Hwang zin bukanlah orang dari era ini,dia lahir di tahun 2028 dan berusia 30 tahun,dia yatim piatu,Dia bekerja keras selama hidupnya.
Dia menjadi koki , petugas pengangkutan barang, bartender,pelayan restoran dan lainnya,dia hidup dengan menghemat banyak uang saat tabungannya mencapai 100 juta dalam 15 tahun hidupnya.
Hwang zin membeli bangunan toko kecil yang lengkap penuh dengan barang-barang grosir dari barang orang tua hingga anak-anak dan makan pokok dan sejenisnya.
dia akan mulai berbisnis tapi siapa kira saat dia dalam perjalan pulang justru mobilnya tertabrak truk dan bangun disini .....bukannya mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Desa Baru
Jiang Feng berdiri dengan kaku, jantungnya berdebar kencang saat melihat sosok yang dia khawatirkan masih ada di sana.
Hwang Zin membuka matanya, berbalik ke arah pintu lalu menghela nafas dan mengulurkan tangannya padanya.
"Kemari lah....." Mata Jenderal segera cerah seperti anak kecil mendapatkan mainan yang diinginkan.
Dia berjalan cepat, lalu berbalik untuk menutup pintu rapat dan dengan cepat berlari memeluk Hwang Zin erat-erat – tubuhnya menutupi anak itu sepenuhnya, kepalanya menyembunyikan wajah lega di bahu Hwang Zin.
Dia bahkan menyentuh perlahan bekas luka di perut anak itu melalui pakaiannya, seolah memastikan tidak ada masalah.
Hwang Zin memeluk pinggangnya.matanya berkedip perlahan."...Ada apa?"
"Tak apa-apa .."Jiang Feng memeluknya lebih erat lagi, napasnya menjadi tenang setelah merasakan keberadaan anak itu."Kamu tidak pergi kemana-mana kan?"
Hwang Zin tersenyum lembut namun matanya menunduk untuk menyembuhkan perasaan lelahnya. "Aku bilang kan akan tetap disini."
Dia lalu menarik pria itu untuk duduk di kursi dekat jendela. "...Apa rapat berjalan dengan baik?"
Jiang Feng duduk dengan patuh sambil terus memegang tangan anak itu – jari-jari saling bersilangan sehingga tidak ada celah untuk melepaskan.
".....Ada masalah di desa terdekat karena banjir, kaisar meminta kami membantu para pengungsi disana..."Matanya melihat Hwang Zin dengan cemas.
Dia sudah mulai berpikir bagaimana cara membawa anak itu bersama nya tanpa membuatnya marah.
Ke esoknya harinya.
Jiang Feng berpatroli mengawasi gerbong-gerbong kereta kuda yang akan mengangkut para pengungsi.
Dia memeriksa setiap detail dengan cermat, tak ingin ada kesalahan yang membahayakan keselamatan semua orang – terutama seseorang yang dia cintai.
Setelah memastikan semua baik-baik saja, dia segera memacu kudanya ke gerbong depan yang sudah disiapkan khusus.
"Zin.an ...." panggilnya dengan suara lembut saat melihat jendela gerbong terbuka. Hwang Zin membuka jendela lebih lebar dan melihat wajah cemas pria itu.
Tanpa sadar Jantungnya berdegup kencang."Aku akan duduk di kereta..." ucapnya dengan tenang.
Jenderal tak ingin membantah atau membuatnya marah lagi, jadi hanya bisa mengangguk dengan lega.
Dia bahkan telah menyuruh prajurit untuk memasang tirai tebal di gerbong itu agar Hwang Zin tidak terganggu oleh sinar matahari atau pandangan orang lain.
Dia memutar kudanya dan kembali ke posisinya di depan konvoi, memerintahkan mereka untuk meninggalkan barak.
Kali ini yang ikut adalah kelompok Hang Si dan 12 prajurit lainnya, serta Dokter Shen yang dia wajibkan ikut untuk menjaga kesehatan Hwang Zin setiap saat.
Desa itu tidak terlalu besar dengan penduduk lebih dari 100 orang, jadi Jiang Feng tak membawa banyak orang agar perjalanan lebih cepat.
Dia meninggalkan Song Wen dan Wakil Jenderal untuk mengawasi barak, dengan perintah keras agar segera memberitahu jika ada kabar tentang Hwang Zin atau keadaan darurat lainnya.
