NovelToon NovelToon
Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Teen
Popularitas:860
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Azalea sangat menyukai novel, terkadang dia selalu ingin mengubah jalan cerita jika alur atau endingnya tidaks sesuai dengan ekspektasinya. Terkadang dia juga ingin masuk ke dunia novel supaya bisa merasakan pengalaman menjadi tokoh utama, apalagi jika tokoh utama yang di deskripsikan di kelilingi oleh pria-pria tampan. Dan keinginan Azalea menjadi kenyataan, seperti sebuah mimpi dia masuk ke dalam salah satu novel yang dia baca. Sayangnya tokoh yang dia perankan adalah gadis cantik yang malang. Akankah Azalea mampu menjalani kehidupan barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7

Nayla berjengit.

Suara itu terlalu keras.

Terlalu tiba-tiba.

Namanya dipanggil dengan nada yang tidak pernah membawa kabar baik diiringi bunyi pintu yang dibanting kasar hingga dinding kamar bergetar pelan.

Brak!

Jantung Nayla berdegup kencang.

Tubuhnya yang sedari tadi berdiri di dekat meja belajar otomatis menegang. Tangannya yang memegang pulpen berhenti bergerak. Ujung tinta masih menyentuh kertas, meninggalkan noda kecil yang perlahan melebar.

Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang.

Aura itu selalu sama.

Menekan.

Mencekik.

Dan membawa ancaman.

Perlahan, Nayla mengangkat wajahnya. Dan benar Bagus Raharja sudah berdiri di ambang pintu. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras, tatapannya tajam seperti pisau yang siap melukai. Langkahnya lebar saat mendekat, sepatu kulitnya menghantam lantai marmer dengan suara yang berirama tapi mengintimidasi.

Nayla tidak bergerak, ia hanya berdiri diam. Menunggu seperti biasa.

“Kamu kelewatan, Nayla!” Suara itu meledak mengisi seluruh ruangan, menghantam telinga Nayla tanpa ampun.

Ia menelan ludah pelan.Matanya tidak berani terlalu lama bertatapan dengan ayahnya, tapi juga tidak sepenuhnya menunduk. Ada sesuatu di dalam dirinya yang hari ini berbeda.Atau mungkin sudah terlalu penuh.

“Tante Vina udah ngadu ke Papa?” tanyanya pelan. Pertanyaan itu sebenarnya tidak perlu, awabannya sudah jelas. Sudah terlalu jelas.

Bagus tertawa pendek, tapi tanpa sedikit pun rasa humor di dalamnya.

“Kamu sudah gila, hah?!” bentaknya lagi. “Deviana itu sepupu kamu!”

Kalimat itu terdengar seperti tuduhan besar seolah apa yang dilakukan Nayla adalah dosa tak termaafkan. Seolah hubungan darah adalah alasan yang cukup untuk membenarkan segalanya.

Nayla diam sejenak, dadanya naik turun, pikirannya berputar cepat.

Deviana.

Nama itu selalu membawa rasa pahit.Perempuan yang dengan mudahnya memutarbalikkan keadaan.

Perempuan yang selalu terlihat lemah di depan orang lain tapi berubah menjadi seseorang yang kejam saat hanya berdua dengan Nayla.

Perempuan yang entah bagaimana selalu dipercaya, selalu dibela dan selalu menang.

Nayla tersenyum kecil, senyum yang lebih mirip kepahitan yang tidak lagi bisa ia sembunyikan.

Ia mengangguk pelan.

“Iya… Nayla tahu,” ucapnya lirih. “Lagian Papa lupa ya? Papa sendiri kan yang ngajarin Nayla buat jadi kayak gini.”

Plak!

Tamparan itu datang tanpa aba-aba.

Keras.

Nyaring.

Membelah udara.

Kepala Nayla sedikit terlempar ke samping, pipinya langsung terasa panas, perih , berdenyut. Namun, ia tidak jatuh. Ia tetap berdiri, tubuhnya goyah sesaat, tapi ia menahan diri.

Ia menegakkan kembali posisinya perlahan. Tangannya naik, menyentuh pipi yang baru saja menerima tamparan itu hangat dan sakit. Tapi bukan itu yang paling menyakitkan ia menatap ayahnya lagi secara angsung tanpa menghindar.

“Gimana putri Papa ini nggak kasar…” suaranya pelan, tapi jelas. “Kalau Papa sendiri yang ngajarin itu semua?”

Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi.

Namun bukan sunyi yang tenang.

Melainkan sunyi yang menegangkan.

“Apa yang bisa Nayla contoh dari Papa selain perlakuan kasar Papa ke Nayla?” lanjutnya.

Kalimat itu menggantung di udara.

Berat.

Dan berbahaya.

“Berani kamu bicara seperti itu ke saya?!” bentak Bagus.

Tangannya bergerak cepat mencengkram dagu Nayla dengan kuat. Memaksa wajah gadis itu mendongak, leher Nayla menegang.Rasa sakit menjalar dari dagu ke rahangnya.Namun matanya, tidak lagi menghindar.

Ia menatap balik.Meski di dalamnya ada rasa takut, meski tubuhnya gemetar. Namun ada sesuatu yang lain, Perlawanan.

“Nayla nggak salah kan, Pa?” ucapnya pelan. Matanya mulai memerah, bukan karena tamparan tadi. Tapi karena perasaan yang sudah terlalu lama dipendam.

“Papa juga nggak pernah ngerasa bersalah dengan apa yang Papa lakuin ke Nayla.” Kalimat itu keluar.

Jujur.

Tanpa filter.

Tanpa takut.

Atau mungkin ia sudah terlalu lelah untuk takut.

