Di masa lalu, dunia pernah diselamatkan oleh para Grandmaster penyihir terkuat dari berbagai kerajaan yang menguasai elemen alam.
Di antara mereka, satu nama berdiri di puncak: Shiranui Akihara, Grandmaster Api dari Kerajaan Solvaria.
Setelah memimpin perang besar melawan pasukan iblis dan membawa kemenangan bagi umat manusia, ia tiba-tiba menghilang. Dunia percaya sang legenda telah gugur.
Namun kenyataannya, Akihara masih hidup.
Kini ia bersembunyi di sebuah desa terpencil, menjalani kehidupan damai sebagai orang biasa, berusaha meninggalkan masa lalu yang penuh perang dan kehilangan.
Tetapi kedamaian itu mulai runtuh ketika legenda tentang Neraka Iblis kembali muncul.
Raja Iblis Argiel Lucifer dikabarkan bangkit kembali, ditemani oleh sosok misterius bernama Railer Zernaldha.
Bersamaan dengan kebangkitan Tujuh Dosa Besar, dunia kembali berada di ambang kehancuran.
Kini Akihara harus memilih:
tetap hidup sebagai manusia biasa…
atau kembali menjadi legenda yang pernah menyelamatkan 🌏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Absonen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9 [Ketukan Di Malam hari]
Pagi datang perlahan di desa kecil Hinomura.
Kabut tipis masih menyelimuti ladang-ladang di pinggir desa. Cahaya matahari menembus celah pepohonan, membuat embun di rumput berkilau seperti butiran kaca kecil.
Desa itu tenang seperti biasa.
Namun di dalam sebuah rumah kayu sederhana di tepi desa, pagi terasa sedikit berbeda.
Di atas meja kecil dekat jendela, seorang bayi kecil terbungkus kain putih sedang berbaring sambil menatap langit-langit.
Matanya terbuka lebar.
Matanya berwarna merah tua… hampir hitam.
Di dekatnya berdiri seorang pria muda yang sedang mengamati dengan ekspresi bingung.
Dia adalah Shiranui Akihara.
Namun bagi warga desa, ia dikenal dengan nama lain.
Akira Kurogane.
Akihara menghela napas kecil sambil menggaruk kepalanya.
“Baiklah…”
Ia menatap bayi itu.
“…sepertinya kau benar-benar ditinggalkan di depan rumahku.”
Bayi itu hanya menatapnya tanpa berkedip.
Akihara mengangkat bayi itu perlahan.
Ia masih tidak mengerti bagaimana situasi ini bisa terjadi.
Malam tadi, ia hanya ingin tidur seperti biasa.
Namun sekarang…
Ia berdiri di rumahnya sambil menggendong seorang bayi misterius.
Akihara menatap wajah kecil itu lagi.
Dan saat bayi itu membuka matanya sepenuhnya…
Akihara langsung terdiam.
Matanya menyempit sedikit.
Mata bayi itu sangat aneh.
Merah tua.
Gelap.
Dalam.
Mata itu mengingatkannya pada sesuatu.
Seseorang.
Ingatan lama yang terkubur selama dua tahun tiba-tiba muncul kembali di pikirannya.
Langit merah.
Api dan sihir memenuhi medan perang.
Dan di tengah kekacauan itu…
Sepasang mata yang sama gelapnya menatapnya.
Mata milik Raja Iblis Argiel.
Akihara mengerutkan kening.
“Tidak mungkin…”
Ia menggeleng pelan.
“Ini hanya kebetulan.”
Ia mencoba menenangkan pikirannya.
Bayi itu hanyalah bayi manusia biasa.
Tidak mungkin ada hubungannya dengan masa lalu itu.
Akihara menatap bayi itu lagi.
Bayi itu masih menatapnya.
Lalu tiba-tiba…
Bayi itu membuka mulutnya sedikit.
Suara kecil keluar.
“...No…”
Akihara berkedip.
Bayi itu mencoba bersuara lagi.
“…oa…”
Akihara membeku.
“...Noa?”
Bayi itu tertawa kecil.
Seolah mengiyakan.
Akihara menatapnya dengan wajah tidak percaya.
“Tidak mungkin…”
Bayi itu benar-benar mencoba mengatakan sesuatu.
Atau setidaknya terdengar seperti itu.
Akihara menghela napas panjang.
“Baiklah…”
Ia tersenyum kecil.
“Kalau itu namamu… aku akan memanggilmu begitu.”
Ia menatap bayi itu dengan lembut.
“Mulai sekarang namamu Noa.”
Bayi kecil itu tertawa pelan lagi.
Seolah senang mendengar namanya.
Beberapa jam kemudian, kehidupan desa Hinomura berjalan seperti biasa.
Namun hari itu ada pemandangan yang sedikit berbeda.
Di jalan tanah desa…
Seorang pria berjalan santai dengan seorang bayi duduk di pundaknya.
Itu adalah Akihara.
Dan bayi kecil di pundaknya adalah Noa.
Beberapa anak desa berlari mendekat.
Mata mereka berbinar penasaran.
“Waaah!”
“Sebuah bayi!”
Akihara tertawa kecil.
“Hati-hati, jangan terlalu dekat.”
Salah satu anak menunjuk Noa.
“Dia lucu!”
Noa menatap mereka dengan mata besar.
