Dunia mengenalnya sebagai bintang paling bersinar. Namun, hanya dia yang tahu betapa redupnya pria itu di balik layar.
Elvano Alvendra punya segalanya: kekuasaan, ketenaran, dan wajah yang dipuja jutaan orang. Tapi bagi Selena Nayumi, Elvano hanyalah pasien keras kepala yang lupa cara mengurus diri sendiri.
Sebuah perjodohan kolot dari sang nenek memaksa mereka terikat dalam janji suci yang tersembunyi. Bagi Elvano, Selena adalah "obat" yang tidak pernah ia duga akan ia butuhkan. Bagi Selena, Elvano adalah teka-teki misterius yang perlahan mulai ia cintai.
Di antara jadwal konser yang padat, kilatan kamera media, dan kontrak kerja jutaan dolar, ada satu rahasia besar yang mereka simpan rapat di balik pintu rumah: Status mereka.
Dapatkah cinta tumbuh di tengah kepura-puraan? Dan sanggupkah Selena bertahan menjadi rahasia terbesar sang bintang saat dunia menuntut Elvano untuk tetap "milik publik"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Setelah kepulangan Elvano yang meninggalkan jejak kehebohan di lobi rumah sakit, ponsel Selena tidak berhenti bergetar. Notifikasi grup WhatsApp rumah sakit meledak.
Darian tertawa renyah sambil menyalakan mesin mobil mewah milik Elvano begitu Elvano masuk ke mobil. Ia melirik bos sekaligus sahabatnya itu dari spion tengah saat mereka sudah menjauh dari area rumah sakit.
"Kau sadar tidak apa yang baru saja kau lakukan? Menurunkan kaca mobil dan tersenyum seperti itu di depan lobi rumah sakit umum? Besok pagi, wajahmu dan dokter gizi itu akan menghiasi semua akun gosip."
"Biarkan saja. Lagipula, Selena pasti bisa menanganinya," jawab Elvano santai, nada suaranya terdengar sangat yakin.
Darian menatap Elvano sekilas dari spion. Ada sesuatu yang berbeda. Pria di belakangnya ini, yang biasanya menyimpan kesepian panjang di balik tembok perfeksionisme yang kaku, kini tampak lebih... hidup.
"Kau berubah, El. Ada aura hangat yang keluar dari dirimu hari ini. Sepertinya Dokter Sunshine itu benar-benar membawa dampak positif untuk kesehatan mentalmu," goda Darian lagi. Elvano tidak menjawab, ia hanya menatap keluar jendela dengan senyum tipis yang masih tertinggal.
Sementara itu, di koridor rumah sakit, Selena merasa seperti buronan. Rasa penasaran menyerbu dari segala penjuru. Para perawat dan staf administrasi mulai berbisik-bisik saat ia lewat. Pertanyaan mereka seragam: "Apa benar itu Elvano Alvendra?"
Dira, asisten pribadinya di rumah sakit, langsung mencegatnya begitu Selena masuk ke ruang konsultasi.
"Dok! Jawab jujur! Pria tadi itu... itu Elvano, kan? Si pemilik Zenithra?" desak Dira dengan mata berbinar.
Selena menghela napas, berusaha tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang.
"Kalian salah lihat, Dira. Itu hanya kerabatku yang kebetulan mirip. Sudahlah, pasien selanjutnya sudah menunggu?" jawab Selena mencoba mengalihkan pembicaraan. Dira tampak tidak percaya, namun ia juga tidak berani mendesak lebih jauh melihat raut wajah Selena yang mulai serius.
Seharian itu, Selena menenggelamkan diri dalam tumpukan catatan nutrisi pasien. Dari diet diabetes hingga meal plan untuk pasien pasca-operasi, ia berusaha tidak memikirkan sosok pria yang baru saja mengacaukan ketenangannya pagi tadi. Namun, saat waktu istirahat tiba, ia tidak bisa menghindar lagi.
Nia, sahabat terdekatnya sesama dokter, sudah menunggunya di kantin dengan ekspresi yang sangat sulit diartikan. Mereka duduk di sudut yang agak tersembunyi.
"Sel, jangan bohong padaku. Aku ada di dekat pintu masuk tadi saat mobil itu berhenti. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri saat dia melepas kacamata," bisik Nia tajam. "Itu benar-benar Elvano Alvendra, bintang global itu. Apa yang terjadi?"
Selena mengaduk jus jeruknya tanpa selera. Ia sadar, Nia adalah orang yang paling tahu rahasianya, dan menyembunyikan hal sebesar ini darinya terasa mustahil. Selena tersenyum tipis, lalu menatap Nia dalam-dalam.
"Aku tidak bisa menyembunyikannya darimu, kan?"
Nia tertawa kecil, meskipun wajahnya masih menyimpan keterkejutan. "Tentu saja tidak! Cepat katakan sebelum aku mati penasaran!"
"Aku... aku akan menikah dengannya, Nia," ucap Selena lirih.
Nia tersedak air minumnya. Matanya membelalak lebar, mulutnya menganga tanpa suara selama beberapa detik.
"Apa?! Menikah? Dengan Elvano? Bagaimana bisa?! Sel, kita bicara tentang pria yang bahkan di media sosial pun banyak sekali yang mengaku-ngaku sebagai istrinya. Dia itu pangeran nasional!"
Selena hanya bisa tersenyum pasrah. "Ya, namanya juga jodoh. Jalannya kadang memang tidak masuk akal, tapi semuanya terjadi begitu saja."
Nia masih menggelengkan kepalanya tak percaya. Meskipun Selena sendiri adalah influencer kesehatan yang cukup besar dengan jutaan pengikut, ia tahu Selena tidak pernah peduli dengan tren atau gosip selebritas. Fokus Selena hanya pada edukasi gizi dan resep-resep sehatnya.
