Kisah seorang ilmuan gila yang melawan pemerintah dunia yang dzalim
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Michael Jack, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cold War
Seluruh pasukan Four Eyes mulai mempersiapkan pertahanan mereka sambil menyusun berbagai strategi. Ketika semua orang sedang sibuk dengan persiapan, tiba-tiba seorang pria muncul di depan gerbang markas dan langsung melangkah masuk. Para penjaga segera menyerangnya tanpa ragu, namun pria itu dengan mudah menjatuhkan para prajurit tersebut satu per satu.
Ia berjalan dengan langkah santai, tetapi setiap pijakan kakinya membuat tanah yang dilaluinya membeku.
Ia terus berjalan hingga akhirnya berhenti tepat di depan gedung rapat.
"Jack... keluar kau!!!"
Mendengar teriakan itu, Jack bersama yang lain segera keluar menemui pria tersebut.
"Ada apa?"
"Apa benar kau yang menyusup ke Negeri Es?" tanya pria itu dengan tatapan tajam.
"Ya, itu benar," jawab Jack tenang.
Pria itu menundukkan wajahnya dengan ekspresi kesal.
"Cih... pengecut!"
Pio langsung mengubah tangannya menjadi capit besar dan menodongkannya ke arah pria itu.
"Apa maksudmu?!"
Jack hanya tersenyum tipis.
"Pio... turunkan tanganmu."
Jack kemudian berjalan mendekat.
"Sebelumnya... siapa nama anda?"
"Namaku Kai... aku dijuluki Ice Bear," jawab pria itu.
"Lalu... apa tujuan anda datang ke sini?" tanya Jack lagi.
"Aku datang untuk menyampaikan pesan dari pemimpin kami. Pertempuran akan berlangsung di Russia bagian utara."
Vickery mengerutkan alisnya.
"Kenapa kau memberi tahu kami?!"
Kai tersenyum tipis.
"Kau Vickery, ya? Aku sudah lama ingin bertarung melawanmu."
"Kau ingin tahu kenapa kami memberi tahu kalian? Karena kami tidak suka melawan musuh yang belum siap."
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Kai bersiul memanggil temannya.
Tak lama kemudian, seekor makhluk datang dari langit. Itu adalah Sky.
Sky menatap Jack dengan kebencian yang jelas terlihat.
"Jack... aku akan membuatmu malu di hadapan pasukanmu, seperti kau membuatku malu di hadapan pasukanku!"
Jack menyipitkan matanya.
"Hm... itu jika anda sanggup."
Sky mengepalkan tangannya, berusaha menahan amarah.
"Lihat saja nanti!"
Jack hanya tersenyum mendengarnya.
Sky kemudian berubah menjadi burung es raksasa, dan Kai segera naik ke punggungnya.
"Sampai jumpa di medan perang nanti, pecundang!" teriak Kai sebelum mereka terbang pergi.
Setelah mereka pergi, Jack segera memerintahkan Pio untuk mempersiapkan pertahanan di seluruh wilayah utara Russia. Bila perlu, tujuh puluh lima persen alat tempur, sistem pertahanan, dan pasukan dikerahkan ke sana. Jack juga memerintahkan pasukannya untuk mengevakuasi warga yang tidak ingin terlibat dalam peperangan.
Tiga bulan kemudian, lautan berubah menjadi hamparan es yang luas. Di atasnya berjalan ribuan pasukan serta berbagai alat tempur canggih milik Negeri Es. Robot tempur, kendaraan darat, artileri, hingga unit udara dikerahkan sepenuhnya oleh Negeri Es.
Dengan satu komando, seluruh pasukan musuh langsung menyerang.
Jack pun segera memberi perintah balasan.
Dalam sekejap, tempat yang sebelumnya sunyi berubah menjadi medan perang yang kacau. Ledakan, teriakan, tangisan, dan suara logam yang saling bertabrakan menggema di seluruh medan pertempuran.
Negeri Es kemudian melepaskan sebuah golem es raksasa setinggi tiga puluh meter yang menyapu pasukan Jack.
Tritan segera melompat dan menendang golem itu hingga terpental jauh.
"Lawanmu adalah aku!" teriak Tritan sambil mengepalkan tinjunya.
Golem es bangkit kembali lalu menghentakkan kakinya ke tanah. Retakan langsung menjalar ke segala arah, dan tombak-tombak es mencuat dari tanah lalu melesat menuju Tritan.
Tritan berlari menerobos serangan itu, sisik naganya berbenturan dengan tombak-tombak es yang menyerangnya. Salah satu tombak berhasil menancap di bahunya, namun ia sama sekali tidak menghiraukannya.
