NovelToon NovelToon
Setelah Diceraikan Aku Menemukan Rumahku

Setelah Diceraikan Aku Menemukan Rumahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Pengkhianatan
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dhatu Lukita

Enam tahun menunggu suami pulang dari Korea, Nandin percaya semua pengorbanannya akan terbayar. Ia membesarkan dua anak kembar seorang diri, bekerja siang malam demi menyambung hidup, sementara suaminya tak pernah mengirim nafkah sedikit pun.
Namun kepulangan suaminya justru membawa surat perceraian.
Pengkhianatan itu menghancurkan hidup Nandin hingga ia kehilangan kewarasannya dan harus menjalani rehabilitasi di sebuah pondok di Jawa Timur. Terpisah dari kedua putri yang sangat dicintainya, Nandin berjuang bangkit dari luka yang nyaris merenggut hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggilan yang Menghancurkan Dunia

Ada telepon yang mengubah hidup seseorang.

Bukan karena kabarnya baik.

Melainkan karena setelah telepon itu ditutup, hidup tidak akan pernah sama lagi.

Dan pagi itu, saat ponsel Nandin bergetar di atas meja dapur, ia belum tahu bahwa dunianya akan runtuh dalam hitungan menit.

Pagi berjalan seperti biasanya.

Shella dan Sherly sedang berebut satu potong roti cokelat.

Padahal masing-masing sudah punya.

Tapi begitulah anak kembar.

Kalau milik sendiri rasanya biasa.

Kalau milik saudaranya terlihat lebih enak.

"Mamaaa..."

Sherly mengadu.

“Ceya andill.”

(Shella ambil.)

“Endak andill.”

(Aku nggak ambil.)

protes Shella.

“Ntu tunyaatu.”

(Itu punyaku.)

“Ndakk.”

(Bohong.)

“Endak endakk.”

(Bukan bohong.)

Nandin yang sedang menggoreng tempe hanya bisa tertawa kecil.

Kadang suara berisik kedua anak itu menjadi satu-satunya hal yang membuat rumah kecilnya terasa hidup.

"Masing-masing punya."

kata Nandin.

"Kalau rebutan, Mama makan semua."

Kedua anak itu langsung diam.

Lalu saling pandang.

Kemudian tertawa.

Membuat Nandin ikut tersenyum.

Namun senyum itu tidak bertahan lama.

Ponselnya bergetar.

Nomor tidak dikenal.

Awalnya Nandin tidak terlalu memperhatikan.

Biasanya hanya pelanggan katering.

Atau kurir.

Namun entah kenapa, pagi itu perasaannya mendadak tidak enak.

Sangat tidak enak.

"Halo?"

Suara di seberang terdengar ragu.

"Apakah benar ini Saudari Nandin?"

"Iya."

"Saya dari Rumah Sakit Umum Daerah di Jawa Tengah."

Jantung Nandin langsung berdegup lebih cepat.

Rumah sakit?

Jawa Tengah?

"Maaf..."

lanjut suara itu.

"Apa Ibu anak dari Bapak Dedi dan Ibu Rukmini?"

Deg.

Nandin langsung berdiri.

"Iya."

Suasana mendadak terasa aneh.

Tangannya mulai dingin.

"Kenapa ya?"

Hening.

Beberapa detik yang terasa sangat lama.

Lalu suara itu terdengar pelan.

Sangat pelan.

"Maaf Bu."

Jantung Nandin terasa seperti diremas.

"Orang tua Ibu mengalami kecelakaan lalu lintas tadi subuh."

Dunia berhenti.

Benar-benar berhenti.

"Maaf..."

lanjut suara itu.

"Keduanya tidak berhasil diselamatkan."

Brak.

Piring di tangan Nandin jatuh ke lantai.

Pecah.

Namun ia bahkan tidak menyadarinya.

Karena seluruh tubuhnya membeku.

Tidak.

Tidak mungkin.

Ayah?

Ibu?

Tidak.

Pasti salah orang.

Pasti ada kesalahan.

"P-Pak..."

Suara Nandin bergetar hebat.

"Pasti salah."

"Maaf Bu."

"Tidak."

"Pasti salah."

Tangannya mulai gemetar.

"Pasti salah."

Tapi suara di seberang tetap sama.

Tetap tenang.

Tetap hati-hati.

Dan justru itulah yang membuat semuanya terasa nyata.

"Kami menemukan nomor Ibu dari kontak darurat milik almarhum."

Almarhum.

Kata itu menghantam lebih keras daripada apa pun.

