NovelToon NovelToon
ANAK RAHASIA SANG SUPERSTAR (REVISI)

ANAK RAHASIA SANG SUPERSTAR (REVISI)

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Single Mom / Anak Genius
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: HANA ADACHI

Bertemu kembali dengan Althan Alaric, mantan pacarnya yang sekarang menjadi aktor terkenal, bukanlah kabar baik bagi Vivi. Ia berusaha menjauh, tapi pria itu seolah sengaja mendekatinya untuk membalas dendam.

Vivi bisa memahami alasan Althan bersikap demikian. Namun masalahnya bukan itu. Jika Althan terus berada di dekatnya, Vivi takut pria itu akan mengetahui keberadaan Mikaila, anak yang dirahasiakan Vivi selama ini. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Sanggupkah Vivi terus menyembunyikan anak itu dari sang superstar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HANA ADACHI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 : Pecat saya, Pak

"Than, kamu mau sarapan apa hari ini? Biar aku pesenin,"

Untungnya kemunculan Roni dari kamarnya membuat Althan terperanjat dan buru buru menjauh dari Vivi. Vivi juga segera melangkah mendekati Roni, berusaha menjaga jarak sejauh mungkin dari Althan.

"Astaga, Althan! Kok kamu keluar nggak pake baju?!" Roni lagi lagi dibuat kaget dengan kelakuan Althan yang menurutnya kali ini sudah di luar nalar. Masalahnya, selama Roni bekerja dengan Althan, belum pernah ia melihat Althan bersikap sebebas ini, apalagi sampai cuma memakai handuk saat bertemu dengan orang lain. Wanita pula.

"Iya Bang, aku minta Mbak Vivi buat carikan baju yang cocok untukku. Sekalian ngetes," begitu Althan beralasan.

"Ya tapi kan, nggak perlu sampai segitunya kali Than.." Roni menoleh ke arah Vivi yang wajahnya terlihat pucat. "Maaf ya Mbak Vivi,"

"Nggak apa apa kok Mas," Vivi menggelengkan kepala. "Eng, kalau gitu, aku mulai kerja dulu. Kalau boleh tau, ruang wardrobe nya dimana ya?"

"Ada di sana Mbak, kamu lurus terus belok kiri," Roni mengarahkan.

"Oke Mas, makasih," Ucap Vivi sambil berjalan dengan terburu buru ke arah yang ditunjukkan Roni.

"Aneh, kenapa dia kelihatan ketakutan begitu, sih?" Roni menelengkan kepala heran, kemudian ia menoleh ke arah Althan. Pria itu sudah duduk menyilangkan kaki di atas sofa. "Kamu nggak ganggu dia kan, Than?"

"Memangnya aku bisa ganggu dia apa sih, bang?" jawab Althan tanpa merasa bersalah. "Dianya aja kali yang penakut,"

Roni menyipitkan mata curiga. Aneh, sejak kapan Althan jadi tidak sopan begini di depan orang lain? Tapi pikiran itu tak lama berada di kepalanya, karena kemudian ia terdistraksi dengan puntung rokok yang ada di atas meja.

"Loh, ini rokokku, siapa yang nyalain? Kamu, Than? Ngapain kamu? Mau ngerokok?"

"Ah.." Althan meraih puntung rokok dan mematikan apinya ke atas asbak. "Nggak kok, cuma pengen nyalain aja,"

"Hah? emangnya buat apa? aneh banget deh kamu,"

Althan hanya mengangkat bahu, enggan menjawab. "Oh ya, tadi abang nanya kan aku mau sarapan apa? pesenin bubur aja deh bang," katanya kemudian berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Bubur ayam yang di dekat taman itu? Oke, aku pesen tiga ya, sama buat Mbak Vivi sekalian," Roni pun bersiap memesan dengan ponselnya.

"Eh, kalau dia nggak suka bubur ayam," Ucap Althan spontan, yang membuat Roni langsung mendongakkan kepala. Althan sendiri pun kaget dengan kalimat yang keluar dari mulutnya sendiri.

"Kok, kamu tau kalau Mbak Vivi nggak suka bubur ayam?" tanya Roni curiga.

"Ah.. itu.. tadi dia yang bilang sendiri," Althan berusaha memberi alasan, menggaruk garuk tengkuknya sendiri karena bingung. "Eng, ya.. yaudah, kalau gitu aku ke kamar dulu ya bang, mau ganti baju. Entar kalau buburnya udah dateng, kabarin," katanya sembari berlari menuju kamarnya.