"Aku tadinya tidak ingin memberitahumu secepat ini karena situasinya rumit. Tapi karena kamu sudah menangkap basah kami, ya sudahlah. Kami akan menikah setelah Elvano menyelesaikan konsernya di Singapura bulan depan," tambah Selena.
Nia terdiam, ekspresinya berubah menjadi sedikit lebih serius. Sebagai sahabat yang tahu sejarah kelam kisah cinta Selena, ia merasa harus menanyakan satu hal.
"Sel... kamu tahu kan, Max sekarang juga sedang naik daun di dunia akting? Jika nanti kamu benar-benar masuk ke lingkaran Elvano, kemungkinan besar kamu akan bertemu lagi dengannya di acara-acara agensi atau premiere film. Bagaimana jika kamu bertemu Max lagi?"
Nama itu—Max. Nama mantan pacar yang dulu menghancurkan mimpinya dan memilih mengejar karier aktor bersama wanita lain. Selena menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.
"Tidak bagaimana-mana, Nia. Jalani saja. Itu masa lalu. Kalau nanti kami bertemu dan dia menyapa, ya akan kusapa balik sebagai orang asing yang sopan. Buat apa dibuat ribet? Hidupku sekarang sudah jauh lebih berharga daripada menyimpan dendam lama," jawab Selena santai, meskipun di dalam hatinya ia merasakan sedikit getaran kecil.
“Baguslah, kalau begitu.” Nia menatap kagum pada ketenangan sahabatnya.
**
Lorong lantai teratas gedung Zenithra Entertainment tampak sunyi, hanya deru halus pendingin ruangan yang memecah keheningan. Elvano Alvendra baru saja melangkah keluar dari studio pribadinya. Kaus hitam yang ia kenakan tampak melekat di tubuh atletisnya, basah oleh keringat setelah sesi latihan vokal intensif selama tiga jam. Rambutnya sedikit acak-acakan, namun justru menambah kesan maskulin yang mahal.
Baru beberapa langkah ia berjalan, seorang penyanyi muda pendatang baru yang baru saja merilis single perdana—seorang gadis cantik dengan riasan wajah sempurna—menghadang langkahnya.
"Tuan Elvano, apa Anda punya waktu sebentar?" tanya gadis itu dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, matanya menatap Elvano dengan penuh harap.
Elvano menghentikan langkahnya, namun ia tidak menoleh sepenuhnya. Wajahnya tetap tenang, datar, dan sulit ditebak.
"Memangnya ada urusan apa?"
"Saya ingin mendiskusikan konsep untuk single selanjutnya. Saya merasa ada beberapa bagian yang perlu sentuhan pribadi dari Anda langsung," jawabnya sambil mencoba mendekat satu langkah ke arah Elvano.
Elvano akhirnya menoleh, menatap gadis itu dengan tatapan yang dingin namun profesional.
"Diskusikan dulu dengan manajermu. Ada tim kreatif yang akan mengurus detail teknisnya. Setelah konsepnya matang, baru laporkan kepadaku. Bukankah seharusnya kau sudah tahu bagaimana cara kerja di agensi ini?"
Suara Elvano tidak tinggi, namun setiap katanya mengandung otoritas yang absolut. Gadis itu seketika tertunduk, wajahnya memerah karena malu.
"Baik, Tuan Elvano. Maaf, saya mengerti. Terima kasih."
Tanpa membuang waktu, Elvano melanjutkan langkahnya menuju ruangan CEO. Ia butuh mandi dan mendinginkan kepalanya. Di puncak kesuksesan seperti ini, ia sudah terbiasa menghadapi orang-orang yang mencoba mengambil jalan pintas untuk mendekatinya, dan ia paling benci ketidakprofesionalan.
Begitu pintu ruangannya tertutup rapat, Elvano mengembuskan napas panjang. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja marmer. Jarinya bergerak mengetik pesan untuk satu-satunya orang yang saat ini mengganggu pikirannya.
(Elvano: Soal di rumah sakit tadi pagi... apa semua baik-baik saja?)
Hanya butuh beberapa detik sampai ponselnya bergetar kembali.
(Selena: Bisa teratasi dengan aman, Tuan Bintang. Rekan-rekanku hanya sedikit terlalu bersemangat melihat 'kembaran' Elvano Alvendra menyetir mobilku.)
Elvano menyunggingkan senyum tipis, jenis senyum asli yang tidak pernah ia tunjukkan di depan kamera.
(Selena: Apa kamu sudah makan? Jam makan siang sudah lewat lho.)
(Elvano: Belum. Baru selesai latihan.)
(Selena: Kebetulan aku pulang cepat hari ini karena jadwal visite sudah selesai. Mau dibawakan makanan? Aku bisa mampir sebentar ke kantor pusat Zenithra.)
Jari Elvano terhenti sejenak. Ia bukan tipe pria yang suka membiarkan orang luar masuk ke ruang pribadinya di kantor, tapi Selena berbeda. Selena adalah dokter gizinya, calon istrinya, dan satu-satunya orang yang tahu bahwa di balik tubuh bugar ini, ia sedang berjuang melawan stres kronis.
(Elvano: Jika tidak merepotkan, datanglah. Aku akan kirim akses parkir khusus dan koordinat ruanganku. Kamu bisa langsung naik ke lantai paling atas tanpa perlu lapor di lobi utama.)
Setelah mengirim pesan itu, Elvano langsung masuk ke dalam kamar mandi pribadi yang terletak di dalam ruangannya. Ia membiarkan kucuran air dingin membasahi tubuhnya, mencoba menghilangkan rasa lelah yang menghimpit.
***