Dunia mengenalnya sebagai bintang paling bersinar. Namun, hanya dia yang tahu betapa redupnya pria itu di balik layar.
Elvano Alvendra punya segalanya: kekuasaan, ketenaran, dan wajah yang dipuja jutaan orang. Tapi bagi Selena Nayumi, Elvano hanyalah pasien keras kepala yang lupa cara mengurus diri sendiri.
Sebuah perjodohan kolot dari sang nenek memaksa mereka terikat dalam janji suci yang tersembunyi. Bagi Elvano, Selena adalah "obat" yang tidak pernah ia duga akan ia butuhkan. Bagi Selena, Elvano adalah teka-teki misterius yang perlahan mulai ia cintai.
Di antara jadwal konser yang padat, kilatan kamera media, dan kontrak kerja jutaan dolar, ada satu rahasia besar yang mereka simpan rapat di balik pintu rumah: Status mereka.
Dapatkah cinta tumbuh di tengah kepura-puraan? Dan sanggupkah Selena bertahan menjadi rahasia terbesar sang bintang saat dunia menuntut Elvano untuk tetap "milik publik"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Jakarta sore itu tampak begitu sibuk, namun gedung Zenithra Entertainment berdiri dengan keanggunan yang mengintimidasi di pusat distrik bisnis. Selena Nayumi memarkirkan mobilnya di area tamu, jemarinya menggenggam erat tas bekal berisi menu sehat yang khusus ia siapkan untuk Elvano.
Begitu melangkah masuk melewati pintu kaca otomatis yang tinggi, Selena sejenak tertahan oleh kemegahan lobi utama. Langit-langitnya yang tinggi dengan aksen lampu gantung kristal minimalis menciptakan kesan dingin namun sangat berkelas. Puluhan orang dengan pakaian modis tampak berlalu-lalang—mulai dari staf agensi yang sibuk dengan tablet mereka, hingga para trainee yang terlihat gugup menunggu audisi.
Ini adalah kantor pusat milik pria yang akan menjadi suaminya. Elvano Alvendra, sosok yang bukan hanya sekadar wajah tampan di papan reklame, melainkan pemilik dari kekaisaran hiburan yang sedang ia pijak saat ini. Selena menarik napas panjang, berusaha menetralkan rasa kagumnya. Ia harus segera menuju lantai 25, lantai eksklusif tempat ruangan sang CEO berada.
Selena berjalan menuju jajaran lift dengan langkah yang sedikit terburu-buru, matanya sesekali melirik jam tangan. Karena terlalu fokus mencari akses lift VIP yang diarahkan Darian melalui pesan singkat, ia tidak menyadari ada seseorang yang melangkah cepat dari arah berlawanan.
Bruk!
Tas bekal di tangan Selena hampir saja terlepas jika ia tidak sigap mendekapnya.
"Maaf, saya tidak sengaja," ucap Selena refleks sambil menundukkan kepala.
Pria di hadapannya juga menggumamkan kata maaf yang hampir bersamaan. Namun, ketika Selena mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang ia tabrak, dunia seolah berhenti berputar. Udara di lobi yang tadinya terasa sejuk mendadak berubah menjadi menyesakkan.
Sorot mata pria itu membeku. Pupil matanya melebar, menatap Selena dengan keterkejutan yang nyata.
"Selena?" suara itu keluar seperti bisikan yang penuh beban masa lalu.
Jantung Selena berdegup kencang, namun bukan karena getaran cinta. Itu adalah sisa-sisa luka yang kembali berdenyut. Di depannya berdiri Max. Pria yang dulu menjadi dunianya saat masih mengenakan seragam putih abu-abu. Pria yang dulu berjanji akan menemaninya di bangku kuliah kedokteran, namun justru memilih pergi demi mengejar gemerlap panggung dan meninggalkan Selena dalam kehancuran.
Selena tidak menyangka, setelah sekian tahun ia berhasil mengubur memori itu, takdir mempertemukan mereka di tempat yang paling tidak terduga: agensi milik Elvano.