Hanya butuh waktu sehari untuk mencapai desa itu. Saat mereka sampai, kondisi rumah-rumah sudah hancur total – sebagian besar tersapu banjir dan hanya tersisa reruntuhan kayu dan tanah liat.
Prajurit yang datang lebih dulu untuk mengecek lokasi sehari sebelumnya segera mengajak Jenderal dan yang lainnya untuk melihat para warga yang berlindung di atas gunung.
Jenderal masuk ke dalam gua yang cukup luas, melihat para lansia, wanita, dan anak-anak berkerumun di dalamnya. Kedatangan mereka membuat semua orang menangis terharu.
"Semua rumah tersapu banjir, sekarang mereka akan mencari tempat baru untuk ditinggali...." jelas prajurit kecil pada para penduduk desa dengan suara lembut.
"Terimakasih tuan!" Semua orang mengangguk dan berterima kasih dengan air mata berlinang.
"Ada korban?" tanya Jenderal pada prajurit kecil. Pria itu menggeleng kepalanya dengan nafas lega. "Untungnya tak ada, hanya beberapa luka-luka ringan...."
Jiang Feng mengangguk lalu memerintahkan Dokter Shen untuk mengecek kondisi semua orang. Dokter Shen menjawab baik dan segera maju dibantu oleh dua perawat yang dia bawa.
Sementara itu, Jiang Feng selalu memastikan Hwang Zin berada di dekatnya – dia bahkan menyuruh dua prajurit untuk berdiri di belakang anak itu agar tidak ada yang bisa mendekatinya tanpa izin.
Jenderal dan Hwang Zin duduk di dekat pintu masuk gua yang lebar. "Siapa kepala desa disini....?"
".....Ini saya Tuan... !" Seorang pria yang tidak terlalu tua maju dengan langkah cepat, sedikit terkejut melihat kedekatan Jenderal dengan pemuda muda itu.
Jiang Feng meminta pria itu untuk duduk, tangan tetap berada di belakang kursi Hwang Zin sebagai tanda posesif. ".....Paman berapa orang-orang mu yg tersisa?"
"Ini 80 orang, terdiri dari anak-anak hingga orang tua ..." jawabannya tanpa rasa takut.
Hwang Zin mengerutkan keningnya. Jiang Feng melihatnya dengan heran dan segera menanyakan apa yang membuatnya khawatir.".....Bukankah lebih dari 100? Dimana orang lainnya?"
"Mereka pergi ke desa lain ...." jawab pria tua itu dengan wajah lesu. "Yg pergi adalah para pemuda di desa..."
Kelompok remaja itu meninggalkan orang tua dan anak-anak untuk bertahan hidup di atas gunung – bahkan tidak memikirkan bahaya seperti babi hutan atau harimau yang bisa menyerang di malam hari.
Jiang Feng mengerutkan alisnya dengan marah, namun segera menenangkan diri.
".....Kaisar memerintahkan kami untuk mengirim kalian ke tempat yg baru, itu lebih aman dari pada disini, jadi kumpulkan semua orang untuk segera pergi dari sini hari ini...."ucapnya pada kepala desa dengan tegas.
Artinya mereka tak perlu tinggal lagi di tempat yang berbahaya dan bisa segera pindah ke lokasi yang sudah disiapkan. "Baik ..baik tuan!"
"Mereka akan dipindahkan dimana?" tanya Hwang Zin melihatnya dengan penasaran.
"Sebuah tanah dekat sini,itu tanah lapang yang aman dari banjir atau longsor.." jawab Jenderal dengan suara lebih lembut saat berbicara dengan Hwang Zin.
Dia sudah merencanakan segala sesuatu dengan matang – termasuk cara agar warga bisa menanam atau bekerja tanpa masalah, karena kaisar memberikan tanah itu dengan syarat tertentu.
Jiang Feng sudah siap mencari solusi agar kehidupan mereka bisa berjalan dengan baik, terutama karena Hwang Zin tampaknya sangat peduli dengan nasib warga desa.
"Apa sudah semuanya?" tanya prajurit pada warga yang sudah turun dari gunung.Saat melihat semua orang sudah berkumpul dengan rapi, dia menjawab.
