NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti

Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ifra Sulistya

“Aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku menjadi pengasuh pria cacat yang membosankan. Jika Papa ingin menjual anak, jual saja Alesha. Dia sudah terbiasa hidup susah.”
Darah Alesha mendidih. Ia meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalannya. "Si brengsek itu..." desisnya. Ia tidak terkejut Kiara kabur; kakaknya itu memang egois. Namun, menyebut pria yang akan dinikahinya sebagai 'pria cacat yang membosankan' adalah penghinaan yang rendah, bahkan untuk standar Kiara.
"Alesha, tolong... Papa mohon," Bramasta tiba-tiba menjatuhkan dirinya. Ia berlutut di atas lantai marmer dingin, memegang ujung jubah Alesha. "Keluarga Matteo Al-Ricci bukan orang sembarangan. Mereka adalah penguasa bisnis di Roma. Utang Papa pada mereka... Papa menggunakan seluruh aset perusahaan sebagai jaminan. Jika pernikahan ini batal, Papa akan dipenjara, dan kita akan gelandangan dalam semalam!"
Alesha menatap ayahnya dengan pandangan jijik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: AROMA RAHASIA DI RUANG BAWAH TANAH

Malam itu, Alesha tidak bisa memejamkan mata. Pikirannya dipenuhi oleh rencana pembukaan butiknya di Via del Corso.

Ia butuh satu jenis kain khusus, sutra mentah berwarna krem yang sempat ia lihat terselip di salah satu koper lamanya yang dipindahkan oleh pelayan secara sembarangan.

"Pasti diletakkan di gudang logistik," gumamnya sambil menyambar sebuah lampu senter kecil.

Ia keluar dari kamarnya dengan langkah berjinjit, menghindari lantai kayu yang mungkin berderit.

Alesha menuruni tangga menuju lantai dasar, melewati ruang makan dan dapur yang sudah gelap gulita.

Ia menyusuri lorong menuju samping rumah, area yang jarang ia jamah.

Namun, rasa percaya dirinya menuntunnya pada sebuah pintu kayu ek tua yang terbuka sedikit.

Alesha mendorong pintu itu, mengira itu adalah akses menuju gudang penyimpanan kain.

Namun, di balik pintu itu bukan rak-rak barang, melainkan sebuah tangga melingkar yang menuju ke bawah tanah.

Aroma udara di sana berubah seketika, bukan lagi bau bunga lili atau lilin lebah, melainkan aroma antiseptik yang tajam beradu dengan bau lembap dinding batu tua.

"Tempat macam apa ini?" bisik Alesha.

Keingintahuan bar-bar-nya mengalahkan rasa takut. Ia menuruni tangga satu per satu.

Semakin dalam ia melangkah, cahaya lampu neon yang berkedip-kedip mulai terlihat dari balik sebuah lorong panjang.

Alesha merapatkan tubuhnya ke dinding, mematikan senternya, dan bergerak maju dengan napas yang tertahan.

Tiba-tiba, sebuah suara bergema dari sebuah ruangan di ujung lorong. Langkah Alesha terhenti. Itu suara Matteo.

Namun, itu bukan suara Matteo yang biasanya ia dengar, suara yang dingin namun tenang, atau suara yang datar saat mereka beradu argumen. Suara yang keluar dari ruangan itu terdengar sangat kuat, berwibawa, dan penuh energi yang mengintimidasi.

"Aku tidak peduli dengan biayanya, Schmidt. Jika stimulasi ini tidak menunjukkan perkembangan dalam dua minggu, aku akan mencari orang lain yang lebih kompeten," suara Matteo menggelegar, terdengar seperti seorang jenderal yang sedang memberikan perintah perang.

"Tapi Tuan Al-Ricci," suara pria lain terdengar, sedikit gemetar dan memiliki aksen Jerman yang kental.

"Frekuensi listrik yang kita gunakan sudah berada di ambang batas keamanan saraf manusia. Ini ilegal dan sangat berisiko. Jika otot jantung Anda tidak kuat—"

"Jantungku jauh lebih kuat daripada pengecut manapun di kota ini!" potong Matteo tajam.

"Lakukan saja. Aku tidak punya waktu untuk menjadi pajangan di atas kursi roda ini lebih lama lagi. Musuhku sudah mulai mencium bau darah."

Alesha membeku di tempatnya.

Jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa suaranya bisa terdengar oleh orang di dalam ruangan itu. Stimulasi listrik? Ilegal? Risiko jantung?

Ia memberanikan diri untuk mengintip sedikit dari balik celah pintu yang tidak tertutup rapat.

Di dalam sana, ruangan itu terlihat seperti laboratorium medis rahasia yang canggih namun menyeramkan.

Kabel-kabel berseliweran, monitor dengan grafik detak jantung yang berdenyut cepat, dan berbagai alat medis yang tidak pernah ia lihat di rumah sakit manapun.

Tak lama kemudian, pintu terbuka sepenuhnya. Alesha dengan cepat bersembunyi di balik sebuah pilar batu yang gelap.

Seorang pria paruh baya berkulit pucat, mengenakan jas lab putih tanpa papan nama, keluar sambil membawa sebuah tas medis logam.

Pria itu tampak terburu-buru, wajahnya penuh keringat dingin. Ia membawa peralatan yang tampak mencurigakan, botol-botol tanpa label dan jarum suntik dengan ukuran yang tidak wajar.

Pria itu segera menaiki tangga dan menghilang ke lantai atas.

Alesha merasa dunianya sedikit berputar.

Matteo sedang menjalani terapi saraf ilegal? Pria itu sedang mencoba menyembuhkan kelumpuhannya secara rahasia dengan cara yang membahayakan nyawanya sendiri? Kenapa dia menyembunyikannya dari semua orang? Dan yang paling penting, seberapa besar tekad pria itu untuk kembali berdiri hingga ia rela menantang kematian setiap malam di bawah tanah rumahnya sendiri?

