Di masa lalu, dunia pernah diselamatkan oleh para Grandmaster penyihir terkuat dari berbagai kerajaan yang menguasai elemen alam.
Di antara mereka, satu nama berdiri di puncak: Shiranui Akihara, Grandmaster Api dari Kerajaan Solvaria.
Setelah memimpin perang besar melawan pasukan iblis dan membawa kemenangan bagi umat manusia, ia tiba-tiba menghilang. Dunia percaya sang legenda telah gugur.
Namun kenyataannya, Akihara masih hidup.
Kini ia bersembunyi di sebuah desa terpencil, menjalani kehidupan damai sebagai orang biasa, berusaha meninggalkan masa lalu yang penuh perang dan kehilangan.
Tetapi kedamaian itu mulai runtuh ketika legenda tentang Neraka Iblis kembali muncul.
Raja Iblis Argiel Lucifer dikabarkan bangkit kembali, ditemani oleh sosok misterius bernama Railer Zernaldha.
Bersamaan dengan kebangkitan Tujuh Dosa Besar, dunia kembali berada di ambang kehancuran.
Kini Akihara harus memilih:
tetap hidup sebagai manusia biasa…
atau kembali menjadi legenda yang pernah menyelamatkan 🌏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Absonen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10 [Api yang masih hidup]
Angin malam berhembus pelan di desa kecil Hinomura.
Pintu rumah kayu sederhana itu terbuka perlahan.
Di ambang pintu berdiri dua orang yang telah lama terpisah oleh waktu.
Seorang pria dengan rambut hitam yang masih sedikit basah setelah mandi.
Dan seorang gadis dengan rambut perak panjang yang bergerak lembut tertiup angin malam.
Beberapa detik berlalu.
Tidak ada yang berbicara.
Hanya keheningan yang terasa berat di antara mereka.
Gadis itu menatap wajah pria di depannya dengan mata gemetar.
Seolah tidak percaya pada apa yang ia lihat.
Akhirnya bibirnya bergerak pelan.
“…Akihara?”
Pria itu adalah Shiranui Akihara.
Dan gadis yang berdiri di depan rumahnya adalah Liora Raizen.
Grandmaster Petir.
Orang yang telah mencari keberadaannya selama dua tahun.
Akihara tidak langsung menjawab.
Matanya menatap Liora dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Terkejut.
Bingung.
Dan sedikit… tidak siap.
Namun Liora tidak memberi waktu baginya untuk berbicara.
Tiba-tiba
Ia melangkah maju.
Dan dalam satu gerakan cepat…
Ia langsung memeluknya.
Tubuhnya menabrak dada Akihara dengan cukup keras.
Akihara hampir kehilangan keseimbangan.
“Liora-?!”
Namun gadis itu tidak melepaskannya.
Tangannya menggenggam pakaian Akihara erat.
Suaranya terdengar gemetar.
“Bodoh…!”
Akihara terdiam.
Liora menekan dahinya ke dada Akihara.
“Semua orang mencarimu…”
Suaranya berubah lebih pelan.
“…aku mencarimu.”
Angin malam berhembus di sekitar mereka.
Akihara berdiri diam beberapa detik.
Ia bisa merasakan tubuh Liora sedikit gemetar.
Emosi yang tertahan selama dua tahun akhirnya keluar.
Namun situasinya terlalu tiba-tiba.
Dan terlalu… dekat.
Akihara menghela napas pelan.
“Liora…”
Ia berkata dengan suara tenang.
“Lepaskan dulu.”
Beberapa detik berlalu sebelum Liora akhirnya menyadari apa yang ia lakukan.
Ia langsung mundur satu langkah.
Wajahnya sedikit memerah.
Namun ekspresi itu segera berubah menjadi serius.
Matanya menatap Akihara tajam.
“Kau benar-benar hidup.”
Akihara tidak menjawab.
Liora mengepalkan tangannya.
“Seluruh kerajaan mengira kau sudah mati.”
Suaranya mulai naik.
“Para petualang mencarimu selama dua tahun!”
“Bahkan Raja Solvaria sendiri-”
Ia berhenti.
Matanya menatap langsung ke mata Akihara.
“Dan kau ada di sini?”
Akihara tetap tenang.
Rumah kecil di belakangnya terlihat sederhana.
Lampu minyak menyala lembut dari dalam ruangan.
Semuanya terasa sangat jauh dari kehidupan mereka dulu.
“Aku tahu.”
Jawaban Akihara pendek.
Liora mengerutkan kening.
“Itu saja?”
Akihara menatap desa yang sunyi di belakangnya.
“Perang sudah selesai.”
Ia berkata pelan.
“Dunia tidak lagi membutuhkan Grandmaster Api.”
Liora langsung membalas.
“Dunia mungkin tidak membutuhkanmu.”
“Tapi kami membutuhkanmu!”
Akihara terdiam sejenak.
Kata-kata itu terasa berat.
Namun wajahnya tetap tenang.
“Aku hanya ingin hidup damai.”
Ia menatap desa Hinomura.
Rumah-rumah kecil.
Lampu-lampu sederhana.
Kehidupan yang tenang.
“Aku sudah cukup bertarung.”
Liora tidak langsung menjawab.