"Ya tuan!"
"Anak-anak dan wanita naiklah lebih dulu ...."perintahnya dengan tegas. Kaisar mengirim 6 gerbong sedang yang bisa mengangkut 10 orang dewasa setiap satuannya.
Satu gerbong khusus berisi bahan makanan dan perlengkapan medis, yang sengaja ditumpangi Hwang Zin agar bisa diawasi dengan dekat oleh Jiang Feng dan Dokter Shen.
Lima gerbong lainnya sudah cukup untuk menampung seluruh warga, jadi mereka mengantri dengan tertib sesuai panggilan Hang Si – yang sudah diperintahkan untuk selalu memperhatikan keamanan gerbong tempat Hwang Zin berada.
Saat lima gerbong sudah terisi penuh, mereka segera bergegas menuju lokasi yang ditentukan.
Dengan Jiang Feng selalu berada di depan konvoi untuk memastikan jalannya aman, namun sesekali melihat ke belakang untuk memastikan gerbong Hwang Zin tidak ada masalah.
Siang harinya mereka hampir sampai di tanah desa yang dimaksud dan memutuskan untuk beristirahat lebih dulu untuk makan siang.
Semua orang berbaris untuk mendapatkan makanan – Hwang Zin meminta mereka untuk mengantri dengan tegas, dan para warga tak berani tidak menurut, sehingga barisan terbentuk dengan rapi dan panjang.
Hwang Zin membawa sebanyak 50 mangkuk kayu dari dapur gerbong, jadi mereka harus bergantian memakainya.
Jiang Feng langsung memutuskan untuk membagi makan untuk wanita dan anak-anak lebih dulu sebelum para pria dewasa – semua orang mengangguk setuju tanpa cela.
Setelah istirahat dan makan, mereka melanjutkan perjalanan kembali. Butuh waktu 5 jam lagi sebelum akhirnya sampai di tanah yang ditentukan.
Jiang Feng dan para prajurit segera memeriksa sekeliling lokasi dan menemukan batu besar bertuliskan tanda tanah yang diberikan oleh Kaisar – mereka sudah tiba.
Hwang Zin melihat ke arah hutan bambu lebar yang tak jauh dari lokasi tanah dan mulai memikirkan cara membuat tempat tinggal
sementara untuk warga.
Jadi dia mengatakannya pada Jiang Feng saat pria itu menghampirinya dengan langkah cepat.
Tangannya sudah siap meraih lengan anak itu."Ada hutan bambu disana, bisa buat jadi pondok bambu untuk sementara....."
Jiang Feng menoleh ke arah hutan bambu dan merasa itu ide yang sangat bagus. Dia menoleh pada kelompok prajuritnya dengan suara tegas
"Kumpulan semua orang....!"
Para warga dan semua orang segera mendekati mereka yang berada di bawah pohon besar, kemudian duduk di tanah dan mendengarkan pengaturan yang akan dibuat oleh pemuda tampan itu.
Jiang Feng berdiri tepat di belakang Hwang Zin, seolah ingin melindunginya dan menunjukkan bahwa anak itu berada di bawah perlindungannya.
"Bibi dan Paman tolong dengarkan baik-baik apa yg ku katakan... kita akan membangun rumah sementara untuk kalian, ini dari bambu...." jelas Hwang Zin pada mereka dengan suara ramah namun tegas.
"Kami... kami tidak tau caranya..." jawab kepala desa dengan malu, warga juga saling melirik dengan bingung.
Hwang Zin sudah menduga hal ini jadi dia tersenyum lebih ramah lagi pada mereka. "Aku akan menunjukkan pada kalian nanti, sebelum itu ayo bagi tugas dulu..."
Orang-orang itu mengangguk setuju, melihatnya dengan penuh harapan.
Jiang Feng dan yang lainnya hanya diam dan menyaksikan pemuda itu dengan pandangan penuh kaguman.
"....Anak-anak dan wanita kumpulkan batu-batu di sungai, bawa saja semampu kalian dan jangan terlalu dekat dengan sungai...." ucapnya dengan nada serius, memperhatikan setiap ekspresi wajah mereka agar tidak ada yang salah paham.
"Baik!" jawab para wanita dengan semangat – tugasnya memang tidak terlalu sulit bagi mereka.