"Lama tidak bertemu, Max," jawab Selena. Suaranya terdengar sangat tenang, hampir terlalu dingin untuk seseorang yang pernah berbagi hati dengan pria di depannya.
Max tampak ingin melangkah maju, tangannya sedikit terangkat seolah ingin menyentuh lengan Selena.
"Kamu... apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu sedang mencoba masuk ke dunia hiburan? Tunggu, aku dengar kamu sekarang sudah menjadi dokter sukses."
Selena menatap Max dengan tatapan datar, seolah pria itu hanyalah orang asing yang sedang menanyakan alamat. Aura approachable yang biasanya ia miliki sebagai Dr. Sunshine menghilang sepenuhnya, digantikan oleh dinding es yang kokoh.
"Aku punya urusan pribadi. Permisi," ucap Selena pendek.
Tanpa memberikan kesempatan bagi Max untuk bicara lebih lanjut, Selena melangkah pergi dengan anggun. Ia tidak ingin berlama-lama menghirup udara yang sama dengan pria yang pernah mengkhianatinya.
"Selena! Tunggu!" seru Max.
Pria itu mencoba mengejar, namun langkahnya terhenti saat pintu lift VIP tertutup rapat di depan wajahnya. Max mematung di depan pintu lift yang berlapis krom itu, menatap pantulan dirinya sendiri dengan pikiran yang berkecamuk.
"Untuk apa dia ke lantai atas?" gumam Max pada dirinya sendiri.
Matanya masih menatap angka lantai yang terus bergerak naik menuju lantai 25. Max menyugar rambutnya, ada rasa penasaran dan ketertarikan yang kembali bangkit di hatinya. Selena yang sekarang terlihat jauh lebih dewasa, cantik dengan aura yang sangat mahal—sangat berbeda dengan gadis polos yang dulu ia tinggalkan.
"Apa dia ingin bergabung dengan Zenithra? Atau... dia punya hubungan dengan salah satu orang penting di sini?" Max bergumam lirih, tangannya mengepal.
Sementara itu, di dalam lift, Selena bersandar pada dinding lift yang dingin. Tangannya masih sedikit gemetar. Ia mencoba mengatur napasnya, tidak ingin Elvano melihatnya dalam kondisi kacau. Namun, yang tidak Selena ketahui adalah, di lantai 25, Elvano baru saja mematikan layar monitor CCTV yang memperlihatkan dengan jelas seluruh kejadian di lobi tadi.
Pintu lift berdenting terbuka. Pintu ruangan Elvano terbuka pelan, Selena masuk dengan membawa sebuah tas jinjing berisi beberapa kotak makan kayu yang elegan. Ia sempat terpaku sejenak melihat kemewahan ruangan itu—dinding kaca besar yang memperlihatkan lanskap Jakarta dari ketinggian, sofa kulit asli, dan jajaran piala penghargaan yang berderet rapi.
Namun, perhatian Selena teralihkan ketika ia melihat pintu kamar mandi pribadi Elvano terbuka. Elvano keluar hanya dengan menggunakan jubah mandi berwarna putih yang diikat longgar di pinggangnya. Rambutnya masih basah, dan sisa uap air masih menempel di kulit lehernya.
Selena mendadak merasa udara di ruangan itu menjadi sangat tipis. Ia segera memalingkan wajah, menata kotak makan di meja kopi dengan gerakan yang sedikit canggung.
"Aku... aku sudah membawakan menu salmon dengan saus pesto. Ini bagus untuk memulihkan energimu setelah latihan."
Elvano berjalan mendekat, aroma sabun maskulin yang segar mulai memenuhi indra penciuman Selena. Ia duduk di sofa, tepat di samping Selena, memperhatikan setiap gerakan wanita itu.
"Terima kasih, Selena," ucap Elvano pelan, suaranya terdengar lebih hangat daripada biasanya.
Mereka makan dalam keheningan yang nyaman, sesekali Selena menjelaskan dengan antusias kandungan nutrisi dari makanan yang ia masak, mulai dari asam lemak esensial untuk fungsi otak hingga antioksidan untuk meredam stres.
