NovelToon NovelToon
The Shadow-Wind : Reincarnation Crystals Of The Chosen

The Shadow-Wind : Reincarnation Crystals Of The Chosen

Status: tamat
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Action / Tamat
Popularitas:129
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Kurniawan Wawan

Di daratan Huanjiang, Dinasti Wuji Chao memerintah dengan tangan besi. Chen Fengyin lahir di desa yang damai, hingga sebuah pembantaian menghancurkan segalanya ketika dia masih kecil – menyisakan dia sebagai satu-satunya yang tersisa.

Ditemukan oleh seorang ahli bela diri kuno, dia menghabiskan tahun-tahun untuk melatih diri dan menguasai kekuatan elemen alam yang jarang orang bisa miliki. Namun ketika masa lalunya kembali mencari dia, pertempuran yang dahsyat membuatnya harus membangkitkan kekuatan legendaris yang hanya diberikan kepada orang terpilih.

Meskipun berhasil mengusir musuh, tubuhnya tak mampu menahannya. Tapi takdir tidak mengizinkannya pergi begitu saja – dia bangun kembali dengan tubuh baru di desa yang jauh, membawa kekuatan yang sama namun harus belajar mengendalikannya lagi.

Bersama teman baru yang setia dan kelompok perlawanan yang tersembunyi, Fengyin berkelana selama bertahun-tahun

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Pertempuran di Puncak

Kabut pagi di Gunung Puncak Angin tidak lagi bersih. Bau hangus masih menempel di udara—sisa dari Huǒ yang digunakan melawan pembunuh bayangan semalam—mencampur dengan aroma darah dan sesuatu yang lebih gelap. Sesuatu yang merusak keseimbangan alam.

Fengyin berdiri di puncak, menatap ke timur. Keenam kristal di punggungnya berdenyut pelan, tidak lagi liar seperti semalam, tapi juga tidak sepenuhnya terkendali. Mereka seperti kuda yang baru ditunggangi—patuh, tapi siap melepas kendali kalau penunggang lengah.

Dia merasakannya sebelum melihat.

Bayangan yang bergerak melawan arah angin. Bayangan yang tidak punya sumber —bukan dari pohon, bukan dari batu, bukan dari matahari. Bayangan yang dibuat oleh seseorang yang menguasai Yǐng pada level yang bahkan baru bisa mimpi mencapai.

"Xie Wuyou," bisiknya, dan nama itu terasa seperti kutukan.

Dari kabut, dia muncul.

Tidak berjalan—muncul . Seolah-olah bayangan di sekitarnya berkembang, memadat, membentuk tubuh dari kekosongan. Tinggi seperti yang dingat dari lima belas tahun lalu—tapi berbeda. Lebih tipis . Lebih tajam . Seperti pedang yang diasah terlalu lama, sampai hampir patah.

Rambut hitamnya masih panjang, tapi kini dengan uban di pelipis—tanda bahwa kekuatan legendaris tidak bisa menghentikan waktu sepenuhnya. Wajahnya tampak muda meski matanya tua. Sangat tua. Ratusan tahun tua, meski tubuhnya belum genap seratus lima puluh.

Dan di punggungnya, keenam kristal berputar dalam orbit sempurna. Hijau, biru, merah, kuning, putih, hitam—sama seperti milik Fengyin, tapi stabil . Terlalu stabil. Seolah-olah sudah berputar begitu lama sehingga lupa cara berhenti.

"Chen Fengyin," kata Xie Wuyou, suaranya dingin, licin, tanpa emosi yang bisa dijadikan pegangan. "Anak kecil dari Kampung Awan Kasih. Yang membangkitkan Jingjie Universal dalam keputusasaan. Yang menghilang bersama bayangan Gu Yanqing."

Dia berhenti beberapa zhang dari Fengyin, menatap dengan mata yang tidak bisa dibaca.

"Dan sekarang, Tiānzé Zhě sejati. Dengan keenam elemen yang baru saja terbuka. Dengan jiwa dua orang di dalam dirimu—satu yang kukenal, satu yang tidak." Dia tersenyum, senyum yang tidak sampai ke mata. "Gu Yanqing selalu suka drama. Dia berpikir dengan memberikan dirinya padamu, dia bisa menciptakan senjata yang bisa mengalahkanku."

