NovelToon NovelToon
Holong Di Balik Adat

Holong Di Balik Adat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:192
Nilai: 5
Nama Author: Pasaribu

Perjuangan cinta yang juga harus membutuhkan restu.
"kamu itu terlahir dalam adat apa? sadar gak sih kamu????"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Acara Adat

Setelah selesai ditutup oleh Pendeta beberapa jemaat dipersilahkan keluar menuju halaman gereja. Dan ini adalah saat yang paling ramai.

Fotografer langsung mengambil alih keadaan.

"Jangan pulang dulu, kita foto keluarga." ucap Nantulangnya Asido.

Keluarga besar Pardosi diminta berkumpul terlebih dahulu. Orangtua Asido terlebih dahulu berfoto bersama kedua calon. Kemudian diikuti, saudara kandung, Tulang, Nantulang, dan Para Sepupu berdiri di belakang.

"Asido, maju sedikit!"

"Aku sudah maju."

"Masih ketutupan baju tulangmu itu."

Tawa kembali pecah.

"Semuanya lihat ke sini!" ucap Fotografer sambil mengangkat kamera.

"Senyum! 1,2......"

Setelah itu, giliran keluarga besar calon pengantin perempuan.

Mereka berkumpul semua. Tapi anak-anak kecil berlarian di sela sela barisan. Anak-anak itu anaknya Namboru Sarma.

Beberapa kali sesi foto harus diulang karna ada yang berkedip atau menoleh ke arah lain.

"Nak, jangan lari-lari dulu....!"

"Dia malah makin lari," ucap Siti adik bungsu Sarma.

Tulangnya Sarma menggendong anak kecil itu hingga sesi foto itu berhasil.

"Sekarang kedua keluarga besar bergabung!"

Depan gereja langsung dipenuhi puluhan anggota keluarga. Kursi ditambah. Barisan diperlebar. Orang-orang saling memanggil kerabat yang masih mengobrol di sudut halaman.

"Ayo cepat!"

"Yang di parkiran juga, panggilkan!!"

Akhirnya seluruh keluarga berhasil berkumpul.

Kedua calon mempelai berdiri di tengah diapit orangtua masing-masing.

"Siap semuanya!"

"Satu.... Dua.... Tiga!"

Momen itupun berhasil diabadikan.

Setelah sesi foto selesai, rombongan kemudian bergerak menuju rumah pihak perempuan yang letaknya tidak terlalu jauh dari gereja.

"Pak Saut, rapikan dulu itu jasmu....." gerutu istrinya sambil menarik tangannya. "Akh tahe!!! ini aja nggak bisa dibaguskan sendiri."lanjutnya.

Suaminya hanya bisa diam mendengar omelan istrinya sambil pasrah membiarkan jasnya dirapikan.

"Lihat lah, kusut kan?" Omel istrinya.

"Iya... Iya...." Jawab suaminya pelan sambil mengangguk pasrah.

Melihat itu, Asido yang berdiri di dekat mereka langsung tertawa kecil.

"Dengar itu, Pa."

"Kau ini ya....." sahut ayahnya yang hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar omelan istrinya yang sebenarnya sudah sangat akrab di telinganya.

Rombongan keluarga besar perlahan bergerak menuju rumah pihak perempuan yang letaknya tak terlalu jauh dari gereja.

Mobil dan sepeda motor memenuhi jalan kecil kampung itu. Di sepanjang perjalanan suara percakapan dan tawa keluarga terus terdengar.

Sesampainya di rumah pihak perempuan, para tamu kembali dipersilahkan duduk sesuai posisi keluarga masing-masing.

Di bawah tenda yang dipasang memanjang di halaman rumah, tikar-tikar besar telah digelar rapi. Beberapa ibu sibuk mondar mandir dari dapur membawa kopi. Sementara para bapak mulai mengatur posisi duduk keluarga sesuai adat. Anak-anak kecil duduk bergerombol di belakang sambil berbisik dan tertawa sendiri.

Untuk keluarga besar duduk di dalam rumah.

"Asido, sini duduk dekat abangmu." panggil salah satu tulangnya.

"Aku di belakang saja, Tulang."

"Tidak bisa. Kau duduk disini saja. Kau juga kan keluarga inti."

Asido akhirnya duduk bersila di atas tikar bersama saudara-saudaranya.

Meski mengenakan pakaian rapi, suasana lesehan seperti itu justru membuat acara terasa lebih hangat dan dekat khas acara adat di kampung.

Raja parhata dari pihak perempuan mulai membuka acara.

"Horas ma di hita sude."

"Horas!" jawab seluruh keluarga hampir bersamaan.

