Igrisia Devalona Bharata terlahir dari darah campuran dewa dan peri, hingga memiliki kekuatan dasyat dan di akui sebagai dewi alam. Namun kekuatan itu membuat para dewa merasa takut, hingga membuatnya jatuh ke dunia manusia dan kehilangan segalanya. Tekad dendam yang membara membuatnya bangkit mencari pecahan kristal jiwa, yang kini dimiliki oleh para pangeran di tiap kerajaan. Perjuangan panjang membuatnya berhasil mencapai tujuan. Namun perasaan yang terjalin dan kontak fisik yang terus terjadi membuatnya bimbang, haruskah dia membalas dendam atau tinggal di bumi dan hidup bahagia bersama pangeran yang dicintainya. Persaingan cinta pun tak terelakkan membuat igris harus mengambil keputusan di saat yang paling krusial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Usu dedek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menerima Mandat
Mendengar permohonan Zein yang sangat memelas, membuat Igris menjadi kesal dan sangat geram. Kenapa dia terlalu baik kepada orang yang telah berbuat tidak adil kepadanya.
Baru saja Igris hendak mengucapkan beberapa kalimat, tiba-tiba mulutnya pun terhenti oleh permohonan yang sama oleh pangeran harimau putih itu. Berulang kali pangeran harimau putih itu berlutut dan memohon ampun atas kesalahan yang dilakukan oleh ayahnya di masa lalu. Tak hanya Zain, para dewan istana dan juga panatua kerajaan juga ikut-ikutan memohon.
Igris menjadi makin curiga, "Sebenarnya ada apa ini? Apa yang ditutupi Zean dariku sebenarnya?" benaknya berkata demikian.
Karena memikirkan perasaan sang pangeran tersebut, Igris pun malas memperpanjang masalah dia pun memutuskan untuk membatalkan permintaan itu. Inggris lalu melanjutkan pembicaraan inti dari yang sebelumnya tertunda.
"Baiklah, karena memikirkan hubunganku dan pangeran Zain juga kota Ornebic, maka aku memutuskan tidak akan mengungkit kasus lama itu, tapi untuk di masa yang akan datang, kota Ornebic berada di bawah naungan kerajaan Neuzella, maka hal-hal seperti tindak kriminal akan dibentuk badan penegak hukum atau badan disiplin. Yang akan menangani kasus-kasus masalah orang-orang parlemen maupun rakyat biasa, aku harap keputusan ini akan sangat adil bagi seluruh penduduk. Apa tidak ada yang keberatan?"
"Badan disiplin? Apa itu seperti orang yang akan menegakkan keadilan tuan putri? karena sebelumnya tidak pernah ada badan seperti itu, kerajaan manapun tak pernah ada hal tersebut. Hanya ada hukum pengadilan." Tanya penasehat kerajaan Ornebic.
"Badan disiplin berbeda dengan sistem pengadilan. Badan disiplin akan dibentuk dan dijalankan oleh orang-orang yang dipilih parlemen kota. Badan disiplin ini, harus netral! Tidak boleh berpihak kepada anggota bangsawan. Harus adil dan jujur dalam menjalankan tugasnya, sehingga badan disiplin saat menjalankan tugas tidak akan pandang bulu. Siapapun yang melakukan tindak kejahatan, tidak peduli itu anggota keluarga tuan kota ataupun rakyat biasa, harus diadili dengan seadil-adilnya. Dengan begini, rasa aman para penduduk akan semakin kuat. Kepercayaan para rakyat akan semakin mengakar karena tuan kota tidak akan pernah memihak."
"Baik tuan putri! kami akan melaksanakan sesuai perintah anda." ucap orang-orang istana secara serempak.
Tak lama kemudian acara penobatan pun dimulai. Zain naik ke atas singgasana dan berpakaian rapi, dia duduk di atas kursi singgasana raja dengan tampilan yang sangat berbeda.
Igris yang menatap Zein dari bawah singgasana merasa terpesona oleh penampilan pangeran harimau itu. Penampilannya benar-benar berbeda dari sebelumnya. Mata igris hanya tertuju pada satu titik di sana. Wajahnya sangat cerah berkilau cahaya dan berseri-seri. Tampak cahaya hangat yang menenangkan jiwa terpancar dari dirinya, itu karena Zain sangat baik hati.
Kulitnya yang kuning kecoklatan dan otot-otot kekar, menambah rasa gairah wanita yang memandangnya. Dada bidang yang sengaja tak ditutup kain itu tampak jelas sangat menggoda. Balutan celana balon mengembang dengan syal bulu-bulu harimau, menjadi busana lambang kebanggaan bagi keturunan raja dari kota Ornebic.