Fengyin tidak menjawab. Dia menatap, mencari celah, mencari kelemahan . Dengan Guāng, dia bisa melihat aliran energi dalam tubuh Xie Wuyou—Dàojiàn yang terbuka sepenuhnya, jalur-jalur yang bersinar dengan kekuatan yang hampir membutakan. Tapi dengan Yǐng, dia juga bisa melihat sesuatu yang lain. Sesuatu yang gelap . Sesuatu yang bergerak di dalam bayangan Xie Wuyou, yang tidak sepenuhnya terkendali, yang... menderita .

"Jiwa-jiwa," bisik Fengyin, mengerti. "Yang kuserap. Termasuk Gu Yanqing yang sebenarnya. Mereka masih ada di dalammu. Masih hidup. Masih..."

"Berisik," potong Xie Wuyou, dan untuk pertama kalinya, ada sesuatu di suaranya. Sesuatu yang hampir seperti... lelah . "Mereka tidak pernah diam. Gu Yanqing yang sebenarnya—yang kuserap di Kampung Awan Kasih—dia yang paling parah. Selalu berkomentar. Selalu mengkritik. Selalu mengajar ." Dia tertawa, getir. "Bahkan dalam kehancurannya, dia tetap guru."

Fengyin merasakan sesuatu di dalamnya bergerak. Bukan kristal—tapi jiwa . Jiwa Gu Yanqing yang ditransfer kepadanya, yang kini merespons pada keberadaan bagian lain dari dirinya. Bagian yang menderita di dalam Xie Wuyou.

"Aku bisa membebaskan mereka," kata Fengyin, tidak merencanakan, hanya mengatakan apa yang dirasakannya sebagai kebenaran. "Yǐng bisa digunakan untuk memasuki, tapi juga untuk mengeluarkan . Aku bisa mengeluarkan jiwa-jiwa yang kau tahan. Termasuk kakekku."

"Dan apa yang terjadi pada mereka setelah itu?" tanya Xie Wuyou, bukan dengan ejekan, tapi dengan rasa ingin tahu yang tulus. "Jiwa yang dilepaskan dari tubuh yang menahannya tidak langsung pergi ke alam baka, anak muda. Mereka hancur. Menyebar. Menjadi bagian dari energi mentah dunia. Tidak ada kesadaran. Tidak ada kenangan. Tidak ada diri ."

Dia mengangkat tangan, dan bayangan di sekitarnya bergerak, membentuk gambar-gambar samar—wajah-wajah yang dikenali dari cerita-cerita. Gu Yanqing yang muda. Murid ketiga yang tidak disebut namanya. Ratusan jiwa lain yang diserap dalam seratus dua puluh tahun.

"Setidaknya di dalamku," lanjut Xie Wuyou, "mereka masih ada . Masih berpikir, meski tidak bebas. Masih berbentuk, meski terikat. Bukankah itu lebih baik dari kehancuran total?"

Fengyin menatap gambar-gambar itu. Menatap wajah kakeknya yang muda—yang sama dengan wajah guru yang baru saja mati untuknya. Dan dia merasakan jawaban di dalam, bukan dari kristal, tapi dari hati . Dari pengajaran tiga belas tahun.

"Tidak," katanya. "Kebebasan adalah hak. Bahkan kebebasan untuk hancur. Bahkan kebebasan untuk menjadi tidak ada. Menahan seseorang dalam penderitaan, meski dengan alasan 'menyelamatkannya'—itu bukan kebaikan. Itu keegoisan. Itu..."

"Tiran," selesaikan Xie Wuyou, dan tiba-tiba dia tertawa. Tertawa yang nyata, yang mengguncang tubuh kurusnya, yang membuat kristal-kristal di punggungnya bergetar. "Gu Yanqing benar-benar mengajarkanmu dengan baik. Dia selalu punya cara untuk membuat murid-muridnya melihat kebenaran yang tidak nyaman."

Dia berhenti tertawa, dan matanya menjadi tajam. Sangat tajam. Sangat lapar .

"Tapi kebenaran tidak cukup, Chen Fengyin. Kebaikan tidak cukup. Di dunia ini, yang cukup adalah kekuatan . Dan aku punya seratus dua puluh tahun lebih banyak darimu untuk mengumpulkannya."

Dari lereng barat, terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru. Fengyin berbalik, dan melihat seorang wanita paruh baya dengan rambut yang memutih di pelipis, berlari dengan susah payah diikuti oleh dua pemuda yang wajahnya identik.