Almarhum.

Bukan pasien.

Bukan korban.

Almarhum.

Artinya...

Mereka benar-benar sudah pergi.

"Nggak..."

bisik Nandin.

Air matanya langsung jatuh.

"Nggak..."

Dan dalam hitungan detik.

Tangis itu pecah.

Tangis yang bahkan tidak bisa ia tahan.

Tangis yang keluar dari tempat paling dalam di hatinya.

"Ayah..."

"Ibu..."

Shella dan Sherly langsung ketakutan.

"Mama?"

“Maamma ennin?”

(Mama nangis?)

Namun Nandin tidak bisa menjawab.

Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya.

Ia merasa benar-benar kehilangan arah.

Orang tuanya.

Dua orang yang selalu ada.

Dua orang yang tidak pernah meninggalkannya.

Dua orang yang selalu menjadi rumah saat dunia terasa jahat.

Sekarang sudah tidak ada.

Selamanya.

Satu jam berikutnya berlalu seperti mimpi buruk.

Nandin tidak ingat bagaimana ia duduk.

Tidak ingat bagaimana ia bernapas.

Tidak ingat apa yang dilakukan setelah telepon itu.

Yang ia tahu hanya satu.

Ia harus ke sana.

Harus menemui mereka.

Untuk terakhir kalinya.

Dengan tangan gemetar, ia menghubungi Wisnu.

Panggilan pertama tidak diangkat.

Kedua juga.

Baru panggilan ketiga tersambung.

"Apa?"

Nada suara Wisnu langsung membuat hati Nandin semakin sakit.

Karena bahkan saat hidupnya hancur.

Lelaki itu tetap terdengar kesal.

"Ayah sama Ibu..."

Suara Nandin pecah.

"Meninggal."

Hening.

Beberapa detik.

Lalu...

"Oh."

Hanya itu.

Oh.

Satu kata.

Dan Nandin merasa hatinya semakin remuk.

"Mereka kecelakaan."

"Oh."

Lagi.

Hanya itu.

"Aku mau ke Jawa Tengah."

Wisnu langsung berubah.

"Kamu ke mana?"

"Ke rumah sakit."

"Buat apa?"

Nandin sampai tidak percaya dengan pertanyaan itu.

"Buat apa?"

"Mereka orang tuaku."

"Mereka meninggal."

"Mereka orang tuaku, Mas."

Wisnu mendengus.

"Jangan bohong."

Deg.

Nandin membeku.

"Apa?"

"Kamu pikir aku nggak tahu?"

"Tahu apa?"

"Kamu pasti ada urusan lain."

Nandin benar-benar tidak percaya.

Di saat seperti ini.

Di saat dirinya baru kehilangan kedua orang tuanya.

Wisnu masih memikirkan kecurigaan yang tidak masuk akal.

"Mereka meninggal."

"Aku nggak percaya."

Air mata Nandin kembali jatuh.

Karena untuk pertama kalinya.

Ia merasa tidak sedang berbicara dengan manusia.

Melainkan dengan seseorang yang sudah kehilangan hatinya.

"Mas..."

"Aku lagi berduka."

"Terserah."

"Kalau kamu pergi, aku ceraikan."

Kalimat itu keluar begitu saja.

Dingin.

Tanpa rasa bersalah.

Tanpa empati.

Tanpa belas kasihan.

Dan justru saat itulah.

Sesuatu dalam diri Nandin patah.

Bukan patah karena sedih.

Tapi patah karena kecewa.

Kecewa yang sudah terlalu lama menumpuk.

"Aku nggak peduli."

Kalimat itu keluar pelan.

Namun tegas.

Wisnu langsung diam.

Karena itu pertama kalinya Nandin menjawab seperti itu.

"Apa?"

"Aku bilang aku nggak peduli."

Air mata terus mengalir.

"Terserah mau ceraikan atau tidak."

"Aku tetap pergi."

Karena kali ini...

Tidak ada ancaman apa pun yang bisa menahan seorang anak menemui orang tuanya untuk terakhir kali.

Tidak ada.

Telepon ditutup.

Dan Nandin tidak menangis lagi.

Karena rasa sakitnya sudah terlalu besar.

Sore itu.

Dengan tangan gemetar.

Ia memesan mobil online.

Lalu mulai memasukkan pakaian ke dalam tas.

Shella dan Sherly masih bingung.

“Mamma te mana?”

(Mama mau ke mana?)

Sherly bertanya.

Nandin memeluk mereka erat.

