Adeeva Zamira Arjunka tidak pernah menyangka bahwa sifat pemberontaknya justru menjadi alasan ia terjebak dalam pernikahan militer. Seharusnya, Kak Adiba—kembarannya yang sholehah dan lembut—lah yang bersanding dengan Kapten Shaheer Ali. Namun, sang perwira pasukan khusus itu secara mengejutkan justru menjatuhkan pilihan pada Adeeva, si gadis keras kepala yang terang-terangan membenci dunia militer.
Terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Adeeva masuk ke kehidupan Shaheer dengan dendam dan penolakan. Baginya, lencana dan seragam hijau Shaheer adalah simbol pengekangan. Namun, perjalanan takdir adiba ke tanah Mesir dan kehadiran buah hati di balik pagar pinus perlahan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sidang di markas macan
Hari yang paling dihindari Adeeva akhirnya tiba. Sidang nikah kantor. Di dunia militer, ini adalah prosedur wajib di mana calon istri prajurit diuji kesiapannya mental dan fisiknya untuk menjadi bagian dari organisasi persatuan istri tentara.
Adeeva berdiri di depan cermin besar di kamar Adiba. Ia menolak memakai kebaya anggun yang disiapkan Umi. Sebagai bentuk pemberontakan terakhir, ia memilih memakai kemeja flanel kebesaran, celana jeans hitam ketat, dan sepatu bot kulit. Riasan wajahnya sengaja dibuat lebih berani, dengan eyeliner tajam yang memberikan kesan menantang.
"Kamu yakin mau berangkat dengan penampilan seperti itu, Deeva?" Adiba bertanya dengan nada cemas. Ia sudah siap dengan gamis hijaunya, karena ia harus ikut menemani sebagai saksi keluarga.
"Biarkan saja. Biar komandannya tahu kalau Shaheer salah pilih orang. Kalau mereka membatalkan pernikahan ini karena aku dianggap tidak layak, itu malah bagus, kan?" jawab Adeeva sembari menyambar tas selempangnya.
Markas Batalyon tempat Shaheer bertugas tampak sangat gagah. Bangunan bercat hijau tentara itu dikelilingi oleh prajurit yang berlalu lalang dengan seragam loreng. Shaheer sudah menunggu di lobi utama. Saat melihat Adeeva turun dari mobil dengan pakaian "preman", rahang Shaheer mengeras sejenak, namun ia segera menguasai diri.
Nadhir yang berdiri di samping Shaheer berbisik pelan, "Gila, Her. Calon lo beneran mau ngajak perang urusan kostum ya? Komandan kita itu konservatif banget."
Shaheer tidak menjawab. Ia melangkah mendekati Adeeva. "Sudah siap?"
"Menurutmu?" tantang Adeeva.
"Cantik. Tapi mungkin sepatumu akan sedikit menyulitkan kalau kita harus berdiri lama," ucap Shaheer tenang, seolah tidak terganggu sama sekali dengan pakaian Adeeva yang menyalahi aturan tidak tertulis di sana.
Mereka memasuki ruangan sidang. Di sana sudah duduk Komandan Batalyon, seorang pria paruh baya dengan pangkat Letnan Kolonel yang memiliki tatapan mata sangat tajam. Di sampingnya ada istrinya, ketua organisasi istri tentara di markas itu.
Sidang dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan standar tentang latar belakang keluarga. Namun, suasana memanas saat sang Komandan menatap pakaian Adeeva.
"Nona Adeeva, apakah Anda tahu bahwa menjadi istri seorang perwira berarti Anda menjadi cermin bagi suami Anda? Pakaian Anda hari ini tidak menunjukkan bahwa Anda siap untuk hidup di lingkungan yang penuh disiplin," ujar sang Komandan dengan nada otoriter.
Adeeva baru saja hendak membalas dengan kalimat pedas, namun tangan Shaheer tiba-tiba menggenggam jemari Adeeva di bawah meja. Genggamannya kuat dan hangat, seolah menyalurkan kekuatan.
"Mohon izin, Komandan," Shaheer memotong sebelum Adeeva sempat bicara. "Pakaian adalah hal yang bisa disesuaikan dengan waktu. Namun, kejujuran karakter adalah hal yang langka. Adeeva datang ke sini dengan menjadi dirinya sendiri, tanpa kepura-puraan. Saya lebih memilih istri yang jujur dengan siapa dia saat ini, daripada yang berpura-pura santun hanya untuk lulus sidang namun nantinya menjadi beban di asrama."
Istri Komandan menyipitkan mata. "Tapi bagaimana dengan pergaulannya? Kami dengar Nona Adeeva sering terlihat di tempat-tempat yang tidak seharusnya didatangi keluarga prajurit."
Adeeva merasakan tangannya mendingin. Ia yakin ini adalah informasi dari Fathiyah atau Revian.