"Jangan datang!" teriak Fengyin, tapi terlambat.

Xie Wuyou menggerakkan tangan, dan bayangan di lereng itu bangkit . Menjadi dinding hitam yang memisahkan Fengyin dari ketiga orang itu. Wanita itu dan dua pemuda—yang kini terlihat sebagai petani muda dari desa terdekat, dengan garu dan kapak kecil di tangan—terhenti, terperangkap dalam lingkaran bayangan yang semakin menyempit.

"Lihat," kata Xie Wuyou, suaranya kembali dingin, "ini adalah realitas. Kamu punya kekuatan baru, tapi kamu tidak punya pengalaman untuk menggunakannya dengan efisien. Aku punya kekuatan tua, dan aku punya pengalaman untuk memanfaatkan kelemahanmu ."

Dia berjalan mengelilingi Fengyin, seperti predator mengelilingi mangsa.

"Tiga orang ini datang karena kamu, Chen Fengyin. Karena kamu menyembuhkan ibu anak kecil itu di desa mereka, mereka tahu dimana mencarimu. Mereka datang untuk berterima kasih, mungkin. Atau untuk meminta bantuan lagi. Dan sekarang..." bayangan di sekitar ketiga orang itu semakin rapat, "...mereka akan mati karena kamu."

Wanita paruh baya itu—yang terlihat seperti tabib desa dengan tangan yang terlatih untuk merawat—menatap Fengyin dengan mata yang tidak menunjukkan takut. Hanya... pengertian . Seolah-olah dia sudah tahu ini bisa terjadi. Seolah-olah dia datang bukan untuk diselamatkan, tapi untuk menyelamatkan .

"Fengyin!" teriaknya, suaranya teredam oleh dinding bayangan tapi masih terdengar. "Jangan dengarkan dia! Dia ingin membuatmu ragu! Dia ingin membuatmu—"

Bayangan merambat ke mulutnya, membungkamnya.

Dua pemuda itu—yang terlihat sebagai kembar dengan ekspresi berbeda, satu penuh amarah dan satu penuh ketakutan—mencoba melawan. Mereka bukan prajurit, tapi petani yang terlatih untuk bertahan hidup di pegunungan. Mereka menggunakan alat mereka untuk menyerang dinding bayangan.

Tentu saja, tidak ada efek.

"Pilihan sederhana," kata Xie Wuyou pada Fengyin. "Serahkan dirimu. Biarkan aku mengambil Jingjie Universalmu—bukan membunuhmu, hanya... mengambil. Kamu akan hidup sebagai manusia biasa. Tidak punya kekuatan, tapi hidup. Dan mereka—" dia menunjuk ke tiga orang yang terperangkap, "—mereka akan hidup juga. Aku akan pergi. Tidak akan ada pembantaian."

Dia berhenti di depan Fengyin, begitu dekat sehingga Fengyin bisa mencium bau energi darinya. Bau Yǐng yang terlalu pekat, yang hampir membuat mual.

"Atau," lanjut Xie Wuyou, "kamu bisa melawanku. Mencoba menyelamatkan mereka. Tapi kamu tahu apa yang akan terjadi. Kamu belum cukup kuat. Kamu akan kalah. Dan mereka akan mati juga. Dan aku akan mengambil kekuatanmu dari mayatmu ."

Fengyin menatapnya. Menatap tiga orang yang tidak mengenalnya dengan baik, tapi datang untuknya. Menatap bayangan yang mengurung mereka.

Dan dia merasakan sesuatu di dalam. Bukan dari kristal. Bukan dari jiwa Gu Yanqing atau Lin Xuan. Tapi dari dirinya sendiri . Dari anak kecil yang berdiri di bawah pohon suci, yang membuat sumpah untuk melindungi.

"Ada pilihan ketiga," kata Fengyin.

"Tidak ada—"

"Ada," potong Fengyin, dan suaranya adalah suara yang tidak pernah didengarnya keluar dari mulutnya sendiri. Suara yang tenang. Yang tahu . "Kamu bilang aku tidak punya pengalaman. Benar. Tapi aku punya sesuatu yang tidak kamu punya. Sesuatu yang bahkan seratus dua puluh tahun tidak bisa berikan padamu."

"Apa?"

