NovelToon NovelToon
Wanita Miskin Pengganti Nyonya Mahesa

Wanita Miskin Pengganti Nyonya Mahesa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Duda
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Quin

Nadira, gadis miskin dari desa, datang ke kota demi biaya pengobatan ibunya. Hidupnya berubah ketika ia menemukan seorang wanita tewas di pinggir jalan dan tanpa sengaja menjadi tersangka pembunuhan karena DNA-nya ditemukan di tubuh korban.

Korban itu adalah Nayla Adiprana, istri Mahesa Adiprana, pengusaha kaya yang dipenuhi duka dan amarah. Sebagai hukuman, Mahesa memaksa Nadira menikah dengannya dan hidup menderita di rumahnya.

Namun seiring waktu, Mahesa mulai melihat ketulusan Nadira yang merawat putranya dengan penuh kasih. Saat benih cinta tumbuh, kebenaran mengejutkan terungkap.

Akankah Nadira memaafkannya atau justru Nadira akan menjauh darinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 8

Di gudang, Nadira meringkuk di sudut ruangan, tatapannya mengarah pada celah kecil yang memperlihatkan cahaya dari sana.

Nadira berkeringat, tubuhnya panas dan luka di punggungnya mulai berdenyut perih.

Nadira meneteskan air mata, rambutnya berantakan dan keadaannya sangat kacau.

"Aku hanya mencoba membantu, aku bukan orang jahat..." lirihnya dengan pilu.

Tak ada yang datang menolongnya, ia hanya sendirian di dalam ruangan gelap itu. Perasaannya hancur bersamaan dengan harapannya yang sudah tidak ada.

Nadira memejamkan mata sambil memeluk lututnya. "Ibu aku takut gelap ..."

***

Di ruang kerja, Mahesa sedang memeriksa CCTV. Kenyataan yang ia lihat membuatnya terdiam tak percaya. Pengasuh Keano telah melarikan diri, meninggalkan Keano sendirian di kamarnya.

Mahesa sangat murka, ia memukul meja kerjanya hingga menghasilkan suara dentuman yang sangat keras. "Beraninya pelayan itu meninggalkan putraku sendirian!."

Di detik berikutnya, Mahesa menangkap sosok Nadira yang menggendong bayinya, Nadira terlihat khawatir dan mencoba menenangkan Keano.

Seketika perasaan Mahesa langsung campur aduk. Ia juga melihat sendiri bagaimana Nadira dengan hangat menghibur putranya.

Mahesa mengusap wajahnya dengan kasar.

Tiba tiba pintu ruangan itu di ketuk dari luar, Mahesa mempersilahkan seseorang di luar sana untuk masuk.

Bi Siti datang dengan sesuatu di tangannya.

" Tuan, saat kami memeriksa kamar pengasuh tuan muda. Kami menemukan surat ini." ucap Bi Siti takut takut.

" Berikan padaku!." titah Mahesa.

Bi Siti menyerahkan surat ditangannya pada Mahesa, kemudian ia langsung pergi dari ruangan itu.

Mahesa membuka kertas yang terlipat itu, ia membacanya dengan tatapan marah.

"Maaf tuan Mahesa, saya tidak sanggup lagi menjadi pengasuh tuan muda. Setiap hari tuan muda menangis, saya tidak bisa menenangkannya. Saya sudah mengajukan diri untuk keluar dari pekerjaan saya pada nyonya besar tapi saya tidak di izinkan keluar. Jujur tuan, saya sangat takut saat memilih kabur. Tapi saya benar benar tidak sanggup lagi mengasuh tuan muda. Dia menangis setiap hari. Saya mohon jangan mencari saya untuk di hukum tuan, saya tahu saya salah tapi saya mohon jangan hukum saya. Saya harus merawat suami saya yang saat ini sedang sakit. ~pengasuh~ "

Mahesa terdiam membaca surat itu, ternyata pengasuh itu kewalahan menjaga Keano.

Mahesa juga menyadari perubahan Keano, semenjak kematian Nayla Keano jadi sering menangis. Bahkan dia sendiri tidak bisa menenangkan putranya. Mahesa kembali memutar CCTV saat Nadira menggendong Keano. Putranya langsung berhenti menangis dan tersenyum ke arah Nadira. kemudian Mahesa memutar video saat pengasuh Keano menggendongnya, Keano tidak berhenti menangis walaupun sudah di hibur dengan berbagai macam cara. Sementara Nadira hanya menggendongnya saja Keano langsung tenang.

Mahesa bersandar pada kursinya sambil memejamkan mata.

Tiba tiba ponselnya berdering.

Dion menelpon

Mahesa mengangkatnya, matanya masih terpejam. "Ada apa Dion?."

"Tuan, kami telah menemukan fakta baru. Kami sudah pergi ke alamat yang tertulis pada kertas di dalam tas Nadira, alamat itu menuju sebuah warung makan. Kami bertanya pada pemilik warung, katanya memang benar Nadira ke sana untuk menanyakan pekerjaan, tapi karena lowongan pekerjaan sudah penuh jadi dia langsung pergi dari tempat itu. Dan satu lagi tuan, kami telah menemukan tas nyonya Nayla tergeletak tak jauh dari tempatnya di temukan. Saat ini kepolisian sedang melacak ponsel nyonya Nayla untuk melihat aktivitasnya sebelum dia di temukan."

Deg

Mahesa mematung, ia langsung bergegas ke kantor polisi untuk melihat perkembangan informasi mengenai kematian istrinya. Dan Nadira yang mencari pekerjaan di daerah sana juga tak luput dari perhatiannya.

" Aku akan segera ke kantor polisi!." ujar Mahesa.

