Ah, sialan!
Liga berusaha tetap terlihat biasa saja walau kenyataannya perasaannya sangat gugup sekarang. "Aku hanya mengunjunginya saja dan tidak melakukan apapun. Tapi di--"
"Mengunjungi?" Mafia menyela, menatap Liga cukup intens, membuat ucapan Liga terhenti dan berganti anggukan.
"Iya. Aku hanya ingin mengunjunginya saja. Tap--"
"Sejak kapan kamu suka mengujungi tahanan?" sela Mafia lagi yang tanpa diketahui berhasil membuat jantung Liga berdebar kencang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taurus girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Mafia dan Kasim serta Haru berhenti di sebuah gedung yang jaraknya jauh dari rumah huninya selama ini. Tempat ini cukup kotor dan tidak layak huni jika di lihat dari luar. Namun, begitu mewah jika masuk di dalamnya.
Haru dan Kasim yang sudah berulangkali masuk ke dalam gedung rahasia ini bersama Mafia pun masih selalu takjub jika melihat keseluruhan fitur bangunan ini.
Beberapa bagian gedung ini terbuat dari emas. Kemungkinan alasan Mafia mendesain luarnya terlihat buruk karena sengaja untuk mengecoh pencuri tidak masuk ke dalam gedung ini.
"Kalian cukup tunggu di sini." ucap Mafia pada Haru dan Kasim, yang langsung mereka patuhi tanpa bantahan.
Mafia berjalan lurus menuju lorong gelap yang ada di ruangan ini. Membuat Haru dan Kasim merasa cukup penasaran. Namun, mereka tidak sanggup bertanya. Di lihat dari gerak geriknya tuan Mafia, sepertinya ruangan yang akan beliau tuju adalah ruang rahasia, tidak untuk sembarang orang bisa masuk ke dalam sana.
"Sim, kita duduk di sofa itu yuk! Bisa pegel kaki ku kalau lama lama berdiri di sini..." Haru menunjuk sofa empuk berwarna coklat yang tidak jauh dari mereka berdiri.
"Boleh deh boleh. Kayaknya tuan Mafia juga bakalan lama di dalam sana."
Haru dan Kasim duduk di sofa itu sambil menatap berkeliling sekitar ruangan. Padahal sudah berulang ulang melihat bangunan ini tapi entah kenapa mereka berdua tidak ada rasa puasnya sama sekali.
"Kira kira, tuan Mafia habis berapa banyak uang ya buat bangun gedung mewah ini?" Haru bertanya.
"Nggak tahu pastinya. Tapi sudah pasti nominalnya sampai miliar-ran,,," Kasim menyahut.
Sampai menit ke tiga puluh, Haru dan Kasim bernapas dalam keheningan, tidak ada yang memulai obrolan sama sekali. Sampai ada suara seseorang yang sangat mereka hapal berbicara dengan seseorang yang suaranya terasa asing di telinga mereka.
Kasim menatap ke sana kemari mencari sumber suara itu. Raut wajahnya tegang dengan keringat yang mulai membasahi kedua telapak tangan serta keningnya. Berbeda dengan raut wajah Haru yang biasa saja, bahkan terlihat santai, sama sekali tidak terganggu dengan suara itu.
"Haru, kamu dengar suara dua orang yang lagi ngobrol nggak sih?" tanya Kasim dia berpindah duduk di samping Haru bahkan merangkul lengan tangannya, membuat Haru bingung dan langsung menyingkir dari sana. Rasanya geli saja Kasim merangkulnya seperti seorang kekasih.
Haru bergidik ngeri. "Kamu kenapa Kasim? Itu suara tuan Mafia ngomong sama... Eh! Lah iya ya? Itu suara siapa ya? Selama kita ikut ke sini, tuan Mafia tidak pernah mengizinkan kita ikut masuk, dan tidak pernah menunjukan siapa yang dia temui atau bahkan apa yang beliau lakukan di dalam sana,,,"
Haru juga baru menyadari bahwa di setiap ikut ke gedung ini mereka tidak pernah tahu apa yang di lakukan tuan Mafia di dalam ruangan gelap itu. Tiba tiba Haru berpikir jika tuannya...
"Sim, jangan jangan, diam diam tuan Mafia ber_seketu dengan mahluk ghaib? Ih, serem Sim, serem," Kini bergantian Haru yang tiba tiba merinding membuat Kasim yang sudah takut semakin ketakutan. Kembali merangkul Haru sangat erat.