Tritan membalas dengan pukulan yang dilapisi listrik, menghantam wajah golem es dengan keras.
Golem itu terpental, setengah wajahnya hancur menjadi butiran salju. Namun tak lama kemudian, wajahnya beregenerasi kembali.
"Sialan... bagaimana bisa?!" gumam Tritan dalam hati.
Golem es membalas dengan pukulan yang menjatuhkan Tritan. Keduanya pun saling bertukar pukulan tanpa henti. Semakin lama, Tritan semakin murka karena luka golem selalu pulih, sementara tubuhnya sendiri mulai melemah akibat luka yang terus bertambah.
Dengan gerakan cepat, Tritan mencapit lengan golem menggunakan capitnya. Dengan satu ayunan keras ke bawah, lengan golem itu pun patah.
Golem es meraung kesakitan. Ia menghembuskan hawa dingin yang membekukan tubuh Tritan.
Dalam sekejap, golem itu memulihkan lengannya lalu menghajar Tritan berkali-kali.
Amarah Tritan mencapai puncaknya.
Ia melepaskan gelombang kejut yang menyambar ke segala arah, menghancurkan beberapa robot musuh di sekitarnya. Tritan kemudian memecahkan es yang membelenggu tubuhnya.
Ia mencengkeram kepala golem es lalu membenturkannya berkali-kali ke kepalanya sendiri.
Saat itulah Tritan melihat sebuah kristal di dalam kepala golem.
Tanpa ragu, ia mencabut kristal tersebut.
Dalam sekejap, golem es meledak menjadi butiran salju dan membuat Tritan terpental jauh.
Di laut yang kini membeku, Vickery dan Kai berdiri saling berhadapan. Tatapan mereka dipenuhi hasrat untuk saling membunuh.
Vickery mengepalkan tangan besinya sambil menggenggam kapak dengan erat. Sementara itu, Kai mengenakan sarung tangan cakar di tangan kanannya dan sebuah perisai di tangan kirinya.
"Vickery... aku sudah menantikan momen ini selama berbulan-bulan. Hari ini kita buktikan siapa yang paling kuat di sini!!!"
"Cih... amatir," balas Vickery dingin.
Kai langsung melesat menyerang.
Cakarnya mengayun ke arah Vickery, namun Vickery menahannya dengan tangan kiri. Benturan keras terjadi dan keduanya terpental mundur.
Mereka berdua kemudian berubah menjadi wujud beruang mereka secara bersamaan.
Kai menerjang Vickery dan mendorongnya dengan keras.
Vickery mengepakkan sayapnya untuk menstabilkan tubuh, lalu mencengkeram tubuh Kai dan membantingnya hingga es pecah dan berubah kembali menjadi lautan.
Kai yang sempat kehilangan kesadaran segera berenang naik ke permukaan.
Ia melompat keluar dari air lalu menghantam kedua bahu Vickery dengan kedua tangannya.
Vickery sempat menahan, namun lututnya akhirnya tak sanggup menopang tubuhnya dan ia terjatuh.
Belum sempat bangkit, Kai mengangkat tubuh Vickery dan membantingnya berkali-kali ke permukaan es hingga retakan besar muncul di sekitarnya.
Vickery yang murka mengepakkan sayapnya dan terbang ke udara.
Ia menukik tajam ke arah Kai dengan tinju terangkat.
Kai juga melompat untuk menyambut serangan itu.
"HAAAAAAA!!!"
Pukulan mereka berdua saling bertabrakan di udara, menciptakan uap panas yang tebal hingga menutupi mereka.
Kabut perlahan menghilang.
Di sana terlihat Kai terbaring tak berdaya, sementara Vickery masih berdiri tegak.
Kai menyemburkan darah dari mulutnya.
"Ha-ha-ha... Vickery... Panglima Big Bear... kau memang hebat."
Vickery menatapnya dengan dingin.
"Menyerahlah. Maka aku akan berhenti menyerangmu."
Kai tersenyum tipis.
"Hmph... kau tahu... kami bangsa es tidak akan pernah menyerah. Ketika kami siap bertarung, pilihan kami hanya dua... menang atau mati."
Vickery tidak menjawab.
Ia hanya menatap Kai beberapa saat, lalu berbalik dan berjalan pergi.
Kai perlahan bangkit berdiri.
Tatapannya kembali tajam.
Dalam satu gerakan cepat, ia melesat menuju Vickery untuk menikamnya.
Namun Vickery berbalik lebih cepat.
Ia mencengkeram wajah Kai dan membenturkan kepalanya ke permukaan es dengan keras.
Es pun pecah menjadi lautan.
Tubuh Kai tenggelam ke dalam air dingin.