Sejak kecil, Hana terbiasa dibandingkan dengan kakaknya yang cantik dan sempurna. Sementara dirinya hanya dikenal sebagai gadis dengan wajah penuh jerawat.
Ia mencoba untuk tetap tidak peduli. Namun, semuanya berubah ketika orang yang ia percaya justru mengkhianatinya.
Memasuki SMK, Hana memutuskan untuk berubah. Ia mulai merawat diri, memperbaiki penampilan, dan berusaha menjadi "cantik" seperti yang diinginkan orang-orang.
Tetapi perjalanan itu tidak semudah yang ia bayangkan.
Dimulai dari masalah keluarga, tekanan pergaulan, dan luka masa lalu perlahan menghancurkan kepercayaan dirinya.
Di tengah semua itu, Hana mulai bertanya pada dirinya sendiri:
Apakah kecantikan benar-benar sesuatu yang harus diperjuangkan?
Atau selama ini ia hanya berusaha menjadi orang lain demi diterima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tugas Kelompok.
Hari itu pelajaran seni budaya terasa lebih santai dari biasanya. Guru masuk sambil membawa beberapa lembar kertas gambar berukuran besar dan sebuah map transparan yang tampak berisi contoh ilustrasi. Obrolan yang semula ramai perlahan mereda ketika beliau meletakkan semuanya di meja depan.
“Hari ini kita tidak banyak teori,” kata guru sambil membagikan pandangan ke seluruh kelas. “Kita langsung praktik. Tugasnya menggambar ilustrasi bebas dengan tema Ekspresi Diri. Dikerjakan berkelompok, dua orang satu kelompok. Kalian boleh pilih pasangan sendiri.”
Belum selesai kalimat itu diucapkan, kelas langsung kembali riuh. Kursi bergeser, beberapa siswa berdiri memanggil temannya.
“Gio, sama gue!”
“Ra, bareng yuk!”
“Arga, lu udah ada belum?”
Hana refleks menoleh ke arah Nisa di sebelahnya. Ia sudah setengah berdiri dari kursinya, bersiap mendekat seperti biasanya jika mereka harus bekerja berpasangan.
Namun, sebelum Hana sempat membuka suara—
“Nis, kita bareng ya?” suara Eliza terdengar ringan
Nisa menoleh. Ekspresinya sempat ragu sepersekian detik, seperti menimbang sesuatu, lalu ia tersenyum.
“Iya, boleh.”
Hana yang tadi sudah menggenggam ujung bukunya perlahan menurunkan tangan. Ia tidak menyalahkan siapa pun. Hanya saja… ia tidak menyangka akan terjadi secepat itu.
Dalam beberapa menit saja hampir semua orang sudah menemukan pasangannya. Ada yang langsung membuka buku gambar, ada yang mulai berdiskusi soal konsep, dan ada pula yang hanya tertawa sambil menunjuk-nunjuk kertas kosong.
Hana masih duduk di tempatnya. Ia berusaha terlihat seperti orang yang memang belum mulai, bukan seseorang yang belum punya kelompok.
Perasaan yang dulu sering muncul kembali menyelinap pelan. Tidak terpilih.
Ia menunduk, pura-pura merapikan pensil di kotaknya.
“Kalau belum dapat pasangan, cepat ya. Lima menit lagi mulai,” kata guru dari depan.
Suara kursi kembali bergeser. Namun, kali ini hampir semua sudah lengkap.
Tinggal dua orang yang belum. Hana, dan Arga. Arga terlihat sama sekali tidak terburu-buru. Ia masih duduk di bangkunya sambil memutar pulpen di antara jarinya, seolah situasi itu tidak terlalu penting baginya.
Hana sempat berpikir apakah ia harus bertanya dulu atau menunggu saja. Ia baru menarik napas untuk berbicara ketika suara Arga terdengar lebih dulu.
“Hana.”
Ia mendongak.
Arga menoleh ke arahnya dengan ekspresi datar seperti biasanya.
“Kita aja.”
“Hah?”
“Satu kelompok.”
Jawabannya terdengar begitu sederhana, seolah itu keputusan paling biasa di dunia.
“Oh.” Hana berkedip sebentar. “Boleh sih.”
Suaranya keluar lebih pelan dari yang ia maksudkan.
Beberapa murid melirik sekilas ke arah mereka, lalu kembali sibuk dengan pasangan masing-masing. Arga memindahkan kursinya sedikit mendekat tanpa terlihat canggung.
Guru mulai membagikan kertas gambar ke tiap kelompok sambil kembali mengingatkan, “Hasilnya dikumpulkan di akhir jam pelajaran, jadi jangan terlalu lama diskusi tanpa mulai menggambar.”
Kertas besar itu kini terbentang di meja mereka.
Tema: Ekspresi Diri.
Hana masih menatap kertas kosong itu beberapa detik sebelum akhirnya menoleh pada Arga.
“Kenapa… milih aku?”
Arga berhenti memutar pulpennya dan menoleh.
“Kenapa nggak?”
“Kan masih bisa sama yang lain.”
“Yang lain udah penuh.”