"Tujuan," kata Fengyin. "Kamu bertarung untuk bertahan hidup. Untuk mempertahankan kekuatan. Untuk memenuhi obsesi Kaisar yang membuatmu seperti ini. Aku bertarung untuk melindungi . Untuk memastikan tidak ada lagi desa yang hancur. Tidak ada lagi anak kecil yang kehilangan segalanya. Itu... itu membuat perbedaan."

Dia bergerak.

Bukan dengan kecepatan—tapi dengan kebenaran . Guāng memperkuat niatnya, membuat setiap gerakan menjadi terang, menjadi jelas , menjadi tidak bisa dihindari. Yǐng memperkuat bayangannya, membuatnya menjadi banyak, menjadi di mana-mana , menjadi tidak bisa diprediksi.

Xie Wuyou bereaksi—tentu saja dia bereaksi. Dia adalah Dàshī dengan pengalaman seratus dua puluh tahun. Dia menggerakkan keenam kristalnya dengan kecepatan yang membuat udara berteriak, menciptakan serangan yang seharusnya menghancurkan segalanya.

Tapi Fengyin tidak mencoba menghancurkan.

Dia menggunakan Fēng untuk mendorong —bukan Xie Wuyou, tapi dirinya sendiri. Mendorong dirinya ke udara, ke atas, ke tempat di mana bayangan lebih tipis. Menggunakan Shuǐ untuk menciptakan kabut dari kelembaban udara, membutakan penglihatan yang diperkuat Guāng. Menggunakan Huǒ tidak untuk membakar, tapi untuk menerangi —menerangi bayangan-bayangan yang diciptakan Xie Wuyou, membuatnya terlihat, membuatnya rentan .

Dan menggunakan Tǔ—Tǔ untuk menopang . Menopang dirinya di udara, menopang kepercayaan bahwa ini bisa berhasil, menopang jiwa-jiwa di dalam Xie Wuyou.

"Kakek," bisik Fengyin, bukan dengan suara tapi dengan Yǐng. Dengan bayangan yang sama yang menghubungkan semua yang menguasai elemen itu. "Kakek, dengar aku. Bagian dari dirimu ada di sini. Bagian dari dirimu ada di dalamku. Kita bisa... kita bisa bekerja sama."

Dia merasakannya. Respons. Lemah, tapi ada. Gu Yanqing yang sebenarnya—yang menderita di dalam Xie Wuyou—mengangguk. Setuju. Membantu .

Dari dalam tubuh Xie Wuyou, bayangan yang paling gelap—yang paling kuat, yang paling tua —bergerak. Bukan melawan Xie Wuyou—tentu saja tidak, itu akan menghancurkan jiwa itu sendiri. Tapi mengganggu . Membuat konsentrasi Xie Wuyou pecah sejenak. Membuat satu kristal—Yǐng, yang paling dekat dengan jiwa—berputar sedikit lebih lambat.

Satu sejenak. Cukup.

Fengyin menerobos. Bukan menyerang Xie Wuyou—tapi menyerang bayangan yang mengurung tiga orang itu. Menggunakan Yǐngnya sendiri, yang lebih murni , yang lebih bebas , untuk merobek dinding hitam itu. Untuk menciptakan celah.

"Lari!" teriaknya pada mereka. "Turun gunung! Jangan melihat ke belakang! Jangan berhenti!"

Wanita paruh baya itu—yang mengerti kapan harus bertarung dan kapan harus mundur—menggandeng tangan dua pemuda itu, menarik mereka turun lereng. Mereka melihat ke belakang, tentu saja. Melihat Fengyin melayang di udara dengan keenam kristal yang bersinar seperti matahari kecil. Melihat Xie Wuyou yang berteriak—bukan karena sakit, tapi karena amarah , karena untuk pertama kalinya dalam seratus tahun, seseorang berhasil mengelak darinya.

Dan kemudian mereka berlari, karena itulah yang bisa mereka lakukan. Itulah yang harus mereka lakukan.

Xie Wuyou tidak lagi tenang.

Kristal-kristalnya berputar liar, menciptakan pusaran energi yang membuat batu-batu di puncak mulai retak. Angin bertiup dari arah yang salah—tidak mengikuti aturan, tidak mengikuti musim, hanya mengikuti amarah .

