Sandra, Satya dan Raisya telah menjalin persahabatan sejak mereka memasuki dunia perkuliahan. Perhatian Satya pada Sandra terlalu berlebihan membuat Sandra menjadi terbawa perasaan.
Namun pada akhirnya Sandra harus mengubur perasaanya pada Satya kala Raisya memberitahunya bahwa dia akan segera menikah dengan Satya.
sakit dan perih yang Sandra rasakan.
Namun takdir berkata lain, Sandra terpaksa harus menjadi ibu sambung dari anak hasil pernikahan sahabatnya itu, Raisya dan Satya.
akan kah Sandra sanggup melalui hari harinya bersama Satya yang telah berubah dan masih di hantui oleh bayang-bayang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drina sakit
Setelah mengantar sandrina sekolah, aku kembali menyibukan diri dengan bekerja di toko roti ku, kembali mengembangkan resep resep roti, agar roti yang di jual terus update tidak ketinggalan zaman.
"Mbak San!" Pipit memekik dan menghampiri aku yang berada diruang kerja.
"Ada apasih pit, kamu ngagetin aja"
"Mbak udah liat berita ini belum"
Pipit menyerahkan ponselnya kepadaku. Aku menyipitkan mata untuk membaca tulisan kecil-kecil yang berada di akun media sosial Pipit.
Owner Sandra's bakery telah merebut suami sahabatnya yang baru saja meninggal dunia. Mereka menikah di hari kematian istri pertama.
Baru saja membaca judul aku sudah tidak kuat untuk melanjutkan membaca, badanku memanas hatiku berdesir sakit. Siapa yang menyebarkan berita tersebut. Dadaku mulai terasa sesak menahan tangis.
"Mbak San, are you oke?"
"Oke pit, makasih ya informasinya" ucapku sambil menyeka air mata yang berhasil keluar.
"Mbak yang sabar ya, Pipit paham apa yang dirasakan mbak. Mbak pasti terpaksa melakukan pernikahan ini karena permintaan dari sahabat mbak. Jadi disini mbak ga salah kok" Pipit yang berusaha menguatkanku.
"Makasih ya pit, tapi siapa ya yang menyebarkan berita tersebut. Dan dari mana mereka dapat foto aku dan kak satya saat sedang ijab" aku bertanya heran.
"loh iya ya mbak, mbak San dan mas Satya kan ijabnya privat hanya orang-orang disana yang tahu"
"Apa jangan-jangan"
"Sudahlah pit, biarkan berita itu nanti juga reda"
*
"Bu Sandra, maaf saya telat memberitahukan ini sama Bu Sandra. Tadi sandrina muntah waktu belajar dikelas"
Sontak aku mengecek suhu tubuh sandrina, aku merasa badan sandrina sedikit hangat, dan tampak lemas tidak ceria seperti biasanya.
"Muntah nya berapa kali mis?"
"Hanya satu kali Bu Sandra, dari tim kesehatan sekolah pun sudah bantu cek kondisi sandrina"
"Terimakasih Miss Arsy sudah bantu urusin sandrina, kalau begitu saya pamit dulu"
Setelah bersih-bersih dan mengganti baju sandrina, aku pergi menyiapkan makan siang, sementara sandrina tiduran di sofa sambil menonton televisi. Sedari tadi gadis kecil itu hanya terdiam tidak cerewet seperti biasanya.
"Makan siang dulu na, setelah makan drina bobo istirahat ya" aku mulai menyiapkan nasi beserta nugget kesukaan sandrina.
"Mama ndra, udah. Drina ga laper" ucapnya, padahal baru dua suapan yang masuk kedalam mulutnya. Yasudah mungkin nafsu makannya hilang karena tubuhnya sedikit demam.
"Mama ndra papa masih lama pulangnya?"
"Masih, paling nanti malam biasanya papa baru pulang"
"Yahh"
Aku melihat wajah sandrina yang tampak kecewa.
"Kenapa?, Drina mau sesuatu?"
Tidak biasanya gadis kecil itu menanyakan kak Satya di waktu kerja.
"Drina mau es krim yang suka di beliin sama papa" ucapnya kemudian.
"Yaudah sekarang drina tidur siang dulu, nanti mama ndra bilangin sama papa ok?"
Aku mengantarkan ndrina ke kamarnya, dan menunggunya sampai tertidur pulas, sesekali aku mengecek tubuhnya. Suhu tubuhnya masih hangat.
Selama lima belas menit ternyata aku ikut tertidur di samping sandrina. Aku mengecek kembali suhu tubuh sandrina .
"Mama ndra, drina dingin" drina bergumam dalam tidurnya. Aku melihat bulir keringat mengucur di dahinya.
"ya Allah, drina badan kamu panas sekali"
Tidak berfikir lama aku turun dari bed sandrina mencari ponselku untuk menelpon kak Satya.
Kak Satya : Halo ndra ada apa?
tidak menunggu lama sambungan telpon kak Satya langsung terhubung.
Sandra : Kak, drina badannya panas
Kak Satya : Dari kapan?
Sandra : Tadi siang, sempet muntah juga di sekolah.
Aku menggigit bibir. Khawatir.
kak Satya : Oke sekarang aku pulang.
*
Setelah menjalani beberapa pemeriksaan ternyata sandrina terkena gejala tifus dan harus menjalani rawat inap beberapa hari dirumah sakit.
"Papa. Kok ibu perginya lama si, drina kangen sama ibu"
Aku yang sedang membereskan pakaian dan beberapa perlengkapan drina menoleh pada gadis kecil yang sedang memeluk papa nya itu.
Aku melihat raut wajah kak Satya dan ada kesedihan disana. Kak Satya terdiam, ia tidak menjawab pertanyaan drina. laki laki itu terus memeluk gadis kecil dalam pangkuannya itu.
"Drina sayang, kemarin kata mama ndra apa. Kalau kangen sama ibu drina harus baca?"
"Alfatihah" ucap gadis kecil itu pelan.
"Yasudah, drina sama mama ndra dulu ya papa mau keluar dulu bentar".
"ndra aku titip drina dulu ya"
"iya kak"
Walaupun sudah terikat ijab Kabul selama satu bulan lebih, aku dan kak Satya tetap merasa canggung. Aku tidak tau bagaimana kedepannya nasib pernikahanku dengan kak Satya. Yang pasti aku harus ikhlas menjalaninya, takdir yang sudah menuntutku untuk menjadi ibu sambung anak sahabat. Apakah kak Satya akan mengakui aku sebagai istrinya, atau... Aku akan tetap menjadi sahabatnya.
Setelah menidurkan drina ponselku berbunyi yang ternyata panggilan dari kak Satya.
Satya : Mau makan apa ndra?
Sandra : emh, apa ajadeh kak terserah kak Satya aja.
Selang setengah jam kak Satya kembali dengan bungkusan makan malam yang ia beli dari luar. Ia menyerahkan bungkusan itu kepadaku.
"Makan dulu ndra, pasti belum makan dari siang"
Tau aja deh, aku memang belum makan dari siang. Sebenarnya perutku sudah keroncongan sedari tadi, tapi aku malu kalau harus minta pada kak Satya.
Aku tersenyum tipis kala membuka bungkus nasi, kak Satya membeli bebek gorang sambel ijo dengan banyak taburan bawang goreng di atasnya. Ternyata dia masih ingat dengan menu makan malam pavoriteku. Waktu kita sering makan bareng dikampus.