Roni yang ditinggalkan begitu saja oleh Althan hanya bisa terdiam bingung. Otaknya sibuk berpikir.

"Dalam waktu sesingkat itu mereka sudah membicarakan makanan yang disuka dan tidak suka? Wah, cepat juga ya perkembangannya," Roni mengangguk angguk, berusaha menyimpulkan sendiri.

Sementara itu di ruangan wardrobe, Vivi sedang sibuk memilah-milah pakaian milik Althan. Meskipun badannya banyak bergerak, tapi tidak begitu dengan otaknya. Ia masih kepikiran dengan kejadian tadi.

"Apa dia sengaja begitu?" Vivi bergumam sendiri. "Tapi untuk apa? Ah, apa karena dia ingin membalas dendam padaku?"

Vivi menghela napas panjang. Kalau dipikir pikir, sikap Althan saat bertemu kembali dengannya memang sangat berbeda dengan dulu. Althan yang dahulu Vivi kenal adalah seorang pria yang sopan, pemalu, dan selalu berkata dengan nada lembut. Sedangkan Althan yang belakangan ini ia temui sangat berkebalikan dengan hal itu.

"Apa waktu memang bisa merubah watak seseorang? Atau... akulah yang menyebabkan dia berubah?"

Vivi menundukkan kepala. Jujur, kalau di bilang menyesal, tentu dia sangat menyesal karena telah meninggalkan Althan dulu. Bukan penyesalan karena sekarang Althan jadi sukses dan dia tak bisa menikmatinya, tapi lebih ke rasa sesal kenapa dia dulu tidak berpisah baik baik saja dengan Althan. Kalau pisahnya baik baik, setidaknya Althan tidak akan terlalu tersakiti hatinya.

"Tapi, dalam keadaan seperti itu, siapa yang bisa berpisah baik baik?" Vivi lagi lagi menghela napas panjang. "Ah, sudahlah, buat apa berpikir tentang masa lalu," buru buru ia menggeleng, dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.

Setelah berada di ruang wardrobe selama setengah jam lebih, Vivi akhirnya keluar dengan membawa beberapa pakaian. Ia meletakkan pakaian pakaian itu di atas sofa ruang tengah dimana Althan dan Roni sedang duduk di sana.

"Saya sudah memilih beberapa model yang cocok untuk Pak Althan. Silahkan Pak Althan coba dulu,"

Althan menatap Vivi tajam, lalu melirik ke arah tumpukan pakaian itu dengan tatapan tidak berminat.

"Warna warna itu tidak cocok dengan personal color ku," katanya kemudian.

"Ha?" Vivi mengerutkan dahi.

Althan menutup majalah fashion yang sedang ia baca, lalu melemparnya begitu saja ke atas meja. "Mungkin kamu belum terbiasa karena masih baru, jadi saya maklumi. Tapi, sebagai seorang personal stylish, bukankah langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah mengecek personal color ku dulu? Jadi seharusnya kamu tau, warna apa yang cocok dan tidak di tone kulit ku,"

"Ah..." Vivi mengangguk angguk, sembari menggigit bibir. "Saya mengerti Pak. Tapi saya tidak terlalu ahli tentang warna warna itu. Jadi saya hanya bisa mengira ngira saja, mana model dan warna yang cocok untuk bapak,"

"Yah, kalau begitu, saya bisa bilang kamu kurang profesional, jadi buat apa kamu jadi personal stylish saya?"

Mohon maaf nih, tapi bukannya yang seenak jidat nyuruh aku jadi personal stylish itu kamu sendiri?!Vivi memejamkan mata, berusaha menahan emosi yang sedari tadi ia pendam. Sabar Vivi, sabar.. nama Farida salon dipertaruhkan.. Eh, tapi tunggu, bukankah ini sebuah kesempatan untuk aku bisa lepas dari semua ini?

Vivi tiba-tiba merasa mendapatkan ide cemerlang. Jadi ia berkata dengan penuh senyuman kepada Althan.

"Saya benar-benar minta maaf, Pak. Saya memang tidak cakap untuk menjadi seorang personal stylish bapak. Kalau gitu, nggak papa kok pak kalau saya dipecat aja,"

Ucapan Vivi itu membuat mata Roni dan Althan langsung terbelalak saking kagetnya.

Astaga, mana ada orang yang minta dipecat saat baru hari pertama bekerja? apa orang Ini gila?! Roni terheran-heran dibuatnya. Selama ini yang ia tahu, Orang-orang memohon mohon pada Althan untuk bisa bekerja padanya, tapi nyatanya gadis ini malah kebalikannya.

