Dua minggu terjebak sendirian di Mall yang penuh mayat hidup, aku pikir kewarasan adalah satu-satunya senjataku. Sampai akhirnya, sekelompok gadis SMA datang membawa keceriaan yang tidak masuk akal di tengah kiamat. Di antara zombi yang kelaparan dan gadis-gadis yang hidup dalam delusi, apakah aku bisa bertahan sebagai satu-satunya orang yang masih melihat kenyataan? Selamat datang di Klub Kehidupan Sekolah yang sesungguhnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayla Zidan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10: Matahari Terbit di Atas Reruntuhan
Chapter 10: Matahari Terbit di Atas Reruntuhan
Cahaya pertama fajar menyelinap masuk melalui celah-celah teralis besi jendela kantor, melukiskan pola kotak-kotak di dinding yang berdebu. Udara pagi terasa dingin dan segar, sedikit menyingkirkan bau busuk yang melekat di mana-mana. Aku membuka mata, bangkit dari tidur ayamku yang tidak nyenyak. Otot-ototku terasa kaku, tapi pikiranku sudah aktif, merencanakan langkah selanjutnya.
Di sudut ruangan, Kurumi masih meringkuk, tertidur pulas dengan sekopnya yang ia peluk erat. Wajahnya yang damai dalam tidur kontras dengan kerasnya dunia yang kami hadapi. Aku tidak peduli dengan penampilannya yang kotor dan berantakan; di mataku, dia adalah partner yang berharga.
Aku mengintip dari balik tirai jendela. Jalan raya di bawah masih dipenuhi bangkai mobil dan zombi yang berkeliaran tanpa arah. Sebagian besar zombi kini bergerak lebih lambat, seolah kedinginan. Logikaku tepat; malam hari yang dingin memang membuat pergerakan mereka sedikit melambat.
“Bangun, Kurumi,” bisikku, menendang pelan kakinya.
Kurumi terlonjak kaget, langsung bangun dengan sekopnya teracung. Matanya liar sesaat sebelum akhirnya dia sadar dan menatapku dengan tatapan kesal. “Bisakah kamu membangunkan orang dengan cara yang lebih lembut?”
“Tidak ada waktu untuk kelembutan. Kita akan bergerak dalam sepuluh menit,” kataku datar. Aku mulai mengeluarkan sisa makanan dan minuman dari tasku.
“Ke mana? Kita tidak punya mobil lagi,” tanyanya, mengambil biskuit yang kuberikan.
“Kita akan menuju markas militer yang terdekat,” jawabku, membuka peta kertas yang kuambil dari kantor tadi malam. “Jaraknya sekitar lima kilometer dari sini. Mereka seharusnya punya persediaan dan mungkin kendaraan lapis baja.”
Kurumi terdiam, menatap peta dengan seksama. “Tapi… markas militer? Bukankah itu terlalu beresiko? Pasti sudah penuh zombi militer yang bersenjata atau bahkan penyintas lain yang brutal.”
“Semua tempat beresiko, Kurumi. Tapi di sana ada potensi imbalan terbesar. Logikaku mengatakan, sumber daya yang terpusat di satu tempat seperti markas militer adalah target terbaik. Resiko sepadan dengan imbalannya,” jelasku. Aku selalu mempertimbangkan untung-rugi.
Kurumi menghela napas panjang. “Baiklah. Tapi bagaimana cara kita sampai ke sana? Berjalan kaki di tengah kota seperti ini… itu seperti bunuh diri.”
“Kita tidak akan berjalan di jalan raya. Kita akan menggunakan jalur atap,” kataku, menunjuk ke arah jendela. “Toko buku ini adalah bangunan bertingkat. Aku yakin ada akses ke atap, dan dari sana, kita bisa melompat ke bangunan lain atau setidaknya mendapatkan pandangan yang lebih baik.”
Kurumi mengikuti arah pandanganku. “Atap? Kamu yakin?”
“Lebih yakin daripada berjalan di antara ribuan zombi di bawah sana,” balasku. Aku menunjuk ke arah pintu kantor yang tadi kubarikade. “Kita akan keluar lewat pintu itu, naik ke atap gedung ini, lalu mencari jalan ke gedung-gedung di seberang.”
Setelah makan dan minum seadanya, kami bersiap. Aku memastikan shotgun-ku terisi penuh, dan aku mengikat beberapa peluru tambahan di sabukku. Kurumi menggenggam sekopnya erat-erat, wajahnya menunjukkan tekad yang baru.