"Kamu berpikir ini kemenangan?" teriaknya pada Fengyin, suaranya bergema dari segala arah, seolah-olah bayangan itu sendiri yang berbicara. *"Mereka akan mati di lereng! Aku punya orang lain di sana! Pasukan yang menunggu perintah! Kamu hanya memperpanjang penderitaan mereka—"

"Tidak," kata Fengyin, dan suaranya tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru sahi menghabiskan sebagian besar energinya. "Kamu tidak punya pasukan di lereng. Kamu datang sendiri. Karena kamu tidak percaya pada siapa pun. Karena satu-satunya yang bisa kamu andalkan adalah dirimu sendiri. Dan itu... itu adalah kelemahanmu yang sebenarnya."

Dia mendarat di batu meditasi—batu yang hancur sebagian, tapi masih cukup untuk berdiri. Kristal-kristalnya berdenyut, memberi peringatan tentang energi yang tersisa. Tidak banyak. Cukup untuk satu serangan besar. Atau beberapa serangan kecil.

Xie Wuyou mendarat di hadapannya, tidak terengah—tentu saja tidak, dia belum menggunakan sebagian besar kekuatannya—tapi dengan ekspresi yang berbeda. Bukan amarah lagi. Bukan ejekan. Tapi... penasaran .

"Gu Yanqing mengajarkanmu lebih dari teknik," kata Xie Wuyou, hampir seperti pengakuan. "Dia mengajarkanmu untuk melihat . Untuk memahami musuh. Itu... itu adalah hal yang paling berharga yang dia miliki. Dan yang paling berbahaya."

Dia mengangkat tangan, dan keenam kristalnya berbaris di depannya—bukan berputar, tapi melayang diam , siap.

"Tapi melihat tidak cukup," lanjutnya. "Kamu harus bisa bertindak atas apa yang kamu lihat. Dan aku tidak yakin kamu bisa. Karena aku melihat sesuatu juga, Chen Fengyin. Aku melihat seseorang yang baru saja kehilangan gurunya. Yang jiwa-nya masih berduka. Yang menggunakan kekuatan yang belum dimengerti."

Dia tersenyum, dan kali ini ada sesuatu yang hampir seperti... kasihan .

"Kamu akan kalah hari ini. Bukan karena kamu lemah—kamu tidak lemah. Tapi karena kamu belum siap. Dan aku..." dia menggerakkan tangan, dan keenam elemen menjawab, membentuk sesuatu yang belum pernah dilihat—sesuatu yang bahkan tidak pernah digambarkan. "...aku akan memberimu hadiah. Hadiah yang Gu Yanqing tidak pernah berikan pada murid-muridnya sebelumnya. Hadiah yang aku berikan pada diriku sendiri, tiga puluh tahun lalu."

Energi menyatu. Bukan bentuk tertentu—tapi kekosongan yang memiliki bentuk. Kekosongan yang lapar . Yang ingin mengisi dirinya dengan segalanya, dengan Fengyin, dengan kekuatannya, dengan segala sesuatu yang membuatnya dirinya .

"Aku akan mengajarkanmu," bisik Xie Wuyou, "bagaimana rasanya dikonsumsi ."

Serangan itu datang.

Fengyin mencoba menghindar—menggunakan Fēng, menggunakan Yǐng, menggunakan segalanya. Tapi terlalu cepat. Terlalu besar . Terlalu... benar .

Dia merasakannya masuk. Bukan melalui kulit—tapi melalui kristal. Melalui hubungan yang baru saja dibentuk dengan keenam elemen. Xie Wuyou tidak menyerang tubuhnya. Dia menyerang koneksi . Menyerang ikatan antara Fengyin dan kekuatannya.

Dan untuk sejenak—hanya sejenak—Fengyin melihat apa yang Xie Wuyou lihat. Melihat dunia sebagai tempat di mana semua orang adalah mangsa. Melihat kekuatan sebagai satu-satunya kebenaran. Melihat pengorbanan sebagai kebodohan, kasih sayang sebagai kelemahan, kehidupan sebagai sumber daya yang harus diambil, diperas, dikonsumsi.

Itu adalah pandangan yang... nyaman . Dalam cara yang sakit. Dalam cara yang membebaskan dari tanggung jawab. Tidak perlu melindungi. Tidak perlu peduli. Hanya perlu menguasai .

Tapi kemudian dia merasakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak dari Xie Wuyou.

