Pernikahan memang idealnya lahir dari persiapan, cinta, dan harapan yang matang. Tapi hidup kadang berjalan di luar rencana bahkan lewat jalan yang tak pernah kita bayangkan sama sekali.
Ketika pernikahan terjadi secara mendadak karena sebuah insiden, rasa bahagia dan sakral itu bercampur dengan kaget, takut, bahkan kebingungan.
Apakah pernikahan dadakan bisa membawa kebahagiaan??
Apakah pernikahan tanpa cinta dan saling mengenal lakan berjalan mudah?
yuk ikuti ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AA 9
Selepas shalat magrib, para jamaah dan tamu undangan tidak beranjak sedikitpun. Semua nampak masih betah mengikuti serangkaian acara yang di pimpin oleh Gus Malik.
Hingga tiba acara inti yang sejak tadi mereka nanti.Para santri dan tamu mulai mundur dengan pelan. Menyisakan area depan yang mulai di siapkan meja panjang berbalut kain putih.
Gus Ilham membantu Abah Kyai duduk di tempat khusus yang sudah di sediakan panitia.
Di depan meja duduk berhadapan Al dan juga Arka bersama pihak dari KUA.Sedangkan di sisinya ada Kyai Nur sebagai saksi dari pihak Alyana serta Fadlan sebagai saksi dari pihak Arka.
Al dan Arka nampak lebih banyak diam dan hanya sesekali tersenyum.Jika Arka diam karena gugup, lain halnya dengan Al yang masih belum siap melepas sang anak satu-satu nya itu.
"Sudah siap Gus Al? " Tanya penghulu.
Al menghembuskan napasnya berat, ia mengangguk lemah.
"Baik kalau begitu kita mulai saja.Mohon izin Abah Kyai." Ucapnya kembali kemudian menoleh ke arah Abah Kyai.
Suasana berubah hening,mesjid yang biasanya terasa hangat namun kali ini terasa begitu dingin bagi Arka.
Bahkan Arka sama sekali tidak memikirkan bagaimana pernikahannya ini kedepannya.Justru yang ada di pikirannya saat ini adalah, alasan apa yang harus ia katakan pada seseorang nanti.Semua rencana yang sudah ia susun harus hancur hanya karena hal yang tidak di sengaja.
Memikirkan itu rasanya kepala ingin pecah.Namun sekarang,untuk mundur pun dirinya tidak berani.Apalagi melihat calon mertuanya serta laki-laki yang tadi memukulnya, terus menatap pada dirinya seolah ingin memakannya hidup-hidup membuat bulu kuduk nya mendadak berdiri.
Bukan hanya keduanya, namun juga sang Kakek yang tak lain Buya Akhtar juga terus menatapnya seolah memberikan peringatan agar Arka yang berbuat macam-macam.
Tangan Arka mendadak dingin saat menjabat tangan Al yang juga menggenggamnya dengan begitu erat.
Kedua matanya tak sanggup menatap sepasang bola mata yang begitu tajam melihatnya.
"Bismillahirrahmanirrahim, ananda Arka Putra Maheswari bin Altheza Maheswari saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Alyana Zahra Abraham Navares Al Ghiffari bin Alfath Khalid Abraham Al Ghiffari dengan maskawin satu set perhiasan berlian, sebuah mobil serta 5% saham Akhtar Group dan 5% saham Maheswari Group dibayar Tunai."
Arka terpaku sejenak mendengar rangkaian mahar yang di siapkan sang ayah, namun buru-buru ia menyadarkan diri.
"Saya Terima nikah dan kawinnya,Alyana Zahra Abraham Navares Al Ghiffari bin Alfath Khalid Abraham Al Ghiffari dengan mas kawin tersebut TUNAI."
"SAH!!"
Al melepas genggaman tangan Arka,hatinya benar-benar begetar hebat.Rasanya ia ingin berlari memeluk sang putri.Al mengangkat wajahnya menatap langit-langit, menahan air matanya agar tidak keluar.
Arka sendiri masih terdiam, ia masih mencerna semuanya.Kini dirinya sudah sah menjadi seorang suami, ada seseorang yang kini menjadi tanggung jawabnya.
*Gila.. bokap dan kakek gak salah ngasih mahar? Anj*r mereka ngasih saham perusahaan gampang banget,sedangkan sama gue susahnya minta ampun. Apa sih keunggulan tuh cewe sampe Ayah dan Kakek sampe segitunya*.
Arka hanya bisa membatin,ia kenal sang kakek yang begitu tegas, disiplin dan tidak mudah di rayu.Namun kali ini kenapa kakek begitu baik,mau ngasih saham cuma-cuma buat cewe yang baru di kenal.
Di aula,Alyana beberapa kali mengusap pelan ujung matanya.Saat kata SAH terucap, dunia Alyana seolah berhenti.
Ia tersenyum pada sang bunda yang sejak tadi menangis."Ibun.." Bisiknya.
"Mbak Aya.." Lirih Alisya, ia langsung memeluk erat sang anak. "Belajar ikhlas ya nak,Ibun yakin kamu kuat..kamu mampu.. dan kamu bisa jadi seorang istri.Belajar pelan-pelan,jalani dengan ikhlas InsyaAllah semua akan terasa lebih mudah."
Alyana hanya bisa mengangguk,lidahnya kelu tak mampu lagi begucap apapun.
