ke dalam tenda
ia harus bersiap siap minimal rapi.