Sangat erat.

Seolah sedang mencari kekuatan.

"Mama mau ketemu Eyang."

“Ituut.”

(Ikut.)

kata Shella.

Air mata kembali jatuh.

Karena anak itu tidak tahu.

Mereka sudah terlambat.

Sangat terlambat.

Sebelum berangkat, Nandin berpamitan kepada tetangga.

Bu Rini langsung memeluknya.

Begitu mendengar kabar itu.

Wanita itu ikut menangis.

"Ya Allah..."

"Nandin..."

"Yang kuat ya."

Pak Darto juga datang.

Beberapa tetangga berkumpul.

Mereka semua tahu betapa dekatnya Nandin dengan kedua orang tuanya.

Karena selama ini.

Hanya mereka yang selalu datang saat Nandin kesulitan.

Hanya mereka yang selalu membela saat dirinya disakiti.

Dan sekarang...

Mereka sudah pergi.

Selamanya.

Mobil akhirnya datang.

Langit sore terlihat mendung.

Seolah ikut berduka.

Nandin duduk di kursi belakang.

Shella dan Sherly berada di sampingnya.

Tas kecil terletak di pangkuan.

Dan hatinya...

Kosong.

Sangat kosong.

Sepanjang perjalanan.

Kenangan terus bermunculan.

Tentang Ayah yang selalu menggendongnya saat kecil.

Tentang Ibu yang selalu menyiapkan sarapan.

Tentang perjalanan jauh mereka saat menjenguknya setelah melahirkan.

Tentang uang tabungan pensiun yang mereka berikan untuk cucu-cucunya.

Tentang pelukan terakhir.

Tentang senyum terakhir.

Tentang semua hal yang dulu terasa biasa.

Namun sekarang menjadi sangat berharga.

Karena tidak akan pernah terulang lagi.

"Nak."

Suara Ayah seperti terngiang di telinganya.

"Kalau seseorang mengancammu setiap kali kamu ingin bahagia..."

"Itu bukan cinta."

Kalimat itu kembali muncul.

Dan membuat tangis Nandin pecah lagi.

Karena sekarang…

Ia tidak akan pernah mendengar suara itu lagi.

Tidak akan pernah.

Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun.

Nandin benar-benar merasa sendirian di dunia.

Benar-benar sendirian.

1
Penulis🇰🇷🇲🇨Chani
Aku mampir utk baca kak 😊 sekarang sdh baca episode pertama. Semangat kak♡
Penulis🇰🇷🇲🇨Chani
Wah nyebelin banget ya ibu mertuanya
Dhatu Lukita
semangat buat akuu😂
Penulis🇰🇷🇲🇨Chani: Semangat, fighting💪
total 1 replies
falea sezi
males MC di buat oon gini thor🤣 buat dia kuat gk menye bales dendam bego😒
Dhatu Lukita: hehehhe ya maap🙏
total 1 replies
falea sezi
😒 jalang.. emank pelakor nih buat nadin waras dan minta cerai dr laki kardus lah
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
tazayaa
bagus kak, mampir dikarya ku juga😍
tazayaa
halo kak, mampir di cerita ku yuu😍
Dhatu Lukita: haloo,,
oke baik. mari kita berkawan💗
total 1 replies
falea sezi
laki kardus g tau diri
Dhatu Lukita
pantengin terus ya kak 🤭💗
anakmafia
up tiap hari 10 episod bisa gasih thor hehehe
waya520
halooo aku mampir nih 🤭
Dhatu Lukita: haloo kaka🤭😍
total 1 replies
Arwondo Arni
cerai aja lebih bahagia semoga ketemu pria yg lbh segalanya dari bpknya si kembar yg berengsek.
Dhatu Lukita: heheheh pantengin terus ya kak🤭😍
total 1 replies
Wawan
Mawar dan iklan buat si kembar... ✍️💪
Dhatu Lukita: ahhh terimakasih banyak 🤭😍
total 1 replies
Lintang_Tara✨
saling dukung ygy❤️
Musea
udah mampir nih, semangat terus ya dari sesama authorr
Dhatu Lukita: siaaapppp💪💪💪
total 1 replies
anakmafia
nih ku kasih dukungan biar semangat wkwkwk.
Dhatu Lukita: ho.ohh tengkyu kak😍🥰🥰
total 1 replies
anakmafia
nih ku kasih dukungan biar semangat wkwkwk.
D. Nightshade
semangat terus thor,💗
Wawan
Salam kenal buat Nandin ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!