Laras Kusuma Widjaya adalah definisi gadis sempurna: ningrat, cantik, dan sangat penurut. Hidupnya adalah deretan protokol kaku. Masalahnya hanya satu, Laras tidak tahu cara bilang "tidak"—bahkan saat Bara, cowok paling pembuat masalah di sekolah, mengajaknya melakukan hal paling gila dalam hidupnya.
Semua hal nyeleneh yang dilarang keras oleh keluarganya, justru menjadi pintu keluar bagi jiwa Laras yang selama ini terkekang. Namun, saat perasaan mulai tumbuh melampaui batas kasta, tembok tradisi menuntut ketaatan yang mustahil ia sanggupi. Di antara tuntutan keluarga dan debaran jantung yang tak masuk akal, Laras harus memilih: tetap menjadi putri mahkota yang sempurna, atau membiarkan gelar ningratnya hancur berantakan demi satu-satunya kebebasan yang pernah ia rasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penavana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terkuak
Pagi itu, sinar matahari menembus celah ventilasi rumah sederhana milik Bara. Suara bising knalpot dari jalanan mulai terdengar, tetapi suasana di dalam rumah terasa hampa. Biasanya, jam segini ia sudah bersiap memakai seragam abu-abu yang sering kali tidak rapi. Namun, hari ini adalah hari pertama masa skorsingnya.
Bara duduk di tepi ranjang, menatap seragam yang tersampir di kursi. Ia teringat pesan Laras kemarin. Senyum tipis sempat terlintas, namun segera hilang saat matanya beralih ke sebuah kotak kayu tua di kolong meja. Ia menarik kotak itu. Isinya bukan mainan, melainkan beberapa peralatan bengkel milik papanya yang tersisa dan sebuah buku catatan kecil dengan sampul yang sudah mengelupas.
Di halaman tengah buku itu, terdapat coretan tangan papanya mengenai daftar klien dan rekan kerja. Nama ‘Malik’ dilingkari dengan tinta merah yang sudah memudar—catatan terakhir Seno sebelum jatuh sakit, seolah ia ingin memberi tahu Bara sesuatu yang tak sempat terucap.
"Tiga hari bukan buat rebahan, Pa," bisik Bara parau.
Bara mengenakan kaus hitam polos dan jaket denim kebanggaannya. Ia memacu motor tua peninggalan sang papa menuju pinggiran kota, ke sebuah area yang dulu merupakan pusat bengkel otomotif. Ia terhenti di depan sebuah bengkel besar bernama 'Malik Jaya Motor'. Bengkel itu terlihat sangat sukses.
Bara menyipitkan mata. Di sana, di balik kaca kantor yang transparan, ia melihat sosok pria paruh baya dengan perut membuncit sedang tertawa sambil memegang cerutu. Itulah Malik.
Bara mengepalkan tangan di saku jaketnya. Perasaan ingin menerjang masuk dan menghantam wajah pria itu sangat kuat. Namun, ia teringat pesan papanya:
"Jangan biarkan dunia mengubah hatimu jadi batu."
Ia harus bermain cantik. Ia tidak bisa hanya mengandalkan otot kali ini.
⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️
Laras baru saja keluar dari perpustakaan saat melihat kerumunan siswa di depan papan pengumuman. Di tengah kerumunan itu, suara sengau yang sangat ia kenali terdengar lantang.
"Lo semua lihat, kan? Preman sekolah kesayangan kalian akhirnya tumbang juga! Skorsing itu cuma permulaan. Gue pastiin setelah tiga hari, dia enggak bakal punya kursi lagi di sekolah ini!" seru Edwin dengan plester yang masih menempel di dahi.
Edwin tertawa puas sembari memegang ponselnya.
"Ini bukti baru. Rekaman video amatir ponsel yang merusak motor Pak Kepsek. Ya, si Bara! Gue bakal serahin ini ke komite sekolah sore nanti," lanjut Edwin dengan nada penuh kemenangan.
Laras terhenti. Dadanya berdesir, namun ia percaya Bara tidak mungkin melakukannya.
"Rekaman apa, Edwin?" Suara itu lembut, tidak membentak, tetapi sanggup membuat seluruh koridor mendadak hening.
Kerumunan siswa langsung terbelah memberikan jalan. Laras melangkah maju dengan tenang, buku-buku dipeluknya dengan anggun, tetapi tatapannya sedingin es. Edwin menelan ludah; nyalinya mendadak merosot ke dasar sepatu.
"Eh... Laras. Ini, si Bara... dia merusak motor Pak Kepsek minggu lalu. Gue punya buktinya."
Laras berhenti tepat di depan Edwin.
"Boleh aku lihat sebentar?"
Laras segera menyadari ada yang aneh saat melihat video tersebut:
• Kejanggalan Resolusi: Bayangan 'Bara' di kamera terlihat sedikit lebih buram dibandingkan latar belakangnya.