Rambut hitam pendeknya dengan corak putih tiga garis tampak sangat mengkilap dan menawan. Kharisma seorang raja benar-benar terpancar dari pangeran harimau itu. Ana sampai meleleh melihatnya.
" Ah Nona ... kapan aku bisa punya pacar?" Secara tak terduga kata-kata genit seperti itu malah terucap dari mulut Ana membuat Igris sedikit kaget atas perubahan sikapnya.
"Aku sangat iri denganmu. Kau sudah memiliki pangeran yang sangat tampan dan menggoda. lihat itu!" Ana menunjuk ke arah perut Zean.
"Otot-otot nya membuatku ingin menjerit!... aaaahhh ... Bagaimana rasanya saat kau memegang dada itu? Saat kau meraba otot perut itu apakah kau mendesah?"
" Jaga bicaramu!" tegur Igris. "Ana, kau ini sangat genit. Apa di pikiranmu hanya ada hal-hal mesum?"
"Nona, aku sudah hidup selama ratusan tahun. Namun tidak sekalipun aku memiliki pacar, bahkan saat aku berusia 3 tahun aku sudah merawatmu. Bagaimana mungkin aku pernah bertemu lelaki? Yang kutemui di istana hanyalah Raja Hermes dan Danji juga para pengawal, mereka tidak sepadan dengan pangeran ini. Nona, jika boleh aku minta padamu, carikan aku pendamping juga ya, aku ingin sekali merasakan spiritual ganda."
"Ya ampun!!! Ternyata pelayanku ini sangat gatal. Aku tidak tahu ternyata pikirannya segenit ini, aduh entah apa yang dimakan anak ini sejak kecil? Setiap kali melihat lelaki tampan darahnya langsung meluap. Rasanya ingin sekali aku menggantikannya di posisiku." gumam igris merasa heran.
Tak lama kemudian, penasehat kerajaan pun membacakan ikrar pengangkatan pemimpin kota. Sesuai dengan arahan Igris dan raja Hermes, kerajaan Ornebic saat ini bernaung di bawah kerajaan Neuzella, maka Ornebic kini berganti nama, bukan lagi menyandang nama Ornebic tapi diganti dengan nama Ocra. Yaitu kota harimau putih.
Kota Ocra dipimpin oleh pangeran Zaen mulai saat ini sampai lima tahun kedepan. Upacara pengangkatan pun berlangsung hikmat dan sakral. Zein menerima mandat itu dengan seksama, mengenakan mahkota kebangsaan harimau putih dan diberikan jubah bulu harimau sebagai tanda keturunan dari anggota kerajaan sebelumnya.
Namun tak berselang lama, setelah acara penobatan itu selesai, tiba-tiba Igris naik ke singgasana disaksikan oleh seluruh rakyat kota Ocra. Dewi itu menatap wajah Zean dengan sangat lembut. Tatapan mata nya seperti hendak akan berpisah. Benar saja, Zean pun merasa curiga kenapa sang dewi menatapnya seperti itu.
Dia pun bertanya, "Dewi, apa ya membuatmu menatap seperti ini?"
Igris pun menjawab dengan senyum. "Pangeran, tugasku sudah selesai. Aku sudah menyerap kekuatan kristal tanah milikmu lebih dari setengah, dan sekarang aku sudah menunaikan janji untuk kota ini. Aku sudah menghidupkan kembali pohon suci dan sejahterakan penduduk. Aku memberikan exilir kehidupan dari cahaya matahari milikku, agar penduduk disini kuat dan mempunyai tubuh yang sehat. Karena tugasku sudah selesai maka aku akan pergi ke kerajaan selanjutnya untuk mencari teratai es. Kita akan berpisah sampai disini pangeran,"
"Apa... apa... apa yang kau katakan? Apa maksudmu setelah menyerap kekuatan spiritual kau akan meninggalkanku dewi?" Dengan suara gelagapan dan memegang tangan sang dewi itu Zean menjadi panik.
"Tidak! bukan begitu, saat mengikat kontrak darah bukankah sudah aku katakan, jika telah selesai misi penaklukan maka kau bisa bebas dan tidak terikat oleh kontrak darah lagi, oleh karena itu pangeran. Aku ingin bertanya kepadamu, apakah ingin mengakhiri kontrak darah ini?"
"Tidak!! Tidak boleh! itu tidak akan terjadi putri. Aku menerima jabatan ini hanya karena kamu memintanya. Sesungguhnya aku sangat tidak menginginkan hal ini. Yang kuinginkan adalah bersamamu. Jika jabatan ini menekanku untuk bersama orang yang kucintai maka lebih baik aku menjadi orang yang bebas."