Seorang nenek yang lewat berhenti sebentar.
Ia tersenyum melihat pemandangan itu.
“Akira… sejak kapan kau punya anak?”
Akihara langsung tersedak.
“Bukan begitu!”
Anak-anak tertawa keras.
“Akira punya bayi!”
“Akira jadi ayah!”
Akihara menghela napas pasrah.
“Hanya untuk sementara…”
Ia tidak yakin kata-kata itu benar.
Namun untuk saat ini, ia memang harus merawat bayi ini.
Tidak mungkin ia meninggalkannya.
Sementara itu, Noa terlihat sangat nyaman duduk di pundaknya.
Bayi kecil itu memegang rambut Akihara sambil tertawa kecil.
Akihara berjalan mengelilingi desa.
Beberapa warga lain juga tersenyum melihatnya.
Suasana terasa hangat.
Sudah lama Akihara tidak merasakan kehidupan yang sesederhana ini.
Tanpa perang.
Tanpa tanggung jawab sebagai Grandmaster.
Hanya kehidupan biasa di desa kecil.
Dan sekarang…
Seorang bayi misterius ikut menjadi bagian dari hari-harinya.
Matahari perlahan tenggelam di balik pegunungan.
Langit berubah menjadi jingga lembut.
Akihara kembali ke rumahnya.
Ia menaruh Noa di atas meja kecil.
“Baiklah…”
Ia mengambil air hangat.
“Kita harus membersihkanmu sedikit.”
Noa tidak menangis sama sekali saat dimandikan.
Sebaliknya, bayi itu malah terlihat sangat tenang.
Ia menatap Akihara sepanjang waktu.
Akihara menyadari sesuatu yang aneh.
Biasanya bayi akan rewel.
Namun Noa hampir tidak pernah menangis.
Bayi itu hanya menangis saat pertama kali ia temukan.
Sejak itu…
Noa selalu terlihat tenang saat berada di dekatnya.
Akihara mengeringkan rambut kecil bayi itu dengan kain lembut.
“Kau bayi yang aneh.”
Ia tersenyum kecil.
Namun jauh di dalam hatinya, ia masih memikirkan satu hal.
Mata itu.
Mata yang mengingatkannya pada masa lalu.
Akihara menatap Noa lagi.
Namun kali ini ia memutuskan untuk tidak memikirkannya terlalu jauh.
Beberapa misteri tidak perlu dijawab terlalu cepat.
Sementara itu, di luar desa Hinomura…
Angin malam bertiup melewati jalan tanah panjang.
Seorang gadis berjalan perlahan menuju gerbang desa.
Mantel hitamnya berkibar lembut.
Rambut peraknya bersinar samar di bawah cahaya bulan.
Ia berhenti beberapa meter dari gerbang.
Matanya menatap desa kecil itu.
Namanya adalah Liora Raizen.
Setelah perjalanan panjang…
Ia akhirnya sampai di tujuan yang disebut dalam laporan para petualang.
“Hinomura…”
Ia mengucapkan nama desa itu pelan.
Lampu-lampu kecil terlihat di beberapa rumah.
Desa itu tampak damai.
Sulit membayangkan seorang Grandmaster pernah tinggal di tempat seperti ini.
Namun sesuatu di dalam hatinya berkata lain.
Liora melangkah masuk ke desa.
Kembali ke rumah Akihara.
Malam sudah benar-benar tiba.
Lampu minyak menyala di dalam ruangan kecil itu.
Akihara baru saja selesai mandi.
Rambutnya masih sedikit basah.
Ia mengenakan pakaian santai.
Noa berada di dekat meja.
Bayi itu duduk diam sambil menatap sekeliling ruangan.
Tiba-tiba…
Noa menoleh ke arah pintu.
Matanya menyipit sedikit.
Seolah merasakan sesuatu.
Beberapa detik kemudian
TOK.
TOK.
TOK.
Suara ketukan pintu.
Akihara berhenti bergerak.
Ia menatap pintu rumahnya.
“Siapa yang datang malam-malam begini…?”
Ia menoleh ke arah Noa.
“Sebentar.”
Akihara mengangkat bayi itu.
Lalu menyembunyikannya di balik pakaian luarnya.
Ia tidak tahu kenapa ia melakukan itu.
Mungkin hanya naluri.
Akihara berjalan menuju pintu.
Langkahnya pelan.
Tangannya memegang gagang pintu.
Ia membuka pintu perlahan.
Udara malam yang dingin langsung masuk ke dalam rumah.
Dan di depan pintu itu…
Seorang gadis berdiri diam.
Rambut panjang berwarna perak.
Mantel hitam yang berkibar pelan tertiup angin.
Tatapan matanya tajam seperti kilatan petir di langit badai.
Akihara langsung membeku.
Gadis itu juga tidak bergerak.
Beberapa detik berlalu.
Sunyi.
Hanya suara angin malam yang terdengar.
Mata gadis itu menatap wajahnya dengan penuh ketidakpercayaan.
Akhirnya bibirnya bergerak.
Suaranya pelan.
Hampir seperti bisikan.
“…Akihara?”
Itu adalah Liora Raizen.
Grandmaster Petir.
Dan untuk pertama kalinya setelah dua tahun…
Masa lalu Akihara akhirnya mengetuk pintunya kembali.