NovelToon NovelToon
Se Atap Dengan Mantan Suami

Se Atap Dengan Mantan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mantan
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Jasmine, menikah dengan Aksa adalah mimpi buruk yang ingin ia kubur dalam-dalam. Sebagai anak yatim piatu yang miskin, Jasmine hanya dianggap sampah dan pembantu gratisan oleh keluarga Aksa yang terpandang. Puncaknya, sebuah fitnah kejam membuatnya terusir dari rumah megah itu tanpa membawa sepeser pun uang.

Tiga tahun berlalu, Jasmine bertahan hidup sebagai Professional Housekeeper di sebuah agen elit. Tugas terbarunya adalah mengurus sebuah penthouse mewah milik klien misterius yang sangat menuntut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Mereka sedang berada di sebuah villa pribadi milik klien di kawasan Uluwatu untuk merayakan kesepakatan kontrak yang baru saja ditandatangani. Acara makan malam formal sedang berlangsung di tepi tebing dengan pemandangan sunset yang luar biasa indah.

Jasmine berdiri di sudut area terbuka, memegang segelas jus jeruk sambil memijat pelan pangkal lehernya yang kaku. Gaun santai namun elegan yang ia kenakan tertiup angin laut, membuatnya sedikit menggigil.

"Tiga hari yang terasa seperti tiga tahun," bisik Jasmine pada dirinya sendiri.

Tiba-tiba, sebuah jas hitam mendarat di bahunya. Aroma parfum maskulin yang sangat ia kenali langsung menyeruak.

Aksa berdiri di sampingnya, tanpa jas, hanya dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Ia menatap lurus ke arah cakrawala yang mulai memerah.

"Tiga hari ini kamu bekerja keras," ucap Aksa tanpa menoleh.

"Terima kasih, Tuan. Saya hanya menjalankan kewajiban kontrak saya."

Aksa akhirnya menoleh, menatap Jasmine dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kontrak, ya? Sepertinya kamu sangat menikmati menghitung hari menuju kebebasanmu."

" Tentu saja tuan Aksa."

"Aku menawarkanmu untuk menjadi istriku, Jasmine. Benar-benar istri," ucap Aksa.

Jasmine tertegun sejenak. Tawaran itu... status, kekayaan, posisi yang diimpikan banyak orang, kini disodorkan padanya oleh pria yang selama ini menahannya dalam kontrak.

"Terima kasih, Tuan. Tapi saya menolak," jawab Jasmine.

Aksa mengepalkan tangannya di sisi tubuh, rahangnya mengeras. "Kamu menolak? Kamu sadar apa yang kamu katakan, Jasmine?"

"Sangat sadar, Tuan," balas Jasmine, sorot matanya menantang.

"Bagi saya, lebih baik kerja serabutan di luar sana, bermandikan keringat dan ketidakpastian, daripada harus kembali ke lubang yang sama. Menjadi istri Anda hanya akan menjadi penjara lain dengan nama yang berbeda. Kontrak setahun ini sudah cukup bagi saya."

Aksa terdiam, tatapannya dingin membeku. Kekecewaan dan kemarahan bergelut di wajah tampannya, namun ia berusaha keras menahannya.

"Ohh... begitukah," desis Aksa pendek.

Duar!

Tiba-tiba saja, langit yang tadinya hanya berawan gelap, seolah runtuh. Hujan lebat langsung mengguyur bumi dengan sangat deras, disertai angin kencang yang membuat tenda acara makan malam bergoyang hebat. Para tamu undangan berlarian mencari tempat berteduh di dalam area villa yang tertutup.

Jasmine refleks memeluk tubuhnya sendiri, kedinginan karena gaun tipisnya mulai basah kuyup. Aksa hanya berdiri mematung, membiarkan air hujan membasahi kemeja hitamnya, tatapannya masih terkunci pada Jasmine.

Tak lama setelah itu, Bara datang dengan napas terengah-engah, pakaiannya juga setengah basah. Ia memandang Aksa dan Jasmine bergantian dengan tatapan cemas.

"Aksa! Kita punya masalah," seru Bara setengah berteriak melawan suara hujan.

"Jalan akses keluar dari tebing ini tertutup longsor kecil karena hujan mendadak ini. Tim evakuasi bilang kemungkinan besar kita terjebak di sini malam ini."

Aksa akhirnya mengalihkan pandangannya dari Jasmine ke arah Bara. "Maksudmu?"

"Jika nekat lewat sekarang dengan mobil, pasti jalannya sangat licin dan berbahaya, Sa. Tebing di sebelahnya tidak stabil," jelas Bara serius.

"Kita harus menginap di villa klien ini sampai besok pagi, sampai jalanannya aman."

Bara menoleh ke arah Jasmine, lalu kembali menatap Aksa dengan tatapan penuh arti. "Dan karena semua kamar di villa utama sudah penuh oleh tamu VIP dan klien... sepertinya kalian berdua harus berbagi kamar di guest house kecil di area bawah. Itu satu-satunya tempat yang tersisa."

Jasmine membelalak kaget. Berbagi kamar? Dengan Aksa? Di tengah malam yang badai ini?.

"Tak masalah jika itu. Aku akan pergi sekarang," jawab Aksa pendek kepada Bara.

Ia kemudian menoleh ke arah Jasmine yang masih menggigil pelan.

"Ayo," ajak Aksa singkat.

Bayangan harus berada di satu ruangan sempit dengan pria yang baru saja ia tolak mentah-mentah lamarannya dan notabenenya laki-laki ini adalah mantan suaminya membuat bulu kuduknya merinding. Ia menatap Bara dengan tatapan memohon, berharap ada keajaiban.