Hana terdiam sejenak sebelum melanjutkan dengan lebih hati-hati. “Maksudku… kenapa mau sama aku?”
Arga berpikir sebentar, lalu bahunya terangkat ringan.
“Karena kamu pasti bisa carry kelompok kita.”
Hana mengernyit.
“Carry?”
“Iya.” Nada suaranya tetap tenang. “Kamu jago gambar. Waktu tugas desain kemasan kemarin kelihatan.”
Hana tidak menyangka ia diperhatikan sejauh itu.
“Lagipula,” lanjut Arga sambil melihat kertas di depan mereka, “kalau temanya ekspresi diri, kamu pasti punya banyak yang bisa dituangkan.”
“Kelihatan ya?” tanya Hana pelan.
Arga menatapnya sebentar sebelum kembali pada kertas kosong itu.
“Lumayan.”
Jawaban singkat itu entah kenapa membuat pipi Hana terasa sedikit hangat. Ia segera menarik napas kecil dan mencoba fokus kembali pada tugas.
“Oke… jadi konsepnya seperti apa?”
Arga berpikir beberapa detik. “Langit.”
“Langit?”
“Yang setengah terang, setengah mendung.”
Hana memiringkan kepala, mencoba membayangkan.
“Kenapa langit?”
“Karena nggak pernah cuma satu warna,” jawab Arga. “Kadang cerah, tapi tetap ada awan.”
Hana menatapnya sebentar sebelum akhirnya mengangguk kecil.
“Kedengarannya nggak sesimpel yang kamu bilang.”
“Memang nggak.”
Untuk pertama kalinya sejak tadi, sudut bibir Arga terangkat tipis.
Hana tanpa sadar ikut tersenyum kecil.
“Oke,” katanya lebih mantap. “Kalau setengah terang, kita pakai gradasi halus. Jangan ada garis tegas di tengah.”
Arga mengangguk setuju. “Dan awannya jangan terlalu penuh. Biar nggak berat sebelah.”
Hana mulai membuat garis horizon tipis di bagian bawah kertas.
“Ada siluet orang nggak?” tanyanya sambil menggambar garis awal.
“Kayak apa?”
“Mungkin seseorang berdiri di bawah langit itu. Kecil aja. Biar kelihatan luasnya.”
Arga memperhatikan gerakan tangannya beberapa detik.
“Orangnya ngadep ke mana?”
“Ke langit,” jawab Hana setelah berpikir. “Tapi setengah badan kena cahaya.”
Arga langsung menambahkan bayangan tipis di sisi lain dengan pensilnya.
Gerakan mereka mulai selaras tanpa perlu banyak kata.
“Kalau mendungnya di kiri, berarti cahaya dari kanan,” kata Arga.
“Iya, jadi bayangan jatuh ke kiri,” sambung Hana cepat.
Mereka berhenti sebentar untuk melihat komposisi gambar.
“Kita bagi aja,” kata Arga. “Kamu bagian awan sama gradasi. Aku siluet sama bayangan.”
Hana mengangguk. “Tapi nanti aku bantu rapihin.”
“Ya.”
Tidak ada perebutan ide. Tidak ada yang mencoba mendominasi. Ketika salah satu ragu, yang lain langsung mengisi.
Di meja sebelah, Nisa sempat melirik ke arah mereka. Kali ini lebih lama dari biasanya, seperti sedikit terkejut melihat Hana berbicara cukup banyak—dan Arga benar-benar mendengarkan.
Sementara itu waktu terus berjalan. Guru beberapa kali berkeliling mengamati hasil tiap kelompok. Ketika beliau berhenti di meja mereka, pandangannya tertahan cukup lama pada kertas gambar itu.
“Konsepnya menarik,” katanya akhirnya. “Kontrasnya dijaga ya. Jangan sampai yang terang kalah sama yang gelap.”
“Iya, Bu,” jawab Hana dan Arga hampir bersamaan.
Mereka sempat saling melirik sekilas setelahnya, sama-sama menyadari hal itu.
Jam pelajaran hampir habis.
“Lima menit lagi kumpul!” panggil guru dari depan.
Hana memperhalus garis terakhir pada awan. Arga mengarsir bagian bawah siluet dengan hati-hati sampai bayangannya terlihat lebih hidup.
Begitu selesai, mereka sama-sama mundur sedikit dari meja untuk melihat hasilnya. Gambar itu tidak sempurna.
Namun, terasa utuh. Setengah cerah, sementara setengah nya lagi mendung.
Keduanya berdampingan tanpa saling menelan.
“Bagus,” ucap Arga pelan.
Hana menoleh. “Gambarnya?”
“Kita.”
Untuk pertama kalinya hari itu, Hana benar-benar tersenyum tanpa ragu. Ketika kertas itu dikumpulkan di meja guru, ia tidak merasa seperti beban kelompok.
Tidak juga seperti pilihan terakhir. Ia merasa… setara. Dan mungkin tanpa ia sadari, kerja sama kecil barusan bukan hanya tentang menggambar langit.
Melainkan tentang dua orang yang ternyata bisa berdiri di bawah langit yang sama—tanpa saling menutupi cahaya satu sama lain.