Tian Yuofan tumbuh dalam kehidupan yang tidak pernah mudah. Sejak usia delapan tahun, ia sudah harus belajar bertahan sendiri, merawat ibunya yang kehilangan kewarasannya akibat trauma masa lalu. Ia bahkan tidak bisa menyentuhnya, takut memicu trauma ibunya.
Tanpa keluarga yang utuh, tanpa teman, Yuofan menjalani hari-harinya sendirian di dunia yang tidak memberi banyak ruang bagi orang lemah. Ia belajar memahami lingkungan, membaca keadaan, dan bertahan dengan caranya sendiri.
Namun suatu hari, sebuah kejadian yang awalnya tampak seperti kesialan justru membawanya pada sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya—sebuah pertemuan yang perlahan mengubah arah hidupnya.
Dari sana, perjalanan yang tak pernah ia pikirkan pun benar-benar dimulai…
(Alur cerita lambat)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KuntilTraanak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26—Sekte Tujuh Rasi Dosa
Dengan rasa penasaran yang tinggi, pria itu pun berjalan mendekati wanita tersebut. Tetapi semakin langkahnya bertambah, teriakan wanita itu semakin besar. Hal itu membuat pria bertopeng itu panik dan berusaha menenangkannya, tetapi sebuah pukulan pun mendarat tepat di puncak kepalanya, membuat ia langsung menoleh dan mendapati seorang anak laki-laki berdiri tepat dibelakangnya.
“Ka-kapan? Aku tak menyadarinya…” batin pria itu dengan salah satu tangan memegangi kepalanya yang sakit.
Anak itu menatap nya dengan kesal, “Apa yang kau lakukan?!”
Menyadari bahwa ia telah membuat kesalahpahaman, pria itu dengan cepat melambaikan tangannya berusaha menjelaskan. “Aku berniat melepaskannya, tetapi ia tiba-tiba berteriak.” ucap pria itu.
“Ha…” Yuofan mengehela nafasnya seraya berjalan mendekati ibunya. “Jangan lakukan hal yang tidak perlu.” jawab Yuofan sembari meletakan keranjang berisikan buah-buahan.
“Ibuku takut pria, jadi aku harap kau menjaga jarak darinya,” lanjut Yuofan sembari bertolak pinggang menatap pria itu. “Sekarang keluar lah, aku akan menyusul setelah ini.” Pria itu mengangguk dan segera pergi keluar dari dalam gua.
Di bawah pohon, pria itu tetap memperhatikan gerak-gerik anak itu yang mencurigakan. Ia pun teringat bahwa anak itu adalah anak yang sama dengan yang ia lihat sebelum ia kehilangan kesadarannya. Apalagi ia melihat bahwa anak itu menggunakan sebuah kekuatan anak yang mampu membelah ruang dengan mudah nya. Hal itulah yang membuatnya merasa curiga, ia takut bahwa sebenarnya anak ini adalah orang kuat yang menyamar, serta ia takut bahwa anak itu adalah anak buah dari kelompok yang menyerangnya.
Namun, perlahan kecurigaan yang sebelumnya ia pikirkan perlahan sirna kala ia melihat bahwa anak itu benar-benar memperlakukan wanita itu dengan baik. Ia melihat bahwa anak itu menyuapinya dengan perlahan penuh perhatian, ia juga terlihat tersenyum hangat walau wanita itu hanya terdiam datar.
Perlahan, pemandangan hangat di depannya itu berubah menjadi bayangan masa lalunya. Ingatannya kembali pada masa ketika ia masih lebih muda, saat ia harus merawat ibunya yang mengalami kelumpuhan total. Ibunya tidak bisa bergerak sama sekali, bahkan untuk mengangkat tangan pun tidak mampu. Ia hanya bisa menggerakkan bola matanya, melihat sekeliling tanpa bisa melakukan apa pun.
Remaja itu setiap hari menyuapi ibunya dengan sabar. Ia duduk di samping tempat tidur, menyendok makanan cair sedikit demi sedikit, lalu menunggu ibunya menelan sebelum memberikan suapan berikutnya. Kegiatan itu dilakukan setiap hari, berulang-ulang, tanpa pernah benar-benar ia keluhkan kepada siapa pun. Sebab dunianya hanya ada ibunya, tidak ada seorang ayah, tidak ada seorang saudara, dan tidak ada orang yang bisa ia percayai disampingnya.
Ia juga mengingat bagaimana orang-orang di sekitarnya memandangnya dulu. Banyak yang menatapnya dengan rasa kasihan, seolah hidupnya adalah sesuatu yang menyedihkan. Mereka sering berbicara dengan nada lembut yang dibuat-buat, menanyakan kabarnya, menanyakan keadaan ibunya, dan mengatakan bahwa ia anak yang kuat. Namun mereka juga adalah orang sama yang berbicara di belakangnya. Mereka menyebutnya sebagai anak dari seorang ibu cacat, berbisik ketika ia lewat, dan berpura-pura tersenyum ketika ia menoleh. Ia tidak selalu mendengar dengan jelas, tetapi ia cukup mengerti dari cara mereka memandang dan cara mereka tiba-tiba mengubah sikap saat ia mendekat.
Dan saat melihat anak itu, ia seolah paham dengan apa yang saat ini ia rasakan, karena ia melihat dirinya dimasa lalu dalam anak itu.
“Anak yang hebat.” gumamnya yang kemudian mengalihkan pandangan melihat ke sekelilingnya.
Ia menjadi sedikit tidak mengerti mengapa anak itu harus tinggal didalam hutan seperti ini. Apalagi mereka hanya berdiam diri didalam gua, bukan sebuah gubuk ataupun tenda. Ia juga merasa aneh saat memeriksa sekitar gua ini yang ternyata tidak didekati oleh binatang buas sedikit pun.
