Elfesya terjebak perjodohan paksa dengan Ravion Arshaka, CEO angkuh yang terus menghinanya. Luka semakin dalam saat Elfesya tahu ayah Ravionlah yang menghancurkan bisnis ayahnya. Ia melarikan diri ke pesisir, hidup nestapa sebagai buruh ikan demi harga diri.
Sadar akan dosanya, Ravion melepaskan kemewahan demi menyusul Elfesya ke gubuk reyot. Di tengah bau laut dan kemiskinan, ego sang CEO runtuh demi meraih kembali hati sang sekretaris. Ini adalah kisah tentang pengkhianatan korporasi, penebusan dosa yang perih, dan cinta yang akhirnya berlabuh di dermaga ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisa pesta di tenggorokan
Ravion benar-benar pergi. Di tengah pesta yang ia sebut sebagai "sandiwara" itu, ia melenggang keluar tanpa pamit, membiarkan Elfesya berdiri mematung dengan cincin berlian yang terasa seberat bongkahan batu di jarinya.
Nenek Lastri terlihat sangat terpukul. Wajah tuanya memucat, dan ia harus dipapah oleh Pak Arshaka untuk duduk. Namun, Elfesya justru yang paling tenang. Ia segera menghampiri Nenek Lastri, memberikan segelas air hangat, dan tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
"Nenek jangan khawatir. Pak Ravion mungkin ada urusan mendadak yang sangat mendesak," ucap Elfesya lembut, meski hatinya terasa seperti diremas. Ia tahu betul pria itu sedang pergi menemui wanita lain.
"Dia keterlaluan, Elfesya. Nenek malu padamu," bisik Nenek Lastri.
"Tidak apa-apa, Nek. Yang penting Elric senang bisa makan enak malam ini," jawab Elfesya sambil melirik adiknya yang sedang asyik mencicipi kue-kue kecil di pojok ruangan.
Keesokan paginya, Ravion pulang ke rumah dengan kemeja yang sudah kusut dan bau alkohol yang samar. Ia mengira akan menemukan suasana rumah yang penuh kemarahan atau tangis haru dari Elfesya. Namun, yang ia temukan adalah keheningan yang disiplin.
Di meja makan, Elfesya sudah duduk bersama Nenek. Ia sudah rapi dengan pakaian kerjanya—bukan gaun mahal semalam, melainkan kemeja lama yang warnanya sudah sedikit pudar.
"Selamat pagi, Pak Ravion," sapa Elfesya datar, tanpa menoleh. Ia fokus menyuapi Nenek Lastri bubur ayam.
Ravion menarik kursi dengan kasar, duduk di seberang mereka. Ia menatap Elfesya dengan tatapan tajam, mencari-cari jejak kemarahan atau tuntutan penjelasan. Tapi nihil. Gadis itu seolah menganggap kejadian semalam hanyalah angin lalu.
"Kenapa? Kamu tidak mau memaki karena aku meninggalkanmu semalam?" tanya Ravion provokatif.
Elfesya meletakkan sendoknya, menatap Ravion dengan mata lelah yang tidak bisa disembunyikan. "Untuk apa? Di kontrak kita tidak tertulis Bapak harus menemani saya sampai acara selesai. Bapak sudah memenuhi bagian Bapak—memasangkan cincin—dan saya sudah memenuhi bagian saya—hadir di sana. Tugas selesai."
Ravion terdiam. Ada rasa kesal karena ia merasa "serangannya" tidak mempan. Namun, saat ia melihat ke arah piring Elfesya, ia tertegun. Gadis itu tidak makan bubur mewah yang disediakan pelayan. Di samping piringnya, ada sebuah kotak bekal plastik kecil berisi nasi putih dan potongan tempe goreng yang sudah dingin.
"Kamu makan itu lagi?" tanya Ravion, nada suaranya sedikit berubah. Ada rasa kasihan yang menyelinap tanpa permisi, namun segera ia tutupi dengan ketajaman. "Rumah ini punya koki terbaik, dan kamu masih membawa sampah itu ke meja makan?"
"Ini bukan sampah, Pak. Ini makanan yang saya buat sendiri agar saya tidak lupa rasanya berjuang," jawab Elfesya lugas. "Lagipula, saya tidak terbiasa makan makanan yang tidak saya beli dengan keringat saya sendiri. Tunangan kontrak bukan berarti saya boleh berpangku tangan."
Ravion melihat bagaimana Elfesya makan dengan lahap meski hanya dengan lauk seadanya. Ada sesuatu yang menyakitkan di dada Ravion saat melihat itu. Gadis ini menyedihkan, pikirnya. Sangat menyedihkan sampai-sampai ia merasa menjadi penjahat paling kejam di dunia.
"Nek, aku berangkat ke kantor," ucap Ravion tiba-tiba, berdiri tanpa menyentuh sarapannya.
"E-eh, Ravion? Kamu belum makan," seru Nenek.
"Aku tidak lapar," jawabnya singkat.
Sesampainya di mobil, Ravion memukul kemudi dengan frustrasi. Ia benci perasaan ini. Ia benci rasa kasihan yang mulai merusak rasa bencinya pada Elfesya. Baginya, Elfesya adalah pengingat akan kemiskinan dan ketulusan—dua hal yang paling ingin ia hindari karena keduanya terasa begitu rapuh dan mudah hilang, seperti ibunya.
"Dia hanya berakting," gumam Ravion pada dirinya sendiri. "Dia sengaja makan tempe agar aku merasa bersalah. Ya, itu pasti rencananya."
Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, Ravion tahu bahwa sorot mata lelah Elfesya saat makan nasi tempe itu tidak bisa dipalsukan oleh aktris mana pun di dunia.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...