Apa? Minta dipecat? Enak saja! Lain halnya dengan Althan yang malah merasa tidak Terima dengan ucapan Vivi barusan. Karena menurutnya kalau Vivi sampai ia pecat, bagaimana ia bisa membalas dendam sakit hatinya dulu?

"Loh, ya nggak bisa begitu dong," Althan langsung menatap Vivi tajam. "Saya tau kalau kamu memang salah, tapi saya bukan orang kejam yang akan memecat orang di hari pertama bekerja,"

Althan lantas berdiri dan menghampiri Vivi. "Saya akan kasih kamu kesempatan sekali lagi. Saya harap kamu bisa memperbaiki kesalahan hari ini, oke?" katanya sambil menepuk pundak Vivi sok bijak.

Vivi sontak mendengus kecil. Nggak usah diberi kesempatan please, biarkan aku pergi dari sini!

Huh, mau pergi dari sini! Jangan harap!

1
Muft Smoker
kayakny ny ad yg gx berees niih ,,
semoga althan segera tau kebenaran ny ,, klo vivi ninggalin dy krn Selina ,,
mungkin vivi di bawah ancaman Selina ,,

next kak
Shee_👚
andai kan roni tau kenapa mereka berpisah juga bakalan iba, selina itu emang harus di kasih pelajaran. kapan ya vivi ngaku kalau dia pergi karena atas perintah Selina
Shee_👚
bukan mantan, lebih tepatnya di paksa jadi mantan😏
kalau kamu g membuat mereka berpisah juga g bakalan mereka pisah😡
Muft Smoker: sabar kak ,, jgn emosii ,,
yuuuk mending pecat aj Selina jd kodok ,, jggn jd manusia lgiii ,,
jd org koq licik ,, 😒😒😒😒😒
total 1 replies
Shee_👚
sumber uang selina dari hasil kerja keras althan. dan hidup althan di buat menderita karena ulah selina😏
aliyya
ap yg udh selina katakan ke roni, tentang althan dan vivi sampai roni ky marah bgt bgtu ,,,,
Shee_👚: yang pasti mengatakan yang tidak-tidak kak, intinya dia jelekin vivi
total 1 replies
Muft Smoker
jgn2 yg nyuruh vivi ninggalin althan tu Selina gemezzz ,,
/Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle/
Shee_👚
tes DNA althan biar vivi g bisa ngelak lagi.
sebenarnya vivi juga pengin ngaku kalau Mikaila anak althan, tapi dia takut kejadian masa lalu terulang kembali.
harusnya Vivi terus terang kenapa dia dulu ninggalin althan, biar althan kasih pelajaran sama wanita serakah itu kalau kebahagiaan althan sama Vivi g bakalan menghambat karirnya.
Muhammad lutfi Lutfi
Bagus althan Pepet terus Vivi biar ngaku atau langsung tes DNA diam diam.
Shee_👚
selina orang serakah dan melakukan segala hal hanya demi apa yang dia mau tercapai😏
Shee_👚
astag maen gebuk aja al, sabar dan tanya dulu kenapa sih😂
Shee_👚
dan jawabnya karena althan aja bingung kenapa g melakukan itu🤭
Shee_👚
😭😭😭😭😭😭😭
yang bukan dari harga, tapi dari nilainya siapa yang memberi dan kenanganny😭😭😭😭
Shee_👚
ko sedih ya ngebayangin perjuangan mereka dulu saar kerja di resto, makan seadanya tapi bahagia. sekarang punya segalanya tapi menderita 😭😭😭
Shee_👚
emang betul, karena cinta itu masih sama seperti dulu
Shee_👚
😭😭😭😭😭
sabar vi semua pasti akan terungkap tanpa harus kamu bicara
Shee_👚
andai althan atau di balik vivi melakukan itu semua, althan pasti menyesal dan bakalan marah benget sama agensinya. dia pasti memilih meninggalkan segalanya dari pada harus kehilangan vivi dulu. nyesek nya jadi mereka 😭😭😭
Shee_👚
apa yang kamu pikirkan itu betul semua althan, tpi vivi juga punya rahasia sendiri kenapa g mau mengucapkannya. Vivi takut karir kamu hancur dengan sekejap
Shee_👚
sengaja diem-diem eh malah ketahuan, sia-sia dah gelap gelapan tau gitu tadi nyalain lampu😂
Shee_👚
cantik sekali gelangnya, walau keliatan sederhana tapi bagus
Shee_👚
dah nikmatin aja drama rumah tangga secara live🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!