Yuèyǐng Pèi. Liontin di lehernya. Hangat. Berdenyut. Melindungi .

Dan dari dalamnya, suara yang familiar. Bukan Gu Yanqing—tapi dirinya sendiri . Dirinya yang masih kecil, yang berdiri di bawah pohon suci, yang membuat sumpah.

"Aku akan melindungi," bisik suara itu. "Aku akan melindungi semua orang."

Fengyin berteriak. Bukan dengan mulut—tapi dengan jiwa. Dengan segala sesuatu yang membuatnya dia . Dan dari dalam Yuèyǐng Pèi, sesuatu meledak .

Bukan energi. Bukan elemen. Tapi kenangan . Kenangan yang disimpan di dalam liontin oleh pembuatnya seribu tahun lalu. Kenangan dari Tiānzé Zhě sebelumnya, yang juga menghadapi momen seperti ini. Yang juga hampir kalah. Yang juga... melawan .

Cahaya putih meledak dari liontin, bukan untuk menyerang Xie Wuyou, tapi untuk memisahkan . Memisahkan Fengyin dari serangan. Memisahkan koneksi yang hampir terputus. Memberinya waktu—hanya satu napas—untuk melarikan diri .

Fengyin menggunakannya. Menggunakan Fēng sepenuhnya, tanpa ampun, tanpa kontrol. Membuat badai kecil yang mendorongnya ke udara, ke belakang, ke jurang.

Xie Wuyou berteriak—amarah, kali ini, murni dan tidak terkendali. Tapi terlambat. Fengyin sudah jatuh, terbawa angin, menghilang ke dalam kabut yang tebal.

Ketika dia sadar, dia berada di tempat yang tidak dikenal.

Lembah. Tidak di Gunung Puncak Angin—terlalu rendah, terlalu hangat . Air terjun kecil di dekatnya, menciptakan kolam yang jernih. Dan di tepi kolam, seseorang sedang memandanginya dengan mata yang terlalu tua untuk wajah yang muda.

Seorang wanita, dengan rambut putih panjang yang bukan karena usia—tapi karena sesuatu yang lain . Sesuatu yang bisa dirasakan, dengan Yǐng yang baru saja dipelajari, adalah hasil dari penggunaan elemen legendaris yang terlalu intens, terlalu lama.

"Kamu hidup," kata wanita itu, bukan pertanyaan. "Itu... itu adalah hal yang baik. Aku khawatir liontin itu tidak cukup kuat."

Fengyin mencoba berdiri, tapi tubuhnya menolak. Dia merasa—merasakan dengan jelas—bahwa sesuatu telah berubah . Kristal-kristalnya masih ada, masih berdenyut, tapi... lebih jauh . Seolah-olah ada dinding tipis antara dia dan mereka. Dinding yang tidak ada sebelumnya.

"Apa yang terjadi?" tanyanya, suaranya serak.

Wanita itu berjongkok di sampingnya, memeriksa pulse di lehernya dengan jari-jari yang dingin tapi lembut.

"Xie Wuyou mengambil sesuatu," kata wanita itu, suaranya datar seperti pengumuman cuaca. "Bukan semuanya—liontin itu mencegahnya. Tapi sebagian. Sebagian dari koneksimu dengan elemen. Sebagian dari..." dia berhenti, menatap mata Fengyin dengan intensitas yang tidak nyaman, "...dari hidupmu. Kamu masih punya keenam elemen. Tapi mereka tidak lagi sepenuhnya milikmu . Mereka adalah pinjaman sekarang. Sesuatu yang bisa diambil kembali kapan saja."

Fengyin menatapnya. Mencoba memahami. Mencoba menerima .

"Siapa kamu?" tanyanya akhirnya.

Wanita itu tersenyum, dan di senyum itu ada sesuatu yang sangat tua, sangat lelah, sangat... sedih .

"Namaku tidak penting sekarang," kata wanita itu. "Yang penting adalah: aku adalah orang terakhir yang berhasil melarikan diri dari Xie Wuyou. Sebelum kamu. Tiga puluh tahun lalu."

Dia berdiri, menatap ke atas—ke arah Gunung Puncak Angin, yang tidak terlihat dari sini, tapi yang masih bisa dirasakan kehadirannya.

"Aku juga adalah," lanjutnya, suaranya lebih pelan, "...kakak perempuan Gu Yanqing. Yang sebenarnya. Yang mati di Kampung Awan Kasih."