Elvano mendengarkan dengan saksama, sesekali menyunggingkan senyum tipis. Ia selalu suka dengan menu buatan Selena. Rasanya bukan hanya memanjakan lidah, tapi seolah memberi energi baru yang tidak pernah ia dapatkan dari katering mewah mana pun.
Namun, di balik kunyahannya yang tenang, pikiran Elvano sebenarnya sedang berkelana. Bayangan di monitor CCTV lobi tadi terus terngiang di kepalanya. Pertemuan Selena dengan Max. Pria itu tahu siapa Max—seorang aktor hebat dan cukup ambisius di agensinya sendiri.
Elvano ingin bertanya. Ia ingin tahu apa yang dirasakan Selena saat menatap mata pria dari masa lalunya itu. Namun, ia menahan diri. Sebagai pria yang terbiasa memegang kendali, kali ini ia merasa ragu. Ia takut menyinggung privasi Selena, atau lebih buruk lagi, ia takut mendengar jawaban yang tidak ingin ia dengar.
Di CCTV tadi, Selena tampak sangat tenang, bahkan terkesan dingin. Tidak ada riak emosi yang berlebihan, dan itu justru membuat Elvano semakin penasaran.
“Apa tadi saat masuk ke kantor ada masalah?” tanya Elvano akhirnya, memecah kesunyian dengan nada suara yang terkontrol, seolah itu hanya pertanyaan basa-basi.
Selena terhenti sejenak, sendoknya menggantung di udara. Ia tampak berpikir sebelum menggeleng pelan. “Tidak ada masalah apapun. Justru aku yang sedikit khawatir kalau orang-orang di lobi tahu aku datang dan langsung naik ke ruanganmu tanpa prosedur resmi,” jawabnya jujur.
Elvano tersenyum kecil, sebuah ekspresi langka yang hanya muncul saat ia benar-benar merasa rileks. “Tidak akan ada yang berani menggosipkan CEO mereka di gedung ini. Jika ada yang lancang bicara sembarangan, mereka tahu risikonya. Siap-siap saja surat pemecatan ada di meja mereka besok pagi.”
Selena tertawa kecil, suara tawanya terdengar renyah di telinga Elvano. “Wah, ternyata Tuan Bintang ini cukup kejam juga ya sebagai bos?” goda Selena dengan mata berbinar jenaka.
“Tentu saja harus tegas. Kalau tidak, perusahaan ini tidak akan sampai di puncak,” sahut Elvano santai.
Ia kemudian menatap Selena lamat-lamat. “Apa kamu ingin mencoba menjadi anak buahku? Masuk ke agensi dan menjadi artis? Pengikutmu di media sosial sudah jutaan, potensimu sangat besar jika dipoles sedikit lagi.”
Selena langsung buru-buru menepis tawaran itu dengan gerakan tangan yang heboh. “Oh, tidak, terima kasih! Sama sekali tidak ada niat untuk masuk ke dunia penuh lampu sorot seperti ini. Aku sudah merasa tenang dan nyaman dengan kehidupan yang sekarang. Menjadi dokter gizi di balik layar itu jauh lebih menyenangkan.”
Elvano hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, mengerti. Ia sudah mulai paham jika Selena adalah tipe yang tidak suka menjadi pusat perhatian jika bukan untuk urusan edukasi kesehatan.
Hubungan mereka sore itu mengalir begitu saja, tanpa ada beban paksaan atau kaku karena status perjodohan. Selena yang pintar membawa diri perlahan mulai meruntuhkan tembok dingin yang dibangun Elvano selama bertahun-tahun. Sisi hangat dan ceria Dr. Sunshine itu ternyata adalah obat yang paling dibutuhkan oleh sang penguasa industri hiburan ini.
Selesai makan, Selena membereskan wadah-wadahnya. Elvano membantunya dengan gerakan yang sangat natural, sesuatu yang bahkan Darian pun tidak akan percaya jika melihatnya.
***