• Postur Tubuh: Laras sangat hafal gerak-gerik Bara. Sosok di video itu berjalan dengan sedikit pincang, sementara Bara selalu berjalan tegak dan santai.
"Apa kamu sedang mencoba memfitnah Bara dengan memanipulasi video murahan ini?" tanya Laras.
Wajah Edwin memucat.
"Enggak, Ras... maksud gue... maksud gue..."
"Sekolah ini didirikan untuk mendidik, bukan untuk tempat menyebar fitnah," potong Laras.
"Aku akan bawa ini ke ruang komite sekarang. Bukan untuk melaporkan Bara, tetapi melaporkanmu atas tuduhan pencemaran nama baik dan pemalsuan informasi."
"Ras, jangan gitu dong! Gue cuma—"
"Jangan ganggu Bara lagi! Itu syarat dariku. Kamu paham maksudku, kan, Win?"
Edwin mengangguk pasrah. Ia berbalik dan lari tunggang langgang, diikuti gelak tawa siswa lain yang selama ini muak dengan tingkahnya.
⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️
Sementara itu, di depan bengkel Malik Jaya Motor, perhatian Bara teralih saat seorang mekanik keluar dengan wajah lesu sembari menenteng tas ransel usang.
"Woi, Di! Jangan balik lagi lo! Mekanik amatir kayak lo enggak pantes kerja di sini!" teriak seorang pria dari dalam bengkel.
Mekanik itu bernama Adi. Ia berjalan melewati motor Bara. Bara merasa familier dengan sosok itu, lalu menatapnya tajam. Saat Adi menoleh, wajahnya yang penuh kerutan dan noda oli permanen menatap Bara dengan nanar. Ia mematung, seolah melihat sosok Seno berdiri di depannya dalam versi yang lebih muda.
"Bara?" suara Adi berat.
"Ya Allah, sudah sebesar ini kamu, Le..."
Bara tertegun. Pria ini bukan lagi sosok yang dulu sering mengajarinya memegang obeng. Adi terlihat sangat kelelahan oleh hidup; rambutnya mulai memutih di bagian pelipis.
"Om Adi?" Bara mengenali suara serak itu.
Adi adalah mantan asisten kepercayaan papanya yang sering makan malam di rumah mereka.
Bara mengajak Adi mengobrol di tempat yang lebih santai. Warung di seberang bengkel.
"Gue terpaksa kerja di sana, Bar. Gue butuh uang buat makan. Lo masih ingat, kan, gue dulu makannya sering ikut keluarga lo?" Adi tersenyum tipis sembari menunduk malu.
"Tapi hari ini gue dipecat. Gue enggak tahan lagi. Malik... dia iblis."
"Maksudnya iblis apa, Om?" tanya Bara serius.
"Maafin gue, ya, Bar! Gue enggak bisa bantu bokap lo waktu itu. Gue terlalu pengecut buat buka suara. Sebenarnya..." Adi mulai menceritakan kejadian saat Malik menyabotase mobil itu.
"Tiap hari gue dihantui rasa bersalah," Adi tiba-tiba menangis.
Bara tidak meledak. Ia tidak berteriak atau membanting meja seperti yang biasa ia lakukan saat terlibat perkelahian di gerbang sekolah. Kali ini, reaksi Bara jauh lebih mengerikan: ia mendadak tenang, setenang permukaan air yang menyembunyikan arus mematikan di bawahnya.
Rahangnya mengatup rapat hingga urat-urat di lehernya menonjol. Genggamannya pada cangkir kopi di depannya begitu kuat, seolah benda porselen itu bisa hancur kapan saja. Matanya yang tajam kini benar-benar memerah, bukan karena air mata, melainkan karena amarah yang mencapai titik didih.
"Sabotase?" suara Bara keluar dengan nada rendah, nyaris seperti geraman.
Ia menarik napas panjang, mencoba meredam gemuruh di dadanya. Setiap kata dari Adi barusan seperti kepingan puzzle yang menghantam ingatannya—tentang penderitaan keluarganya setelah tragedi itu. Adi hanya bisa menunduk, bahunya terguncang hebat karena isak tangis.
Bara perlahan berdiri. Ia tidak lagi melihat Malik Jaya Motor sebagai sebuah bengkel sukses, melainkan sebuah monumen kejahatan yang dibangun di atas penderitaan papanya. Ia meraih jaket denimnya, mengenakannya dengan gerakan perlahan namun pasti.
"Om Adi, hapus air mata Om," ujar Bara dingin.
"Menangis nggak akan balikin Papa, dan nggak akan bikin Malik membusuk di penjara."
"Om punya bukti atau rekaman soal sabotase itu? Sekecil apa pun, kita harus punya buktinya," lanjut Bara.
"Kalau untuk bukti... sebenarnya gue ada, Bar," gumam Adi pelan, nyaris tertelan suara bising jalanan.
Bara tersentak. Jantungnya berdegup kencang secara tiba-tiba.
"Apa, Om? Bukti apa?"
Ijin mampir🙏