Fengyin menjadi dingin. Dingin yang bukan dari udara.

"Tidak mungkin," bisiknya. *"Dia mati. Aku melihatnya. Xie Wuyou—"

"—menyerap jiwaku, ya," selesaikan wanita itu. "Tapi jiwa tidak bisa dihancurkan sepenuhnya, Chen Fengyin. Itu adalah kebenaran yang Xie Wuyou tidak mengerti. Jiwa bisa dipecah. Dipecah menjadi bagian-bagian yang terlalu kecil untuk dianggap diri . Tapi bagian-bagian itu masih ada. Masih mengingat . Masih... berusaha ."

Dia menoleh ke Fengyin, dan di matanya ada sesuatu yang baru. Sesuatu yang hampir seperti... harapan .

"Dan kamu," kata wanita itu, "kamu adalah yang pertama yang berhasil membebaskan bagian dari jiwa yang ditahan Xie Wuyou. Bagian dari kakakku—bagian yang kamu sebut 'Kakek Yuanqing'—kamu membawanya keluar. Dengan ritualmu. Dengan pengorbananmu."

Dia berjongkok lagi, kali ini memegang tangan Fengyin dengan kedua tangan dinginnya.

"Itu adalah kenapa aku datang. Kenapa aku menunggu di lembah ini, bertahun-tahun, menunggu seseorang yang bisa melakukan apa yang tidak bisa kulakukan. Kamu punya potensi, Chen Fengyin. Potensi untuk tidak hanya mengalahkan Xie Wuyou. Tapi untuk membebaskan semua yang ditahannya. Termasuk kakakku. Termasuk... diriku."

Fengyin menatapnya. Menatap tangan yang memegangnya. Menatap mata yang menunggu.

Dan dia merasakan sesuatu. Bukan dari kristal—kristalnya terlalu jauh sekarang, terlalu terpisah . Tapi dari hati . Dari jiwa-jiwa yang baru saja diterimanya. Dari Gu Yanqing yang muda, yang mati untuknya. Dari Lin Xuan, yang mati untuk harapan. Dari semua yang mati di Kampung Awan Kasih, yang namanya masih diingatnya, yang wajahnya masih dilihatnya dalam mimpi.

"Aku akan mencoba," kata Fengyin. Bukan janji—dia sudah belajar bahwa janji bisa patah. Tapi komitmen . Sesuatu yang lebih dalam, lebih kuat, lebih nyata .

Wanita itu tersenyum, dan kali ini senyumnya mencapai mata.

"Maka kita punya waktu," kata wanita itu. "Waktu untuk memulihkanmu. Waktu untuk mengajarkanmu cara menggunakan kekuatan yang tersisa. Waktu untuk..." dia berhenti, menatap ke timur, ke arah yang selalu menjadi sumber ketakutan, "...waktu untuk mempersiapkanmu menghadapi apa yang akan datang. Karena Xie Wuyou tidak akan berhenti. Dia sekarang tahu apa yang kamu bisa. Dan dia akan datang lagi. Lebih kuat. Lebih siap. Lebih lapar ."

Fengyin mengangguk. Dia sudah tahu ini. Sudah merasakannya, dalam tulangnya, dalam jiwa-jiwa yang berbagi tubuhnya.

Tapi dia juga merasakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang baru.

Di dadanya, Yuèyǐng Pèi masih hangat. Masih berdenyut. Masih melindungi.

Dan di dalamnya, di dalam liontin itu, dia bisa merasakan sesuatu yang baru. Sesuatu yang tidak ada sebelumnya.

Sebuah benih . Benih dari apa, dia tidak tahu. Tapi benih yang menunggu. Yang berkembang. Yang akan tumbuh menjadi... sesuatu.

Mungkin kekuatan baru. Mungkin harapan baru. Mungkin, sederhananya, masa depan .

Dia berdiri, dengan bantuan wanita itu, dan menatap ke atas. Ke arah Gunung Puncak Angin. Ke arah tempat dia baru saja kalah, tapi juga baru saja menang —karena dia masih hidup. Karena dia masih punya tujuan. Karena dia masih berusaha .

"Aku siap," kata Fengyin, dan untuk pertama kalinya sejak kehancuran Kampung Awan Kasih, dia merasa bahwa itu mungkin benar.

(Bersambung...)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!