Wei Ying adalah wanita single berusia 35 tahun yang memiliki hobi membaca web novel.
Wei Ying merasa iba pada karakter jahat dalam web novel yang ia baca, meski jahat karakter itu memiliki masa lalu yang kelam. Lalu karena terlalu terbawa suasana, ia berkata..
"Jika aku yang menjadi ibunya, aku pasti akan memberinya kasih sayang dan masa kecil yang bahagia.."
Kemudian, seolah menganggap omong kosong itu sebagai doa, layar handphonenya menyeret Wei Ying masuk.
Kini, Wei Ying menyesali perkataannya. Namun, bubur sudah jadi nasi. Ia bertekad untuk mengubah ending novel, dimana dirinya mati mengenaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8 Harapan Kecil untuk 3 Kakak beradik
Wei Ying berkeliling rumah mencari ke tiga anaknya, ia sudah merencanakan sesuatu untuk mereka. Kemarin malam setelah begadang suntuk dan mencoba mencari tau apa yang terjadi tentang makanan yang tiba-tiba muncul saat ia memikirkannya, akhirnya ia mendapat titik terang.
Tadi saat matahari sudah nyaring muncul di timur, Wei Ying masih bergulat dengan pikirannya. Namun, karena ia sudah berada di ujung jalan buntu, terlintas pikiran absurd dalam kepalanya.
"Dahlah, aku tak tau apa ini. Tapi! Jika memang ini berguna, dan bukan semacam kebetulan... akan ku gunakan sampai titik darah penghabisan!" serunya dengan tekad bulat.
Lalu setelah bertekad seperti itu, Wei Ying memejamkan matanya dan mulai memikirkan hal-hal yang sekiranya mampir dalam pikirannya.
"Aku tak tau ini akan berhasil lagi atau justru gagal.. tapi tak ada salahnya untuk mencoba!" bisiknya.
Wei Ying berusaha untuk memikirkan banyak makanan yang enak yang ia tau, dan beberapa berhasil muncul secara misterius.
"Ayam bakar, bebek, belut, ayam goreng, donat, cake, burger, kue kering, mie instan, roti, minuman kemasan.." gumamnya seraya menatap makanan-makanan itu.
"Ternyata bukan cuma masakan yang sudah jadi, tapi junk food juga bisa.. tapi, sepertinya ini terbatas pada apa hal yang pernah ku cicip saja ya."
Menatap makanan itu untuk waktu lama, Wei Ying tiba-tiba teringat sesuatu. "Permen! Anak-anak suka permen!" serunya lalu memejamkan matanya lagi dan mencoba menciptakan sebuah permen dalam pikirannya.
Dan tiba-tiba permen juga muncul secara ajaib.
Setelah itu Wei Ying lalu menyusun rencananya dalam mengasuh ke tiga anak itu, yang pertama adalah memberi mereka banyak makanan enak dan menjaminnya tak akan kelaparan.
Kini di sinilah Wei Ying, mencari ketiga anak itu pagi-pagi sekali.
"Anak-anak!" serunya memanggil.
Dari arah belakang rumah, Lu Xue berlari terbirit-birit menghampiri. Lalu dengan terburu-buru bertanya, masih dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Iya, bu... ada apa? Xue tidak malas-malasan kok, baru saja Xue selesai mencuci baju." ujar anak perempuan itu dengan cemas, takut ibu Wei akan kembali kumat ke setelan awalnya.
Wei Ying mengernyitkan alisnya, menatap anak bungsunya yang sudah basah kuyup.
"Kenapa kamu mencuci sepagi ini, dan dimana kakak-kakakmu?" tanyanya.
"Tapi, ibu bilang harus mencuci baju pagi-pagi agar siangnya bisa mencari sayuran dan herba ke gunung.. sekarang kak Shu dan Kak Bao pergi ke sungai, katanya akan memancing ikan.."
Wei Ying lagi-lagi menepuk jidatnya.
"Kamu tunggu disini, ibu akan menyusul ke kakakmu.." ujar Wei Ying lalu bergegas pergi.
Tapi belum jauh dari pagar rumah, di kejauhan ke dua anak laki-laki itu berjalan mendekat dengan raut wajah gembira. Di tangan mereka ada beberapa ikan kecil yang baru saja mereka tangkap.
Namun, saat mereka melihat ibu Wei berdiri di depan pagar rumah, Lu Shu salah faham dan mengira Ibu tirinya akan kembali marah-marah.
"Cepat kemari!" seru Wei Ying seraya melambaikan tangannya memberi gesture untuk cepat mendekat.
Lu Shu dan Lu Bao segera mempercepat langkah kakinya, dan saat tiba di hadapan Ibu Wei mereka tertunduk dalam.
"Masuk, lihat baju kalian... basah semua, nanti masuk angin!"
Wei Ying pun menggiring mereka masuk, dan menyuruhnya untuk berganti baju. Setelah ketiganya ganti baju, Wei Ying sudah menunggunya.
"Kedepannya jangan lakukan itu lagi, oke. Tak perlu mencari ikan ke sungai, mencari syaur liar ke gunung.. Kita tak akan kelaparan." ujarnya.
"Lalu, ini. Masing-masing 1 ya.."
Wei Ying menyerahkan satu toples kecil berisi permen ke masing-masing anak, "Ingat, jangan makan sekaligus.."
Setelah menerima toples cantik berisi permen yang baru pertama kali mereka lihat, ke tiga anak itu sejenak melupakan rasa gelisah mereka saat berada di depan Ibu Wei. Lalu Wei Ying yang melihat suasana bagus itu, segera menggiring ke tiganya untuk sarapan.
.
.
Lu Shu menatap meja makan sederhana itu dengan wajah bingung, begitupun dengan kedua adiknya.
"Ibu... ini apa?" tanya Lu Shu dengan ragu. Dalam benaknya sudah ribut dengan segara jenis prasangka pada Ibu Wei.
"Jangan-jangan ini bentuk penyiksaan baru? Makanan apa ini? Aku baru pertama kali lihat.. dan makanan tadi pun sangat asing.." bisik Lu Shu dalam hati dengan cemas.
Wei Ying tertawa kecil. "Sini, biar ibu beri contoh." ujarnya.
Wei Ying mengambil selembar roti tawar, lalu mengoleskan mentega di atasnya dan tak lupa ia pun meletakan telur, tomat, selada, saus tomat, mustard dan sedikit mayones.
"Ini, cobalah.." ujar Ibu Wei.
Lu Shu dengan ragu menggigit makanan itu, sensasi pertama yang muncul adalah gurih lalu di susul rasa asam dan manis perpaduan dari mayones, saus dan tomat.
Wei Ying tersenyum kecil menatap reaksi kecil mereka, lalu ia juga menuangkan satu gelas susu untuk setiap anak.
Lu Bao yang melihat susu, reflek bertanya dengan cemas, "Ibu! Apakah tak apa kami minum ini.. ini sangat mahal, apa uangnya akan cukup untuk kita makan kedepannya?"
Wei Ying tersentuh dengan kekhwatiran anak itu, "Tidak. Mulai sekarang, kalian tak perlu mencemaskan soal apapun. Makan, main dan tidurlah yang cukup." ujarnya.
"Apa ibu sungguh berubah..." bisik ketiga anak itu secara bersamaan dalam hati, berharap jika itu benar-benar terjadi dan bukan hanya sebuah fatamorgana.
garam sama gula pada burek warna nya🤭🤭🤭