Ia bergegas, walaupun hari sudah sore ia tetap pergi.

Sebelum pergi, Mahesa sempat melirik ke arah gudang tempat Nadira di sekap, tapi ia langsung mengalihkan pandangannya dari sana.

Mahesa menaiki mobil, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

***

Di kantor polisi, Mahesa langsung menghampiri Dion di sebuah ruangan.

" Apa ada informasi baru tentang kasus ini?." tanya Mahesa penasaran.

Dion menghampirinya. " Tuan, polisi baru saja menemukan hal janggal dari ponsel nyonya Nayla. polisi melacak perjalanan nyonya Nayla sebelum ia di temukan. Nyonya Nayla sempat singgah di sebuah bar, baru kemudian ia pergi ke tempat lokasinya di temukan."

" Nayla memang sering ke bar bersama teman temannya, tapi aku tidak mengenal teman temannya." ujar Mahesa.

" Ini akan sulit tuan, apa anda bisa membuka sandi ponsel nyonya Nayla?." tanya Dion.

Mahesa mematung, ia sama sekali tak mengetahui password ponsel istrinya sendiri. Mahesa menggeleng pelan.

" Saat ini kami hanya bisa melacak perjalanan nyonya Nayla, sementara isi ponselnya belum bisa di lacak. Kami harap tuan bisa bersabar untuk mendapatkan informasi lebih lanjut." Ujar salah seorang polisi yang sedang mengotak atik laptop.

Mahesa duduk dengan lemas.

" Apa ponsel Nadira bisa di lacak?." tanya Mahesa penasaran.

Dion dan pak polisi saling pandang, " Sebenarnya kami sudah melacak ponsel Nadira. Nadira dan nyonya Nayla berjalan dengan arah yang berlawanan."

Deg

" Kalau begitu... Apa Nadira bukan pelaku sebenarnya?." tanya Mahesa terkejut.

" Kami belum bisa memastikan kebenaran, tapi dari penglihatan kami Nadira sepertinya tidak bersalah tuan. Karena perjalanannya dari terminal sampai ke warung makan dan ke lokasi tempat ditemukannya nyonya Nayla berlawanan arah. Sebaiknya anda jangan gegabah tuan, kami harap anda berhati hati dalam mengambil tindakan. Kami akan terus mengusut kasus ini sampai tuntas." ujar sang polisi.

Mahesa terdiam, benar apa yang dikatakan polisi itu. Tak mungkin Nadira membunuh Nayla sementara jalan keduanya berlawanan arah.

" Tapi bisa saja saat bertemu dengan Nayla, wanita itu melancarkan aksinya kan?." Mahesa masih percaya bahwa Nadira adalah pembunuh istrinya.

" Kemungkinan bisa saja terjadi tuan, tapi kami akan terus mencari tahu informasi yang sebenarnya. Permisi tuan."

Polisi itu meninggalkan ruangan.

Mahesa kembali dilanda kebimbangan.

" Tuan, ini sudah larut sebaiknya kita kembali saja."

Suara Dion menyadarkan Mahesa dari lamunannya.

Mahesa mengangguk, dengan langkah pelan ia meninggalkan ruangan itu.

Mahesa memutuskan untuk langsung pulang ke rumah.

***

Di kediaman Adiprana, terlihat Diana sedang berusaha membuka pintu gudang tempat Nadira di kurung. Diana ingin memberikan pelajaran pada Nadira karena telah berani menyentuh cucunya.

" Lebih kuat lagi bukanya pak Adi." desak Diana.

Pak Adi adalah satpam keluarga Adiprana.

Setelah berusaha cukup keras, akhirnya gembok gudang terbuka.

Dengan wajah licik Diana masuk ke dalam, Diana menghidupkan flash ponselnya dan melihat Nadira sedang meringkuk di sudut sambil tertidur.

Melihat ada cahaya, Nadira langsung terbangun. " Apa ada orang di sana?." tanya nya.

" Ya , aku datang untuk menyelamatkan mu!." terlihat seringai licik dari Diana.

Diana mendekati Nadira, tangannya menarik rambut Nadira dengan cepat.

Nadira menyentuh rambutnya yang ditarik ke belakang.

" Beraninya kamu menyentuh cucuku! Setelah membunuh menantuku, kamu berencana membunuh cucuku juga ya?."

Plak

Tamparan keras mendarat di pipi Nadira.

" Pukul wanita ini sampai mati!." perintah Diana pada pak satpam.

Pak satpam langsung mengeluarkan tongkat nya dan melayangkan pukulan pada punggung Nadira dengan kuat.

" Akhhh. Sakit... hentikan!." teriak Nadira.

Sementara itu bi Siti dapat mendengar teriakan Nadira dari gudang. Ia menghentikan pekerjaannya dan berlari menuju gudang. pemandangan yang ia lihat membuatnya menangis. Ia melihat Nadira sedang di pukul bertubi-tubi oleh pak Adi.

Bi Siti tak bisa mendekat Karena ada nyonya Diana.

Sementara itu Mahesa baru saja tiba di rumah, "Hari sudah larut, wanita itu... bagimana keadaannya?..." gumam Mahesa di dalam mobil.

Bi Siti yang melihat kedatangan Mahesa langsung berlari menghampirinya.

" Tuan, bantu Nadira tuan. Dia sedang di siksa nyonya besar!." ucap Bi Siti sambil menangis.

Mahesa yang baru keluar dari mobil langsung panik. " Apa?..."

1
NN
lanjut
Quin: okeyy best👍😍
total 1 replies
Ma Em
Semoga kebenarannya segera terungkap agar Nadira bisa cepat bebas dari siksaan Mahesa , dan bisa pulang kerumah ibunya .
Quin: terimakasih 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!