Dengan bahasa Batak yang penuh penghormatan, pihak perempuan menyampaikan ucapan selamat datang atas kehadiran mereka.

Setelah itu giliran pihak laki-laki berbicara. Raja parhata dari keluarga Asido menyampaikan rasa syukur dan harapan baik bagi kedua calon mempelai.

Di atas tikar itu, seluruh keluarga duduk saling berhadapan mendengarkan setiap kata adat yang disampaikan. Sesekali terdengar anggukan dari para orangtua dan tetua keluarga.

Kemudian kedua calon mempelai dipanggil maju ke tengah. Mereka saling bertatapan. Wajah keduanya masih terlihat malu-malu ketika semua mata tertuju pada mereka.

"Lihat itu," bisik Nantulangnya Asido.

"Iya kan Eda. Dari tadi saling pandang terus."

"Biasa...... Calon pengantin."

Tawa kecil langsung terdengar di beberapa sudut tikar.

Setelah pembicaraan adat selesai, beberapa ibu mulai keluar dari dapur sambil membawa hidangan utama yang sudah disusun rapi di atas nampan besar.

Suasana langsung menjadi lebih tenang. Semua tau salah satu bagian penting dalam adat akan segera dimulai.

Di depan para tamu, seekor ikan mas arsik utuh diletakkan perlahan di atas tikar yang berada di tengah.

Raja Parhata kemudian berdiri kembali, menjelaskan pemberian ikan mas arsik tersebut sebagai simbol doa, berkat, dan penghormatan.

Anak-anak kecil yang duduk di belakang Asido bahkan ikut memperhatikan dengan penasaran.

"Seru kan lihatnya," bisik salah satu sepupu kecil Asido.

"Iya, kan. Kalau udah besar nanti, kita juga pasti gitu...." sahut anak kecil yang lain.

Asido yang mendengarnya tersenyum kecil.

Prosesi adat selesai, suasana kembali mencair. Makanan mulai dinikmati bersama di atas tikar panjang. Beberapa bapak mulai bercanda. Ibu-ibu sibuk menawarkan tambahan lauk di dalam rumah juga di halaman.

Sementara kedua calon mempelai masih beberapa kali menjadi pusat godaan keluarga besar.

"Setelah ini jangan terlalu malu-malu lagi."

"Iya, cincin pun sudah dipasang."

Abang Asido tertawa malu, sementara Sarma hanya menunduk sambil tersenyum kecil.

Setelah makan bersama selesai, suasana di dalam rumah dan bawah tenda semakin santai.

Piring-piring mulai dikumpulkan, sementara beberapa ibu sebagai Parhobas sibuk membagikan gelas-gelas kopi panas dan teh manis kepada para tamu.

Aroma kopi khas kampung langsung memenuhi halaman rumah.

"Asido, mana kopimu?" tanya salah satu Tante sambil menyodorkan secangkir kopi hitam.

Asido tersenyum kecil lalu menggeleng pelan.

"Aku tidak minum, Tante."

"Kenapa?"

Belum sempat menjelaskan lebih jauh, salah satu tulangnya langsung menyahut dari seberang tikar.

"Minumlah sedikit. Kopi itu tidak langsung merusak gigimu juga."

Tawa langsung pecah. Asido ikut tertawa sambil menggeleng.

"Bukan begitu, Tulang."

"Ah sudahlah. Dokter gigi paling banyak pantangannya."

Tawa itu masih terdengar juga. Beberapa ibu-ibu saling melirik satu dengan lainnya.

"Itu adeknya calon ini?"

"Iya sepertinya."

"Dokter ya?"

"Sepertinya......"

Bisik-bisik itu terdengar pelan dari belakang.

"Kalau begitu hidupmu sedih kali," lanjut celetuk Tulang Asido.

Suasana kembali riuh oleh candaan keluarga. Salah satu Pak Tua nya bahkan sengaja mengangkat gelas kopi tinggi-tinggi ke arah Asido.

"Lihat ini, umurku sudah lima puluh lebih. Kopi tiap hari, gigi masih lengkap."

"Baguslah Tua, itu artinya Tua rajin sikat gigi." balas Asido cepat.

"Nah benar juga itu," Pak Tuanya tertawa.

"Aku memang tak suka kopi, Tua. Jadi siapa yang suka minum kopi, jangan malas bersihkan gigi aja...." Jawab Asido sambil tertawa juga.

Beberapa sepupunya langsung ikut menggoda.

"Dokter tetap dokter ya.... Di acara adat pun ceramah kesehatan."

Tawa kembali memenuhi tikar panjang itu. Asido akhirnya menerima segelas teh hangat sebagai gantinya sambil mendengarkan keluarga besarnya bercanda.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!