Neysa seorang gadis cantik, terperangkap menjadi pelayan karena suatu alasan. Siapa sangka Anak Majikannya, Darren akan jatuh hati padanya. Seribu cara ia lakukan, agar Neysa jatuh ke tangannya. Namun siapa yang tahu, Neysa yang biasa saja, wanita yang selalu terpojok oleh keadaan itu menyimpan sesuatu hal yang besar. Ternyata ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8
***
Pintu kamar terbuka perlahan, menampilkan Darren yang melangkah masuk dengan tenang. Matanya langsung menangkap sosok Neysa yang duduk di tepi ranjang. Gaun pengantinnya masih terbungkus sempurna, putih bersih dengan renda halus yang memeluk pinggangnya.
Namun, aura kosong yang menyelimutinya membuat gaun itu terasa seperti hiasan pada boneka porselen—indah, tapi hampa.
Darren menghentikan langkahnya beberapa meter dari Neysa, memperhatikan wanita itu yang tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tanpa suara, ia berjalan mendekat.
“Kau menyesal?” Darren membuka suara, nada dingin di balik pertanyaannya langsung memotong keheningan.
Neysa mengangkat kepala perlahan, bertatapan dengannya. Mata mereka bertemu, dan untuk sesaat, hanya ada keheningan.
“Tidak,” jawab Neysa, pendek dan tegas, meskipun dadanya terasa sesak.
Darren menyeringai kecil. “Benarkah? Karena kau terlihat seperti seseorang yang baru saja kehilangan semua uangnya di kasino.”
“Lucu sekali,” balas Neysa, mencoba terdengar santai. Ia memutar bola matanya, tetapi ada senyum tipis yang muncul di bibirnya.
Namun, senyum itu sirna saat Darren melangkah lebih dekat, tangannya mengangkat dagu Neysa, memaksanya kembali menatapnya. “Kau tahu apa yang akan terjadi setelah ini, kan?”
Neysa tidak menjawab.
“Kau akan menjadi istri kedua. Mungkin aku akan menghabiskan malam dengan Jessica, dan kau akan duduk di sini sendirian. Kau yakin tidak ingin kabur sekarang?”
Wanita itu berdesis. "Aku tahu, mungkin sekarang hanya tinggal menunggu sampai Jessica ingin membunuhku dengan senang hati," jawabnya dengan nada yang mencoba terdengar santai, meski hatinya terasa sesak.
Darren tertawa kecil, namun tawanya terdengar kosong, seperti mengetahui bahwa apa yang Neysa katakan memiliki kebenaran tersendiri. Tanpa berkata lebih banyak, Darren bergerak mendekat, menarik tubuh Neysa ke ranjang dengan dorongan lembut, membuatnya terbaring dengan posisi yang lebih nyaman.
Ia berdiri di atasnya, mengamati wajah cantiknya, tangan lembutnya mengusap pipi Neysa, seolah menyentuh sesuatu yang sangat berharga. Dari awal mereka bertemu pertamakali. Darren sudah merasakan hal yang aneh, Neysa memiliki daya tarik sendiri membuatnya berbeda dari wanita lain.
Wanita itu terdiam, bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Mereka sudah menikah, tetapi semuanya terasa begitu cepat. Tidak ada perayaan , atau apapun. Semua terasa tertutup, seolah ini hanya sebuah permainan. Ia merasa seperti wanita simpanan saja.
"Tenang saja, Neysa." Darren berkata pelan. "Aku akan memikirkan cara agar pernikahan kami batal. Aku memerlukan pegangan yang lebih kuat agar bisa mempertahankan perusahaan, tanpa harus mengandalkan pernikahan ini."
Kata-kata Darren membuat Neysa terkejut. Ia memandangnya dengan ragu.
"Benarkah kamu bisa melakukannya?" Neysa tersenyum kecut, jelas tidak percaya dengan perkataannya.
Setelah sekian lama ia melihat Darren ditindas oleh Jessica, tidak ada tanda-tanda bahwa lelaki itu akan bisa mengambil langkah untuk membatalkan pernikahan, apalagi mempertahankan perusahaan tanpa harus bergantung pada status mereka yang baru saja berlangsung.
Seandainya dia tahu ia berasal dari keluarga Lawrence, tentu Darren tidak perlu memikirkan apa yang harus ia lakukan. Dia tak perlu lagi menjilati sepatu Jessica. Namun, posisinya sekarang masih sulit. Kemunculan Nona Lawrence secara tiba-tiba hanya akan membuat Kakaknya diuntungkan.
Ia harus memikirkan cara yang lebih jauh.