Tak lama rombongan para laki-laki mulai memasuki aula.Arka yang di apit Al dan Altheza terpaku sejenak saat melihat seseorang yang memakai baju pengantin berdiri di hadapannya. Wajahnya tertutup niqab namun kecantikannya justru semakin bertambah.
Buru-buru Arka mengalihkan pandangannya namun tak lama tubuhnya membeku saat tangannya ada yang menarik dan kemudian satu kecupan mendarat di tangannya.
Hangat..walaupun terhalang kain cadar namun anehnya rasanya terasa nyata.
"MasyaAllah cantik banget Ar ponakan Uncle.." Goda Uncle Fathir.
"Iya ih, gak cocok banget Al sama kamu yang gantengnya standar." Aunty Fani ikut menggoda.
"Ya gak apa-apa lah Fan, setidaknya memperbaiki keturunan." Lanjut Uncle Fathir.
"Tapi emang cantik banget sih istri kamu, sumpah aura nya bercahaya banget." Kata Aunty Farsya menimpali.
Arka hanya mendelik tak suka,secantik apa sih istrinya sampai Uncle dan Aunty nya sibuk memuji.
Tunggu..
Istri???
Arka menganggap Alyana istrinya? Apa ia sudah mulai menerimanya?
Arka menghembuskan nafasnya berat.Rasanya masih seperti mimpi. Di usianya yang baru dua puluh satu tahun, dirinya sudah berstatus suami orang.Bahkan dirinya yang masih berstatus mahasiswa di salah satu Universitas besar di kotanya.
Tak ada pesta besar, hanya pengajian biasa dan makan-makan bersama sebagai ucap syukur kedua belah pihak.
"Selamat ya Ar, sekarang kamu sudah menjadi seorang suami.Papa mohon jadilah suami yang bertanggung jawab." Ucap Fadlan saat Arka melakukan sungkeman pada orangtua dan keluarga.
Waktu tak terasa semakin larut, para santri dan tamu sudah mulai meninggalkan aula.Kini hanya tinggal kedua pihak keluarga.
Untuk malam ini semua keluarga Arka akan menginap di pondok.Abi Ilham sudah menyiapkan tempat untuk mereka bermalam. Begitupun keluarga Alyana yang lain, mereka ikut menginap di kediaman Abah Kyai dan Ustadz Yusuf.
Kini tinggal lah sepasang pengantin baru yang nampak terlihat canggung.Beberapa menit berada di ruangan yang sama dan hanya berdua membuat keduanya terlihat bingung harus bagaimana.
Terlebih Alyana yang baru pertama kali berduaan dengan seorang laki-laki selain ayah dan Baba nya.
Alyana sebenarnya sudah merasa lelah dan ingin beristirahat, namun dirinya tak berani beranjak sedikitpun dari duduknya.
Hingga setengah jam kemudian Alyan memberanikan diri untuk berdiri.Ia langsung berjalan ke arah lemari untuk mengambil handuk dan juga pakaiannya.
"Saya izin ke kamar mandi duluan,badan Aya sudah tidak nyaman." Pamitnya pada Arka.
Arka sendiri hanya terdiam,sejak tadi ia terus memperhatikan Alyana.Gadis kecil yang kini sudah menjadi istrinya.
Arka menghembuskan napasnya kasar.Ia merebahkan tubuhnya di sofa.Badannya terasa lelah namun tidak seberapa di banding lelahnya pikiran dan juga hatinya.
Ia mengeluarkan hp nya yang sejak pagi belum ia cek.Beberapa pesan masuk,ia hanya membuka beberapa pesan yang di anggapnya penting.Hingga tiba pada sebuah pesan dari seseorang yang membuatnya membeku.
Gue harus gimana? Kenapa jadi kacau gini sih, ah elah gimana cara jelasinnya lagi..Udah kebayang gimana ngamuknya dia kalau gue kasih tau yang sebenarnya.
Arka mengacak-acak rambutnya, pikirannya sangat kacau sampai-sampai ia tak sadar jika sejak tadi Alyana sudah kembali dan duduk di atas kasur sambil menunduk.
"Kalau ingin ke kamar mandi silahkan, sudah Aya siapkan handuk bersihnya di dalam." Ucap Alyana tiba-tiba membuat Arka tersentak kaget.
"Hm.." jawab Arka singkat, kemudian ia berdiri dan siap-siap untuk ke kamar mandi. Namun langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Alyana.
"Aya tidur duluan, kalau mau tidur di kasur ini silahkan. Sudah Alya siapkan guling untuk menghalangi, kalau mau di sofa juga silahkan.Bantal dan selimut sudah Aya siapkan.Assalamu'alaikum."
Kalimat yang keluar dari mulut Alyana membuat Arka terkejut.Tidak menyangka gadis kecil itu begitu berani membuat keputusan duluan.Padahal sejak tadi ia sudah menyiapkan rencana untuk tidur malam ini seperti apa. Namun Alya dengan tegas mengambil komando duluan membuat Arka hanya bisa menghelas napas kasar mendengarnya
...🌻🌻🌻...
Apa yg dilakukan Arka setelah menikah,bahkan dia malu kalau bertemu teman teman nya bahwa dia sdh menikah.Laki kaki model gini buang aja' ditempat sampah gak berharga.
semangat
semoga mereka bisa menyelesaikan masalah dengan baik.