"Kamu jangan ngomong begitu dong, Haru. Aku jadi makin takut nih,"
"Aku juga takut. Tapi jangan rangkul rangkul aku gitu juga dong! Kamu pikir aku do----"
"Kalian berdua lagi apa?"
Haru dan Kasim terlonjak kaget, membuat Haru buru buru mendorong Kasim dan Kasim buru buru melepas rangkulan di lengan Haru. Mereka berdua menggaruk kening karena merasa malu.
Mafia keluar dari lorong gelap dengan ekspresi yang tidak terbaca, membuat Haru dan Kasim langsung berdiri dan menundukkan kepala.
"Tuan Mafia, kami...," Kasim mencoba menjelaskan, tapi Mafia memotongnya dengan isyarat tangan.
"Kalian nggak perlu jelaskan apa-apa. Aku tahu apa yang kalian lakukan. Aku nggak marah, tapi jangan lakukan itu lagi. Aku nggak mau kalian berdua mencampuri urusan ku selama aku nggak mengizinkan kalian berdua terlibat," ucap Mafia, tegas.
Haru dan Kasim mengangguk serempak, merasa lega tapi juga penasaran tentang apa yang di lalukan tuannya didalam ruangan gelap itu.
"Tuan Mafia, siapa orang yang Anda temui didalam sana?" Haru bertanya dengan hati-hati.
Mafia menatap Haru dan Kasim dengan ekspresi yang serius. "Aku nggak bisa memberitahu kalian. Belum saatnya kalian tahu,"
Kasim dan Haru saling menatap, merasa bahwa ada sesuatu yang besar yang tidak mereka ketahui. Tapi, memangnya mereka bisa apa?
"Baik tuan,"
Mafia menatap mereka berdua. "Ayo kita pulang. Aku nggak mau Vair nunggu kelamaan.."
Mereka bertiga meninggalkan gedung mewah itu, meninggalkan rasa penasaran yang masih membungkus hati Haru dan Kasim.
"Dimana ya? Aku sudah menjelajah seluruh rumah ini, tapi hasilnya nihil, adik ku tidak ada disini." Vair menekuk kedua tangan dipinggang, merasa putus asa karena keberadaan adiknya tidak juga ditemukan.
"Bik!"
"Bibik!"
Bibik yang sedang istirahat di kamarnya, keluar kamar terbirit birit mendengar panggilan dari Nona Vair yang berteriak. "Nona, ada apa? Maaf, saya tadi lagi istirahat," menunduk sopan sambil mengatur napasnya yang memburu.
"Apa bibik tahu ruang rahasia tuan Mafia yang ada dirumah besar ini?"
Bibik terdiam dan berpikir, tapi tidak mengingat apapun. "Nggak tahu Nona. Memangnya ada apa?"
"Nggak papa. Ya sudah, aku ke kamar. Bibik istirahat lagi saja," Vair berjalan lebar menuju kamarnya dengan perasaan benar benar dongkol.
Bisa bisanya Mafia terlalu rapat menyembunyikan keberadaan Vari darinya. Awas saja, setelah Mafia kembali, Vair pasti akan menghajarnya habis habisan supaya Mafia mengembalikan Vari padanya.
Tiga jam kemudian.
Mafia sudah sampai rumah bersama dua anak buah kepercayaannya, yaitu Haru dan Kasim, memangnya siapa lagi? Tidak ada untuk saat ini.
"Haru, Kasim, kalian boleh istirahat. Aku tahu kalian pasti capek setelah perjalanan dua jam lebih ini..."
"Terima kasih tuan," sesuai perintah, Kasim dan Haru pergi untuk istirahat dengan hati gembira. Kapan lagi mendapat kesempatan seperti ini? Jadi, mereka berdua akan menikmati waktu dengan sebaik mungkin.
Mafia masuk kedalam rumah dengan langkah yang tenang.
"Mafia...!" Vair berteriak, suaranya yang keras membuat Mafia berhenti di tempat.
"Ada apa, Vair?" Mafia bertanya dengan santai.
"Dimana Vari?"
Mafia menghela napas, berjalan mendekati Vair. "Vari tidak ada disini."
Vair menatap Mafia tidak percaya. "Jangan bohong! Aku tahu kamu sembunyikan dia..!"
Mafia mengangkat tangan, berusaha menenangkan Vair. "Aku akan mempertemukan Vari sama kamu, aku janji."
Vair menatap Mafia marah, tapi akhirnya dia membuang napas, mencoba tenang. "Aku pegang janjimu. Kalau ingkar. Aku akan bunuh kamu..."