“Jadi, bagaimana kondisimu, paman?” tanya Yuofan sambil berjalan mendekati pria itu yang terlihat terkejut dengan tegurannya.
Yuofan kemudian duduk di samping pria itu dan menyerahkan beberapa buah yang tadi ia bawa. “Makanlah dulu, setidaknya ini bisa menambah tenaga.”
Pria itu menerima buah tersebut dengan pelan. “Sudah lebih baik, berkat pertolonganmu. Terima kasih banyak,” katanya, lalu berhenti sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu. “Um… siapa namamu?”
“Namaku Tian Yuofan. Paman bisa panggil aku Yuofan,” jawabnya sambil tersenyum agak kikuk.
Pria bertopeng itu hanya mengangguk pelan tanpa menunjukkan ekspresi apa pun. “Namaku Chen huo, salam kenal.” ucapnya dengan lembut, tetapi topeng polos yang menutupi wajahnya membuatnya terlihat seperti patung yang bisa berbicara.
Yuofan menatapnya beberapa detik, lalu dalam hati ia menghela napas. Aku benar-benar merasa seperti sedang berbicara dengan dinding. Bedanya, dinding biasanya tidak perlu diberi makan buah.
Pria itu kemudian menoleh dan menatap kearah ibunya berada, begitupun dengan Yuofan yang mengikuti arah pandangan pria itu. Ia pun menyadari bahwa mungkin pria itu memiliki banyak pertanyaan dikepala nya.
“Ibuku memiliki ketakutan terhadap pria, dan aku mengikatkannya untuk keselamatan bayi didalam kandungan nya.” ucap Yuofan membuat pria itu sedikit paham situasi nya.
“Aku minta maaf atas kelancangan ku sebelumnya.” pria menundukkan kepalanya sedikit merasa bersalah atas tindakan yang ia ambil sebelumnya.
Yuofan hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum, tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. “Jika aku boleh tahu, apa yang terjadi dengan mu?” tanya Yuofan dengan nada biasa, seolah hanya bertanya hal sederhana.
Pria bernama Chen Huo itu tidak langsung menjawab. Ia membuka topengnya sedikit dan memakan buah yang diberikan Yuofan terlebih dahulu, mengunyah perlahan sambil menundukkan kepalanya menatap tanah. Sepertinya ia sedang mempertimbangkan apakah ia harus jujur atau tidak kepada anak di depannya ini.
“Aku dikejar,” akhirnya Chen huo berkata pelan. “Mereka berasal dari sebuah sekte bernama Tujuh Rasi Dosa…”
Pria itu kemudian menjelaskan bahwa Sekte Tujuh Rasi Dosa terbagi menjadi tujuh divisi utama. Setiap divisi melambangkan satu dosa dan memiliki simbol masing-masing yang menjadi identitas mereka.
Divisi pertama adalah Divisi kesombongan, yang dilambangkan dengan sebuah mahkota. Lalu ada Divisi keserakahan yang dilambangkan dengan Emas. Setelah itu Divisi Nafsu yang dilambangkan oleh Mawar, kemudian Divisi Iri dengki yang dilambangkan dengan Mata Ular. Berikutnya adalah Divisi Kerakusan yang dilambangkan oleh Mulut, lalu Divisi Kemalasan yang dilambangkan dengan Awan, dan yang terakhir adalah Divisi Kemarahan yang dilambangkan oleh Pedang Retak.
Ia menjelaskan bahwa setiap divisi memiliki cara kerja, anggota, dan wilayah pengaruh yang berbeda, meskipun semuanya tetap berada di bawah satu sekte yang sama. Karena itu, orang yang berurusan dengan satu divisi belum tentu pernah bertemu dengan anggota divisi lainnya. Dalam kasus yang ia alami saat itu, ia berurusan langsung dengan Divisi Kemarahan, yaitu divisi yang dilambangkan dengan pedang retak. Anggota divisi ini dikenal lebih kasar, mendahulukan aksi, dan sering membunuh tanpa menyisakan apapun.
“Tunggu, aku sepertinya pernah melihat lambang mata ular? Apa kau ingat Wuxu?” tanya melalui telepati.
“Itu lambang yang dikenakan oleh orang-orang yang ku makan.” balas Wuxu yang membuat Yuofan teringat dengan pertarungannya sebelumnya.
Pria itu kemudian menjelaskan alasan mengapa divisi itu mengejarnya. Ternyata, orang-orang dari Divisi Kemarahan itu bukan datang secara kebetulan, melainkan orang-orang sewaan. Mereka disewa oleh saudaranya sendiri untuk merebut posisinya saat ini, yaitu sebagai kepala keluarga Chen. Jadi, masalah yang ia hadapi bukan hanya konflik keluarga biasa, tetapi sudah melibatkan Sekte Tujuh Rasi Dosa dan salah satu divisi yang paling berbahaya di dalamnya.
Pria itu menghentikan ucapannya tiba-tiba, “Ah… maaf,” ucapnya dengan gugup. “Sepertinya aku terlalu terbawa suasana.” lanjutnya seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Pria itu lupa bahwa yang sedang ia ajak bicara adalah seorang anak yang bahkan mungkin usianya tidak lebih dari 8 tahun. Ia mengutuk dirinya sendiri yang telah berbicara tentang pembunuhan dihadapan anak itu.
Sebaliknya, Yuofan juga menggaruk kepalanya yang tak gatal karena merasa telah menipu pria itu. Padahal baru kemarin ia melakukan pembunuhan yang bahkan lebih mengerikan dari apa yang diceritakan oleh pria itu.