"Izin menjelaskan," Shaheer kembali bicara, suaranya mantap tanpa ragu. "Masa lalu adalah milik masing-masing orang. Saya menikahi Adeeva untuk masa depannya. Selama dia berada di samping saya, saya yang menjamin perilakunya. Jika ada kesalahan yang dia buat setelah ini, sayalah yang paling pantas dijatuhi sanksi secara militer."
Adeeva menoleh ke arah Shaheer. Ia tertegun. Pria ini baru saja mempertaruhkan seluruh kariernya demi membela wanita yang bahkan tidak berniat menjadi istri yang baik untuknya. Ada rasa hangat yang aneh menyelinap di dada Adeeva—rasa terlindungi yang belum pernah ia dapatkan dari Abi.
Komandan terdiam cukup lama, menatap Shaheer dan Adeeva bergantian. "Kamu sangat yakin dengan pilihanmu, Kapten?"
"Siap, yakin, Komandan."
"Baiklah. Sidang ini saya tangguhkan keputusannya sampai besok, tapi secara pribadi saya menghargai keberanianmu mengambil tanggung jawab berat ini. Nona Adeeva, pastikan Anda tidak membuat Kapten ini menyesali kata-katanya."
Keluar dari ruang sidang, Adeeva segera melepas genggaman tangan Shaheer. Ia berjalan cepat menuju area parkir yang agak sepi di balik barak.
"Kenapa kamu lakukan itu?" tanya Adeeva saat Shaheer berhasil menyusulnya.
"Melakukan apa?"
"Membelaku! Kamu tahu sendiri aku memang nakal, aku memang ke klub, dan pakaianku ini memang salah. Kenapa kamu malah menjaminkan kariermu untukku?" Adeeva berteriak, air mata mulai menggenang. "Kamu membuatku merasa berutang budi, dan aku benci itu!"
Shaheer berdiri tepat di depan Adeeva, menghalangi jalannya. "Saya tidak butuh balas budi. Saya melakukan itu karena memang itu tugas saya sebagai laki-laki yang sudah memilihmu. Dan soal pakaianmu..." Shaheer meraih ujung kerah kemeja flanel Adeeva, memperbaikinya sedikit. "Lain kali pakai saja kebaya pemberian Umi. Kamu terlihat lebih cantik kalau tidak sedang berusaha keras terlihat galak."
"Kamu..." Adeeva kehilangan kata-kata.
Tiba-tiba, dari arah belakang barak, muncul Revian Alfie. Entah bagaimana pria itu bisa masuk ke dalam markas. Wajahnya tampak gelap.
"Bagus sekali sandiwaranya, Kapten," sindir Revian. "Deeva, ikut aku. Aku punya sesuatu yang tidak akan pernah bisa dimaafkan oleh tentara suci ini."
Revian mengangkat ponselnya, memperlihatkan sebuah foto Adeeva yang sedang dipeluk oleh seorang pria di sebuah klub malam—pria yang sebenarnya adalah sepupu Alesha yang sedang mabuk, tapi dalam foto itu terlihat sangat intim.
"Kalau foto ini tersebar di grup WhatsApp markas ini, karirmu selesai, Shaheer," ancam Revian.
Adeeva membeku. Ia tahu foto itu. Itu adalah malam di mana ia sedang sangat frustrasi dan sepupu Alesha mencoba menenangkannya. Di dunia asrama yang kejam, foto itu bisa jadi akhir dari segalanya.
Shaheer melirik foto itu, lalu menatap Revian dengan pandangan yang membuat pria dokter itu mundur satu langkah. "Hanya itu? Kamu masuk ke markas militer hanya untuk menunjukkan sampah?"
Shaheer merebut ponsel Revian dengan gerakan kilat yang tidak bisa diantisipasi. Dengan satu tangan, ia meremukkan layar ponsel itu hingga retak seribu.
"Keluar dari sini sekarang, atau saya tahan Anda dengan tuduhan spionase dan gangguan keamanan markas," desis Shaheer.
Revian gemetar ketakutan melihat kilatan amarah di mata Shaheer. Ia segera berbalik dan lari menuju gerbang.
Adeeva menatap Shaheer dengan rasa bersalah yang luar biasa. "Shaheer... maaf. Foto itu tidak seperti yang terlihat."
Shaheer membuang ponsel rusak itu ke tempat sampah. Ia menoleh ke Adeeva dan mengusap air mata di pipi gadis itu. "Aku tahu. Aku lebih percaya pada apa yang kulihat di matamu daripada apa yang ada di kamera orang lain. Sekarang, ayo pulang. Besok adalah hari keberangkatan Adiba. Kamu harus kuat buat kakakmu."
Malam itu, Adeeva menyadari satu hal. Shaheer bukan sekadar gunung yang tenang; dia adalah benteng yang siap hancur demi melindunginya.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...