“Dasar anak tidak beradab!” Bagus semakin menekan dagu Nayla. “Berani kamu melawan saya! Tidak cukup saya buat kamu keluar masuk rumah sakit, hah?!”

Nayla meringis, rasa sakit itu nyata. Namun entah kenapa tidak lagi terasa asing. Seolah tubuhnya sudah hafal, seolah rasa sakit itu sudah menjadi bagian dari dirinya.

Ia menarik napas pelan, berusaha tetap berbicara meski sulit. “Cukup atau nggaknya…” suaranya serak, “…Papa sendiri yang nentuin kan?”

Tidak ada jawaban.

Hanya tatapan tajam.

Dan cengkeraman yang masih kuat.

Namun beberapa detik kemudian Nayla menggerakkan kepalanya perlahan. Melepaskan diri dari genggaman itu. Dan kali ini Bagus tidak menahannya, tidak juga menyerangnya lagi.

Hanya diam.

Menatap.

Seolah sedang menimbang sesuatu.

Nayla mundur satu langkah untuk menjaga jarak. Lalu menarik napas panjang.

“Sebaiknya Papa lanjut kerja aja,” katanya pelan, tapi kali ini lebih terkontrol. “Kerjaan Papa jauh lebih penting daripada ngurus anak biadab ini.”

Ia tersenyum, senyum yang aneh. Karena terlalu ringan untuk situasi seperti ini.

“Nayla juga mau lanjut belajar. Kalau Papa di sini, nanti Nayla nggak jadi belajar. Terus Papa sendiri yang malu kalau nilai Nayla jelek.”

Kata-kata itu terdengar seperti logika sederhana. Namun di baliknya ada kelelahan., ada kepasrahan, ada sindiran yang terlalu halus untuk ditangkap atau mungkin terlalu jelas untuk diabaikan.

“Sudah berani kamu ngatur saya?!” suara Bagus meninggi lagi. “Memangnya kamu siapa?!”

“Nayla nggak ngatur Papa,” jawab Nayla lembut. “Nayla cuma ngingetin.”

Wajahnya tetap tenang seolah semua yang terjadi tadi tidak berarti apa-apa. Seolah tamparan itu tidak meninggalkan bekas. Seolah ia baik-baik saja.

Padahal tidak.

Sama sekali tidak.

Bagus terdiam beberapa detik, lalu akhirnya berkata dengan nada dingin,

“Saya tidak mau basa-basi. Besok kamu harus minta maaf ke Deviana.”

Kalimat itu seperti keputusan final.

Tidak bisa ditawar.

Tidak bisa ditolak.

Dan Nayla tahu itu, ia menunduk sebentar enutup matanya sesaat kemudian mengangguk.

“Iya, Pa. Besok Nayla pasti minta maaf.”

Jawaban yang cepat tanpa perlawanan.Karena ia tahu percuma.Semua akan tetap sama. Semua akan tetap berakhir sama. Dan yang paling ia butuhkan sekarang adalah satu hal sederhana.

Agar ayahnya keluar dari kamarnya agar ia bisa

Sendiri.

Menangis.

Tanpa dilihat.

Tanpa dihakimi.

Bagus akhirnya berbalik melangkah menuju pintu. Dan sebelum keluar—

Brak!

Pintu kembali dibanting.

Lebih keras.

Lebih kasar.

Suara itu menggema meninggalkan keheningan yang berat.Dan saat itulah semua runtuh.

Pundak Nayla bergetar, tangannya yang tadi masih mencoba terlihat kuat kini melemah. Ia berjalan pelan menuju kursi belajar, setiap langkah terasa berat seolah tubuhnya membawa beban yang tidak terlihat.

Ia duduk.

Perlahan.

Dan begitu tubuhnya menyentuh kursi, air mata itu jatuh.

Satu.

Dua.

Lalu tidak berhenti.

Tangisnya pecah.

Diam.

Namun dalam.

Ia menunduk, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahu kecil itu naik turun, getaran yang tidak bisa ia kendalikan lagi. Semua yang tadi ia tahan keluar.

Tanpa sisa.

Nayla memang selalu terlihat kuat di depan orang lain, di depan dunia.

Ia tersenyum.

Ia diam.

Ia bertahan.

Namun saat sendiri ia hancur.

Benar-benar hancur.

Dan tidak ada yang tahu.

Tidak ada yang melihat.

Tidak ada yang peduli.

Azalea yang terjebak di dalam dirinya merasakan semuanya.

Setiap isak.

Setiap luka.

Setiap rasa sakit yang tidak pernah sempat diucapkan.

Dan untuk pertama kalinya Azalea tidak hanya merasa iba.

Ia merasa marah.

Sangat marah.

Bagaimana bisa seorang ayah memperlakukan anaknya seperti ini?

Bagaimana bisa seseorang yang seharusnya menjadi tempat pulang justru menjadi sumber luka?

“Ini nggak bener…” batin Azalea bergetar.

Namun ia tetap tidak bisa melakukan apa-apa, ia hanya bisa merasakan.

Menyaksikan.

Dan perlahan memahami. Bahwa Nayla tidak hanya lelah, ia sedang bertahan di dunia yang terus memaksanya untuk kuat tanpa pernah memberinya tempat untuk lemah.

Di kursi itu, dengan air mata yang terus mengalir Nayla memeluk dirinya sendiri. Seolah mencoba menggantikan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan.

Kehangatan.

Kasih sayang.

Dan rasa aman.

Namun semua itu, tidak ada. Yang ada hanya kesunyian. Dan luka yang terus bertambah.

Malam semakin larut, lampu kamar tetap menyala.Buku-buku masih terbuka di meja.Namun Nayla tidak lagi membaca, ia hanya duduk.

Menangis.

Dan mencoba untuk tetap hidup.

Untuk satu hari lagi.

1
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!