Ghazali Atharrazka adalah perwujudan dari presisi dan kedinginan yang sempurna. Sebagai Kapten termuda dengan rekam jejak tanpa celah, hidupnya diatur oleh jam dinding dan hukum militer yang kaku. Baginya, kesalahan adalah aib dan kecerobohan adalah gangguan yang harus dimusnahkan. Dia adalah pria dengan tatapan sedingin es yang mampu membungkam satu batalion hanya dengan satu kata.
Lalu hadir seorang bernama Keyra Azzahra
Seorang mahasiswi tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi dari kata chaos, Sebuah insiden memaksa mereka tinggal di bawah atap yang sama di lingkungan barak. Di antara derap sepatu laras dan aroma mesiu, mampukah si mahasiswi perusuh mencairkan hati sang Kapten yang membeku? Ataukah markas ini akan meledak karena ulah Keyra yang selalu di luar kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DISIPLIN
Ketegangan di koridor klinik yang sempit itu terasa kental. Clarissa terkesiap, buru-buru mengubah raut wajahnya dari singa yang siap menerkam menjadi kucing rumahan yang manis. Namun, Ghazali tidak tampak terkesan. Matanya yang tajam tetap terkunci pada tangan Clarissa yang tadi sempat melayang di udara.
---
"Ghazali! Aku cuma... aku cuma ingin menasihati mahasiswa ini agar lebih sopan," dalih Clarissa sembari merapikan tatanan rambutnya yang sebenarnya sudah sempurna.
Ghazali melangkah maju, melewati Keyra yang masih berdiri tegak dengan tangan bersedekap. Ia berhenti tepat di depan Clarissa. "Klinik ini adalah zona medis, bukan tempat untuk urusan pribadi. Bastian sudah menunggu di depan dengan kendaraan pengawal. Jalan alternatif sudah dibuka. Kamu pulang sekarang."
"Tapi Ghaz, badainya mungkin belum benar-benar selesai"
"Itu perintah, Clarissa. Bukan saran," potong Ghazali telak. Suaranya rendah namun memiliki otoritas yang tidak bisa dibantah.
Clarissa menghentakkan kakinya kesal, melirik tajam ke arah Keyra seolah berjanji urusan mereka belum selesai, lalu berbalik pergi dengan langkah yang menimbulkan bunyi nyaring dari sepatunya.
Keheningan kembali menyelimuti klinik. Keyra mengembuskan napas panjang, merasa bebannya sedikit terangkat. "Terima kasih, Kapten Kulkas. Ternyata fungsi pendinginmu berguna juga untuk memadamkan api nenek sihir tadi."
Ghazali berbalik, menatap Keyra dengan tatapan yang sulit dibaca. "Jangan senang dulu. Kamu melanggar aturan pertama di paviliun saya."
Keyra mengerutkan kening. "Aturan yang mana? Saya tidak membuat keributan di malam hari, dan saya tidak menyentuh meja kerja Kapten."
"Kamu memancing keributan di area militer pagi tadi. Dan sekarang, kamu membiarkan urusan sipil masuk ke lingkungan medis pangkalan," Ghazali berjalan mendekat, membuat Keyra refleks mundur hingga punggungnya menabrak rak obat. "Sebagai gantinya, karena kamu tampak punya banyak energi untuk berdebat, kamu akan membantu tim logistik mendata bantuan darurat sore ini."
"Apa?! Tapi saya ini calon dokter, bukan tukang catat gudang!" protes Keyra.
"Di sini, kamu adalah personel di bawah komando saya. Lakukan atau saya akan memastikan laporan magangmu berakhir dengan catatan 'tidak disiplin'," ucap Ghazali dingin sebelum melangkah pergi.
Sore harinya, Keyra benar-benar berakhir di gudang logistik yang berdebu. Ia menggerutu sembari mencatat kardus-kardus mie instan dan beras. Ziva sudah lebih dulu kembali ke paviliun karena pusing, meninggalkan Keyra sendirian dengan tumpukan berkas manual.
Tiba-tiba, lampu gudang berkedip dan padam total. Kegelapan pekat menyergap.
"Aduh! Siapa yang matikan lampu?!" seru Keyra panik. Ia mencoba mencari ponselnya di saku jas snelli, tapi nihil. Ia meninggalkannya di meja klinik.
Suara langkah kaki berat terdengar mendekat. Keyra yang memang sedikit takut gelap mulai membayangkan hal-hal aneh. "Ziva? Bastian? Kalau ini hantu tentara, tolong ya, saya cuma mahasiswa magang yang belum lulus!"
"Berhenti bicara omong kosong."
Suara itu muncul tepat di belakangnya. Keyra berbalik dengan cepat dan kehilangan keseimbangan karena tersandung kardus. Sebelum tubuhnya menghantam lantai semen yang dingin, sepasang lengan yang kuat dan kokoh menangkap pinggangnya.
Keyra bisa merasakan detak jantung yang stabil dan aroma maskulin yang kini mulai ia hafal. Dalam kegelapan itu, hanya ada napas mereka yang bersahutan.
"Kapten?" bisik Keyra ragu.
"Lain kali, bawa senter jika ingin bekerja sampai terlambat di gudang tua ini," suara Ghazali terdengar jauh lebih lembut dari biasanya, tepat di dekat telinga Keyra.
***
keyra...
Bastian...
yudha....
kamu dimana....