"Apa tak ada kamar lain lagi? Atau... bagaimana jika Pak Bara saja yang satu kamar dengan Tuan Aksa?" tanya Jasmine cepat.

"Saya bisa tidur di sofa lobi atau di mana saja, asalkan..."

Bara baru saja akan membuka mulut untuk menanggapi ide masuk akal Jasmine, namun Aksa dengan cepat menjawab.

"Tidak, aku tidak mau satu kamar dengannya," tegas Aksa.

"Pergilah, Bara, ke kamarmu."

Bara hanya bisa mengangkat bahu pasrah ke arah Jasmine, memberikan tatapan 'maaf, aku tidak bisa bantu' sebelum melangkah pergi menembus lorong villa.

Kini, tinggal mereka berdua di bawah tempias hujan yang semakin deras. Aksa mengambilkan jasnya yang sudah setengah basah, menyampirkannya ke kepala Jasmine untuk melindunginya dari air.

"Ayo jalan. Guest house nya ada di ujung taman ini. Kalau kamu terus membantah, kita berdua akan mati kedinginan di sini," ucap Aksa sambil menarik lengan Jasmine.

Aksa melangkah masuk ke dalam guest house yang remang-remang itu, meletakkan kunci di atas meja kayu kecil. Ia berbalik, menatap Jasmine yang masih mematung di dekat pintu dengan pakaian yang basah kuyup dan tubuh yang sedikit menggigil.

"Kamu mandilah duluan," ucap Aksa.

Jasmine mengerutkan kening. "Sudah disediakan? Bagaimana bisa..."

"Jangan banyak tanya. Mandi sekarang sebelum kamu benar-benar sakit," potong Aksa cepat sambil mulai melonggarkan kancing kemejanya yang basah.

Jasmine segera melangkah menuju lemari kayu besar di sudut ruangan.

Benar saja, di sana ada pakaian tidur sepasang yang sudah tertata rapi. Satu set piyama sutra berwarna gelap yang tampak mahal, dan satu lagi piyama wanita dengan bahan yang sangat lembut.

Tanpa membuang waktu karena rasa dingin yang mulai menusuk tulang, Jasmine segera menyambar pakaian itu dan masuk ke dalam kamar mandi.

Begitu pintu terkunci, ia menyandarkan punggungnya di balik pintu. Suara gemericik air hujan di luar dan deru napasnya sendiri menjadi satu-satunya bunyi di ruangan itu.

"Ya Tuhan... bagaimana aku bisa satu kamar dengannya?" gumam Jasmine frustrasi sambil meremas pakaian tidurnya. "Baru saja aku menolak lamarannya, sekarang aku malah terjebak di sini. Benar-benar sial!"

Ia menyalakan shower air panas, mencoba menenangkan saraf-sarafnya yang tegang. Namun, pikirannya tetap liar membayangkan Aksa yang hanya berjarak beberapa meter darinya di balik pintu ini.

Jasmine keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih sedikit basah, terbalut piyama lembut yang tadi ia ambil dari lemari. Aroma sabun yang segar menguar dari tubuhnya.

Jasmine berdeham pelan, mencoba memecah keheningan yang canggung. "Tuan, mandilah. Giliran Anda," ucapnya sambil menunjuk ke arah kamar mandi dengan dagunya.

Aksa yang sedang duduk di sofa kecil dekat jendela menoleh sekilas. "Saya sudah mandi di samping,"

"Oh..."

Aksa kemudian berdiri, melangkah menuju meja kayu di tengah ruangan yang di atasnya sudah tertata beberapa wadah makanan yang masih mengepulkan uap hangat.

"Ayo makan. Tadi sudah ada pihak villa yang membawanya ke sini saat kamu masih di dalam," ajak Aksa.

Jasmine mendekat dengan ragu. Di atas meja tersedia nasi hangat, ayam betutu aroma rempah yang kuat, dan sayuran segar khas Bali. Perutnya yang sedari tadi keroncongan karena lelah seharian langsung bereaksi.

"Duduklah. Jangan biarkan makanannya dingin," tambah Aksa sambil menarikkan kursi untuk Jasmine.

Jasmine pun duduk di hadapan Aksa. Suara hujan lebat yang menghantam atap guest house menjadi latar belakang makan malam mereka.

1
Redmi Nam
Jasmine jangan membangunkan singa tidur..
tuh singanya muaraaah😄😄😄
vita
knp cerita ini jarang update sih kak
Redmi Nam
jangan lama" punya thor🙏
Kaknia
suka jl ceritanya 👍👍😘
sunaryati jarum
Nah gitu jika cinta perjuangkan
sunaryati jarum
Kamu benar Yasmine ,Nak Aksa dengarkan Bara kau jangan mempersulit Yasmine, kasihan
sunaryati jarum
Kau jatuh cinta sama mantanmu
Aidil Kenzie Zie
ngapa nggak ambil kamar yang ada pintu penghubungnya
mini
hah,,, ikut plong aku😍
Kaknia
suka alur ceritanya
Kaknia
bucin Aksa 😂🤭
Kaknia
seruuuuuuu
partini
dihhh felakor
Kaknia
semakin seruuuu ceritax tapi nanggung banget masih penasaran😭
partini
tamat sudah kamu Jasmine
Kaknia
astagaaa semoga Jasmine TDK knp knp 😭
Kaknia
mantap ceritax
Kaknia
semoga Jasmine TDK knp knp dan semoga Aksa pembela terdepanx
Kaknia
Semoga Bisa Bersatu Kembali.......
Suka Ceritax Seruuuuu....
Risa Virgo Always Beau
Jasmine mending kamu bertahan saja kerja sama Aksa di banding kamu di denda seratus juta
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!