Kisah Princess Mahreen dan Collin Lange
Mahreen Al Khalifa putri bungsu Malik dan Milly Al Khalifa adalah putri Sheikh yang suka hidup bebas tanpa aturan istana hingga Malik harus memberikan Collin Lange sebagai bodyguardnya. Tanpa keluarga Al Khalifa tahu, Collin adalah agen MI6 yang menyamar masuk ke istana Al Khalifa untuk mencari buronan internasional yang bersembunyi di Bahrain. Mahreen dan Collin bagaikan air dan minyak hingga gadis itu tahu misi sebenarnya pria tersebut. Setelah Collin menyelesaikan misinya, dia kembali ke Inggris namun Mahreen bertekad untuk mendapatkan bodyguardnya yang ternyata agen rahasia itu kembali ke dalam pelukannya.
Generasi Delapan Klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Quiz
"Kenapa anda belum tidur, Princess?" tanya Collin usai mencuci peralatan masak yang dipakai untuk ramen tadi.
"Aku masih belajar, Lange. Aku ada quiz kecil besok sebelum pergi ke Oman. Kamu harus ikut ke Oman, Lange," jawab Mahreen sambil membaca buku tebal.
Collin menghampiri Mahreen dan dia tidak menduga jika gadis itu menulis di buku tulisnya.
"Anda masih ... Menulis dengan tangan? Di atas kertas?" tanya Collin sambil duduk di sebelah Mahreen.
"Kenapa? Setidaknya mataku tidak pedas di depan layar. Dan kamu tahu kenapa menulis dengan tangan? Karena aku percaya bahwa jari jemari aku punya sentuhan ingatan. Syaraf-syaraf yang di tangan itu tersimpan di otak. Bagiku, ini seperti menghapalkan dari tangan ke otak. Beneran lho, kalau quiz begini, aku menulis dengan tangan kisi-kisinya dan otakku seperti kasih tahu. "Kamu sudah pernah menulis ini dan jawabannya ini". Gitu," jawab Mahreen.
Collin tersenyum tipis. "Begitu ya."
"Yup."
"Tapi sekarang sudah lewat tengah malam. Anda tidak tidur?" ucap Collin mengingatkan.
"Eh? Jam berapa sekarang?" Mahreen melihat jam di atas meja Konsul. "Eeeehhh! Jam satu!"
"Anda tidak ...."
"Aku harus tidur!" seru Mahreen sambil membereskan semua buku dan catatannya. "Goodnight Lange!"
Collin melihat Mahreen bergegas masuk ke kamar. "Saya bangunkan jam berapa?"
"Jam enam!" Mahreen pun masuk ke dalam kamar dan membanting pintu.
BLAM!
Collin hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Astaga Princess! Memangnya bisa langsung tidur?"
Tanpa Collin tahu, Mahreen adalah orang yang paling mudah tidur. Bisa dibilang, begitu kepalanya sudah menyentuh bantal, dia langsung tertidur.
***
Keesokan paginya
"Princess. Ini sudah jam lima pagi. Anda sudah bangun?" Collin mengetuk pintu kamar Mahreen. "Princess?"
Pria itu mengedikkan bahunya. "Setengah jam lagi deh! Baiklah, aku buat kopi dulu."
Collin sudah bangun pukul setengah lima dan sudah berolahraga sebentar. Dia tahu Mahreen harus bangun jam enam pagi dan dia mengantisipasi jika gadis itu susah bangun.
Dia pun membuat sarapan yang mudah serta bekal untuk Mahreen. Entah mengapa, dia tahu pasti Mahreen kelaparan nanti. Collin melihat jam yang menunjukkan pukul setengah enam pagi.
"Oh princess. Kamu mau bangun jam berapa?" gerutu Collin sambil menuju kamar Mahreen. "Princess, sudah jam setengah enam pagi! Princess!"
Collin menghela nafas panjang. "Dasar tukang tidur! Princess, aku masuk ya?" Dia pun memegang gagang pintu dan membukanya. Tampak Mahreen tidur dengan buku dalam pelukannya.
Collin tidak menduga jika Mahreen benar-benar serius belajar dan selalu mengira gadis itu menggampangkan semuanya karena dia anak Sheikh Bahrain.