"Kita akan lihat nanti," jawab Darren, seolah tak ingin membahas hal itu lebih lanjut. "Aku ingin kau percaya padaku. Bahwa apapun yang aku lakukan semua demi keluarga Barnes."
Neysa bergeming. Perkataan Darren seolah-olah menegaskan bahwa ia termasuk dalam keluarga itu. Ia memalingkan wajah, tiba-tiba saja suasana hatinya terasa berbeda.
Darren tersenyum, ia menyentuh wajah Neysa agar melihatnya, kemudian mendekatkan wajahnya, bibir Darren menyentuh bibir Neysa dengan lembut. Ciuman itu hangat, penuh kelembutan, dan seolah berbicara lebih banyak dari sekadar kata-kata.
Ada sesuatu dalam ciuman itu—rasa keterikatan yang lebih dalam, meskipun mereka belum sepenuhnya saling memahami.
Setiap gerakan mereka terasa lambat, penuh kehati-hatian, seolah ingin memastikan bahwa setiap sentuhan dan ciuman adalah sebuah ungkapan yang tulus, meskipun keduanya masih terbungkus dalam kebingungan dan keraguan.
Neysa merasakan bahwa meskipun pernikahan ini terasa seperti kebetulan, ada sesuatu dalam diri Darren yang membuatnya merasa aman, meskipun segala keraguan masih menggelayut di hati.
Malam itu, antara keduanya tercipta sebuah keintiman yang melampaui kata-kata, di mana mereka tidak hanya saling berbagi tubuh, tetapi juga mencoba memahami satu sama lain dalam diam.
****
Darren terbangun lebih dulu. Sekarang, tubuh mereka berdua hanya tertutup selimut tipis, sisa-sisa kehangatan semalam masih terasa di udara. Matanya tertuju pada Neysa yang tampak tenang, masih tertidur lelap setelah malam yang penuh perasaan itu.
Dengan sedikit senyum, Darren melihat tanda merah di lehernya. Ia menyentuhnya dengan rasa bangga, mengingat bagaimana semuanya berlangsung semalam.
Namun, tiba-tiba, Neysa terbangun. Matanya terbuka perlahan, dan seketika, ia meraih selimut, menariknya hingga menutupi lehernya. Tatapannya waspada, seolah baru menyadari apa yang terjadi. Seketika ingatannya kembali: mereka sudah menikah kemarin.
Darren menatapnya, tetap tenang. “Aku dapat telepon tadi. Selama seminggu, Jessica akan menginap di rumah Barnes. Mungkin karena makan malam kami kemarin tidak berjalan dengan baik. Jadi, keluarga Cadmael memutuskan untuk mengirimnya kemari,” katanya dengan suara datar, berusaha tidak menunjukkan kekhawatiran.
Neysa terdiam, bingung. Kata-kata itu menambah beban di pikirannya. Mereka pengantin baru, tetapi apakah dia benar-benar bisa menganggapnya demikian? Walau mereka sudah melewati malam pertama bersama, segala sesuatunya tetap terasa asing. Terlebih, sekarang dia harus menghadapi kenyataan bahwa Darren akan bersama wanita lain.
“Apakah kau cemburu?” Darren bertanya, suaranya lebih ringan, tapi ada sedikit rasa ingin tahu. Ia tersenyum kecil, seolah mencoba meredakan ketegangan yang mulai terasa di udara. "Tenang saja, aku pastikan kami tidak akan melakukan apa-apa. Aku janji akan sering berkunjung ke sini. Kau hanya perlu berhati-hati, jangan sampai Jessica menyadarinya."
Neysa tak langsung menjawab. Hatinya bergejolak. Entah mengapa, saat itu ia merasa tidak bisa lagi diam. Ia menarik napas, menatap Darren dengan serius.
“Darren?” suara Neysa terdengar pelan, tetapi cukup jelas.
“Ya?”
“Kenapa tidak menikah dengan keluarga Lawrence saja?” tawarnya tiba-tiba, meski ada rasa aneh yang menggelitik hatinya begitu ia mengucapkannya.
Ia sendiri tak tahu kenapa pertanyaan itu keluar, tetapi satu hal yang pasti—ada sesuatu yang ia rasakan. Setelah semalaman dia mempertimbangkannya dengan baik. Neysa rasa, lelaki itu cukup cocok untuk ia bawa ke keluarga Lawrence. Lebih tepat. Sebagai pancingan.
B e r s a m b u n g ....
Hayoyo, apalagi yang direncanakan Neysa. Tunggu part selanjutnya, yah. Makasih, (^^)
Tinggalkan jejak ^_^