"Cukup untuk malam ini, Alesha. Pergi dari sini sekarang," perintahnya pada diri sendiri.

Ia berbalik, berniat lari secepat mungkin menuju kamarnya sebelum ada yang menyadari keberadaannya.

Namun, baru saja ia memutar tubuhnya, langkahnya terhenti seketika. Seluruh tubuhnya mendadak kaku, darahnya seolah membeku di dalam pembuluh darahnya.

Hanya berjarak beberapa senti di depannya, Matteo Al-Ricci sudah berada di sana.

Pria itu duduk di kursi rodanya, muncul dari kegelapan lorong bawah tanah tanpa suara kursi roda yang terdengar, seolah dia adalah bagian dari bayangan itu sendiri.

Cahaya lampu neon yang redup di atas mereka memberikan efek dramatis pada wajah Matteo, membuat matanya yang kelabu tampak seperti pedang perak yang siap menebas.

Sebelum Alesha sempat mengeluarkan suara atau membela diri, sebuah tangan besar dan kuat menyambar pergelangan tangan Alesha.

Cengkeramannya tidak kasar, namun sangat mantap dan tidak menyisakan ruang untuk melarikan diri.

"Kau sedang mencari kain perca, atau sedang mencoba menjadi detektif amatir, Alesha?" suara Matteo terdengar sangat rendah, bergetar dengan kemarahan yang tertahan.

Alesha menelan ludah, mencoba memanggil kembali keberanian bar-bar-nya yang sempat hilang.

"Aku... aku hanya tersesat. Rumah ini terlalu besar dan berliku."

Matteo menarik pergelangan tangan Alesha lebih dekat, memaksa wanita itu membungkuk ke arahnya.

Di dalam lorong yang sunyi dan lembap itu, Alesha bisa mencium aroma antiseptik yang masih menempel di tubuh Matteo, bercampur dengan aroma keringat dingin dan ketegangan.

"Ada pintu di rumah ini yang tidak seharusnya dibuka. Ada rahasia yang tidak seharusnya didengar," Matteo menatap tepat ke dalam manik mata Alesha, memberikan tekanan pada setiap kata yang ia ucapkan.

"Keingintahuan bisa membunuhmu di rumah ini, Alesha. Dan aku tidak akan selalu ada di sana untuk membersihkan kekacauan yang kau buat."

Alesha mencoba menenangkan detak jantungnya.

"Apa yang kau sembunyikan, Matteo? Jika kau sedang berjuang untuk sembuh, kenapa harus dilakukan seperti ini? Seperti seorang kriminal?"

Cengkeraman Matteo mengencang sesaat.

"Dunia luar hanya butuh tahu bahwa aku adalah singa yang terluka agar mereka menjadi ceroboh.

Jika mereka tahu aku sedang mengasah kuku untuk kembali berdiri, mereka tidak akan menyerangku secara terbuka, mereka akan menghancurkanku sepenuhnya sebelum aku sempat melangkah."

Matteo melepaskan tangan Alesha dengan sentakan pelan, seolah memperingatkannya agar tidak melewati batas lagi.

"Pergilah ke kamarmu. Dan lupakan semua aroma obat-obatan yang kau cium di sini," perintah Matteo.

Matanya tetap mengunci Alesha sampai wanita itu perlahan mundur.

"Jika aku melihatmu di area ini lagi, aku akan memastikan butikmu di Via del Corso tidak akan pernah dibuka, bahkan untuk sekadar satu hari."

Alesha tidak membantah.

Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi Matteo yang benar-benar berbahaya, bukan hanya sombong atau dingin, tapi seorang pria yang sedang bertarung dengan takdirnya sendiri di dalam kegelapan.

Ia berbalik dan berjalan cepat menaiki tangga, meninggalkan Matteo sendirian di lorong bawah tanah yang dingin.

Sesampainya di kamarnya, Alesha duduk di tepi ranjang, tangannya masih sedikit gemetar.

Ia menyadari satu hal yang lebih mengerikan dari terapi ilegal itu.

Matteo Al-Ricci bukan hanya pria yang ingin sembuh. Dia adalah pria yang sedang merencanakan sesuatu yang besar, sebuah pembalasan dendam atau kebangkitan yang akan mengguncang seluruh Roma.

Dan sekarang, Alesha bukan lagi sekadar "barang pengganti".

Ia telah menjadi saksi dari rahasia yang bisa menghancurkan atau justru menyelamatkan hidup mereka berdua.

"Kau sedang bermain dengan api, Matteo," bisik Alesha pada kegelapan malam.

"Tapi kau lupa, aku adalah badai yang tidak takut pada api."

Di bawah tanah, Matteo tetap diam di kursinya, menatap ke arah tangga tempat Alesha baru saja menghilang.

Ia menyentuh pergelangan tangannya sendiri, tempat di mana ia baru saja mencengkeram Alesha.

Ada kehangatan yang tertinggal di sana, sebuah gangguan yang tidak ia inginkan di tengah perang yang sedang ia siapkan.

"Gadis itu... dia akan menjadi kehancuranku, atau satu-satunya alasanku untuk tetap hidup," gumam Matteo pelan, sebelum akhirnya ia memutar kursi rodanya kembali ke dalam laboratorium gelapnya.

1
Ani Basiati
lanjut thor
Yoyoh Rokayah
double up thor
partini
Ale be smart main yg halus jangan gedebak gedbuk kaya lain ga seru
lyfyah
saya suka dengan karyanya. Tidak pasaran.
partini
alasan buat kamu hidup dan bucin akut,kamu terlalu sombong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!