Tangannya terulur ke lengan Mahreen lalu menggoyangkan dikit. "Princes. Anda ada quiz pagi. Mau bangun jam berapa?"
"Hhhmmm ... Sebentar Abi ...." Mahreen pun berbalik dan memunggungi Collin.
"Princess. Quiz? Ujian sebelum ujian semester? Sebelum ke Oman?"
Mahreen pun terbangun. "Hah? Quiz! Jam berapa sekarang? Lange? Kok masuk?"
Collin menggeleng gemas. "Bangun Princess. Sudah mau masuk jam enam pagi."
Mahreen pun turun dari tempat tidur. "Lange! Keluar! Aku mau mandi!"
Collin pun keluar dari kamar Mahreen. "Jam berapa quiz-nya?"
"Jam tujuh!" Mahreen menutup pintu kamarnya lagi.
BLAM!
"Astagaaa! Lagi?" ucap Collin gemas.
***
Pagi itu suasana kampus Leiden University terasa lebih sibuk dari biasanya. Mahreen duduk di bangku depan ruang kelas sambil membuka kembali catatan penuh coretan warna-warni miliknya. Jemarinya sedikit dingin karena gugup, tetapi sorot matanya penuh tekad.
“Hari ini aku harus dapat nilai bagus,” gumamnya pelan.
Quiz mingguan itu memang bukan ujian besar, tetapi nilainya cukup penting sebagai penilaian sebelum ujian semester dimulai. Banyak mahasiswa terlihat santai, beberapa bahkan masih bercanda di lorong kampus. Namun Mahreen berbeda. Selama seminggu terakhir dia tidur lebih larut demi memahami materi statistik yang menurutnya paling sulit.
Tak lama kemudian, Mats Tyler datang sambil membawa kopi. Collin yang berada di dalam ruang kuliah, langsung siaga satu dari kursi belakang.
Mats Tyler tersenyum kecil. “Kamu belajar semalaman lagi?”
Mahreen menoleh ke arah mantannya yang masih berusaha mendekatinya. “Aku hanya takut nilainya jelek.”
“Nilaimu selalu bagus.”
“Selalu bagus bukan berarti selalu aman.” Mahreen kembali fokus dengan buku catatannya seolah mengingat kembali apa yang sudah dia pelajari semalam.
Jawaban itu membuat Mats tertawa kecil. Namun sebelum dia sempat membalas, Collin muncul dari belakang dan mendekati ke arah Mahreen.
Collin melirik tumpukan buku Mahreen. “Kalau Anda gagal setelah belajar sebanyak itu, berarti dosennya yang salah.”
Mahreen langsung tertawa kecil mendengar kalimat serius itu. Entah kenapa sejak kapan Collin berubah menjadi sok perhatian dan sok imut.
Bel berbunyi beberapa menit kemudian. Semua mahasiswa masuk ke dalam kelas. Dosen mulai membagikan lembar quiz satu per satu. Saat kertas berhenti di mejanya, Mahreen menarik napas panjang sebelum membaca soal pertama.
Awalnya tangannya sedikit gemetar. Namun semakin lama, wajahnya mulai tenang. Rumus-rumus yang sempat membuatnya panik tadi malam perlahan terasa familiar. Ia mengingat semua latihan yang dikerjakannya hingga dini hari.
Satu jam berlalu cepat.
“Waktu habis,” ujar dosen.
Mahreen menyerahkan kertas jawabannya dengan perasaan campur aduk. Saat keluar kelas, ia menutup wajahnya sebentar dengan kedua tangan.
“Aku rasa ada dua soal yang salah ...” keluhnya.
Mats langsung berkata, “Kalau itu versi salahmu, mahasiswa lain mungkin sudah menyerah hidup.”
Mahreen melirik ke arah Mats lalu mengangguk sambil tertawa.
Sementara itu Collin yang datang menghampirinya, hanya menatapnya beberapa detik sebelum berkata singkat, “Kamu pasti dapat hasil bagus.”
Dan entah kenapa, ucapan sederhana itu membuat rasa gugup Mahreen sedikit menghilang.
***
Yuhuuu up malam yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
#eh