Matanya menyipit sedikit.
Ia memandang rumah kecil Akihara.
“Jadi ini alasanmu?”
“Bersembunyi di desa kecil seperti ini?”
Akihara tidak terlihat tersinggung.
Sebaliknya, ia hanya tersenyum kecil.
“Aku tidak bersembunyi.”
“Aku hidup.”
Keheningan kembali muncul di antara mereka.
Namun saat itu—
Ada sesuatu yang bergerak di balik pakaian Akihara.
Sangat kecil.
Namun tidak luput dari perhatian Liora.
Matanya langsung fokus.
“Tunggu.”
Ia menunjuk ke arah dada Akihara.
“Apa itu?”
Akihara sedikit membeku.
Gerakan kecil itu berasal dari dalam pakaiannya.
Liora melangkah mendekat.
“Kau menyembunyikan sesuatu.”
Akihara mencoba tetap tenang.
“Tidak ada apa-apa.”
Namun saat itu
Suara kecil terdengar.
“…Aa…”
Liora langsung berhenti.
Matanya melebar sedikit.
“Itu…”
Suara bayi.
Liora menatap Akihara dengan ekspresi tidak percaya.
“Akihara.”
Suaranya berubah menjadi lebih pelan.
“…apa yang kau sembunyikan?”
Akihara menghela napas pelan.
Ia tahu tidak mungkin menyembunyikannya lagi.
Akhirnya ia membuka sedikit pakaian luarnya.
Dan di balik kain itu…
Sebuah wajah kecil muncul.
Seorang bayi.
Bayi itu menatap Liora dengan mata besar.
Matanya berwarna merah tua yang gelap.
Liora membeku.
Beberapa detik ia tidak bisa berkata apa-apa.
“…seorang bayi?”
Ia menatap Akihara lagi.
“Kau punya anak?!”
Akihara hampir tersedak.
“Tentu saja tidak!”
Liora menyilangkan tangan.
“Lalu kenapa ada bayi di balik bajumu?”
Akihara menghela napas lagi.
“Dia muncul tadi malam.”
Liora mengerutkan kening.
“Muncul?”
“Ditinggalkan di depan rumahku.”
Ia mengangkat bayi itu perlahan.
“Namanya Noa.”
Bayi itu mengeluarkan suara kecil.
“…No…”
Liora menatap bayi itu dengan serius.
Namun ada sesuatu yang langsung membuatnya merasa tidak nyaman.
Matanya.
Merah tua.
Hampir hitam.
Ada sesuatu yang aneh di dalam tatapan itu.
Sesuatu yang terasa… sangat kuat.
Liora menyipitkan matanya.
Ia mendekat sedikit.
Noa juga menatapnya.
Tatapan mereka bertemu.
Untuk sesaat…
Udara di ruangan terasa berbeda.
Liora merasakan sesuatu di dadanya.
Naluri seorang Grandmaster.
Energi yang sangat samar.
Namun… bukan energi biasa.
Ia berbisik pelan.
“Akihara…”
Matanya masih menatap bayi itu.
“…bayi ini.”
Akihara menunggu.
Liora akhirnya berkata:
“Ada sesuatu yang tidak normal.”
Akihara tidak terlihat terkejut.
Sebaliknya, ia mengangguk kecil.
“Aku juga merasakannya.”
Liora menatapnya.
“Kau tahu?”
Akihara mengingat kembali saat pertama kali melihat mata bayi itu.
Mata yang mengingatkannya pada seseorang.
Raja Iblis.
Namun ia belum mengatakan itu pada Liora.
Belum sekarang.
Ia hanya berkata pelan.
“Untuk sekarang… dia hanya bayi.”
Noa tiba-tiba tertawa kecil.
Suara kecil yang lembut memenuhi ruangan.
Liora menatap bayi itu beberapa detik lagi.
Lalu kembali menatap Akihara.
Ekspresinya berubah sedikit.
Lebih lembut.
“Kau benar-benar berubah.”
Akihara mengangkat alis.
“Berubah?”
Liora mengangguk.
“Dulu kau selalu berdiri di garis depan perang.”
“Sekarang kau menggendong bayi di rumah kecil.”
Ia tersenyum tipis.
“Aku tidak pernah membayangkan ini.”
Akihara juga tersenyum kecil.
“Begitulah hidup.”
Liora menatapnya beberapa detik lebih lama.
Di dalam hatinya, ada banyak hal yang ingin ia katakan.
Banyak sekali.
Tentang dua tahun pencarian.
Tentang kekhawatiran.
Tentang perasaan yang ia pendam terlalu lama.
Namun seperti biasa…
Waktu tidak pernah terasa tepat.
Akhirnya ia hanya berkata:
“Aku tidak akan meninggalkan desa ini.”
Akihara mengerutkan kening.
“Apa?”
Liora menyilangkan tangan.
“Aku sudah menemukanmu.”
“Sekarang tugasku memastikan kau tidak menghilang lagi.”
Akihara menghela napas.
“Ini akan menjadi masalah…”
Liora tersenyum sedikit nakal.
“Sudah terlambat.”
Noa tertawa kecil lagi di tangan Akihara.
Dan malam di desa Hinomura pun menjadi jauh lebih rumit dari sebelumnya.