Kami mendorong lemari arsip dari pintu kantor, lalu berjalan keluar. Lantai dua toko buku masih gelap dan sunyi. Kami berjalan ke arah ujung lorong, mencari tangga atau pintu akses ke atap. Akhirnya, kami menemukan sebuah pintu kecil bertuliskan “DILARANG MASUK – AREA ATAP” yang terkunci.
“Mundur,” kataku pada Kurumi. Aku menghantam gagang pintu itu dengan shotgun-ku. DOR! Suara tembakan itu bergema lagi, tapi kali ini aku tidak peduli. Kami sudah berada di lantai atas, dan suara tembakan ini akan menjauhkan mereka dari jalur atap.
Pintu itu terbuka. Angin kencang langsung menerpa wajah kami, membawa serta bau hujan dan aspal yang panas. Kami melangkah keluar, dan pemandangan di hadapan kami benar-benar menakjubkan sekaligus mengerikan.
Seluruh kota terbentang di bawah kami. Gedung-gedung pencakar langit yang dulunya megah kini berdiri seperti monumen-monumen kematian, banyak di antaranya yang sudah rusak atau hangus terbakar. Asap tipis masih mengepul dari beberapa lokasi. Di bawah, jalanan terlihat seperti sungai darah yang beku, dipenuhi bangkai mobil dan titik-titik hitam yang bergerak—ribuan zombi.
Zidan menatap pemandangan kota mati dari atap gedung, Kurumi di sisinya yang juga melihat pemandangan yang sama.
“Ini… ini benar-benar tidak nyata,” bisik Kurumi, matanya terbelalak. Dia tidak pernah melihat kehancuran dari sudut pandang setinggi ini.
“Inilah realitanya. Selamat datang di dunia yang baru, Kurumi,” kataku datar. Aku melihat ke seberang, ke gedung-gedung lain yang memiliki ketinggian setara. Beberapa di antaranya berdekatan, memungkinkan kami untuk melompat.
Aku berjalan ke pinggir atap, memeriksa jarak antar gedung. Ada beberapa titik yang memungkinkan untuk dilalui. Logikaku menghitung probabilitas. Ini berbahaya, tapi tidak lebih berbahaya daripada berjalan di bawah.
“Kita akan melompat ke gedung di sana,” kataku, menunjuk ke sebuah gedung perkantoran tua yang jaraknya sekitar tiga meter.
Kurumi menatapku dengan mata melotot. “Apa?! Melompat?! Kamu gila, Zidan?! Itu tiga meter lebih! Kalau kita gagal, kita akan jadi pasta di aspal bawah!”
“Kita tidak punya pilihan lain. Itu adalah satu-satunya jalur yang paling efisien menuju markas militer tanpa harus melewati jalanan yang penuh zombi,” balasku, tanpa menunjukkan keraguan sedikit pun. “Jika kamu tidak mau melompat, silakan turun dan coba berlari di bawah sana. Aku tidak akan menahanmu.”
Kurumi terdiam. Dia melihat ke bawah, lalu menatapku dengan tatapan yang bercampur antara rasa takut dan marah. Dia tahu, kata-kataku adalah kebenaran yang brutal.
“Aku tidak akan meninggalkanmu, Zidan,” katanya dengan suara pelan namun tegas.
“Bagus,” kataku, tanpa senyum. “Bersiaplah. Kita akan melompat bersama. Jangan lihat ke bawah. Fokus pada gedung di depan. Gunakan semua kekuatan kakimu, dan aku akan melindungimu dari belakang.”
Matahari terbit yang indah di atas reruntuhan kota mati ini menjadi saksi bisu dari keputusan gila yang akan kami ambil. Di ambang batas antara hidup dan mati, logikaku yang dingin adalah satu-satunya panduanku. Dan Kurumi, meskipun keras kepala, adalah satu-satunya yang percaya padaku—meskipun dengan cara yang paling unik.
Catatan Penulis:
Zidan dan Kurumi berada di puncak gedung, siap menghadapi tantangan baru yang lebih ekstrem: melompat antar gedung! Akankah mereka berhasil menyeberangi kota mati melalui jalur atap? Atau terjatuh ke jurang kegilaan di bawah sana? Ikuti terus kisahnya dan berikan Like, Favorit, serta Komentar kalian ya!